“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Apes-apesss. Niat pengen seneng malah senep,” umpat Kayla dalam hati.
Ia mendengus pelan, lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Tubuhnya lelah, bukan cuma karena berlari menjauh dari arena balap liar, tapi juga karena emosi yang sejak tadi tak karuan.
Lampu jalan memancarkan cahaya kekuningan yang redup. Jalanan mulai sepi. Angin malam menusuk kulitnya yang hanya tertutup kaos tipis. Kayla duduk di pembatas trotoar, menekuk lutut, menatap kosong ke arah aspal.
‘Adel, Ditha, Zayn. Kalian gak ada cita cita, nyariin gue apa ya, astaga!’
Kayla menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Biasanya ia tak pernah panik. Tapi malam ini berbeda. Ia sendirian, tanpa alat komunikasi, di jalan yang bahkan tak ia kenali dengan baik.
Saat itulah suara mesin mobil terdengar melambat.
Kayla refleks mendongak, matanya menyipit waspada. Mobil itu menepi perlahan, lampu sein berkedip pelan. Jantungnya berdegup lebih cepat. Seribu kemungkinan buruk langsung berkelebat di kepalanya.
Kaca jendela mobil terbuka.
“Mbak Kayla!” Suara itu membuat Kayla terdiam sejenak.
Bukan suara asing. Bukan pula suara yang menakutkan. Justru… suara yang sangat ia kenal.
Seketika, wajah Kayla berubah. Ketegangan di pundaknya runtuh begitu saja. Senyum yang tadi mati perlahan merekah, bahkan tanpa ia sadari.
“Fatim!” serunya spontan sambil berdiri. “Kamu kok di sini?”
Gadis berkerudung pink itu segera turun dari mobil. Langkahnya cepat menghampiri Kayla. Wajah Fatim terlihat sedikit pucat, jelas kelelahan, tapi senyumnya tetap hangat dan tulus seperti pertama kali mereka bertemu.
“Nenekku sakit Mbak,” ujar Fatim sambil merapikan kerudungnya yang tertiup angin. “Makanya aku ke Jakarta.”
“Oh…” Kayla mengangguk pelan. “Nenek kamu orang Jakarta?”
“Iya,” jawab Fatim. “Umi kan asli Jakarta. Abi yang Surabaya.”
Nama itu lagi. Entah kenapa, setiap kali mendengar kata Umi, hati Kayla selalu terasa sedikit… asing. Hangat tapi juga canggung.
“Mbak Kayla ngapain di sini?” tanya Fatim kemudian. Matanya menyapu sekitar, jelas heran melihat Kayla sendirian di pinggir jalan malam-malam. “Kok sendirian?”
Kayla terkekeh kecil, tapi tawanya terdengar pahit.
“Aku tadi kabur hehehe, mobilku ketinggalan,” keluhnya. “Dompet, HP, semua ada di sana. Aku bingung banget mau pulang.”
Nada suaranya melemah di akhir kalimat. Untuk pertama kalinya, Kayla tak berusaha terdengar santai atau sok kuat. Ia benar-benar lelah.
“Ya Allah…” Fatim refleks menutup mulutnya. “Terus mbak di sini dari kapan?”
“Hampir dua jam,” jawab Kayla jujur.
Fatim terlihat terkejut, lalu ekspresinya berubah khawatir. “Rumah Mbak Kayla di mana?”
“Jalan Cempaka V.”
Fatim langsung tersenyum lebar, seolah menemukan kabar baik di tengah kecemasan. “Loh, deket dong! Kita searah!”
Kayla menatapnya ragu. “Kamu di mana emang?”
“Cempaka XI.”
“Oh…” Kayla tersenyum kecil. “Iya, searah.”
Ia terdiam sejenak, menimbang. Lalu dengan nada sungkan sesuatu yang jarang sekali ia lakukan, Kayla berkata,
“Boleh ya… aku numpang?”
Fatim terkekeh ringan. “Boleh dong. Ayo! Tapi mbak di depan ya?’’
‘’Oke, gapapa.”
Tanpa ragu, Fatim menggenggam tangan Kayla, menariknya lembut menuju mobil. Sentuhan itu sederhana, tapi entah kenapa membuat Kayla merasa… aman. Perasaan yang sangat jarang ia rasakan.
Fatim membukakan pintu depan.
Deg.
Dalam satu detik, tubuh Kayla membeku.
Matanya terpaku lurus ke depan.
Napasnya tertahan.
Jantungnya berdegup keras, tidak beraturan.
Di kursi depan…
di balik kemudi…
Hanan.
Laki-laki itu duduk tenang, kedua tangannya menggenggam setir. Pakaiannya sederhana kemeja lengan panjang dan celana bahan gelap. Wajahnya tampak lebih dewasa dari terakhir kali Kayla melihatnya. Tatapannya lurus ke depan, sebelum akhirnya beralih… bertemu dengan mata Kayla.
Hanya satu detik.
Satu detik yang terasa terlalu panjang.
Hanan segera menunduk, memalingkan wajahnya sedikit, seolah ingin memberi jarak yang sama seperti dulu.
Sementara Kayla…
masih berdiri terpaku.
Dadanya terasa sesak. Ada rasa aneh yang menjalar campuran gugup, malu, dan sesuatu yang tak ingin ia akui.
Dari sekian banyak skenario buruk yang ia bayangkan malam ini… bertemu lagi dengan Hanan adalah yang paling tidak pernah ia persiapkan.
‘Kenapa aku harus ketemu dia lagi? Disaat penampilan selalu buruk, astaga!’ gumam Kayla dalam hati.
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj