Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Suasana ruang tengah kediaman Conti terasa semakin mencekam.
Adam masih berdiri di hadapan Sadam dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia tidak terbiasa membiarkan siapa pun berbicara seenaknya di hadapannya, terlebih ketika pria itu baru saja mengucapkan kalimat yang begitu kejam kepada putrinya sendiri.
Bagi Adam, Sadam baru saja menunjukkan betapa rendahnya harga yang ia berikan kepada darah dagingnya sendiri. Sadam mungkin belum memahami siapa yang sedang berdiri di hadapannya, atau mungkin, pria itu terlalu sibuk mempertahankan harga dirinya hingga lupa bahwa Adam Lorenzo Maxnore bukan seseorang yang bisa diperlakukan seperti tamu biasa.
Di belakang Adam, Gia merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Ia mengenal kemarahan ayahnya, tetapi ia juga tahu seperti apa pria yang berdiri di hadapannya sekarang. Adam bukan orang yang akan membiarkan penghinaan berlalu begitu saja. Jika pria itu kehilangan kendali, bukan tidak mungkin kediaman Conti akan berubah menjadi tempat yang tak seorang pun ingin berada di dalamnya, Gia tidak ingin hal itu terjadi.
Bukan karena ia masih ingin melindungi ayahnya dari segala konsekuensi perbuatannya, melainkan karena ia tidak ingin persoalan yang seharusnya diselesaikan dengan kebenaran justru berubah menjadi pertumpahan darah.
Perlahan, Gia melangkah maju.
“Tuan Adam,” panggilnya lirih.
Adam tidak menoleh, tatapannya masih tertuju pada Sadam. Gia kemudian berdiri sedikit di sampingnya, berusaha mengabaikan rasa nyeri yang menjalar dari punggungnya.
“Ayah,” ucapnya, kali ini menghadap Sadam. “Tolong hargai kehadiran Tuan Adam. Bagaimanapun, beliau datang sebagai tamu. Tidak seharusnya Ayah menyambutnya dengan kemarahan seperti ini.”
Sadam langsung menoleh tajam.
“Kau sedang mengajariku cara menerima tamu di rumahku sendiri?”
Gia terdiam sejenak, “Bukan begitu maksudku, Ayah. Aku hanya tidak ingin masalah ini semakin besar. Kita bisa membicarakan semuanya dengan tenang.”
"Tenang?” Sadam mendengus. “Kau datang ke sini setelah mempermalukan keluarga, lalu sekarang berani menyuruhku bersikap tenang?”
“Aku tidak bermaksud mempermalukan siapa pun.”
“Lalu mengapa kau kembali?”
Gia menggigit bibir bawahnya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia jelaskan, tetapi ia tahu bahwa ayahnya tidak akan mudah menerima kenyataan yang bertentangan dengan apa yang selama ini dipercayainya. Terlebih, Gia tidak berniat mengungkapkan hubungannya dengan Adam di hadapan Sadam. Ia tidak ingin ayahnya mengetahui bahwa dirinya kini berada di bawah kendali pria yang selama ini begitu ditakuti banyak orang. Ia juga tidak ingin pernikahan paksa yang terjadi setelah kematian Veronika menjadi bahan perdebatan baru di rumah itu.
Gia masih mengingat bagaimana ayahnya menyarankan Amerda menikah lebih dahulu dengan Ricardo. Saat itu, keluarga Dominic menginginkan seorang menantu dari garis keturunan keluarga Conti sendiri. Karena Amerda merupakan anak angkat, Sadam menyarankan agar Gia yang menjadi pengantin Ricardo, sementara Amerda menunggu gilirannya.
Namun, ketika Gia menghilang pada hari pernikahan, keluarga Dominic terpaksa menerima Amerda sebagai penggantinya demi menyelamatkan kehormatan kedua keluarga. Kini, ironisnya, justru Gia yang terus disalahkan atas kekacauan tersebut, padahal yang dicintai Ricardo tetap Gia putri kandung mereka.
"Ayah,” Gia kembali bersuara, mencoba menjaga nada bicaranya tetap tenang. “Aku tau Ayah marah. Aku tau ada banyak masalah yang harus Ayah hadapi. Namun, setidaknya dengarkan dahulu apa yang ingin disampaikan Tuan Adam. Beliau tidak datang ke sini tanpa alasan.”
Sadam menatap putrinya dengan wajah semakin merah.
“Jadi, sekarang kau membela orang luar daripada ayahmu sendiri?”
