Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE SEBELAS
Ini masih lanjutan flashback ya teman-teman..
.
.
“Tidak ada yang perlu diberi kabar.” Bastian kembali menoleh menatap kearah Harvey, kali ini dengan tatapan sendu. "Aku yatim piatu, ayah ku pergi dengan keluarga barunya, sementara ibu ku meninggal bunuh diri".
Deg!
Harvey yang mendengar itu terdiam memaku. Ia tidak menyangka jika hidup Bastian ternyata semenderita itu. Hidup sebatang kara tanpa sanak saudara dan bahkan masih diusia remaja.
Harvey menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Ia menarik kursi yang diduduki nya agar lebih dekat dengan ranjang. Diraihnya tangan Bastian yang kurus itu lalu ia genggam dengan kedua telapak tangan besarnya.
"Maaf, paman tidak bermaksud untuk -"
"Tidak apa-apa". Potong Bastian cepat lalu menarik tangannya dari genggaman Harvey.
"Tapi, boleh saya meminta tolong?" ujar nya menatap Harvey penuh harap.
"Katakan, selagi paman bisa bantu. Akan paman bantu". Sahut Harvey
"Tolong jangan laporkan aku ke kepolisi. Aku tidak sengaja membuat mobil mu rusak dan..." Bastian terdiam sejenak seolah ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Dan?" Harvey menaikkan sebelah alisnya menunggu Bastian kembali bersuara.
"Bisakah paman membantu ku membayar tagihan pengobatan ku ini? Aku janji akan mengembalikan uang nya setelah mendapatkan pekerjaan".
Harvey menatap remaja di hadapannya beberapa detik lebih lama. Bastian tidak sedang meminta dikasihani. Laki-laki itu sedang bernegosiasi dengan harga dirinya.
“Kamu pikir aku menunggumu membayar semua ini?” tanya Harvey tenang.
Bastian yang mendengar itu seketika langsung menunduk. Jari jemarinya meremas selimut yang menutupi tubuh kurusnya.
“Aku tidak punya apa-apa,” gumam Bastian lirih. “Tapi aku tidak mau berutang.”
Jawaban itu membuat dada Harvey terasa berat. Anak seusianya seharusnya takut dimarahi orang tua karena pulang terlambat.
Bukan takut pada tagihan rumah sakit.
“Dengarkan paman baik-baik, Bastian,” ucap Harvey perlahan. “Kamu tidak menabrak mobilku. Aku yang menabrakmu. Jadi tidak ada utang.”
Bastian menggeleng pelan. “Tetap saja, uang yang paman keluarkan banyak.”
“Itu bukan urusanmu.” Sahut Harvey cepat
Hening sejenak. Tatapan Bastian kembali mengarah pada Harvey.
“Tidak ada yang bantu orang lain tanpa alasan.” Ucap Bastian lirih
Harvey yang mendengar itu tersenyum tipis. Bukan karena lucu. Tapi karena ia sadar, kepercayaan anak ini sudah lama hancur.
“Kamu benar,” jawab Harvey jujur. “Tidak semua orang melakukannya tanpa alasan.”
Bastian mendongak, menatap wajah tampan Harvey seolah menunggu pria itu melanjutkan bicaranya.
“Aku melakukannya itu karena sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai orang yang sudah menabrakmu.” Harvey menjeda ucapannya, menarik nafas sejenak. Lalu kembali, bersuara. “Dan karena kamu masih anak-anak.”
“Aku bukan anak-anak,” sahut Bastian cepat.
“Baik,” Harvey mengangguk ringan. “Kamu bukan anak-anak tapi remaja yang keras kepala.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Bastian bergerak sedikit. Hampir seperti ingin tersenyum, tapi ia tahan. Setelah mendengar kalimat terakhir yang Harvey lontarkan.
Memang benar, dirinya adalah laki-laki yang keras kepala.
“Paman tidak akan melaporkanmu ke polisi,” lanjut Harvey. “Dan soal tagihan, kamu tidak perlu membayarnya.”
Mendengar itu, Bastian terdiam cukup lama seolah mencerna apa yang Harvey katakan.
“Lalu setelah ini?” tanyanya penasaran.
Pertanyaan itu sederhana, tapi seperti memiliki arti yang besar.
Harvey mengulum senyum tipis, menatap wajah kurus Bastian. Nampak dari sorot matanya menyimpan terlalu banyak luka untuk usia delapan belas tahun.
“Kamu tidak bisa kembali ke jalan,” ucap Harvey tegas namun lembut. “Tubuhmu tidak akan kuat.”
