Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Steven
Di sisi lain kota, Lora justru sedang tertawa terpingkal-pingkal.Ia memegang perutnya sambil terus berjalan keluar dari rumah sakit ketika melihat foto yang baru saja dikirimkan kepadanya.
Foto Donni yang babak belur dan terbaring di ranjang mayat.Dua orang suruhan Donni yang ia sogok dengan uang jauh lebih besar ternyata benar-benar menjalankan rencananya dengan sempurna.
Sementara itu, gips yang terpasang di tangannya dan lebam di wajahnya hanyalah hasil riasan.
Gips itu hanyalah properti makeup yang sengaja ia sewa.Begitu juga dengan luka lebam di wajahnya.Semuanya hanyalah akting.
Soal rumah sakit pun sebenarnya tidak sepenuhnya bohong.Ia memang pergi ke sana.Namun hanya untuk mengambil beberapa foto agar Donni percaya bahwa dirinya benar-benar dikeroyok oleh orang-orang suruhannya.
Lora masih tertawa kecil sambil menghapus air mata di sudut matanya.
“Aku sangat tidak sabar membayangkan dia terbangun di kamar mayat dan tertidur di samping mayat. Wajahnya pasti begitu panik dan ketakutan.”
Setelah mengatakan itu, ia mulai melepas properti gips palsu dari tangannya dengan santai.
Namun tawa Lora perlahan mereda ketika ia melihat wajah Steven.Pria itu tidak tertawa.Justru ekspresinya berubah serius.Tatapannya bahkan terlihat sedikit gelap.
“Jangan terlalu senang, Lora. Karena mungkin saja sekarang kamu tertawa, tapi besok kamu benar-benar terkapar di sana.”Ucapan Steven membuat Lora berhenti bergerak.
Ia menoleh dan menatap pria itu dengan tajam.
“Kamu tidak tahu betapa bahayanya orang yang sedang kamu hadapi. Bahkan Tuan Devon yang kejam, dingin, dan berkuasa bisa menjadi orang yang tak dianggap dan dihina semua orang sekarang.”
Kata-kata itu membuat Lora semakin memperhatikannya dengan tatapan serius.
Ada sesuatu yang aneh dari nada suara Steven.
“Kamu tahu sesuatu tentang kecelakaan Devon?”
Pertanyaan itu membuat Steven langsung memucat.
Wajahnya yang semula terlihat tenang kini berubah kaku. Otot rahangnya menegang, sementara matanya berusaha menghindari tatapan Lora yang semakin tajam. Sejenak ia terdiam, seolah mencari alasan untuk menepis dugaan yang tiba-tiba menusuk begitu dalam.
“Setelah dipikir-pikir, kamu pasti memang tahu, karena kamu adalah keponakan dari Delia, orang yang paling dia percaya. Pasti ada informasi yang bocor yang kamu dapat dari dia. Pasalnya Delia adalah selingkuhan dari Donni.”
Lora mengucapkan kalimat itu perlahan namun penuh tekanan, seolah setiap kata sengaja ia arahkan untuk menekan Steven hingga ke sudut yang paling sempit.
Steven masih tidak menjawab.
Tatapan Lora semakin tajam.
“Katakan, apa kamu tahu sesuatu tentang kecelakaan Devon? Semua orang mengatakan jika itu adalah kecelakaan tunggal, tapi aku rasa itu kecelakaan yang sudah direncanakan, bukan?”
Nada suara Lora semakin dalam dan tegas, membuat Steven semakin gelagapan.
“Apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak mengerti.”
Steven mencoba terdengar tenang, tetapi suaranya jelas bergetar. Ia bahkan tidak berani menatap langsung ke arah Lora.
“Lebih baik kita berpisah di sini sebelum ada yang melihat kita. Aku tidak ingin uang sepuluh jutaku raib karena ketahuan bersekongkol denganmu untuk membohongi Donni.”
Setelah mengatakan itu, Steven segera berbalik dan berjalan cepat menjauh.
Namun Lora tidak tinggal diam.
Dengan sigap ia meraih tangan pria itu dan menahannya.
“Aku bisa membayar berapa pun yang kamu mau jika kamu bersedia memberitahu tentang kecelakaan Devon kepadaku!”
Nada suara Lora kali ini jauh lebih serius.
Namun Steven justru melepaskan tangan Lora dengan kasar.
