Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Mobil Baru
Setelah semalam menginap di rumah kedua orang tua Meshwa, keesokan harinya Arjuna bersama Meshwa pun berangkat ke Desa Banyu Alas.
Hampir setiap jam Shima menelfon Meshwa dan menanyakan kapan mereka akan sampai. Gadis kecil itu sudah tak sabar menunggu kedatangan Kakak dan Kakak Iparnya itu.
"Mbak Meshwa pindah ke rumah Cima?" Tanya Shima.
"Mboten, Nduk. Mbak Meshwa tinggal sama Mas Juna, di rumah Mas Juna." Jawab Arsha.
"Kenapa gak di rumah kita aja, Yah? Kan rumah kita juga besar." Tanya Shima.
"Mas Juna kan sudah punya rumah sendiri. Ya lebih enak tinggal di rumahnya to, Nduk." Jawab Arsha.
"Gak enak, kan sepi. Enak yang rame - rame." Sergah Shima.
"Kan Cima ya bisa main ke rumah Mas Juna. Wong cuma di depan kok." Kata Aksa.
"Ah, jauh. Cima males jalan." Jawab Shima.
"Numpak panav, nak males melaku. (Naik Panav, kalau males jalan.)" Sahut Aksa yang merasa gemas dengan bungsu mereka itu.
"Kasihan Panav lah! Jahat banget Bopo ini. Cima kan gendut, nanti Panav semaput (pingsan)." Cerocos Shima.
"Yaudah, Bopo unca/ (lempar). Nanti lak sampe di rumah Mas Juna." Kata Aksa.
"Ah Bopo ini gak peka! Bopo sama aja kayak cowok - cowok lain." Kata Shima sambil melipat tangannya di depan dada.
Arsha dan Aksa pun kompak tertawa setelah mendengar ucapan bungsu mereka yang selalu penuh drama.
"Lha gimana to, Nduk? Coba bilang sama Bopo, maunya apa." Tanya Aksa.
"Ya harusnya kalo bilang males jalan itu, di kasih kendaraan." Kata Shima.
"Lha, Bopo suruh naik Panav, gak mau." Sergah Aksa sambil terkikik geli.
"Ya kasihan Panav lah! Kan Cima lebih besar dari Panav." Sahut Shima.
"Yaudah, besok Bopo belikan kerbau, ya. Kan lebih besar dari Cima." Kata Aksa yang terus meledek.
"Iih! Bopo. Jangan pekok dong! Yang peka loh, yang pekaaa!" Kata Shima yang nampak gemas dengan Boponya.
"Bopo sama aja kayak Ayah, Mas Juna dan Yang Kung. Suka mempermainkan aku." Imbuh Shima hingga membuat Aksa dan Arsha semakin terbahak - bahak.
"Kowe ki, senengane njarak kok, Sa. (Kamu ini, senangnya ganggu kok, Sa.)" Kata Arsha.
"Ya terus, gimana to, Nduk?" Kata Aksa sambil merogoh saku celananya.
"Bilang sama Bopo, mau apa." Kata Aksa sambil mengipas - ngipas uangnya.
Melihat itu, Shima pun langsung mendekat pada Boponya dan memijat - mijat lengan Boponya yang mengipas - ngipaskan uang.
"Ancene kabeh wedok yo podo wae. (Emang dasar semua perempuan sama aja.)" Kata Aksa sambil mencebik saat Shima mulai merayunya.
"Beliin Cima mobil itu loh, Po. Mobil yang bisa di naikin." Kata Shima.
"Lah ya mobil memang bisa di naikin to. Mobil apa yang gak bisa di naikin?" Kata Aksa.
"Mobil - mobilan, gak bisa." Sahut Shima.
"Lho, bisa gitu. Kamu naikin anak ayam itu apa?" Jawab Aksa.
"Oh iya, ya. Hehehe." Kata Shima sambil meringis, memamerkan gigi susunya yang rapi dan putih.
"Beliin mobil, Po. Cima mau punya mobil." Bujuk Shima lagi.
"Itu mobil Ayah ada, mobil Bopo ada, mobil Mas Juna ada, Mobil Yang Kung ada. Ada banyak gitu mobilmu." Sahut Aksa.
"Ck! Kebesaran. Cima gak bisa nyupirnya. Beli mobil yang kayak di rumah Nenek. Mobilnya Dek Zaline itu loh, Po!" Kata Shima.
"Biar Cima gak capek kalo mau ke rumah Mas Juna." Imbuh Shima yang membuat Arsha tak berhenti terkikik geli.
