NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

"Bobby!" panggil Luca tanpa mengalihkan pandangan dari Queen yang masih sibuk mengunyah.

"Ya, tuan muda?"

"Periksa semua rekaman CCTV di sekitar gudang tempat kita parkir tadi. Aku ingin tahu dari mana lubang cacing yang memuntahkan bocah ini. Tidak mungkin dia jatuh begitu saja dari langit ke jok belakang mobilmu."

Mendengar kata-kata lubang cacing, gerakan tangan Queen yang tengah memegang sendok berisi sisa carbonara mendadak terhenti.

Ia mendongak, menatap Luca dengan tatapan yang tidak lagi polos, melainkan penuh dengan kekesalan yang meledak-ledak.

"Om bilang apa tadi? Lubang cacing?" tanya Queen dengan suara cempreng yang dibuat serak karena sedang tersinggung.

Luca mengangkat sebelah alisnya, menatap Queen dengan datar. "Ya. Memangnya kenapa? Kau memang muncul entah dari mana, bukan? Seperti hama yang menyelinap masuk lewat lubang kecil."

Hama?! Dia baru saja menyebutku sebagai hama?! Alena merasa harga dirinya terbakar. Ia meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras di atas piring mahal itu.

Pipinya yang gembul menggembung maksimal, kedua tangan mungilnya bersedekap di depan dada, dan ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Queen bukan cacing! Queen bukan hama! Om jahat!" serunya sambil cemberut.

"Sudah kubilang jangan panggil aku Om!"

"Luca jahat! Luca menyebalkan!" Queen ngambek.

"Lho, kok marah?" Bobby tertawa melihat ekspresi Queen yang sangat lucu saat sedang merajuk. "Tuan muda cuma bercanda, Sayang. Ayo habiskan susumu."

"Tidak mau! Queen mau pulang saja kalau dibilang anak cacing!" Queen sengaja melebih-lebihkan aktingnya.

Alena yang ada di dalam tubuh Queen sendiri kesal, kenapa dia harus marah. Apakah pengaruh tubuh kecil yang masih kekanak-kanakan ini? Jadi sikap dan sifatnya menyesuaikan?

Alena mengutuk tubuh kecil ini yang bahkan untuk marah saja terlihat sangat tidak berwibawa.

"Kau mau pulang? Ke mana? Ke kolong jembatan atau ke panti asuhan tempat kau kabur? Makan saja yang benar, jangan banyak drama," ketus Luca.

Queen semakin membuang muka, benar-benar tidak mau menatap Luca. Ia merasa sangat terhina.

Namun, rasa kesalnya itu perlahan mulai kalah oleh serangan mendadak yang menghantam jiwanya. Bukan peluru, bukan pula virus komputer, melainkan rasa kantuk yang luar biasa hebat.

"Hoam...."

Queen menutup mulut kecilnya dengan tangan yang masih sedikit lengket karena sirup maple. Matanya mulai berair, pandangannya meredup, dan kepalanya terasa seberat bongkahan timah.

"Sialan! Tubuh ini benar-benar sampah! Aku baru saja makan enak dan sekarang otak bocah ini menuntut untuk tidur? Di mana jiwa hacker-ku yang bisa terjaga tiga hari tiga malam hanya dengan asupan kafein dan radiasi monitor?!" umpat Alena dalam hati.

"Kenapa? Kau mau pingsan karena kekenyangan?" tanya Luca sembari meletakkan dagu di tangannya.

"Queen... Queen mengantuk, Luca," jawab Queen lirih. Ia mencoba menegakkan punggungnya, tapi otot-ototnya terasa seperti jeli. "Tubuh Queen sangat menyebalkan."

Luca beranjak lalu berjalan mendekat dan tanpa permisi kembali mengangkat tubuh Queen ke dalam gendongannya.

"Luca!" Queen ingin protes, ingin memukul hidung Luca lagi karena masih marah soal lubang cacing tadi, tapi apa daya, tangannya bahkan terlalu lemas untuk sekadar mencengkeram kaus Luca.

Ia hanya bisa pasrah saat kepalanya terkulai di bahu bidang remaja itu.

Luca membawa Queen menuju ruang kerjanya di lantai dua. Bobby sudah berdiri di sana, memegang sebuah tablet yang menampilkan rekaman hitam putih.

