Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Addendum Baru
Marko mengambil pena, menyodorkannya.
“Tanda tangan.”
“Pak Marko… Aku mohon… aku….”
“Sekarang, Aluna.”
Marko membungkuk mendekatinya, wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Suaranya rendah tapi menghancurkan seperti bom kecil yang meledak tepat di dalam dada Aluna.
“Ingat satu hal… ibumu hidup karena aku. Bukan karena keluargamu. Dan bukan karena dirimu.”
Air mata Aluna jatuh semakin deras.
Ia mengambil pena dengan tangan bergetar dan menandatangani dokumen itu. Setiap goresan tinta seperti menulis ulang masa depannya yang baru, masa depan yang bukan miliknya lagi.
Marko mengambil map itu, menutupnya dengan tenang, seolah semuanya hanyalah urusan bisnis ringan.
“Besok pagi.” katanya datar. “Kita pergi ke rumah keluarga besar saya.”
Aluna terangkat kaget. “B-besok? Keluarga… besar?”
“Kau akan diperkenalkan sebagai istri saya.” lanjut Marko. “Dan kau TIDAK boleh membuatku malu.”
Dunia Aluna berputar.
Ia bahkan belum memahami apa yang terjadi padanya malam ini. Bagaimana ia harus memainkan peran sebagai istri Marko esok pagi? Bagaimana ia menyembunyikan mata bengkaknya? Bagaimana ia menjawab pertanyaan keluarga Marko tanpa tergagap?
Marko tidak peduli.
Ia mengambil map kedua dan mendorongnya ke arah Aluna.
“Hafalkan semuanya.”
Aluna membuka kertas pertama.
Berisi informasi tentang keluarga Marko, termasuk Ibu Tiri licik Marko, Renata. Kemudian
Riwayat hubungan palsu.
Tanggal pertemuan pertama.
Bagaimana Marko melamar.
Apa makanan favorit Marko.
Hal-hal yang harus ia ucapkan.
Hal-hal yang TIDAK BOLEH ia sebutkan.
“Tidak ada yang kau ceritakan tentang keluargamu.” Marko menegaskan. “Tidak ada detail pekerjaan. Tidak ada cerita masa lalu. Tidak ada menangis.”
Aluna mengangguk kecil, meski suaranya hilang.
Ketika ia mulai membaca sambil menangis, Marko menatapnya.
Ada jeda aneh.
Pandangan Marko meredup sedikit, seperti ada rasa ragu. Atau kasihan. Atau sesuatu yang tidak bisa ia terima muncul dalam dirinya.
Lalu ia mengalihkan wajah, menepis perasaan itu seolah itu kelemahan.
“Cukup.” katanya. “Ikut saya.”
Ia mengantar Aluna ke kamar di sebelah kamar utamanya.
“Kamu tidur di sini.”
Kamar itu sangat mewah, tetapi terasa seperti sel penjara. Sunyi. Terlalu rapi. Terlalu dingin. Dan pintu itu…
Pintu itu tidak memiliki kunci.
“Pintu tidak boleh dikunci.” perintah Marko.
Aluna menelan ludah. “Kenapa…?”
“Aku harus memastikan kau tidak kabur.”
Tidak ada yang perlu ditambahkan. Tidak ada ruang untuk menawar.
Marko pergi, menutup pintu pelan.
Dalam gelap kamar, Aluna akhirnya runtuh. Ia duduk di lantai, memeluk lutut dan menangis sampai bahunya bergetar keras.
Di luar pintu, tersembunyi di sudut langit-langit, kamera kecil mengarah tepat ke pintu kamar Aluna.
Marko berdiri di lorong, menatap layar ponselnya, feed dari kamera itu.
Ia tersenyum tipis.
“Besok…” suaranya nyaris tidak terdengar, namun cukup tajam untuk menembus pintu kamar dan membuat bulu kuduk merinding.
“Besok hidupmu akan berubah. Dan tidak ada jalan kembali.”
Aluna mengangkat wajah penuh air mata.
Dan malam itu menutup dirinya rapat, meninggalkan Aluna dalam ketakutan yang ia bahkan tidak tahu cara meloloskan diri darinya.
**
Malam belum benar-benar berganti ketika Aluna duduk sendirian di tepi ranjang besar yang terlalu mewah untuk disentuh. Sisa air mata masih melekat di bulu matanya, membuat pandangannya kabur setiap kali ia memicingkan mata menatap pintu kamar yang tidak bisa dikunci. Pintu itu berdiri tegak seperti ancaman, seolah siapa pun bisa masuk kapan saja tanpa memberi aba-aba.
