NovelToon NovelToon
PERJALANAN SANG LEGENDA:PENDEKAR NAGA

PERJALANAN SANG LEGENDA:PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:55.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.

Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.

Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.

Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?

Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Rasa dalam Kehampaan

​Tian Shan tidak membuang waktu. Dengan otoritas barunya yang berdarah, ia memerintahkan karung-karung beras dan simpanan daging di kediaman mantan kepala desa dikeluarkan ke lapangan terbuka.

Warga desa yang tadinya ketakutan kini bergerak dengan sisa tenaga yang mereka punya, didorong oleh aroma makanan yang sudah bertahun-tahun tak mereka cium.

​Namun, Tian Shan tahu bahwa tumpukan makanan itu hanyalah penunda kematian sementara.

​"Kalian," tunjuk Tian Shan pada beberapa pria yang masih terlihat cukup kuat untuk berjalan. "Ikut aku ke hutan."

​Di dalam hutan, Tian Shan bukan lagi pemburu; ia adalah pemanen maut.

Ia tidak menggunakan perangkap atau busur. Setiap kali ia melihat babi hutan atau kijang, ia hanya melesat dan menghantamkan tangannya.

Suara patah tulang menjadi musik latar perburuannya.

Hewan-hewan itu ia seret kembali ke desa, dilemparkan begitu saja di depan para warga.

​"Masak semua ini." perintahnya singkat.

​Asap mulai mengepul dari kuali-kuali besar di tengah desa.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, suara bising penduduk yang antre makanan memecah kesunyian Lembah Sunyi.

Tian Shan berdiri di kejauhan, bersandar pada sebatang pohon tua sambil melipat tangan.

​Matanya memperhatikan seorang ibu yang menangis sambil menyuapi anaknya yang kurus kering.

Ia melihat pria tua yang tertawa kecil saat menggigit sepotong daging.

​Tetap tidak ada apa-apa.

​Di dalam dada Tian Shan, tidak ada kehangatan yang mekar melihat mereka kenyang.

Ia merasa seolah sedang menonton sekumpulan semut yang sedang mengerubungi remah roti.

Hidup atau mati, mereka tetaplah fana. Kehampaan itu justru terasa semakin pekat karena ia menyadari bahwa bahkan dengan menjadi "pahlawan" pun, hatinya tetaplah cangkang yang mati.

​Keesokan harinya, Tian Shan menyadari bahwa mereka butuh koin perak untuk bertahan hidup dari pajak Gubernur, bukan sekadar perut kenyang. Ia memanggil para wanita desa yang pandai memasak.

​Di hadapan mereka, ia menumpuk kacang kedelai yang ia temukan di gudang bawah tanah dan tumpukan garam kasar.

​"Dunia tidak akan mengasihani kalian hanya karena kalian lapar," ucap Tian Shan sambil menatap kacang-kacangan itu. "Kalian butuh sesuatu untuk ditukar dengan nyawa kalian sendiri."

​Ia mengambil sebuah wadah, menghancurkan kedelai itu dengan kekuatannya hingga menjadi bubur, lalu mencampurnya dengan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat di sekitar hutan.

​"Buat ini," Tian Shan berbicara dengan nada datar namun instruktif. "Saus fermentasi dan blok protein padat. Bahannya murah, prosesnya hanya butuh waktu dan ketelatenan. Ini akan bertahan lama, mudah dibawa, dan para saudagar di kota akan membayarnya dengan harga tinggi sebagai bahan dasar masakan."

​Ia menjelaskan teknik fermentasi sederhana yang dulu pernah diajarkan Xinjiang—sesuatu yang seharusnya digunakan untuk bertahan hidup di gunung, kini ia gunakan untuk membangun ekonomi sebuah desa yang sekarat.

​"Namanya?" tanya salah seorang warga dengan gemetar.

​Tian Shan terdiam sejenak, menatap bayangannya sendiri di dalam air rendaman kedelai yang keruh.

​"Tidak ada nama," jawabnya pelan. "Sebut saja itu hasil dari sisa-sisa kehidupan."

​Sambil warga mulai bekerja di bawah arahannya, Tian Shan kembali menatap ke arah jalan keluar desa—jalan yang menuju ke Kota Air Tenang.

Ia tahu, aroma makanan dan keberanian desa ini akan segera sampai ke telinga sang Gubernur.

Dan ketika saat itu tiba, ia tidak akan memberikan saus fermentasi sebagai upeti, melainkan tumpukan kepala prajurit.

1
Agen One
🔥🔥
Agen One
😴😴
Agen One
Privilege handsome/Facepalm/
Agen One
💪9
Agen One
👍💪
Agen One
👍💪
Agen One
🔥🤣
Agen One
🤣🤣
Agen One
🤭🤭
Agen One
🤣🤣
Agen One
🔥🔥
Agen One
👍👍
Agen One
😴😴
Agen One
🙏🙏
Agen One
👍.
Agen One
💪.
Agen One
🤣🤣
Agen One
😴😴
Agen One
😴😴
Agen One
🤣🤣👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!