NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Srak.

Srak.

Langkah kaki Arga akhirnya berhasil menyibak tirai semak berduri raksasa yang menutupi jalan setapak.

Sebuah pemandangan yang luar biasa sekaligus mengerikan langsung menyambut pandangan mereka bertiga.

Cahaya keunguan yang sejak tadi berpendar redup kini terlihat sangat jelas dan terang.

Cahaya itu berasal dari sebuah danau bawah tanah yang membentang luas di depan mata mereka.

Tidak ada pantulan bintang atau bulan di permukaan airnya karena seluruh danau ini tertutup oleh kanopi pohon raksasa.

"Kita sudah sampai di jantung Hutan Larangan yang sebenarnya."

Gaga berhenti melangkah dan menatap permukaan air danau itu dengan tatapan penuh kewaspadaan.

"Ini adalah Danau Beracun yang ditakuti oleh seluruh makhluk hidup di pegunungan ini."

Arga berjalan perlahan mendekati bibir danau dengan obor yang masih menyala di tangannya.

Permukaan air danau itu terlihat sangat tenang tanpa ada riak gelombang sedikitpun.

Namun warna airnya yang ungu pekat memancarkan aura kematian yang sangat kental.

"Bunga itu benar-benar ada di sana."

Arga menunjuk ke arah tengah danau dengan tangan kirinya yang bergetar menahan haru.

Di tengah-tengah danau beracun itu, terdapat sebuah pulau batu kecil yang menonjol ke atas permukaan air.

Di atas batu hitam itulah sekuntum bunga teratai berwarna merah darah mekar dengan sangat indah.

Kelopak bunganya memancarkan cahaya merah yang kontras dengan warna ungu air danau di sekelilingnya.

Itu adalah Bunga Teratai Merah yang dikatakan Tabib Karta sebagai satu-satunya penawar demam darah.

"Ibu pasti bisa sembuh kalau kita membawa bunga itu pulang, Ayah."

Natasya bersorak kegirangan dari atas punggung Gaga melihat tujuan mereka sudah di depan mata.

"Ayo kita ambil bunganya sekarang juga."

"Tunggu dulu, Natasya, jangan bertindak gegabah."

Arga menahan langkah Gaga saat serigala itu bersiap untuk berjalan mendekati air.

"Air danau ini tidak terlihat seperti air biasa yang bisa kita seberangi dengan berenang."

Arga kemudian berjongkok dan memungut sebuah ranting kayu berukuran cukup besar dari tanah.

Pria itu melemparkan ranting kayu kering tersebut ke tengah permukaan air danau yang berwarna ungu.

Cesss.

Terdengar suara mendesis yang sangat keras saat ranting kayu itu bersentuhan dengan air danau.

Dalam hitungan detik, ranting kayu yang keras itu langsung meleleh dan hancur menjadi serpihan abu hitam.

Asap putih berbau sangat menyengat mengepul ke udara dari bekas lelehan kayu tersebut.

Mata Arga dan Natasya membelalak ngeri melihat reaksi mematikan dari air danau tersebut.

"Air ini adalah cairan asam beracun murni yang bisa melelehkan tulang dan daging dalam sekejap."

Gaga menggeram pelan sambil memundurkan tubuh besarnya beberapa langkah menjauhi bibir danau.

"Bahkan bulu tebalku tidak akan sanggup menahan racun mematikan itu jika aku nekat berenang ke sana."

"Kita akan mati meleleh sebelum sempat menyentuh pulau batu di tengah danau itu, Natasya."

Arga mengusap wajahnya yang kasar dengan perasaan frustrasi yang kembali memuncak.

"Bagaimana caranya aku bisa mengambil bunga itu kalau air sungainya saja tidak bisa disentuh sama sekali?"

"Jarak pulau batu itu dari pinggir danau ini setidaknya ada sekitar dua puluh meter."

"Apa kita bisa membuat jembatan dari kayu pohon yang besar, Ayah?"

Natasya memberikan usul sambil menatap pepohonan mati yang berdiri kokoh di sekitar mereka.

"Ayah kan membawa golok tajam yang bisa dipakai untuk menebang pohon."

"Pohon di sekitar sini terlalu besar untuk ditebang dengan golok kecil milik Ayah, Natasya."

Arga menggelengkan kepalanya dengan raut wajah putus asa menatap sekeliling.

"Butuh waktu berhari-hari untuk menebang satu pohon raksasa ini dan ibumu tidak punya waktu selama itu."

Blup.

Blup.

Blup.

Saat mereka sedang kebingungan mencari cara, permukaan air di tengah danau tiba-tiba bergejolak hebat.

Gelembung-gelembung udara raksasa bermunculan dari dasar danau membuat air ungunya berbuih.

"Semuanya mundur sekarang juga."

Gaga berteriak panik sambil melompat mundur sejauh mungkin membawa Natasya di punggungnya.

Arga juga refleks melompat ke belakang dan langsung memasang posisi kuda-kuda bertarung dengan goloknya.

Byurrr.

Sebuah ledakan air yang sangat besar terjadi tepat di sebelah pulau batu tempat teratai merah itu berada.

Sosok raksasa berwarna hitam legam perlahan bangkit dari dasar danau beracun tersebut.

Makhluk itu memiliki bentuk tubuh yang menyerupai gabungan antara kadal dan katak yang sangat besar.

Tubuhnya ditutupi oleh sisik tebal bergerigi yang memancarkan cahaya ungu redup di sela-selanya.

Ukurannya bahkan dua kali lipat lebih besar dari tubuh Gaga yang sudah sebesar kuda dewasa.

"Makhluk apa lagi ini, Tuhan?"

Arga bergumam dengan bibir gemetar melihat monster mengerikan yang baru saja muncul itu.

"Pantas saja tidak ada manusia yang pernah kembali hidup-hidup dari jantung Hutan Larangan."

Itu adalah Salamander Raksasa purba yang telah hidup selama ratusan tahun di dasar danau beracun.

Makhluk itu membuka mulutnya yang lebar dan mengeluarkan desisan panjang yang memekakkan telinga.

Groarrr.

Ssshhh.

Uap beracun berwarna hijau menyembur keluar dari sela-sela gigi tajamnya saat ia bernapas.

Mata kuning raksasanya yang tidak memiliki pupil menatap tajam ke arah tiga penyusup di pinggir danau.

"Berani sekali kaum rendahan menginjakkan kaki kotor kalian di wilayah suci milikku."

Suara salamander itu menggema sangat berat dan lambat seolah berasal dari dasar bumi terdengar jelas di telinga Natasya.

"Sudah sangat lama tidak ada mangsa bodoh yang datang menyerahkan nyawanya secara sukarela ke tempat ini."

Gaga langsung menggeram keras untuk membalas intimidasi dari monster penjaga danau tersebut.

"Kami tidak bermaksud menantangmu bertarung, Penjaga Danau Tua."

"Kami hanya datang untuk mengambil satu hal kecil dari tempat ini lalu kami akan segera pergi."

"Satu hal kecil yang kau maksud pasti adalah Bunga Teratai Merah milikku itu kan, serigala perbatasan?"

Salamander raksasa itu memutar tubuh besarnya perlahan hingga berhadapan langsung dengan mereka bertiga.

"Manusia selalu datang dengan keserakahan yang sama untuk mencuri harta karun paling berharga di hutan ini."

"Kami bukan pencuri yang serakah, Tuan Salamander."

Natasya akhirnya angkat bicara dengan suara lantang yang mengalahkan rasa takut di hatinya.

"Ibuku sedang sakit parah dan kami sangat membutuhkan bunga itu sebagai obat penawarnya."

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!