Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring laba-laba global,dan kebutaan dunia
Mobil sedan mewah itu kembali meluncur, membelah aspal Jakarta yang mulai berpendar oleh lampu-lampu kota. Di dalam kabin yang kedap suara, Steven mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi mengikuti irama musik klasik yang mengalun rendah.
Suasana yang tadinya intim di rumah makan, kini berubah menjadi serius saat Steven mulai membuka pembicaraan mengenai tujuan utama kedatangan Laura ke ibu kota.
Suaranya rendah namun berwibawa
"Kau tahu, Laura... Konferensi Asia kali ini bukan sekadar pertemuan rutin untuk membahas wilayah atau jiwa-jiwa baru. Ada alasan yang jauh lebih besar mengapa kau,dipanggil ke sini."
Kata Steven dengan suara rendah,namun berwibawa.
Laura menoleh, menatap profil samping wajah Steven.
"Aku berasumsi ini tentang ekspansi jaringan ke Asia Utara. Bukankah begitu?"
Steven terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar dingin namun penuh rahasia. Ia melirik Laura sekilas melalui spion tengah sebelum kembali menatap jalanan di depan.
"Itu hanya kulitnya. Inti dari konferensi ini adalah kehadiran Tamu Besar. Sosok yang mengepalai sekaligus mendanai seluruh pergerakan organisasi kita di tingkat dunia. Dia bukan orang biasa, Laura. Dia adalah arsitek di balik layar yang memegang kendali atas banyak petinggi negara, perbankan global, hingga teknologi dunia dengan kekayaan yang tak terbatas."
Steven menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan yang agak sepi, menghadap deretan gedung tinggi yang megah yang tampak seperti pilar-pilar raksasa. Ia menatap gedung-gedung itu dengan binar pemujaan di matanya.
"Aku memberitahumu ini agar kau paham. Semua fasilitas mewah yang kau nikmati—rumah,mobil pribadi yang membawamu, pakaian, hingga otoritas yang kau genggam—semuanya berasal dari satu sumber. Dia-lah yang melatar belakangi 'kesenangan' yang kita terima dari jalan kegelapan ini."
Laura: "Siapa dia sebenarnya? Kenapa kehadirannya terasa begitu mendesak sekarang?"
Steven menoleh sepenuhnya ke arah Laura, wajahnya tampak sangat serius"Dia adalah representasi duniawi dari Tuan yang kita sembah. Di konferensi nanti, kau akan diperkenalkan langsung padanya. Kau harus siap, Laura. Karena bagi dia, kau bukan sekadar anggota. Kau adalah mahkota yang akan ia pamerkan kepada dunia sebagai bukti bahwa kegelapan telah menemukan dirinya dalam wujud manusia yang ada di asia khususnya di negara kita.kau adalah salah satu calon pengantin iblis.
Laura merasakan desir halus di nadinya. Penjelasan Steven membuat dunianya terasa jauh lebih luas dan sekaligus lebih mengerikan. Jika selama ini ia hanya berurusan dengan Marco dan Elena di tingkat regional, kini ia sadar bahwa ia sedang berada di pusat badai global yang digerakkan oleh uang dan kekuasaan mutlak.
"Ingat, di hadapannya, jangan tunjukkan keraguan sedikit pun. Dia bisa mencium ketakutan dari jarak satu mil. Tapi jangan khawatir... selama kau bersamaku, aku akan memastikan kau akan baik-baik saja.
Steven kembali menjalankan mobilnya. Di tengah kemacetan Jakarta, Laura merasa seperti sedang menuju ke sebuah altar yang jauh lebih megah dari apa pun yang pernah ia bayangkan.
Mobil itu kini melintasi kawasan Sudirman, di mana deretan gedung pencakar langit tampak seperti pilar-pilar raksasa yang menyangga langit malam Jakarta. Laura menatap keluar jendela, memandangi kerlip lampu dari ribuan jendela kantor yang masih menyala. Penjelasan Steven barusan terasa seperti sebuah kunci yang membuka pintu raksasa di dalam pikirannya.
Dunia yang selama ini ia kenal di rumah huniannya, pusat—ritual-ritual kecil, penyusupan di hotel, dan penggalangan jiwa lokal—tiba-tiba terasa seperti taman bermain anak-anak dibandingkan dengan skala yang sedang dibicarakan Steven.