Ia menarik napas pelan, menenangkan degup jantung yang terlalu keras, lalu meraih tasnya. Tangannya gemetar saat mencari ponsel, berharap Marko tidak menghapus atau merusak apa pun di dalamnya. Lampu layar menyala. Detik itu saja sudah terasa seperti kemewahan.
Dengan suara serendah mungkin, ia menekan nama yang paling ia percaya.
“Friska…”
“Aluna? Astaga kamu kenapa? Suaramu… kamu habis nangis ya?” suara Friska langsung terdengar panik.
Aluna menutup mulut dengan tangan, takut suaranya terdengar keluar kamar. “Aku… tidak apa-apa. Aku cuma… Friska, bagaimana keadaan Ibu?”
Ada jeda singkat, lalu Friska menjawab dengan napas lega. “Ibu sudah berangsur baik Lun. Tadi dokter bilang alat bantu napas barunya sudah terpasang. Itu alat mahal sekali… itu pasti….”
Aluna langsung memejamkan mata. Ia tahu jawabannya.
“…Pak Marko,” bisiknya lirih.
“Sepertinya begitu." Friska mengaku, suaranya menurun karena ia juga tahu itu bukan “kebaikan” tapi belenggu.
Untuk pertama kalinya malam itu, Aluna menangis bukan karena hancur… tapi karena lega. Meski rasa pahit ikut menyusup di sela napasnya.
“Kamu tenang saja dulu.” Friska melanjutkan cepat, seperti takut pembicaraan mereka terdengar seseorang. “Ibu sudah kelihatan lebih stabil. Dokter bilang alat itu membuatnya napas jauh lebih kuat.”
Aluna menutup wajah. “Syukurlah… ya Allah, syukurlah…”
Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik, karena Friska balik bertanya, suaranya sangat hati-hati.
“Sekarang kamu di mana, Lun? Kamu… kamu baik-baik saja kan?”
Aluna menggigit bibir bawahnya sampai perih. Ia tidak ingin berbohong, tetapi mengatakan kebenaran pun terasa seperti membuka jurang. Namun… ia sedang sendirian. Dan Friska adalah satu-satunya pengikat kewarasannya.
“Aku…” suara Aluna gemetar, “Aku sudah tanda tangan addendum baru.”
Friska terdiam. Benar-benar terdiam.
“Dan… secara hukum… aku sudah menjadi istrinya Pak Marko.”
Naapas Friska tersentak. “A… apa? Aluna, kamu serius?”
“Tolong jangan panik…” Aluna memohon, meski ia sendiri tak mampu menahan getaran suaranya. “Aku tidak bisa jelaskan detailnya… mereka masih disana kan? Aku takut mereka mendengarkan… tapi….”
Telinga Aluna menangkap suara langkah di koridor. Berat. Pasti Renaldi. Atau Marko.
“Fris, aku tutup dulu.”
“Aluna. Jaga diri. Tolong….”
Telepon terputus sebelum Friska bisa menyelesaikan kalimatnya.
Keheningan kembali memenuhi kamar. Aluna menahan napas, mendengarkan langkah itu menjauh. Setelah beberapa detik, barulah ia berani mengembuskan napas panjang yang terasa sakit di dada.
Ia memeluk tubuhnya sendiri, merapatkan lutut, bersandar pada kepala ranjang. Langit-langit kamar begitu putih, tanpa cela, tanpa tanda kehidupan seperti Marko.
Ia menatapnya lama.
“Besok… jangan sampai lebih buruk dari hari ini…” bisiknya pada diri sendiri.
Tapi harapan itu terlalu rapuh untuk bisa bertahan sampai pagi.
**
Fajar menyingsing tanpa suara. Cahaya tipis menyusup dari celah tirai ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.
Aluna terlonjak.
Marko berdiri di ambang pintu seperti bayangan gelap yang tidak bisa dihindari. Rambutnya rapi, kemeja hitamnya pas di tubuh dan ekspresinya tetap kosong.
“Bangun.” Suaranya dingin. “Kita harus berangkat ke rumah utama. Papa menunggu.”
Aluna mengangguk cepat, menyingkap selimut. “I… iya.”
“Bersiaplah. Tutupi bengkak matamu.” katanya sinis, lalu menatap wajahnya lama seperti menilai apakah ia cukup layak untuk dipamerkan. “Kau harus terlihat sempurna.”
Marko pergi tanpa menutup pintu. Aluna menarik napas panjang dan berdiri perlahan, meski lututnya masih goyah.