“Aku biasa.”
“Tidak,” potong Harvey. “Kamu hanya terpaksa bertahan. Itu berbeda.”
Kalimat itu membuat Bastian terdiam.
Harvey menghela napas pelan, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sudah sejak tadi berputar di pikirannya.
“Mulai sekarang pindahlah tinggal dirumah paman.” Kata Harvey
Mendengar itu, sontak tatapan mata Bastian langsung berubah waspada lagi.
“Kenapa?” Tanya nya dengan nada suara pelan tapi tajam.
Harvey tak langsung menjawab, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Paman ingin mengadopsi menjadi anak angkat. Paman tidak memiliki anak laki-laki, kamu mau Bastian ?"
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Hanya terdengar tetesan cairan infus yang turun perlahan melalui selang bening di samping ranjang.
Bastian terdiam, tidak tau harus menjawab apa, tapi tatapan matanya menatap Harvey tanpa berkedip.
“Mengadopsi?” ulang Bastian pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
Harvey mengangguk dan membalas tatapan mata Bastian dengan tenang, seperti menegaskan jika ia tidak main-main.
“Paman tidak berbicara karena kasihan. Tapi, paman sudah mempertimbangkannya.” Ucap Harvey lembut namun penuh penekanan.
Bastian yang mendengar itu tertawa kecil. seperti tawa yang hambar.
“Kita baru kenal beberapa jam dan paman bahkan tidak tahu aku ini seperti apa.” Sahut Bastian dingin
Harvey tersenyum tipis. “Paman tahu kamu anak yang tidak mau berutang, tidak mau merepotkan orang lain, dan masih memikirkan harga diri meski hidupmu berantakan.”
Bastian terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Harvey. Itu bukan pujian kosong tapi itu seperti pengamatan.
“Tapi aku bisa saja kabur,” ucap Bastian pelan. “Aku bisa saja mencuri. Atau membuat masalah.”
“Kalau kamu kabur, paman akan mencarimu, kalau kamu membuat masalah, kita selesaikan bersama.” Jawab Harvey tanpa ragu
Jawaban itu terdengar terlalu tenang. Bastian menatap pria di hadapannya ini lama sekali. Seolah mencari retakan kebohongan di wajah itu.
Tidak ada. Yang ada hanyalah kesungguhan.
“Kenapa aku?” tanya Bastian lagi, kali ini lebih pelan. Bukan menantang, tapi benar-benar seperti ingin tahu maksud dan tujuan Harvey mengadopsinya.
Mendengar itu, Harvey tak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan.
“Karena saat kamu memohon agar tidak dilaporkan ke polisi, kamu tidak sedang takut dihukum.” Ucap Harvey seraya sorot matanya menatap lurus kearah mata Bastian. “Kamu takut ditinggalkan lagi.” Imbuhnya
Kalimat itu tepat mengenai sasaran.
Bastian langsung memalingkan wajahnya.
Rahangnya mengeras. Matanya mulai terasa panas, tapi ia menahannya.
“Aku tidak butuh dikasihani,” gumamnya lirih nyaris seperti berbisik tapi masih bisa didengar oleh Harvey.
“Paman tidak sedang mengasihanimu,” jawab Harvey lembut. “Paman sedang memilihmu.”
Sunyi.
Beberapa detik yang terasa seperti menit.
“Kalau aku bilang tidak?” tanya Bastian.
Harvey berdiri dari duduknya seraya merapikan jasnya.
“Maka paman tetap akan memastikan kamu punya tempat tinggal dan sekolah yang layak.” Harvey menjeda ucapannya lalu berpindah duduk ditepian ranjang. “Tapi tawaran ini tidak akan paman tarik.”
Mendengar itu, sontak Bastian langsung mengalihkan pandangannya kembali menatap kearah Harvey.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bastian merasa ada seseorang yang tidak pergi setelah tahu masa lalunya. Ada seseorang yang justru tetap tinggal.
Dan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada sendirian.
“Aku tidak janji akan jadi anak yang baik,” ujar Bastian pada akhirnya.
Harvey tersenyum kecil. “Paman juga tidak janji akan jadi ayah yang sempurna.”
Tangannya meraih tangan kedua Bastian lalu menggenggam nya dengan erat. "Mulai sekarang kamu adalah putra ku, semua orang akan memanggil mu dengan nama Bastian Asher Grayson".
.
.
Flashback off.....
.
.
.
Haii temen-temen, jangan lupa dukungannya yaaa... Like, vote dan komen... Terimakasih ♥️🫶🏻
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut