Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Pulang Duluan
"Bagas cuma becanda, Mas. Kasihan Kakaknya, jangan dipojokkan terus," ujar Dikta singkat. Suaranya terdengar berat, dalam dan teratur melalui pengeras suara.
Jawaban dingin dari Dikta seketika meredam nada gurauan sang pembawa acara. Agnia yang menyadari bahwa sahabatnya sudah berada di batas puncak rasa malu, segera menarik lengan gaun Bagas pelan sambil memberikan kode agar menghentikan lelucon tersebut.
"Sudah, sudah! Nanti kasihan Reyna," bisik Agnia.
Setelah itu, Agnia merangkul bahu Reyna yang masih kaku. "Foto bertiga dulu yuk!" ajak Agnia.
Kilatan lampu kamera berkedip beberapa kali, mengabadikan momen di mana Reyna berdiri kikuk memegang buket bunga mawar putih, bersanding dengan Agnia, Bagas, serta Dikta yang berdiri tegak di sisi luar tanpa menyentuh atau bersinggungan sedikit pun dengannya. Begitu kilatan kamera meredup, Reyna mengangguk singkat pada Agnia dan Bagas tanpa berani menatap mata Dikta.
"Aku turun dulu ya, Nia... Bagas...," bisik Reyna sangat pelan.
"Rey, maaf ya... Mas Bagas cuma mau cairkan suasana," bisik Agnia penuh penyesalan sambil memegang erat jemari Reyna.
"Iya, gapapa," balas Reyna pelan.
"Jangan lupa makan ya! Disana ada batagor kesukaan kamu, kamu ambil sepuasnya," ucap Agnia.
Reyna hanya mengangguk samar, lalu berbalik menyusuri tangga. Langkah kakinya terasa begitu cepat, tergesa-gesa membelah kerumunan tamu. Ia tidak memedulikan tatapan penasaran atau bisikan-bisikan tipis dari para tamu yang ia lewati, fokusnya hanya satu yaitu melarikan diri dari ruangan yang terasa membakar batinnya ini.
Reyna melangkah terburu-buru menuju sudut ballroom yang sedikit tersembunyi, menjauh dari pusat perhatian panggung utama. Jantungnya masih berdegup kencang dan kedua pipinya terasa panas akibat rasa malu yang membakar, rasa ingin segera memutar kunci motor dan melarikan diri ke kontrakan begitu membuncah di dalam dadanya.
Namun, begitu langkah kakinya mencapai area prasmanan yang dihiasi lilin-lilin aromatik, perutnya mendadak berbunyi nyaring dan terasa perih yang melilit.
Reyna menghentikan langkahnya dan memegangi perutnya pelan. Ia baru teringat bahwa sejak pagi tadi, di tengah himpitan audit pusat yang mencekik dan rentetan ancaman Bu Sandra, tidak ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam tubuhnya.
Satu-satunya ganjalan perut yang ia terima hanyalah sepotong roti yang ia bawa dari kontrakan tadi pagi. Sensasi mual dan lemas mulai merayap naik ke kepala, membuatnya sadar bahwa nekat mengendarai motor dalam kondisi perut kosong dan kelelahan seperti ini justru sangat berbahaya.
"Makan dulu sedikit, Reyna... nanti malah pingsan lagi," gumam Reyna pada diri sendiri.
Reyna menyusuri deretan meja catering yang menyajikan berbagai hidangan mewah, mulai dari prime rib, sushi, hingga makanan penutup bergaya Perancis. Namun, pandangannya terhenti pada sebuah gubukan kecil di sudut ruangan yang menyajikan hidangan lokal yaitu batagor khas Bandung, makanan kesukaannya yang sempat disebutkan Agnia tadi.
Dengan canggung, Reyna mengambil sebuah piring kecil. Pria koki berpartisi putih di balik gubukan menyambutnya dengan senyuman ramah dan menyajikan beberapa potong batagor hangat berbalut bumbu kacang pekat yang menguar aroma wangi gurih.
Reyna mengucapkan terima kasih lirih, lalu membawa piringnya menuju sebuah meja tinggi standing table yang terletak di balik pilar dekat jendela kaca besar yang mengarah ke pemandangan pemandangan lampu-lampu kota Bandung.