“Aku hanya meminta Ayah mendengarkan—”
“Cukup!” Sadam tiba-tiba melangkah maju, lalu mencengkeram pergelangan tangan Gia dengan kasar.
"Aku sudah cukup bersabar menghadapi sikapmu! Sekarang kau bahkan berani berdiri di hadapanku dan mengatur apa yang harus ku lakukan?”
“Ayah, sakit!”
Gia meringis, cengkeraman Sadam begitu kuat hingga ia merasa tulang pergelangan tangannya tertekan. Ia berusaha menarik tangannya, tetapi Sadam justru menyeretnya ke sisi tubuhnya sendiri.
“Berdiri di sini!” bentak Sadam. “Jangan bertingkah seolah-olah kau memiliki kedudukan untuk mengajariku!”
Gia menahan napas. Tubuhnya sedikit terhuyung akibat tarikan mendadak itu, membuat luka di punggungnya kembali terasa nyeri.
“Ayah, lepaskan tanganku ….”
Sadam tidak menghiraukannya.
"Selama kau masih berada di rumah ini, kau akan mendengarkan perkataanku!”
Melihat Gia kesakitan, tatapan Adam berubah seketika. Kepalan tangannya semakin erat hingga kuku jarinya memutih. Ia sudah cukup menahan diri sejak memasuki rumah itu, tetapi melihat Sadam memperlakukan Gia seperti barang yang bisa ditarik sesuka hati membuat amarahnya kembali meluap.
Pria itu berani menyakiti Gia tepat di hadapannya.
“Lepaskan dia,” desis Adam.
Sadam menoleh, tetapi cengkeramannya belum mengendur.
“Ini urusan keluargaku. Aku tidak membutuhkan campur tanganmu!” Kalimat itu menjadi pemantik terakhir bagi kesabaran Adam.
Ia melangkah maju dengan cepat. Tangannya terangkat, tinjunya mengepal, dan tatapannya mengunci wajah Sadam, Gia membelalakkan mata.
“Tuan Adam!”
Sebelum Adam sempat melayangkan pukulan, Marco segera bergerak mendekat. Ia berdiri sedikit di samping tuannya, cukup dekat untuk menahan langkah Adam tanpa membuat gerakannya terlihat mencolok di hadapan keluarga Conti.
“Tuan,” ujar Marco dengan suara rendah, berusaha menjaga agar ucapannya hanya didengar Adam. “Kita bicarakan ini dengan tenang. Silakan masuk terlebih dahulu.”
Adam tidak menurunkan tangannya. Ia perlahan memalingkan wajah kepada Marco. Tatapan yang diberikan kepada bawahannya itu begitu tajam hingga Marco dapat merasakan betapa besar kemarahan yang sedang ditahannya. Marco mengenal tatapan tersebut. Ia tahu persis bahwa Adam bukan sekadar kesal. Tuannya sedang menahan diri agar tidak menghantam wajah Sadam saat itu juga.
Adam juga tahu alasan Marco menghalanginya. Bukan karena Marco tidak memahami kemarahannya, melainkan karena satu pukulan saja bisa mengubah tujuan kedatangan mereka. Sadam akan memiliki alasan untuk mengalihkan pembicaraan, sementara kebenaran tentang kecelakaan Veronika justru berisiko tenggelam di balik pertikaian mereka. Adam menatap Marco beberapa detik lebih lama.
"Berani sekali kau menghalangiku."
Marco menundukkan kepala sedikit, tetapi tidak bergeser dari tempatnya. Ia tetap berdiri di sana, menahan situasi agar tidak semakin memburuk. Sementara itu, Gia masih berada dalam cengkeraman ayahnya. Wajahnya pucat, matanya menatap Adam dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Ia tahu pria itu sedang berusaha menahan amarahnya. Namun, melihat kepalan tangan Adam yang belum terbuka, Gia menyadari jika Marco terlambat beberapa detik saja, mungkin Sadam sudah menerima pukulan yang tidak akan pernah dilupakannya.
Adam masih menatap Marco dengan murka. Sadam masih mencengkeram tangan Gia.
Sementara Gia, yang terjebak di antara dua pria dengan amarah berbeda, hanya bisa berharap bahwa pertemuan pagi itu tidak akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
"Lepaskan dia, kita bicara di dalam." Suara rendah Adam, membuat semua orang tertegun dia melangkah masuk tanpa menunggu yang lain.
ap Dy punya rencana sendri???
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,