NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tujuh Belas — Bunyi Ketukan

Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka yaa...

Arsya langsung menunduk pura pura merapikan tali sepatunya. Jay berdehem kecil, terlalu jelas dibuat-buat untuk seseorang yang katanya tenang dalam segala situasi. “Fokus,” katanya singkat.

“Ya, fokus,” sahut Niki datar. “Fokus ke Alpha, bukan ke ‘pasangan yang cocok’.” Jay melirik tajam, “kau ini—sudah ayo kita lanjut perjalanan sedikit lagi.”

Angin kembali berdesir, membawa aroma air sungai yang lembab. Jay tidak membuang waktu. “Gerak. Sekarang.”

Mereka keluar dari cekungan akar dan bergerak cepat, menyusuri tepian hutan hingga suara air sungai terdengar jelas. Arusnya tidak besar, tapi cukup deras untuk menutup suara langkah jika diperlukan.

Jay berhenti di dekat batu besar yang tertutup lumut tebal. Ia berlutut, tangannya menyapu tanah, meraba sesuatu di balik akar kecil dan dedaunan kering.

Klik.

Seketika tanah di bawah mereka bergetar halus. Beberapa dari mereka langsung bersiap menyerang, reflek. Namun Jay, tetap tenang. Tanah berlumut itu perlahan bergeser, memperlihatkan garsi persegi samar yang tadi tersembunyi sempurna. Debu dan tanah runtuh tipis, dan sebuah celah terbuka.

Tangga menurun, beton tua, gelap. Arsya menatap tak percaya. “Ini… apa?” Jay menoleh, tersenyum tipis. “Sisa bunker pemburu lama. Tidak banyak yang tahu.” Niki sudah turun lebih dulu tanpa komentar. Langkahnya pelan, hati hati, mengecek setiap sudut dengan senter kecil yang cahayanya di tutup sebagian agar tidak mencolok.

Beberapa detik terasa lama. Lalu suara Niki terdengar dari bawah, “Aman. Tidak ada tanda-tanda dihuni.” Jay memberi isyarat.

Satu per satu mereka masuk. Begitu semua turun, Jay menarik tuas kecil di sisi dinding. Pintu atas kembali tertutup perlahan, menyatu lagi dengan tanah dan lumut. Gelap menyelimuti. Hanya cahaya dari senter kecil dan lubang ventilasi tipis yang memberi sedikit udara.

Ruangan itu tidak bear, tapi cukup untuk delapan orang. Dindingnya beton tua, beberapa rak besi berkarat masih menempel. Ada sisa peti kayu kosong dan selimut lama yang sudah mengeras oleh waktu.

Arsya menghembuskan nafas panjang, untuk pertama kalinya sejak kota— mereka berada di tempat yang benar-benar tersembunyi. Jay bersandar ke dinding. “Di atas itu sunga. Bau air akan mengacaukan jejak. Hutan memutar arah. Kalau Alpha membaca pola kita, dia akan menemukan lingkaran.” Ia berhenti sejenak. “Tapi tidak ini.”

Lyno menatapnya kagum, “sejak kapan kamu tau tempat ini?” Jay terdiam sesaat. “Dulu,” jawabnya singkat. “Sebelum semuanya hancur.”

Arsya memperhatikan nada suaranya. Ada sesuatu di sana, namun belum sempat ia bertanya, dari atas sangat samar–terdengar suara ranting patah. Lalu satu langkah berat di tanah. Berhenti, tepat diatas mereka.

Semua membeku. Niki mematikan senter, walau mereka yang diatas tidak bisa melihatnya. Gelap total. Hanya suara nafas tertahan, langkah itu tidak berburu, tapi itu bukan seperti suara Alpha, melainkan monster lain.

Jay tetap diam, tapi pikirannya bekerja cepat. Sosok yang diatas bukan Alpha maupun kawanan Kanihu. Tapi ada yang lebih dari itu, sosok di atas sedang mencari sesuatu dengan cara berbeda.

Tiba-tiba, terdengar suara menghirup, panjang, dalam, yang seperti bukan dari hidung normal. Lebih seperti rongga yang retak. Makhluk itu tepat di atas pintu tersembunyi. Diam kemudian bunyi ketukan terdengar pelan, satu kali.

Bukan menghantam tapi membuat semua jantung terasa berhenti, Regan hampir bergerak, tapi Jay langsung menahan lengannya dalam gelap.

Jangan.