Di balik keremangan pilar itu, Reyna mulai menyantap batagornya pelan-pelan. Bumbu kacang yang legit dan hangat terasa begitu nikmat menenangkan perutnya yang merogoh lelah, namun tetap saja, setiap kali ada tamu berpakaian mewah yang melintas di dekatnya, Reyna secara refleks menundukkan kepala atau sedikit menggeser tubuhnya agar tidak terlalu mencolok dengan gaun krem murah serta sepatu mengelupasnya, buket bunga mawar putih hasil tangkapannya tadi ia letakkan dengan hati-hati di pinggir meja.
Jam dinding di ballroom hotel bintang lima menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana resepsi pernikahan Agnia dan Bagas masih dipenuhi keramaian, namun alunan musik kini terdengar lebih santai.
Ratusan tamu perlahan mulai melangkah pergi meninggalkan ballroom, sementara keluarga besar kedua belah pihak berkumpul di area panggung utama untuk bersalaman, berbincang hangat dan mengambil foto keluarga secara bergantian.
Reyna berdiri beberapa meter dari panggung utama dan memeluk buket bunga mawar putih yang didapatkannya tadi, matanya menatap Agnia yang tampak begitu cantik dan bahagia di tengah keluarga besar suaminya yang berseragam dan berpenampilan anggun. Agnia tersenyum lebar, tertawa ramah menerima ucapan hangat dari mertuanya.
Reyna menarik napas pelan dan mengurungkan niatnya untuk memotong momen berharga sahabatnya itu, ia tahu Agnia sedang sangat sibuk dengan acara keluarga besarnya. Jika ia memaksakan diri naik ke panggung sekarang, hal itu hanya akan mengganggu jalannya acara dan mungkin menarik perhatian yang tidak Reyna inginkan lagi.
"Nia, selamat ya... Aku pulang duluan," bisik Reyna pelan pada dirinya sendiri, menatap Agnia dari jauh dengan senyuman tulus.
Dengan hati yang lebih tenang setelah melihat kebahagiaan Agnia, Reyna memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ballroom. Ia berjalan menyusuri koridor hotel yang dingin menuju area parkir kendaraan roda dua, udara malam kota Bandung menyapa kulitnya yang lelah dan terasa menusuk sampai ke tulang.
Reyna menghampiri motor matic tuanya yang terparkir menyendiri di sudut area parkir. Ia meletakkan buket bunga mawar putih itu dengan hati-hati di dalam keranjang motor, lalu menyalakan mesin yang meraung sedikit kasar sebelum akhirnya melaju menembus dingin dan sepinya jalanan kota Bandung.
Perjalanan malam itu terasa panjang, namun setidaknya beban berat dari pekerjaan dan kepanikan audit selama seminggu ini telah usai. Begitu sampai di kontrakan petaknya yang sempit, Reyna melepas sepatu flat-nya dan meletakkan bunga di atas meja kayu kecil, lalu ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur busa tanpa dipan.
Dalam waktu singkat, rasa lelah luar biasa menyergapnya dan melempar Reyna ke dalam tidur yang sangat lelap.
.
Keesokan harinya adalah hari Minggu, hari yang paling dinanti-nantikan oleh Reyna setelah melewati pekan yang menguras energi dan menguji kesabarannya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Reyna tidak perlu mendengarkan dering alarm ponselnya yang bising pada pukul lima pagi. Ia tidak perlu terburu-buru menyeduh teh tanpa gula, menembus kemacetan lalu lintas atau bersiap menghadapi makian Bu Sandra di kantor.
Sinar matahari pagi merayap masuk melalui celah-celah ventilasi kayu di kontrakannya, membiaskan garis-garis cahaya hangat di atas lantai semen yang dingin. Reyna menggeliat pelan di atas kasur busa tipisnya, ia memeluk bantalnya erat-erat dan menikmati rasa nyaman yang jarang ia rasakan. Ketika matanya perlahan terbuka dan melirik jam dinding bulat yang berdetak pelan, jarum panjang dan pendeknya telah menunjukkan tepat pukul 10.00 pagi.
"Jam sepuluh...," gumam Reyna dengan suara parau khas bangun tidur.
Senyum kecil terkembang di wajah manisnya. Reyna menghela napas lega yang sangat panjang, hari ini adalah hari libur, hari di mana ia bisa tenang dan bersantai.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor