Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BOCAH TENGIL
Pagi harinya Nayla tampak sudah memakai seragam sekolahnya. Namun saat ia hendak keluar kamar, ia dihalangi oleh Adnan.
"Pak Es, minggir! Saya ini mau sekolah, bukan mau audisi jadi mayat hidup. Jangan halangi jalan ninja saya!"
Nayla berdiri di depan pintu kamar dengan tas sekolah yang sudah dicangklong di satu bahu. Meski wajahnya masih sepucat kertas HVS dan keringat dingin tampak di pelipisnya, tangannya tetap sibuk mengikat tali sepatu ketsnya dengan kencang.
Adnan berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi jalan dengan kedua tangan bersedekap. Tatapannya sedingin kutub utara. "Wajahmu itu lebih mirip hantu daripada siswi sekolah. Kembali ke kasur, atau saya kunci pintunya dari luar."
Nayla mendongak, menyeringai tengil meski matanya sedikit sayu. "Duh, Hubby sayang. Saya ini petarung, Pak. Flu doang mah dianggap latihan pernapasan. Lagian hari ini ada pembahasan soal ujian matematika. Kalau saya nggak masuk, skor saya bisa turun jadi peringkat dua. Mas mau punya istri nggak pinter?"
"Saya lebih suka punya istri pinter yang tidak pingsan di tengah koridor sekolah," balas Adnan ketus. Ia memperhatikan bagaimana jemari Nayla sedikit gemetar saat merapikan jilbabnya. "Oke, kamu boleh sekolah. Tapi tidak ada motor sport. Kamu berangkat dan pulang dengan mobil saya. Titik. Tidak ada negosiasi atau saya telepon Ayahmu sekarang juga."
Nayla menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Ck! Pak Es mainnya ancaman terus! Ya sudah, tapi turunin saya dua blok sebelum gerbang ya? Saya nggak mau dikira lagi diculik sugar daddy."
"Masuk ke mobil, Nayla. Sebelum saya berubah pikiran," desis Adnan sambil berjalan mendahuluinya.
Sesampainya di SMA Garuda Bangsa, mobil mewah milik Adnan berhenti tepat di depan gerbang, mengabaikan permintaan Nayla untuk turun di gang sebelah. Begitu Nayla keluar dari pintu penumpang, suasana sekolah yang tadinya riuh mendadak senyap. Ratusan pasang mata tertuju pada gadis berjilbab putih itu.
"Tuh kan, beneran simpanan," bisik seorang siswi di dekat mading.
"Pantesan motornya baru terus, ternyata dapet dari om-om mobil mewah," timpal yang lain dengan nada sinis.
Nayla hanya memutar bola matanya. Ia berjalan melewati mereka dengan langkah tegap, kepalanya terangkat tinggi seolah tidak mendengar apa-apa. Baginya, ocehan mereka hanyalah suara nyamuk yang tidak perlu ditanggapi dengan pukulan, setidaknya untuk saat ini karena tubuhnya memang masih terasa agak melayang.
Pelajaran berlangsung lambat. Fokus Nayla sering terganggu oleh rasa pusing yang sesekali menyerang. Saat bel pulang berbunyi, ia melihat mobil Adnan sudah terparkir di depan. Namun, rasa jengah mendengar bisikan teman-temannya membuat insting "liarnya" bangkit.
"Maaf ya, Hubby. Gue lagi mau menghirup udara bebas," gumam Nayla.
Ia menyelinap lewat pintu belakang sekolah, meloncati pagar rendah yang biasa ia gunakan saat bolos, dan segera mencegat ojek motor yang sedang lewat. "Bang, ke arah perumahan Hasyim, tapi muter lewat pasar lama ya!"
Di tengah perjalanan, saat motor melewati sebuah gang sempit di dekat kawasan kumuh, mata tajam Nayla menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Di pojok gang, tiga orang preman berbadan besar sedang mengerumuni sekelompok anak pemulung. Salah satu anak, yang tubuhnya sangat kurus, tersungkur di aspal setelah ditendang oleh preman berjaket jip.
"Gue nggak peduli kalian laper! Besok setorannya harus naik dua kali lipat! Kalau nggak mau jadi pengemis, ya jadi samsak gue!" bentak preman itu sambil mengangkat kakinya lagi.
"Bang, berhenti! Berhenti di sini!" teriak Nayla sambil menepuk bahu tukang ojek dengan keras.
"Tapi Neng, itu preman pasar.."
"Berhenti atau saya loncat!" ancam Nayla.
Begitu motor berhenti, Nayla langsung melompat turun. Ia berlari kecil menghampiri kerumunan itu. Rasa lemas di kakinya mendadak hilang, digantikan oleh adrenalin yang memuncak.
"Woy! Beraninya sama anak kecil. Sini, lawan yang sepadan!" teriak Nayla lantang.
Ketiga preman itu menoleh, tertawa meremehkan melihat seorang gadis mungil berjilbab menantang mereka. "Wah, ada pahlawan kesiangan. Mending lo pulang, Dek. Masakin nasi buat emak lo," ejek si pemimpin preman.
Nayla tidak banyak bicara. Saat preman itu maju hendak mencengkeram jilbabnya, Nayla merunduk cepat. Ia melayangkan pukulan uppercut tepat ke dagu lawan, disusul tendangan samping yang mengenai rusuk preman kedua. Namun, tubuhnya yang belum fit 100% membuatnya sedikit terhuyung setelah melakukan gerakan itu. Pandangannya sempat memburam sesaat.
"Sial, badan gue pengkhianat banget," batin Nayla sambil memegangi kepalanya.
"Oh, lagi sakit toh? Sini biar abang sembuhin!" Preman ketiga menerjang dengan botol kaca di tangan.
Nayla bersiap memasang kuda-kuda defensif, namun sebelum botol itu mengenai kepalanya, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan si preman dari belakang. Krak! Suara tulang bergeser terdengar nyaring diikuti teriakan kesakitan.
"Berani menyentuhnya, berarti kamu memilih untuk tidak melihat matahari besok," suara dingin itu terdengar sangat familiar.
Adnan Hasyim berdiri di sana, wajahnya tampak lebih menyeramkan daripada preman mana pun. Di belakangnya, dua bodyguard pribadinya langsung bergerak melumpuhkan sisa preman yang ada. Adnan segera menarik Nayla ke dalam pelukannya, meski wajahnya tetap menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
"Kamu... benar-benar tidak bisa diam sehari saja?!" bentak Adnan setelah memastikan preman-preman itu sudah tak berdaya.
Nayla melepaskan diri dari pelukan Adnan, mencoba berdiri tegak meski napasnya tersengal. "Mereka jahat, Pak Es! Mereka pukulin anak-anak itu cuma gara-gara setoran! Bapak lihat sendiri kan?"
"Saya tidak peduli dengan mereka! Saya peduli dengan kamu yang hampir saja pecah kepalanya!" Adnan menarik tangan Nayla menuju mobilnya yang ternyata sudah membuntuti ojek tersebut sejak tadi. "Masuk! Kita pulang!"
"Nggak mau! Urusin dulu anak-anak itu!" Nayla menunjuk ke arah anak-anak pemulung yang ketakutan di pojok gang. "Kata guru ngaji saya, kalau mau masuk surga, kita harus berbuat baik dan melindungi yang lemah. Emangnya Bapak nggak mau masuk surga?"
Adnan terdiam. Ia menatap wajah istrinya yang penuh keringat dan debu, namun matanya memancarkan ketulusan yang luar biasa. Kalimat "masuk surga" itu lagi-lagi menghantam ego Adnan.
"Pak Es kalau cuma kaya tapi nggak peduli sama mereka, hartanya nggak bakal dibawa mati. Mending buatkan mereka pondok kecil atau rumah singgah di sini. Biar mereka nggak tidur di jalanan dan dipukulin preman lagi. Itu baru namanya Hubby yang keren," tambah Nayla dengan suara yang mulai mengecil karena tenaganya habis.
Adnan menghela napas panjang. Ia menoleh pada asistennya, Dion, yang berdiri di samping mobil. "Dion, beli bangunan tua di ujung gang ini. Renovasi jadi rumah singgah. Pastikan semua anak di sini punya tempat tidur yang layak dan keamanan 24 jam. Urus semuanya hari ini juga."
Nayla yang mendengar itu langsung tersenyum lebar. Ia secara spontan memeluk pinggang Adnan. "Nah, gitu dong! Kan makin sayang."
Adnan mematung sesaat, lalu dengan kaku ia mengelus kepala Nayla. "Sudah puas? Sekarang masuk ke mobil sebelum saya berubah pikiran dan membatalkan renovasinya."
Di dalam mobil, Nayla langsung tertidur pulas karena kelelahan, menyandarkan kepalanya di bahu Adnan. Adnan menatap wajah istrinya yang tidur dengan tenang. Ia menyadari satu hal: Nayla bukan hanya seorang petarung yang menggunakan otot, tapi juga seorang "bodyguard" bagi kemanusiaan yang mulai hilang di dalam diri Adnan.
"Surga ya?" gumam Adnan pelan sambil menyelimuti Nayla dengan jasnya. "Sepertinya jalanku ke sana memang harus lewat bocah tengil ini."
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