Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.
Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar kontrakan bulanan dan menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Dua bulan berlalu dengan cepat. Selama waktu itu, Yuda membuktikan ucapannya; ia tak pernah memaksa, selalu hadir untuk anak-anak, dan perlahan-lahan memenangkan hati Arka serta Tiara hingga mereka tak lagi menganggapnya sebagai orang asing.
Kini, hari yang dinantikan tinggal dua hari lagi.
Suasana di rumah kecil Kirana tampak lebih sibuk dari biasanya. Sesuai permintaan Kirana, pernikahan mereka hanya akan berupa akad nikah dan syukuran sederhana. Tidak ada gedung mewah, tidak ada ribuan undangan, dan tidak ada dekorasi yang berlebihan. Hanya tenda kecil yang menaungi halaman rumah dan beberapa deretan kursi untuk keluarga serta tetangga dekat.
Sore itu, Mbak Rita dan beberapa ibu-ibu tetangga sibuk di dapur, menyiapkan bahan-bahan untuk masakan syukuran lusa. Aroma bumbu dapur mulai memenuhi udara, menciptakan suasana hangat khas hajatan di desa atau kampung.
Di halaman depan, Mas Jefri dengan cekatan membantu memasang lampu-lampu hias sederhana dan merapikan letak kursi. Meskipun ia adalah bawahan Yuda di kantor, di sini ia benar-benar berperan sebagai kakak ipar yang bertanggung jawab.
“Ra, ini bunganya mau ditaruh di sebelah mana?” tanya Jefri sambil mengangkat vas bunga berisi sedap malam yang baru saja diantar.
“Di samping meja akad saja, Mas. Biar harumnya tercium pas Pak Penghulu datang,” jawab Kirana sambil merapikan taplak meja putih yang akan digunakan lusa.
Sesuai rencana, suasana di rumah kecil Kirana mulai ramai sejak pagi. Tradisi "rewangan" atau tetangga yang datang membantu memasak dan menyiapkan perlengkapan hajatan sudah dimulai. Aroma bumbu dapur yang ditumis memenuhi udara, bercampur dengan tawa dan obrolan khas ibu-ibu kompleks.
Kirana sibuk memotong-motong sayuran di sudut dapur bersama Mbak Rita dan beberapa tetangga dekatnya, Bu Ratih dan Bu Aminah.
"Ra, beneran lusa cuma akad saja di sini?" tanya Bu Ratih sambil tangannya lincah mengupas bawang. "Nggak mau sewa gedung di depan gang itu? Kan lebih lega, apalagi calon suamimu katanya bos besar."
Kirana tersenyum tenang, tangannya tetap fokus pada pisau di genggamannya. "Nggak usah, Bu. Maunya yang khidmat saja. Lagian anak-anak juga lebih nyaman kalau acaranya di rumah sendiri."
Bu Aminah menimpali sambil mengaduk santan di kuali besar. "Tapi jarang-jarang lho, Ra, ada orang kaya mau diajak nikah sederhana begini. Biasanya kan gengsi, maunya pesta tujuh hari tujuh malam. Kok Pak Yuda mau-mau saja?"
"Alhamdulillah, Mas Yuda orangnya pengertian, Bu," jawab Kirana lembut. "Dia malah senang kalau acaranya lebih privat, biar lebih terasa kekeluargaannya."
Mbak Rita yang sedang mencuci piring menyenggol lengan Kirana sambil berbisik, "Tapi beneran hari ini Pak Yuda nggak mampir? Biasanya sore-sore begini dia sudah muncul bawa martabak buat anak-anak."
"Nggak, Mbak. Tadi Mas Yuda telepon, katanya di pabrik lagi banyak urusan yang harus diselesaikan supaya minggu depan bisa ambil cuti fokus sama keluarga," jelas Kirana. "Dia cuma kirim beberapa barang saja lewat kurir tadi siang."
Bu Ratih mengangguk-angguk. "Ya baguslah kalau begitu, tandanya dia tanggung jawab sama kerjaan. Tapi tetap saja ya, Ra... Ibu masih nggak nyangka. Kamu hebat bisa dapet pria yang tulus begitu, padahal kita semua tahu dia punya segalanya."
"Semuanya sudah jalannya Allah, Bu," ucap Kirana tulus. "Saya cuma minta doanya supaya lusa lancar, dan yang paling penting anak-anak bisa terima Mas Yuda sepenuhnya."
......
Di tengah kesibukan Yuda, pintu tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Yuda mendongak, matanya seketika menyipit tajam saat melihat sosok Laura berdiri di sana dengan penampilan yang masih angkuh.
Yuda langsung berdiri dari kursinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun di dalam ruangan, ia melangkah cepat, mencengkeram lengan Laura, dan menariknya keluar menuju koridor sepi di area belakang kantor pabrik agar tidak menjadi tontonan stafnya.
"Lepas, Yuda! Sakit tahu!" jerit Laura sambil berusaha melepaskan diri.
Yuda menghempaskan tangan Laura begitu mereka sampai di sudut yang cukup tersembunyi.
“Mau ngapain lagi kamu ke sini, hah?!” bentak Yuda dengan suara rendah namun mengancam. “Mau saya gampar lagi seperti kemarin? Belum cukup peringatan saya waktu itu?”
Laura mengusap lengannya, matanya berkilat benci bercampur iri. “Aku dengar dari orang-orang... lusa kamu mau nikah. Dan aku nggak percaya pas dengar tempatnya. Di rumah gang sempit itu? Benar-benar nggak berkelas. Kamu sudah gila, ya? Kamu pengusaha besar, Mas. Kamu itu pemilik pabrik ini!"
Laura melangkah maju, menatap Yuda dengan pandangan menghina. "Kamu beneran mau nikah sama perempuan udik itu? Apa kamu nggak malu? Dia itu nggak selevel sama kita, Mas. Dia cuma bakal jadi beban dan bikin nama kamu jatuh di depan rekan bisnis kamu!"
Yuda tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kebencian. "Udik kamu bilang? Perempuan yang kamu sebut udik itu jauh lebih terhormat dibanding kamu! Dia punya harga diri yang nggak bisa dibeli, sesuatu yang sama sekali nggak kamu punya."
Yuda menunjuk ke arah pintu keluar pabrik. "Dengar ya, Laura. Kirana itu wanita yang saya pilih untuk jadi ibu dari anak-anak saya. Dia yang minta pernikahan ini sederhana karena dia nggak mau memberatkan saya. Dia nggak silau sama jabatan saya sebagai bos di sini, beda sama kamu yang cuma cinta sama dompet saya!"
"Tapi Mas, dia itu cuma janda kampung—"
"Tutup mulut kamu!" bentak Yuda, suaranya menggema di koridor. "Sekali lagi kamu menghina calon istri saya, saya pastikan hidup kamu nggak akan tenang. Sekarang pergi dari pabrik saya sebelum saya panggil satpam untuk menyeret kamu."
Dengan perasaan dongkol dan malu, Laura berbalik dan berjalan cepat meninggalkan area kantor pabrik.
Yuda menyandarkan tubuhnya ke dinding, mengatur napasnya yang memburu. Ia melirik ke arah jam tangan. Ia harus segera tenang karena ia tidak ingin membawa aura negatif ini saat pulang nanti. Baginya, lusa adalah hari suci yang tidak boleh dikotori oleh masa lalunya yang kelam.