"Yasudah, telfon Mas Juna. Mumpung Mas Juna masih di rumah Mbak Meshwa. Bilang aja, belikan mobil untuk Cima. Nanti Bopo ganti uang kalau sudah sampai di rumah." Kata Aksa yang langsung membuat Shima lompat kegirangan.
"Mana hapenya Bopo?" Kata Shima sambil mengulurkan tangannya dengan gaya centil.
"Halah... Halah... Kemayunee jiaaan." Kata Aksa yang kemudian memberikan ponselnya setelah ia mendial nomor Arjuna.
Ketika panggilan telfon itu terhubung, Shima segera menyampaikan apa yang di perintahkan oleh Boponya dan Arjuna pun menuruti permintaan Adik bungsunya itu.
Waktu yang berlalu, terasa begitu lama bagi Shima. Gadis kecil itu sedari tadi sibuk keluar masuk rumahnya dan rumah Aksa. Tentu karena tak sabar menunggu mobilnya yang di bawa oleh Arjuna.
"Ayaah! Telfon Mas Juna." Kata Shima.
"Baru lima menit lalu nelfon loh, Nduk. Masnya masih di jalan, sabar to." Kata Arsha.
"Iih, lima menit kok lama banget!" Gerutu Shima yang kemudian beranjak pergi menuju ke rumah Aksa.
"Bopo! Bunaaa!" Seru Shima yang langsung berlari masuk ke dalam kamar Bopo dan Bunanya.
"Telfon Mas Juna. Mas Juna udah sampe mana?" Cicit Shima.
"Sabar lho, Nduk. Ini lho belum ada lima belas menit dari kamu nelfon Masmu tadi." Kata Aksa.
"Iih! Ayah sama Bopo pelit! Cuma pinjem buat telfon Mas Juna aja gak boleh." Kata Shima.
"Masnya kan lagi di jalan lho, Nduk. Kasihan kalau di buru - buru terus. Kita kirim voice note aja, ya. Sini sama Buna." Bujuk Saira.
Shima pun menurut, ia berbicara kemudian mengirimkan voice notenya pada Arjuna melalu ponsel Saira.
"Dah, tidur siang dulu. Nanti bangun tidur kan Mas sama Mbaknya udah sampe." Kata Saira.
"Gak mau, ah. Aku mau tungguin Mas Juna aja." Kata Shima yang kemudian keluar dari kamar Saira.
"Ealah, bocah. Mas, besok mending belajar sirep sama Arjuna deh. Biar bisa nyirep anak kecil itu." Kata Saira.
"Mental ilmu sirepnya di Cima. Orang pas tau kalo yang mau di sirep Cima, ilmunya langsung puter balik." Jawab Aksa yang membuat Saira terbahak - bahak.
...****************...
Tin... Tin...
Suara klakson mobil Arjuna, membuat Shima langsung melompat kegirangan. Gadis kecil itu sedang duduk sendirian di teras rumahnya menunggu kedatangan mobilnya.
"Yeee Mas Juna sampe!" Seru Shima.
"Yooh, girang banget." Kekeh Raina.
"Mas! Mana mobilku!" Seru Shima sambil berlari menghampiri Arjuna.
"Salim dulu, to. Di cium dulu Mas sama Mbaknya ini." Kata Arjuna.
Shima pun buru - buru menyalami dan menciumi wajah Arjuna juga Meshwa dengan kecupan.
"Mas... Cepetaan." Kata Shima yang tak sabar. Tingkahnya yang seperti cacing itu tentu membuat keluarganya tertawa.
"Wiih, udah sampe. Nunggunya lho sambil bikin geger orang dua rumah." Kata Aksa yang datang bersama Saira.
"Yee! Mobilku sama kayak mobil Mas Juna! Yuhuuuu!" Girang Shima yang langsung menaiki mobil mini Rubicon berwarna pink itu.
"Di cas dulu to, Dek." Kata Arjuna.
"Kok di cas? Gak pakai minyak kayak mobil Mas?" Jawab Shima yang kembali membuat keluarganya gemas.
"Ini abisnya empat juta. Tadi siapa yang bilang mau ganti?" Tanya Arjuna.
"Bopo!" Seru Shima.
"Ayo, Po. Ganti lho ini uangnya." Kata Arjuna.
"Ck! Gampang." Jawab Aksa sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu.
"Nyoh!" Kata Aksa yang mengepalkan uangnya di tangan Arjuna.
"Lha kok cuma seratus?" Protes Arjuna.
"Lah kan Bopo bilang nanti di ganti uang. Ya itu, Bopo ganti uang." Jawab Aksa yang membuat Mereka semua tertawa kecuali Arjuna tentunya.
"Jiangkreek! Di apusi tok!" Gerutu Arjuna.