Steven memperlambat laju mobilnya saat mereka mendekati kawasan pengamanan ketat di sekitar area tempat tinggalnya.Ia menoleh sekilas ke arah Laura, menyadari bahwa gadis itu sedang memproses informasi yang sangat berat.
"Kau mulai paham sekarang, Laura? Kita tidak sedang membicarakan agama atau sekadar pemujaan di ruang bawah tanah. Kita sedang membicarakan tata kelola dunia. Tamu Besar itu datang untuk meresmikan realisasi proyek-proyek besar yang sudah dirancang selama puluhan tahun.
"Suara Laura merendah, penuh rasa ingin tahu. "Proyek apa, Steven? Gerakan zaman baru seperti apa yang kau maksud?"
Steven tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ambisi tak terbatas.
"Kendali total. Melalui teknologi, dan suatu saat nanti,di masa depan sistem keuangan digital yang terpusat, hingga kontrol atas krisis global. Struktur tertinggi organisasi kita akan berperan aktif dalam setiap lini kehidupan masyarakat. Tujuannya adalah menggiring dunia pada sebuah Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang sepenuhnya terkontrol secara total oleh pusat. Tidak ada lagi kebetulan, Laura. Semua akan berjalan sesuai skenario 'Tuan' kita."
Laura merasakan sensasi dingin namun sekaligus memabukkan menjalar di tulang belakangnya. Selama ini, ia hanya melihat dirinya sebagai korban atau alat, namun kini ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari mekanisme raksasa yang akan mengubah jalannya sejarah manusia.
"Jadi ini alasan pendar hitam di nadiku terasa begitu kuat. Aku bukan hanya 'Pengantin' untuk ritual lokal... aku adalah bagian dari simbol kekuasaan global ini.dan aku sedang di persiapkan untuk sebuah misi besar di daerahku sendiri.Marco... dia tidak pernah memberitahuku sejauh ini. Mungkin karena dia sendiri tidak tahu, atau dia ingin melindungiku dari kebenaran yang mengerikan ini.
"Dalam beberapa tahun ke depan, dunia tidak akan lagi mengenali dirinya sendiri. Dan kau, Laura... kau akan berada di barisan terdepan saat pita peradaban baru itu digunting. Itulah mengapa kau harus tampil sempurna. Kau adalah wajah dari masa depan yang kita tawarkan mewakili salah satu negara di Asia.
Pemuda indo itu mematikan mesin mobil sepenuhnya, membiarkan keheningan kabin yang mewah menyelimuti mereka sejenak. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah gawai lipat tipis.sebuah proyeksi peta.
Peta itu tidak seperti peta dunia biasa. Permukaannya dipenuhi dengan garis-garis merah yang saling terhubung seperti jaring laba-laba, mengikat benua satu dengan yang lain
"Lihat ini,Titik-titik cahaya ini bukan sekadar kantor cabang. Ini adalah pusat-pusat saraf ekonomi dan politik dunia. Organisasi rahasia besar yang mengepalai kita telah menjalin kerjasama dan perjanjian gelap yang mengikat banyak negara di dunia melalui hutang, teknologi, dan ketergantungan energi."
Steven menggeser jarinya.
"Perjanjian ini bersifat permanen. Begitu sebuah negara menandatanganinya, mereka tidak lagi memiliki kedaulatan penuh. Mereka menjadi bidak dalam orkestra besar Sang Tuan. Semuanya terikat dalam satu sistem kendali yang tak terlihat namun mutlak."
Laura menatap jaring-jaring merah itu dengan mata terbelalak. Ia tanpa sadar menggelengkan kepalanya pelan, seolah menolak kenyataan yang terpampang di depan matanya. Bulu kuduknya merinding hebat; rasa dingin yang bukan berasal dari AC mobil menjalar dari tengkuk hingga ke ujung jemarinya.
"Sampai sejauh inikah rencana besar mereka untuk dunia? Ini bukan lagi tentang ritual di hutan atau kamar hotel... ini adalah penjara global yang sedang dibangun." ucapnya dalam hati.
Ia menoleh ke arah Steven yang tampak begitu tenang, seolah sedang membicarakan rencana liburan biasa.
