Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-9
Hajeera baru saja pulang dari tempat les nya tepat pukul 16:00 sore hari, kakinya melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah nya yang sedikit murung, ia cukup malas untuk pulang ke rumah saat ada kakak angkatnya.
Bukan karena tidak mencintai nya, tapi kecurigaan yang ia tahu buktinya, tidak bisa membohongi hatinya, namun ia yang masih remaja tidak bisa bertindak sendiri karena ia tahu betul jika dirinya kembali bertindak gegabah dan kekanak-kanakan bisa bisa ia kehilangan segalanya dalam hidupnya.
"Sudah pulang sayang..." Indri bertanya pada Hajeera dengan wajah tersenyum saat dirinya berpapasan dengan Hajeera di ruang depan rumah milik keluarga Dirgantara.
"Hmm..." seperti biasanya Hajeera hanya menjawab dengan deheman lalu melanjutkan perjalanan kembali.
"Jera, apa aku membuatmu marah lagi?" tanya Indri dengan wajah penuh merasa bersalah.
Namun wajahnya yang penuh merasa bersalah membuat emosi Hajeera bergejolak, emosinya hampir terpancing, namun Indri mungkin lupa jika anak kecil yang dihadapinya sekarang telah tumbuh dewasa dan berkembang dengan baik.
"Maaf kak aku membuatmu khawatir, pelajaran di tempat les membuat mood ku memburuk..." jawabnya dengan bibir cemberut yang di imutkan.
Tangan Indri mengepal menahan amarahnya, namun ia berusaha agar tersenyum, hingga senyum kecil dan getir terlukis di sudut bibirnya.
"Hmm, okey,..." ujar Indri mengangguk lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Kakak dengar, tadi pagi mamah bujuk Aaron pulang, kemungkinan besar nanti malam dia pulang ke rumah..."
Lagi dan lagi Indri menggunakan Aaron untuk menyulut emosinya, namun Hajeera hanya tersenyum lebar hingga memamerkan gigi giginya.
"Benarkah, aku bahagia jika kakak pertama mau kembali..." jawab Hajeera antusias dengan wajah berbinar-binar.
"Seperti nya aku harus membeli hadiah untuk menyambut kedatangan kakak pertama..." ujar Hajeera seraya mencoba berpikir keras dengan tangan yang mengetuk ngetuk kening samping nya.
"Nanti sajalah setelah sampai mall.... Terimakasih sudah memberitahuku kak, I love you All....." ujar Hajeera memeluk Indri sekilas lalu berlari menaiki tangga ke kamarnya.
Indri hanya bisa menahan amarahnya tanpa bisa mengeluarkan nya sekarang, ia tetap harus waspada meskipun seluruh orang di rumah berada di pihak nya termasuk para maid yang saat ini menjadi cctv di rumah ini.
Kaki jenjangnya melangkah ke luar, mengemudi kan sebuah mobil yang sudah di siapkan pak Darso di luar, mobil Ferrari miliknya mulai melesat meninggalkan pekarangan rumah mewah yang menjadi tempat tinggal keduanya setelah mansion mewah keluarga Manopo.
Ya, sejak dulu keluarga Manopo memanjakannya seperti putri kandung mereka sendiri, keluarga Manopo tak pernah membedakan kasih saya kepada Hajeera dan kepadanya, mereka mencintai nya layaknya putri kandung hingga ia disekolahkan di sebuah sekolah internasional yang menjadi tempat putra putri pebisnis menimba ilmu.
Mobil mewahnya berhenti di sebuah pekarangan villa mewah di perbatasan kota, ia memarkir asal mobilnya lalu turun dari sana dan menyuruh seorang satpam untuk memarkir mobilnya dengan benar.
"Akhirnya kau datang juga..." ucap Simon, pria yang tengah duduk di sebuah sofa tamu menunggu kedatangan nya yang sedikit terlambat.
"Maaf Simon, sepertinya aku membuatmu menunggu.." ujar Indri sungkan karena membuat sang tuan rumah menunggu nya terlalu lama.
"Bintang tamu memang selalu datang di akhir bukan?" jawab Simon yang menjawabnya dengan sebuah pertanyaan
"Maaf, kedepannya aku tidak akan seperti ini lagi..." ucap Indri lalu duduk di dekat Simon
"Jadi bagaimana tentang permintaan ku, apakah Romi sudah menyetujui nya?" tanya Simon pada Indri.