Ketukan kedua, lebih keras namun masih tidak mencoba membuka, seolah sosok itu hanya sedikit penasaran dan menguji. Mungkin tidak merasa yakin dengan apa yang dia lakukan. Suara itu berhenti, hanya aliran sungai yang terdengar samar.

Beberapa detik, beberapa menit. Tak ada yang tahu, lalu langkah itu bergerak menjauh, tidak cepat, tidak terburu, melainkan langkah berat. Tak lama terdengar suara yang membuat darah mereka terasa membeku.

Suara seperti tawa pendek, patah, dari tenggorokan yang rusak, makhluk itu tentunya bukan Kanihu biasa, maupun Alpha. “Itu,.. tadi apa?” Jay menatap gelap di atas mereka.

Gelap masih menyelimuti bunker. Tak ada yang langsung menyalakan senter. Suara tawa patah itu masih terngiang–pendek, serak, seperti tenggorokan yang tidak lagi manusia…  tapi juga belum sepenuhnya makhluk.

“...itu tadi apa?” suara Arsya hampir tak terdengar. Jay tetap menatap ke atas, ke arah pintu tersembunyi yang kini kembali sunyi. “Itu bukan Kanihu biasa,” jawabnya pelan. “Dan bukan Alpha.”

Niki bersandar ke dinding beton. “Gerakannya tidak liar. Tapi juga tidak terkontrol.” Lyno menelan ludah.” Seperti… setengah jadi.” kata itu menggantung.

Setengah jadi.

Mereka semua teringat dokumen yang pernah mereka baca.

Subjek Alpha.

Distribusi vaksin tahap uji coba

Respon agresivitas pasca-injeksi.

Dan satu lagi—Proyek Cermin.

Mempelajari Alpha.

Menilai potensi kendali perilaku.

Aplikasi militer & pengendalian populasi.

Ditunda—karena subjek mulai berpikir terlalu mandiri. 

Arsya berbisik pelan, “bagaimana kalau… sebelum Alpha, ada yang lain?”

Sunyi.

Arsya perlahan berbicara, suaranya lebih stabil sekarang. “Bagaimana kalau itu bukan kegagalan… tapi tahap awal?” Jay akhirnya menurunkan pandangannya, “Prototipe,” gumamnya.

Niki mengangguk perlahan, “versi sebelum stabil.”

Jika Alpha adalah hasil yang berhasil—cerdas, terstruktur, mampu memberi sinyal—maka yang tadi di atas.. Bisa jadi hasil yang gagal dikendalikan. Atau lebih buruk….

Hasil pertama.

Hasil mentah.

Makhluk yang tidak sepenuhnya tunduk pada pola kawanan. Tidak sepenuhnya liar dan tidak sepenuhnya rasional. Arsya menggenggam lututnya sendiri. “Kalau itu awalnya… berarti semua ini memang dibuat.”

Tidak ada teori, tidak ada lagi dugaan, sesuatu yang diciptakan, sesuatu yang disuntikan maupun sesuatu yang dilepaskan. Dan sekarang sedang berevolusi, berkeliaran di dalam hutan yang menurut mereka aman.

Jay akhirnya menyalakan senter kecilnya, menyorot lantai beton di antara mereka. “Kita tidak cuma dikejar,” katanya pelan. “Kita berada di tengah eksperimen yang belum selesai.” Lyno menatap kakaknya.

“Berarti jawabannya bukan cuma bertahan hidup, melainkan…” Arsya mengangguk perlahan, “ya.”

Jika makhluk tadi adalah bukti awal—jika Alpha adalah bukti keberhasilan. Maka masih ada celah besar dalam sejarah yang belum mereka pahami. Siapa pencetusnya, siapa yang mendanai, siapa yang pertama kali penyuntikan. Dan kenapa dihentikan… bukan dimusnahkan.

Jay menatap satu per satu wajah di ruangan itu. “Kita harus cari sumbernya.”

Niki mendengus pelan, tapi kali ini tanpa sindiran. “Artinya kita tidak bisa terus sembunyi.”

“Tidak,” jawab Jay. “Kalau kita hanya lari, kita akan terus diburu.” Arsya menatap ke arah langit-langit bunker. “Kalau kita tau asalnya…” ia berbisik, “mungkin kita tahu cara menghentikannya.”

Di atas mereka, hutan kembali sunyi. Namun kini mereka sadar—musuh mereka bukan hanya manusia, kawanan, maupun Alpha.  Melainkan ambisi manusia yang mungkin masih meninggalkan sesuatu yang belum sepenuhnya bangkit.

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan votenya yaa.. Kita lanjut jam 16.00pm

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!