"Kenapa... kenapa banyak manusia tidak pernah menyadari ini? Bagaimana mungkin milyaran orang bisa begitu buta terhadap jaring yang sedang menjerat leher mereka sendiri?"
Laura bertanya dengan suara gemetar.
"Karena mereka terlalu sibuk, Laura. Mereka disibukkan dengan hiburan murah, pertikaian politik yang dibuat-buat, dan perjuangan untuk sekadar bertahan hidup sehari-hari. Manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Mereka lebih memilih keamanan yang palsu daripada kebenaran yang mengerikan."
Pemuda itu menatap Laura dengan tatapan yang seolah menembus jiwanya.
"Itulah kejeniusan organisasi ini. Kita tidak perlu bersembunyi di dalam gua. Kita bersembunyi tepat di depan mata mereka, di dalam gedung-gedung kaca yang megah ini. Dan saat mereka sadar... semuanya sudah terlambat."
Laura kembali menatap keluar jendela, ke arah deretan gedung pencakar langit. Kini, gedung-gedung itu tidak lagi tampak seperti simbol kemajuan baginya, melainkan seperti jeruji besi dari sebuah penjara raksasa yang sedang menunggu untuk dikunci.
Ia menghela napas panjang, sebuah kombinasi antara ketakutan yang mendebarkan dan rasa puas yang aneh. Penjelasan Steven seperti potongan puzzle terakhir yang melengkapi gambaran besar di kepalanya. Selama dua tahun ini ia merasa seperti pion yang bergerak dalam gelap, namun malam ini, di dalam mobil mewah di jantung Jakarta, ia merasa baru saja diberikan peta medan perang yang sesungguhnya.
Wawasan ini memberinya rasa berdaya yang memabukkan. Ia tidak lagi merasa sebagai gadis yang sekadar melarikan diri, melainkan bagian dari elit global yang akan menentukan nasib peradaban dunia.
Steven menyandarkan punggungnya di jok kulit, menatap Laura dengan senyum tipis yang penuh teka-teki. Ia bisa melihat binar ambisi yang mulai menyala di mata gadis itu—sebuah binar yang ia cari sejak pertama kali menjemputnya di bandara.
Dengan suara lembut namun penuh penekanan Steven berkata,
"Aku senang kau bisa menyerap ini dengan cepat, Laura. Kebanyakan orang akan jatuh pingsan atau histeris mendengar skala rencana kita. Tapi kau... kau justru terlihat haus akan lebih banyak informasi."
"Karena selama ini aku hanya melihat bayangannya, Steven. Sekarang aku ingin melihat sumber cahayanya—atau sumber kegelapannya."
Steven terkekeh, lalu meraih kunci mobilnya. Ia tahu saatnya untuk memberikan jeda agar informasi ini meresap sempurna ke dalam jiwa teman gadis yang baru ditemuinya itu.
"Simpan energi itu untuk besok. Apa yang kukatakan malam ini hanyalah pengantar. Untuk selengkapnya—rincian Proyek Zaman Baru, identitas Tamu Besar, dan peran spesifikmu dalam rantai komando dunia—kau akan mendengarnya langsung di podium konferensi besok." tegas Steven sambil tersenyum tipis.
Steven keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Laura dengan sikap yang sangat sopan, hampir seperti seorang pelayan bagi seorang ratu. Di depan rumahnya yang tampak mewah dan megah itu, para penjaga memberikan salam saat mereka melintas.
"Malam ini, tidurlah dengan nyenyak. Fasilitas di rumah ini sudah disesuaikan dengan seleramu. Besok pagi, dunia yang kau kenal akan berakhir, dan dunia yang kita bentuk akan dimulai."
Laura melangkah masuk ke dalam rumah yang megah dengan perabotan yang mahal di dalamnya.jauh lebih mewah,di bandingkan dengan rumah yang di hadiahkan Satanik Manado untuknya.langkah kakinya berdentang tegas di atas marmer. Di dalam kepalanya, peta jaring merah itu masih berpendar. Ia merasa puas karena akhirnya ia tahu seberapa besar "harga" dari jiwanya yang telah ia serahkan.
Namun, jauh di lubuk hatinya, bayangan Marco yang berdiri di landasan pacu tadi pagi sempat melintas. Marco adalah masa lalunya yang sempit dan emosional, sementara Steven dan konferensi besok adalah masa depannya yang luas dan tanpa batas.