NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Tubuh Alya mendadak kaku. Pesan singkat itu membuat dunianya yang baru saja mulai stabil kembali runtuh. Ia menatap ke arah mobil hitam yang melaju menjauh, namun sebelum ia sempat bernapas lega, sebuah bayangan muncul dari balik pilar besar di gerbang mansion.

​Langkah kaki itu berirama. Tap. Tap. Tap.

​Seorang pria keluar dari kegelapan. Ia tidak lagi memakai baju pasien rumah sakit jiwa, melainkan setelan jas hitam yang sangat rapi—persis seperti Rangga yang dulu ia kenal. Namun, ada yang berbeda. Wajahnya memiliki bekas luka sayatan kecil di pipi, dan tatapan matanya jauh lebih tajam.

​"Mas... Rangga?" suara Alya tercekat di kerongkongan. "Bagaimana bisa? Kamu seharusnya di sana... di isolasi."

​Rangga tersenyum puitis. Ia berjalan mendekat tanpa rasa takut sedikit pun, seolah garis polisi yang melintang di sana hanyalah hiasan belaka.

​"Uang bisa membangun tembok, Alya. Tapi cinta? Cinta bisa meruntuhkannya," bisik Rangga. Ia kini berdiri tepat di depan Alya, hanya terhalang oleh pagar besi yang dingin. "Kau pikir mereka bisa menahanku". Ucap rangga tersenyum penuh kemenangan

​Alya mundur selangkah, tangannya meraba tas, mencari alat pelindung diri. Tapi Rangga hanya tertawa kecil melihat ketakutannya.

​"Jangan repot-repot menelepon polisi lagi. Pria yang tadi kau lihat di bangsal isolasi adalah seseorang yang sangat mirip denganku, yang sudah kubayar mahal untuk membusuk di sana," Rangga menyentuh pagar besi itu, jemarinya bergerak seolah sedang membelai wajah Alya dari jauh.

​"Dunia ini adalah panggung sandiwara, Alya. Dan aku adalah sutradaranya."

​Rangga mengeluarkan sebuah kunci emas dari sakunya. Kunci cadangan mansion yang tidak pernah ditemukan polisi. Ia memutar kunci itu di gembok pagar, dan suara klik yang familiar terdengar.

​"Aku datang untuk menjemput milikku," ujar Rangga dengan nada yang sangat tenang namun penuh ancaman. "Kali ini, tidak akan ada Rendi. Tidak akan ada polisi. Hanya ada kita, di tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa mendengar teriakanmu."

​Alya menyadari satu hal yang mengerikan: Rangga tidak pernah kalah. Penangkapan kemarin hanyalah bagian dari permainannya untuk melihat sejauh mana Alya akan mencoba lari.

​"Kau tahu kenapa aku membiarkanmu pergi selama tiga bulan?" Rangga melangkah melewati pagar yang kini terbuka. Ia berdiri satu inci dari Alya, aroma sandalwood-nya kini bercampur dengan bau besi yang tajam.

​"Karena aku ingin kau merasakan kebebasan semu itu, agar kau tahu bahwa di mana pun kau berada, langit yang kau pandang adalah langit yang sama dengan yang aku awasi."

​Rangga menarik pinggang Alya dengan kasar, memaksa wanita itu menempel pada dadanya. Ia berbisik tepat di telinga Alya yang sedang gemetar hebat.

​"Ayo pulang, Istriku. Makan malam sudah hampir dingin."

Alya terdiam dalam pelukan dingin itu. Jantungnya berdegup kencang, namun ada sebuah pemikiran gila yang perlahan merayap di benaknya. Jika ia lari, Rangga akan terus memburunya. Jika ia melawan, Rangga akan semakin beringas.

​Alya melepaskan cengkeramannya pada tasnya. Ia tidak mengeluarkan gunting. Ia justru membalas pelukan Rangga menyandarkan kepalanya di dada pria itu.

​"Baiklah, Mas. Kita pulang," bisik Alya pelan.

​Rangga membeku. Untuk pertama kalinya, sang sutradara kehilangan naskahnya. Ia tidak menyangka Alya akan menyerah begitu saja. "Kau... kau tidak takut?"

​Alya mendongak, menatap mata hitam suaminya yang penuh kegelapan. "Aku takut. Tapi aku sadar, lari darimu sama saja dengan lari dari bayanganku sendiri. Kamu sakit, Mas. Dan aku tidak bisa meninggalkan orang yang sakit sendirian."

​Rangga membawa Alya kembali ke dalam mansion, namun bukan ke ruang bawah tanah. Ia membawa Alya ke kamar utama yang telah dihias dengan ribuan mawar putih—warna kesukaan Alya yang dulu. Rangga tampak sangat bahagia, namun kebahagiaannya terasa rapuh, seperti kaca yang siap pecah kapan saja.

​Suatu malam, Alya menemukan sebuah buku harian tua di balik rak buku Kerja Rangga. Itu bukan milik Rangga, melainkan milik ibu Rangga. Di sana tertulis bagaimana Rangga kecil melihat ibunya disiksa oleh ayahnya, dan bagaimana ayahnya selalu berkata: "Satu-satunya cara memiliki seseorang adalah dengan mengurungnya."

​Alya menyadari bahwa Rangga bukan lahir sebagai monster, dia diciptakan.

​"Mas," panggil Alya saat Rangga sedang duduk di balkon sambil menatap tajam ke arah gerbang, seolah waspada terhadap penyusup.

​Rangga menoleh. "Ya, Sayang?"

​Alya mendekat, membawa sebuah kotak obat kecil. Bukan obat bius, tapi obat penenang yang biasa diresepkan dokter jiwa. "Minumlah ini. Untukku. Aku ingin melihatmu bisa tidur tanpa harus memegang pisau di bawah bantalmu."

​Rangga menatap obat itu dengan curiga. "Kau ingin melumpuhkanku agar bisa kabur?"

​"Jika aku ingin kabur, aku sudah melakukannya saat kau tidur dua malam lalu," ujar Alya tenang. Ia mengambil satu butir obat itu dan menelannya sendiri untuk membuktikan itu tidak beracun. "Aku hanya ingin suamiku kembali. Suami yang menatapku karena cinta, bukan karena obsesi."

​Rangga terdiam lama. Matanya berkaca-kaca—sebuah emosi manusiawi yang jarang ia tunjukkan. Ia mengambil obat itu dari tangan Alya dan meminumnya.

Hari hari Rangga berikutnya selalu mengikuti apa yang di katakan Alya. Rangga tidak lagi sekejam kaya biasanya.

...****************...

​Satu Tahun Kemudian

​Mansion Dirgantara tidak lagi tertutup rapat. Gorden-gorden selalu dibuka, membiarkan cahaya matahari masuk. Rangga masih dalam pengawasan medis yang ketat secara privat, dan Alya selalu ada di sana, membimbingnya melewati setiap episode traumatisnya.

​Suatu sore, Rangga sedang duduk di taman, memotong bunga mawar. Kali ini, ia tidak menggunakan gunting itu sebagai senjata. Ia memberikan mawar itu pada Alya.

​"Alya," panggilnya dengan suara yang jauh lebih lembut.

​"Iya, Mas?"

​"Terima kasih karena tidak menyerah pada monster ini."

​Alya tersenyum, meski ia tahu perjalanannya masih panjang. Rangga mungkin tidak akan pernah sepenuhnya "normal", tapi sekarang, setiap kali Rangga menatapnya, Alya tidak lagi melihat maut. Ia melihat seorang pria yang sedang belajar untuk mencintai tanpa harus merantai.

Bersambung....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!