"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Apartemen Amelie yang tenang kini hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan. Setelah pintu tertutup rapat, Alex tidak membiarkan Amelie melangkah lebih jauh ke dalam. Ia segera menarik pinggang wanita itu, memutarnya, dan mengurungnya di antara daun pintu dan tubuh tegapnya.
"Mana hadiahku?" bisik Alex, suaranya kini jauh lebih rendah dan serak, penuh dengan intensitas yang hanya ia tunjukkan saat mereka berdua.
Amelie baru saja ingin menjawab saat bibir Alex membungkamnya. Itu bukan sekadar ciuman biasa, itu adalah ciuman panjang yang penuh dengan emosi yang terpendam selama lima tahun.
Alex menciumnya dengan rasa lapar, seolah ingin menghapus setiap detik perpisahan mereka. Amelie, yang awalnya terkejut, perlahan luluh. Tangannya merayap naik, melingkar di leher Alex, menarik pria itu semakin dalam. Lidah mereka bertemu dalam tarian yang akrab namun baru, menciptakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh.
Ciuman itu berlangsung sangat lama, hingga napas mereka tersenggal dan bibir mereka memerah. Saat Alex akhirnya melepaskan tautan itu, dahi mereka masih bersentuhan. Napas panas Alex menerpa wajah Amelie.
"Hanya itu?" goda Alex, meskipun matanya berkilat haus.
Amelie tersenyum tipis, tangannya mengusap rahang Alex yang tegas. "Tidur, Alex. Sudah malam. Aku lelah."
Malam itu, mereka berbaring di tempat tidur Amelie. Alex memeluk Amelie dari belakang, sangat erat, seolah-olah ia adalah bantal guling kesayangannya. Namun, genetik Lambert tidak bisa berbohong. Di tengah keheningan malam, Amelie bisa merasakan sesuatu yang menegang di bawah sana, menekan punggung bawahnya dengan jelas. Gejolak gairah Alex yang meluap-luap kembali menuntut perhatian.
Alex mengerang pelan, wajahnya terkubur di ceruk leher Amelie. "Amelie... ini sakit sekali. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mengendalikan diri jika kamu terus sedekat ini."
Amelie tetap tenang, persis seperti yang sering ia lakukan lima tahun lalu. Ia meraih tangan Alex yang melingkar di perutnya, mengusap punggung tangan pria itu dengan lembut.
"Alex, ingat latihan kita?" bisik Amelie lembut namun tegas. "Kendalikan dirimu. Aku ingin kita melakukan ini saat semuanya sudah benar-benar tepat. Aku tidak ingin ini hanya karena hormon mu yang meledak. Aku ingin ini menjadi bukti bahwa cintamu lebih besar dari nafsumu."
"Tapi ini lima tahun, Amelie... lima tahun aku puasa," keluh Alex, suaranya terdengar seperti anak kecil yang frustrasi namun tetap patuh.
"Dan kamu berhasil melewatinya, kan? Itu artinya kamu pria yang hebat," Amelie berbalik, menatap mata Alex di kegelapan. "Tidurlah. Aku di sini. Aku tidak akan pergi lagi. Peluk aku saja semalaman penuh, itu sudah cukup."
Alex menatap mata jernih Amelie, dan entah bagaimana, ketenangan wanita itu selalu berhasil meredam badai di dalam dirinya. Ia menghela napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya.
"Baiklah, Tuan Putri. Kamu menang lagi," gumam Alex. Ia menarik Amelie lebih rapat ke dadanya, mengunci tubuh wanita itu dalam pelukannya yang protektif.
Sepanjang malam itu, mereka tidak melakukan lebih dari itu. Hanya tidur sambil berpelukan semalaman penuh. Alex menjaga janji dan kendali dirinya, meskipun ia harus berjuang melawan gejolak di tubuhnya sendiri.
Bagi Amelie, melihat Alex yang begitu patuh padanya meskipun dalam keadaan tersiksa secara fisik, adalah bukti tertinggi bahwa ia tetap menjadi pemilik mutlak dari Alexander Lambert.
Keesokan paginya, Alex terbangun dengan posisi yang sama, masih memeluk Amelie seolah-olah dunia akan kiamat jika ia melepaskannya.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰
masih nyimak 🤣