“Aku benar-benar tidak tahu apa pun soal kecelakaan Tuan Devon. Kamu bisa mencari tahunya kepada orang lain.”Tanpa menoleh sedikit pun, Steven segera pergi meninggalkan Lora.Langkahnya cepat, seolah ia ingin segera menjauh dari percakapan itu.
Lora hanya berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu dengan mata menyipit.
“Aku yakin dia tahu sesuatu tentang kecelakaan Devon.”Gumaman itu keluar pelan dari bibirnya sebelum akhirnya ia memutuskan kembali ke kantor.
Sementara itu Steven masih berjalan menuju mobilnya.Namun pikirannya sudah jauh melayang ke masa lalu.
Sebuah ingatan lama yang selama ini ia paksa untuk dilupakan kembali muncul begitu jelas di benaknya.
FLASHBACK
7 bulan sebelum kecelakaan Devon...
Sore hari sebelum kecelakaan Devon terjadi.Saat itu Donni tiba-tiba menghampiri Steven ke ruangan devisi keuangan yang sudah sepi hanya dirinya seorang yang tertinggal di sana.Tanpa banyak basa-basi, pria itu menyerahkan selembar kertas kepadanya.Di atas kertas itu tertulis nama sebuah obat.
“Dapatkan obat itu segera. Aku sangat memerlukannya.”
Steven menatap kertas tersebut dengan bingung.
“Tapi obat apa ini, Pak?”
“Tidak perlu banyak tanya. Kamu harus segera mendapatkan obat itu. Karena perlu izin dokter, aku sangat kesulitan mendapatkannya.”Donni menatap Steven dengan senyum tipis yang terasa menekan.
“Delia memberitahuku jika ibumu berada di rumah sakit jiwa. Tentunya ibumu juga mengonsumsi obat itu. Pasti tidak akan sulit untukmu mendapatkannya.”
Steven langsung terdiam.
Nama ibunya yang disebut begitu saja membuat dadanya terasa berat.
“Aku akan membayarmu dengan bayaran yang cukup besar jika kamu berhasil mendapatkannya. Bagaimana? Aku tahu biaya rumah sakit ibumu sudah jatuh tempo. Aku bisa saja melunasinya hingga tiga bulan ke depan jika kamu bersedia membawakan obat itu kepadaku.”
Godaan itu terasa begitu sulit ditolak.Steven menelan ludah.
“Tapi untuk apa, Pak?”
“Kamu tidak perlu tahu. Bawakan saja obat itu kepadaku secepatnya. Sebelum jam 18.00 nanti obat itu harus berhasil kamu dapatkan!”
Nada suara Donni berubah menjadi perintah yang tidak memberi ruang untuk penolakan.
Akhirnya Steven terpaksa menurut.Ia pergi ke rumah sakit jiwa tempat ibunya dirawat.
Saat itu waktu pemberian obat kepada para pasien baru saja dimulai. Para perawat sibuk membagikan obat-obatan kepada pasien di ruang rawat.Steven berdiri di sana, menunggu momen yang tepat.Ketika seorang perawat sedang membawa nampan berisi obat-obatan, Steven sengaja menabraknya.Nampan itu terjatuh.Obat-obatan berserakan di lantai.
“Maaf! Maaf!” ucap Steven pura-pura panik sambil membantu mengumpulkan obat-obatan tersebut.
Di antara obat yang berserakan itu, ia melihat bungkus obat yang sama persis dengan yang diminta Donni.Dengan cepat ia mengambil beberapa pil dan menyelipkannya ke dalam saku celananya.Hanya empat butir.
Setelah semua obat terkumpul kembali dan perawat terpaksa mengganti obat yang jatuh itu dengan yang baru, Steven segera pergi dari sana.
Jam sudah hampir menunjukkan pukul enam sore.Ia langsung menemui Donni.
“Ini obat yang Bapak minta.”
Steven menyerahkan obat tersebut yang sudah ia bungkus dengan plastik kecil.Hanya empat butir yang berada di dalamnya.
“Harusnya kamu mendapatkannya cukup banyak.”
Donni mengerutkan kening, tetapi tetap mengambilnya.Tak lama kemudian ia mentransfer uang yang dijanjikannya kepada Steven.
Namun saat Steven memeriksa ponselnya, jumlah uang yang masuk tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
"apa bapak tidak salah menekan angka,ini sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kita sepakati ?" ucap Steven yang membuat Donni seketika langsung menatapnya tajam.
.
.
.
💐💐💐Bersambung.💐💐💐
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