"Dia setuju, hanya saja jika Manopo group harus berinvestasi padamu besar besaran, Romi tidak bisa melakukan nya,..." jawab Indri mencoba meredam suaranya yang mulai bergetar.
"Why?" tanya Simon santai dengan wajah angkuhnya.
"Mungkin karena proyek ini kamu yang memegang nya, dan kamu merupakan pemula Romi tidak bisa langsung berinvestasi besar..." ujar Indri dengan dada yang berdegup kencang.
Brakkkk.....
Greppppppp...
Simon menggebrak meja, lalu dengan secepat kilat menjambak rambut Indri dengan kencang, wajahnya memerah dengan urat urat yang menonjol di wajah dan tangannya.
"Lalu, apa gunanya kamu jika tidak bisa meyakinkan Romi? Hah?!!!" tanya Simon membentak dengan mata melotot sempurna hingga siapapun yang tidak biasa melihat nya mungkin akan ketakutan setengah mati.
"Ta--tapi memang tanah yang akan kita bangun merupakan zona hijau Sim..." jawab Indri dengan nafas ngos-ngosan dan tangan yang mencoba melepaskan tangan Simon dari rambutnya.
Simon semakin mengeratkan jambakan nya hingga tubuh Indri terhuyung dan kepalanya menyandar ke sandaran sofa.
"Ayahku Gubernur, surat izin bisa keluar kapanpun aku mau,... Jadi tugasmu hanya meyakinkan Romi agar mau berinvestasi besar besaran di proyek ku sekarang..." ucap Simon berbisik ke telinga kiri Indri hingga terpaan nafasnya menyapu cuping telinganya yang membuatnya merinding seketika.
Greppppppp
Awwhhh...
Indri berteriak kesakitan saat Simon menggigit lehernya dengan kasar hingga meninggalkan bekas gigitan dan sedikit luka hingga berdarah, ia melakukannya hanya untuk melampiaskan kekesalannya yang gagal mendapatkan Investasi besar sesuai keinginannya.
Sedangkan di sebuah Restoran di atas gedung xx31 Seorang pria tengah menunggu tamunya di sebuah meja yang telah ia siapkan, sesekali ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 18:49 di pergelangan tangan nya.
Hingga akhirnya tepat pukul 19:00 saat ia sudah mulai bosan dan berniat meninggalkan restoran, seseorang yang ditunggunya sedari tadi datang menghampirinya dengan menggunakan pakaian casual khas anak remaja.
Rok pendek berwarna ivory yang dipadukan dengan baju putih dan blazer kuning melekat di tubuh proporsional milik Hadriana, rambutnya diikat satu hingga menampilkan kesan cute namun feminim di tambah ia menggunakan sepatu kulit bertali berwarna hitam menunjukkan kesan elegan nya.
"Maaf Dem, apakah aku membuatmu menunggu lama?" tanya Hajeera tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Tidak terasa lama, jika tamunya secantik kamu rasanya sejam terlalu sebentar..." jawabnya dengan sedikit godaan yang memvalidasi.
"Thanks..." ujar Hajeera.
"Oh ya, terimakasih atas bantuan mu semalam yang mau membantuku kabur dan merawat ku di rumah sakit, ...." ucap Hajeera tulus
"Aku juga membelikan mu sesuatu sebagai ucapan terimakasih ku untuk mu, semoga kamu mau menerima barang murah dariku..." lanjut Hajeera seraya menyerahkan sebuah paperbag kecil bertuliskan Rolex.
"Thank you, tapi sebenarnya kamu tidak perlu memberikan apapun untukku karena aku benar benar tulus membantumu.." jawab Demian seraya menggeser kembali peperbag kecil pemberian Hadriana, ke arahnya.
Hajeera hanya tersenyum lalu kembali menyerahkan paper bag nya kepada Demian seraya berkata
"Aku tahu, mungkin karena kamu tidak pernah melihat barang asli, kamu berpikir barang pemberian ku kW... Tenang saja ini asli, aku membelinya langsung dari toko nya..." ucap Hajeera yang membuat senyum Demian terukir di sudut bibirnya.
"Okey, terimakasih atas hadiahmu, mungkin aku akan selalu memakainya..."