Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 7 - Yang Lama Hilang
Kedua mata Alexa membulat, tubuhnya gemetaran, dadanya sesak mendadak saat melihat kejadian yang terjadi di rumahnya di muat di berbagai stasiun televisi meskipun tidak dengan dokumentasi aslinya.
Alexa pikir, dengan tetap berada di makam ibunya beberapa malam, dia akan aman dari pertanyaan - pertanyaan tetangga yang bisa menekannya. Namun kenyataan lebih menakutinya.
Hanya ada rekaman saat ayahnya diseret oleh polisi yang ditayangkan. Tapi, kejadian sebelumnya ditayangkan dalam bentuk ilustrasi sesuai dengan kesaksian narasumber.
"Kak, pesanan saya mana?!"
Bentakan orang yang ada di depannya membuat Alexa langsung buyar.
"M - maaf. Hampir selesai," katanya gagap.
Alexa langsung menyelesaikan pesanan milik salah satu pelanggan masih dengan gemetaran. Dia takut orang - orang tahu kalau itu adalah kejadian yang menimpanya. Semua orang juga bisa mengolok - oloknya karena ayahnya seorang p3mbunuh.
"Ini, Kak. Coklat matchanya." Alexa memberikan pesanan pada pelanggan.
"Coklat matcha? Saya 'kan pesan matcha latte, kak!" bentuknya marah.
Alexa sempat diam beberapa saat mencoba mengingat - ingat pesanan pelanggannya itu.
"O - oh, iya. Maaf, Kak, saya nggak fokus. Saya buatkan lagi pesanan kakaknya." Alexa mengambil kembali pesanan yang salah.
Namun tangannya yang licin karena keringat dingin membuat gelas itu merosot dari tangannya, menumpahkan isi gelas itu dan jatuh. Pecahan beling gelas itu hampir mengenai pelanggan.
"BISA KERJA NGGAK SIH?!" teriakan pelanggan itu membuat pelanggan lain sontak menoleh ke arah mereka.
Alexa yang panik segera mengambil tisu dan mengelap bekas tumpahan masih dengan tangan gemetaran. Alih - alih membaik, situasinya semakin kacau karena Alexa menyenggol barang - barang lainnya di dekatnya.
"Balikin uangku!" Pelanggan itu marah dengan kecerobohan Alexa.
"I - iya, Kak. Saya bakal ganti rugi. Saya—"
"AKU MAU UANG AKU BALIK SEKARANG! BUKAN MAU DENGAR PERMINTAAN MAAF KAMU!"
Keributan yang terjadi mengundang beberapa karyawan lain yang bekerja di belakang dan juga atasan.
"Alexa, kamu kenapa sih?!" Teman - temannya terlihat kesal.
Meski begitu, semua langsung membantu Alexa membereskan kekacauan yang dilakukannya. Sang Atasan juga langsung mengambil uang di meja kasir—mengembalikan hak milik pelanggan.
"Saya minta maaf atas nama karyawan saya ya, Kak. Sebagai gantinya, kamu berikan tiga kupon gratis untuk Kakaknya."
"Saya nggak butuh! Dan saya nggak mau datang ke kafe ini lagi!" Pelanggan itu mengabaikan kebaikan atasan dan langsung pergi begitu saja.
"Alexa, apa - apaan ini?!" omel Atasan.
"Maaf, Mbak. Saya agak kurang sehat hari ini." Alexa berdiri tegak tapi menunduk—merasa bersalah.
Atasannya menariknya masuk ke ruang karyawan dengan kasar.
"Kalau lagi sakit, jangan kerja! Kalau udah bosen kerja, nggak usah berangkat lagi. Kamu juga absen tiga hari tanpa izin, kan? Mau resign?!" bentak Sang Atasan.
Alexa menggeleng pelan. Dia masih belum bisa mengontrol dirinya. Ketakutannya terus menghantuinya. Bayang - bayang kejadian beberapa hari lalu merenggut ketenangannya.
Dan itu malah ditayangkan di berita televisi.
"JAWAB, ALEXA!"
Sentakan itu semakin membuat Alexa tak karuan kembali teringat saat ayahnya terus membentaknya dengan suara keras kemudian memukulnya.
Bekas luka memar yang sudah tak sakit pun, rasanya mulai kembali terasa sakit.
"S - saya... saya minta maaf, Mbak. Saya... nggak mau resign." Alexa benar - benar tergagap dengan suara gemetar.
"Kamu harus ganti kekacauan yang kamu buat tadi dengan potong gaji kamu." Suara atasannya mulai sedikit melembut.
Alexa mengangguk mantap. Itu bukan masalah selama dia masih memiliki pekerjaan. Paling tidak, untuknya bertahan hidup ke depannya.
"Istirahat dulu lima belas menit. Setelah itu balik kerja. Tapi ingat, ini satu - satunya kesempatan yang saya berikan ke kamu."
"Terima kasih, Mbak," ungkap Alexa.
Setelah atasannya pergi, Alexa langsung duduk di kursi, mengambil minum dan meneguknya meski masih dengan tubuh gemetaran karena tak tahu bagaimana mengatasi itu.
Matanya terasa panas karena menahan air mata. Namun akhirnya, tetes pertama jatuh disusul tetes berikutnya. Dia terisak dalam diam.
Selain tidak punya rumah, Alexa juga tidak lagi punya siapa - siapa untuknya pulang.
Dia mulai mencoba menenangkan diri ketika tangisnya berhenti. Beberapa kali menarik nafasnya panjang - panjang, meyakinkan dirinya bahwa dia masih bisa mengatasi semuanya walaupun sendirian. Memikirkan hal - hal baik agar melupakan kejadian itu.
Tidak sepenuhnya berhasil tapi cukup efektif.
"Al, mau pulang aja?" Salah satu temannya melongok dari pintu.
"Nggak. Aku udah nggak apa - apa kok," balas Alexa.
"Baguslah. Banyak pelanggan nih."
"Iya."
Alexa langsung beranjak dan kembali ke depan untuk melayani pelanggan. Awalnya masih cukup kaku setelah apa yang terjadi tapi kesibukan itu karena ramainya pelanggan membuat Alexa sesaat lupa dengan masalahnya.
"Bisa tolong jaga kasir sebentar, Al? Ada pesanan yang salah kucatat nih."
"Oke."
Alexa pindah ke meja kasir melayani pelanggan yang membayar sampai tuntas. Dia cukup lega karena kepanikannya mulai menghilang karena membawa dirinya sibuk dengan pekerjaannya.
Perhatiannya kini berpindah ke wallpaper layar komputer kasir.
"Ini... Steven?" gumam Alexa pelan.
"Iya. Akhir - akhir ini Grup Band NOVA lagi booming banget. Lagu - lagu mereka keren, anggotanya juga cakep - cakep." Seorang teman yang tengah membuat pesanan pelanggan menanggapi dengan antusias.
"Grup Band?"
"Kamu nggak tahu soal mereka? Padahal udah termasuk Go Internasional loh."
Alexa memandang lama foto Steven bersama dengan ke empat anggota lainnya yang akhirnya membuatnya mengerti kenapa Steven dikejar oleh banyak orang saat itu.
Ternyata dia memang seorang idola yang terkenal.
"Kak, mau pesan es kacang merah." Pelanggan datang ke hadapan Alexa.
"Es kacang merah? Maaf, kami nggak punya menu itu, Kak. Silakan dibaca men—" Kalimat Alexa terputus ketika mendapati pelanggan yang berdiri di hadapannya adalah Steven.
Laki - laki itu membuka satu bagian maskernya, tersenyum sembari menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya memberi isyarat pada Alexa untuk tidak mengatakan pada siapa pun tentang keberadaannya.
"Kamu kok bisa di sini?" tanya Alexa berbisik.
"Ini kafe umum, kan?" balasnya sambil memakai kembali maskernya.
"Kamu nguntit aku ya?"
"Eh, jangan asal nuduh. Nggak ada yang tertarik sama cewek yang suka makan bunga. Soalnya mirip kuntilanak," timpalnya asal.
Alexa mencibir kecil karena Steven membahas hal yang seharusnya tidak di bahas.
"Jadinya pesan apa?" sinis Alexa mengalihkan topik pembicaraan.
"Ih, kok nggak ramah sih," keluh Steven.
"Salah siapa nunjukin wajah. Kalau aku nggak tahu itu kamu 'kan aku bakal bersikap ramah."
"Aku aduin ke atasan kamu loh," ancam Steven.
Alexa memutar bola matanya kesal. Dia benar - benar merasa takdir buruknya menjadi begitu sempurna dengan kehadiran Steven yang mulai terlibat di kehidupannya.
"Kak, maaf. Atasannya mana ya?" Steven langsung bertanya ke barista yang sedang membuat pesanan.
"Haha... Kak, saya minta maaf karena tidak menyediakan es kacang merah. Silakan pesan yang lain, atau perlu saya bantu rekomendasikan?" Alexa langsung menjadi pelayan yang begitu ramah.
Dibalik maskernya, terlihat jelas kalau Steven tersenyum puas karena berhasil menjaili Alexa.
"Saya mau affogato ice satu. Atas namanya samaran aja, Ezza." Steven memesan.
"Baik, totalnya dua puluh ribu. Silakan pilih metode pembayarannya, Kak."
"Bayarin kamu."
"Hah?" Alexa langsung memandang Steven dengan malas.
"Metode pembayarannya bayarin kamu aja. Kalau nggak mau ya... terpaksa aku aduin ke atasan kalau pelayanan kamu buruk."
"Boleh ngomong kasar nggak?" Alexa tersenyum getir dan terpaksa karena kekesalannya pada Steven.
"Auto dipecat."
Mau tak mau, Alexa akhirnya mengambil uang dari saku bajunya dan memasukkannya ke dalam meja kasir untuk membayar pesanan Steven. Setelah itu, dia memberikan struk pembayarannya pada Steven.
"Silakan ditunggu..." ketus Alexa kemudian membiarkan pesanan Steven tepat saat temannya yang menjaga kasir sudah kembali.
Beberapa saat kemudian, pesanan Steven selesai.
"Atas nama Kak Steven!" teriak Alexa.
Steven langsung melotot ke arah Alexa yang memang sengaja menyebut namanya dengan lantang.
"Kenapa pakai nama aku?" bisik Steven mendekat—mengambil pesanannya.
"Loh, ini Kak Steven dari Band NOVA bukan sih?!" Dengan sengaja Alexa heboh.
Semua orang langsung menoleh. Bahkan beberapa pelanggan mendekati Steven untuk memastikan.
"B - bukan dong." Steven terlihat gugup.
"Ah, masa bukan."
Alexa menarik pelan masker Steven dan terbuka membuat kehebohan di kafe karena semua orang langsung mendekati Steven termasuk karyawan - karyawan yang menjadi penggemarnya.
Merasa tak aman, Steven berlari keluar dikejar semua orang. Sementara Alexa hanya bisa menarik kedua ujung bibirnya puas karena poin mereka kini—satu sama.
Namun seketika Alexa sadar—dia tersenyum. [ ]