NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - MAKAN MALAM DAN SEJARAH

Senin siang, Hendra mengirim pesan yang tidak Lily antisipasi. [Makan malam nanti? Ada yang perlu aku ceritakan langsung. Dan aku mau kamu keluar dari rumah itu setidaknya beberapa jam.]

Lily membaca pesan itu dua kali.

Keluar dari rumah itu setidaknya beberapa jam. Bukan frasa yang dipakai Hendra kalau pesannya hanya soal strategi dan dokumen. Ada sesuatu di pilihan katanya yang terasa berbeda... lebih terasa personal, lebih seperti paman yang bicara ke keponakannya daripada rekan yang sedang menyusun rencana.

[Jam berapa?] balas Lily.

[Jam enam. Aku jemput di ujung jalan.]

Alasan keluar tidak susah ditemukan, Lily bilang ke Tante Sari bahwa ada keperluan beli obat untuk persediaan kotak P3K rumah yang sudah lama tidak diisi ulang. Alasan yang cukup konkret untuk tidak dipertanyakan, cukup fleksibel untuk butuh waktu lebih dari setengah jam.

Tante Sari mengangguk tanpa banyak reaksi. Matanya ada di ponsel... sudah seperti itu dari tadi pagi, yang membuat Lily bertanya-tanya apa yang berubah setelah percakapan kemarin sore.

Hendra menjemput tepat waktu di ujung jalan dengan mobil yang berbeda dari biasanya... lebih kecil, plat lokal.

"Ganti kendaraan?" tanya Lily waktu masuk.

"Sewa. Lebih susah dilacak."

Lily mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut.

Mereka makan di warung makan Sunda yang sederhana, bukan tempat yang mencolok, bukan tempat yang bisa dihubungkan ke salah satu dari mereka secara logis. Daun pisang, nasi putih, lauk yang lebih banyak dari yang bisa dihabiskan dua orang.

Hendra menunggu sampai makanan datang dan mereka sudah mulai makan sebelum bicara.

"Aku mau cerita soal ibumu. Bukan soal kasusnya... soal orangnya."

Lily meletakkan sendoknya.

"Aku kenal Wulan dari kecil," kata Hendra. Ada kelembutan di suaranya yang tidak sering muncul, Hendra biasanya berbicara dengan nada yang terkontrol, efisien. Ini berbeda. "Dia kakak perempuanku satu-satunya. Umur kami beda tujuh tahun tapi kami dekat karena rumah kami tidak besar dan orang tua kami tidak punya banyak waktu, jadi kami jadi teman satu sama lain lebih dari kakak-adik biasanya."

Lily mendengarkan.

"Wulan itu orang yang keras kepala dengan cara yang tidak berisik," lanjut Hendra. Ada senyum kecil di ujung bibirnya yang terasa otentik. "Dia tidak pernah berantem dengan suara keras. Tidak pernah membanting pintu atau teriak. Tapi kalau dia sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa menggerakkan dia. Termasuk aku."

"Dia pernah cerita soal Ayah ke kamu?" tanya Lily.

"Sedikit. Waktu pertama kali mereka ketemu, aku masih remaja dan tidak terlalu perhatian ke urusan kakakku. Tapi aku ingat waktu dia bilang ke aku bahwa dia mau menikah." Hendra mengambil tempe goreng di depannya. "Aku tanya, kamu yakin? Dia jawab, aku tidak tahu apakah aku yakin. Tapi aku pilih percaya dulu."

"Pilih percaya," ulang Lily pelan.

"Dia orangnya seperti itu. Tidak naif, tapi dia punya keputusan untuk memberi kepercayaan lebih dulu sebelum ada alasan untuk tidak memberi. Karena menurutnya, mencurigai semuanya terlalu melelahkan untuk hidup yang panjang." Hendra berhenti sebentar. "Ternyata hidupnya tidak panjang. Dan aku selalu bertanya-tanya apakah itu karena kepercayaannya yang membuat dia lengah, atau justru karena kepercayaannya itu yang membuat dia berani melangkah sejauh yang dia sempat."

Lily menatap piringnya.

"Dia mencintai Ayahku?"

"Ya." Tidak ada ragu di jawaban Hendra. "Tapi cinta Wulan bukan cinta yang buta. Dia tahu suaminya punya kelemahan-kelemahan. Dia tahu ada tekanan dari luar yang suaminya tidak cukup kuat untuk dilawan. Dia tidak menutup mata soal itu, dia hanya memilih untuk tidak menjadikan itu alasan berhenti mencintai, sambil tetap melindungi hal-hal yang penting."

"Termasuk aku."

"Terutama kamu." Hendra menatapnya. "Lily, waktu ibumu sakit, waktu dia sudah tahu situasinya, sudah tahu bahwa ada yang bergerak di sekitarnya. Hal pertama yang dia lakukan bukan melaporkan ke polisi, bukan konfrontasi dengan siapa pun. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghubungi Pak Syarif untuk memastikan hakmu terlindungi. Baru setelah itu dia memikirkan langkah-langkah lain."

"Yang tidak sempat dia jalankan."

"Yang tidak sempat dia jalankan." Hendra mengangguk. "Tapi yang dia sempat siapkan, ruang itu, surat itu, Pak Syarif ternyata lebih dari cukup untuk kamu temukan."

Mereka makan dalam diam sebentar.

Bukan diam yang tidak nyaman, diam yang memberi ruang pada apa yang baru saja dikatakan untuk menetap.

Lily memikirkan Mama dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan sebagai orang yang diambil terlalu cepat, bukan sebagai korban dari sesuatu yang lebih besar. Tapi sebagai perempuan yang tahu situasinya, yang membuat pilihan-pilihan yang terbaik yang bisa dia buat dengan waktu yang dia punya, dan yang sampai di akhir tetap memprioritaskan orang yang dia cintai di atas pembalasan atau kemarahan.

Ada sesuatu yang melegakan dari gambaran itu. Dan ada sesuatu yang, kalau Lily jujur, sedikit mengganggu.

"Aku tidak yakin aku bisa seperti itu," kata Lily.

Hendra menatapnya. "Seperti apa?"

"Memilih tidak menjadikan kelemahan orang lain alasan untuk berhenti mencintai. Memaafkan sambil tetap melindungi diri sendiri." Lily menatap meja. "Aku lebih ke, aku tidak yakin aku akan punya cukup ruang untuk dua hal itu sekaligus."

"Tidak harus sekaligus," kata Hendra. "Dan tidak harus seperti ibumu. Kamu bukan dia, kamu... kamu. Dengan keadaan yang berbeda, dengan usia yang berbeda, dengan hal-hal yang sudah kamu lalui yang berbeda dari apa yang dia lalui."

"Tapi dia titipkan ini semua ke aku."

"Dia titipkan ini ke kamu karena dia percaya kamu bisa menanganinya dengan cara kamu sendiri. Bukan cara dia."

Lily minum air putihnya.

"Sejarah apa lagi yang perlu aku tahu soal keluarga ini?" tanyanya.

Hendra memikirkannya sebentar. "Ada satu hal yang belum aku ceritakan karena aku masih menunggu konfirmasi dari sumber yang bisa dipercaya. Soal bagaimana Reinaldo pertama kali kenal keluargamu."

"Bukan lewat perusahaan?"

"Bukan. Lebih lama dari itu." Hendra mengeluarkan ponselnya, mencari sesuatu, lalu meletakkan di depan Lily. Foto lama, resolusi rendah, tampaknya hasil scan dari foto cetak. Beberapa orang di sebuah acara, tidak jelas acaranya apa. "Foto ini dari dua puluh tiga tahun lalu. Sebelum kamu lahir."

Lily menatap foto itu.

Di sudut kiri, ada dua orang yang berdiri berdampingan. Satu laki-laki yang lebih muda dari Reinaldo yang Lily kenal tapi tidak salah lagi wajahnya. Dan di sebelahnya, seorang perempuan muda dengan rambut panjang dan cara berdiri yang sangat Lily kenal meski dia tidak pernah melihat perempuan ini dalam kondisi semuda ini.

Mama.

"Mereka kenal sebelum Mama menikah dengan Ayah?"

"Lebih dari kenal," kata Hendra. Suaranya berubah... lebih hati-hati. "Dari yang berhasil aku kumpulkan: Reinaldo pernah melamar ibumu. Sebelum ayahmu. Dan ditolak."

Lily menatap foto itu lebih lama.

"Ditolak," ulangnya pelan.

"Wulan tidak pernah cerita detail ke aku soal itu. Aku baru tahu dari sumber lain belakangan." Hendra mengambil ponselnya kembali. "Tapi kalau ini benar, kalau Reinaldo memulai semua ini bukan hanya karena aset tapi karena ada sesuatu yang personal di akarnya. Itu mengubah cara kita harus melihat motivasinya."

"Bukan hanya soal tanah."

"Tidak pernah hanya soal tanah."

Hendra mengantar Lily ke ujung jalan jam delapan malam.

Sebelum turun dari mobil, Lily duduk sebentar dengan tangan di atas tas di pangkuannya.

"Om Hendra."

"Ya?"

"Terima kasih. Bukan hanya soal malam ini."

Hendra menatapnya, matanya ada sesuatu yang mirip dengan cara mata orang melihat ketika mereka menemukan kembali sesuatu yang sudah lama mereka kira hilang.

"Ibumu akan bangga," katanya.

Lily turun dari mobil sebelum mukanya bisa menunjukkan lebih dari yang dia mau tunjukkan di depan orang lain.

Di depan rumah, sebelum masuk, ponselnya bergetar.

Dimas. [Besok tidak jadi. Ada yang berubah. Jangan hubungi aku dulu. Aku yang akan hubungi kamu.]

Lily membaca pesan itu di depan gerbang rumah dengan cahaya lampu jalan yang kuning di atasnya.

Ada yang berubah.

Empat kata yang bisa berarti satu hal baik atau dua puluh hal buruk dan Lily tidak punya cara untuk tahu yang mana sampai Dimas menghubunginya kembali.

Atau sampai sesuatu yang lain terjadi lebih dulu.

Bersambung ke Bab 29...

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!