"Sudah ketemu?" tanyanya.

"Sudah," bisik Bobby saat Luca masuk.

Luca memberikan isyarat dengan kepalanya agar Bobby menunggu. Ia berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan, meletakkan Queen dengan sangat hati-hati agar bocah itu tidak terbangun.

Setelah memastikan Queen sudah benar-benar terlelap, barulah Luca menghampiri Bobby.

"Apa yang kau dapatkan?" tanya Luca dingin.

"Lihat ini." Bobby memutar rekaman CCTV parkiran gudang. "Pukul 21.30. Saat aku keluar untuk menjemputmu, ada sesosok orang berpakaian hitam dengan penutup kepala. Dia bergerak sangat cepat. Hampir tidak terlihat oleh kamera biasa. Dia meletakkan bocah ini di kursi belakang mobil kita, lalu menghilang begitu saja di area blind spot."

Luca menatap layar itu dengan intens. "Empat detik? Dia membobol sistem kunci mobil hanya dalam empat detik?"

"Ya. Itulah yang membuatku merinding," bisik Bobby. "Siapa pun dia, dia tahu persis celah keamanan kita."

Queen yang sudah tenggelam dalam mimpi, tidak mendengar satu patah kata pun dari percakapan penting itu. Ia benar-benar terlelap, jiwanya yang biasanya waspada kini dikalahkan oleh hormon pertumbuhan bocah lima tahun.

Luca memalingkan wajahnya dari layar, menatap sosok mungil berbaju pink yang sedang mendengkur halus di sofa.

"Bocah ini bukan sekadar anak terlantar," gumam Luca pelan. "Dia adalah kiriman. Tapi untuk apa? Menjadikan bocah gemuk ini sebagai mata-mata adalah ide yang konyol."

"Atau mungkin dia umpan?" tambah Bobby.

Luca tidak menjawab. Ia berjalan mendekati sofa, lalu menyelimuti Queen dengan jas hitamnya yang tertinggal di sana.

"Siapa pun yang mengirimnya, mereka sudah salah langkah. Karena apa pun yang sudah masuk ke rumah Frederick, tidak akan pernah bisa keluar tanpa seizinku."

Queen mendesah dalam tidurnya, tanpa sadar memeluk jas Luca yang beraroma maskulin. Ia tidak tahu bahwa malam itu, identitasnya mulai dipertanyakan oleh salah satu remaja paling berbahaya di dunia bawah tanah.

"Tidurlah, Kelinci Pink," bisik Luca dengan nada dingin. "Besok pagi, aku akan mencari tahu manusia bodoh mana yang membuang mu padaku."

1
partini
dua lelaki lagi rebutan bocil
Murni Dewita
next
Keinara_
selalu gercep! (⁠☆⁠▽⁠☆⁠) semangat author~
Ita Xiaomi
Namanya jg posesif 🤣🤣🤣. Queen diantara pria-pria posesif. Bagi jadwal kunjungan aja.
Ita Xiaomi
Muncul tiba-tiba aja dah macam penampakkan 🤣
Senja: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Ita Xiaomi
Bobby sekarang suka menertawakan Luca🤣
Ita Xiaomi
Ijin ndak ya ama Sean? Bakalan seru klo minta ijin😁
Senja: Ndak kak wkwk
total 1 replies
Maria Hedwig Roning
thnks thor
Dede Maesaroh
luca gemes😍
Dede Maesaroh
keren😍
tinie
ditunggu kabar baiknya
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
Senja: Siappppp🤭
total 1 replies
partini
luca dah bangun dari semedi udah dapat Ilham 🤣🤣🤣
Tiara Bella
wow Luca KY anak remaja lg LG jatuh cinta ya.....makasih Thor up nya triple.....
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Maria Hedwig Roning
thnks thor ceritanya sangat menarik...
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ: Lanjut thor, seru and semangat ya💪
total 2 replies
Murni Dewita
double up donk thor
Senja: Heheh, udah triple up hari ini kak🤭 besok ya up seperti biasa 3bab
total 1 replies
partini
good
partini
luca lagi semedi kah Thor
Senja: Hooohh
total 1 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Senja: Siappp
total 1 replies
Ita Xiaomi
Aku jg mau kue gosongnya 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!