Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tangan Danish sudah terkepal erat. Matanya juga tak kalah tajam mengunci tatapan Rifki.
"Stop! Udah ya... Pak Danish... Dokter Rifki. Saya mohon jangan seperti ini. Malu di lihatin banyak orang!" pekik Hana berada ditengah-tengah kedua pria tadi.
Danish menatap Hana sebagai peringatan. "Karena kamu sudah bekerja dengan saya, maka kamu adalah tanggung jawab saya. Jadi, ayo kita pulang sekarang!" dengan penuh kepemilikan itu, Danish menggenggam tangan Hana, lalu diajaknya berjalan menjauh.
Dokter Rifki hanya mampu memukul angin sekilas.
"Brengsek! Dia bersikap semena-mena. Kasian Hana," umpat Rifki merasa kesal. Selepas itu, ia langsung saja segera masuk kedalam mobilnya.
Sementara Hana, wanita itu sudah duduk dengan tenang disamping kemudi Danish. Perlahan, ia menoleh kecil, memastikan Majikannya itu masih marah atau tidak.
"Sudah berapa lama kamu kenal sama Dokter gila itu?" tanya Danish dengan suara dingin. Dahinya masih berlipat dalam, tanda emosinya belum sepenuhnya hilang.
Hana menoleh hati-hati. Suaranya kecil, nyaris menjadi bisikan. "Semenjak sama hamil, Pak! Kurang lebih ya... Sudah 9 bulanan ini."
"Kamu menyukai Dokter itu?"
Hana tercengang. Mulutnya sampai melongo. "Suka? Bapak yang bener aja? Saya 'kan dulu masih bersuami. Mana mungkin saya suka sama pria lain?!"
Danish kembali menjawab. Namun kali ini kalimatnya lebih memekak telinga Hana. "Ya... Siapa tahu aja kamu menyimpan perasaan untuknya," bibir tipis itu mengulas senyum getir.
Dada Hana sudah naik turun. Ia menyerongkan sedikit tubuhnya, menatap Danish begitu tajam. "Bapak ini tanya atau mancing masalah sih?"
"Ngapain mancing masalah! Saya cuma tanya aja kok. Lagian, saya juga tidak mau terlalu ikut campur sama urusan orang lain... Termasuk kamu!" cetusnya.
Mata Hana yang sudah berselimut kabut amarah, rasanya ingin sekali meremat bibir lemes itu. Dan bersamaan itu, Danish menoleh sekilas. "Kamu ngapain natap saya kaya gitu?"
"Tenang, sabar Hana... Anggap saja pria didepanmu ini ODGJ yang baru keluar dari rumah sakit jiwa. Kamu juga harus terbiasa dengan mulut lemes itu setiap harinya," gerutu batin Hana yang masih menatap tajam kearah sang Majikan.
Saling bersitegang, tak lama itu mobil Danish sudah berhenti di depan perumahan Hana sesuai petunjuk sang wanita.
Hana bergegas turun. Wajahnya masih menahan kesal, hingga menatap Majikannya itu berasa tak sudi.
"Terimakasih-"
Brak!
Danish sampai melonjak kaget, hingga dadanya reflek menjerit mendapati Ibu susu putrinya itu membanting pintu. Akan tetapi, gerakan tubuhnya lebih mendominasi daripada kerja otaknya.
Danish sudah berdiri di depan mobilnya, namun Hana tetap saja tak peduli hingga masuk kedalam begitu saja.
"Apa tadi ucapanku menyinggung perasaanya ya? Kenapa sih, wanita selalu saja kaya gitu?" Danish menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa tak menemukan jawaban pasti, barulah ia segera masuk kedalam mobil dan segera pergi.
****
Pagi Harinya, tepat pukul 07.30 wib.
Hana sudah rapi dengan perpaduan celana hitam panjang, serta atasan blouse panjang bewarna biru pastel. Pagi ini, Hana hanya mengikat rapi rambutnya ke belakang, semakin memperlihatkan ketegasan pada wajahnya.
Sambil membawa tas lengan, beserta surat gugatan yang Dzaki berikan waktu itu, Hana bersiap mantab melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Sambil menunggu kakaknya datang, Hana membuat sereal terlebih dulu untuk mengganjal perutnya. Sambil membawa secangkir sereal tadi, ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa depan, menghidup dalam aroma serel tadi, sambil memejamkan mata sejenak.
Aroma khas gandum berpadu cream vanilla dengan susu, membuat Hana merasa lebih hangat sebelum memulai hari barunya.
Sementara di luar, mobil Madha baru berhenti. Pria berusia 30 tahun itu segera keluar, dan bergegas masuk kedalam rumah adiknya.
"Han, udah siap?" tanya Madha, tatapanya jatuh pada segelas sereal yang masih dinikmati adiknya.
Hana menoleh, ia turunkan gelas tadi diatas meja. "Udah, Mas! Mas Madha udah sarapan? Kalau belum, Hana tadi udah masak kok."
"Nggak, nggak usah! Tadi udah sarapan di rumah! Ya udah, kita berangkat aja sekarang, daripada kejebak macet," kata Madha yang mulai berjalan keluar lagi.
Hana mengangguk. Ia habiskan sejenak sereal tadi, lalu segera menutup pintunya.
Perjalanan menuju pengadilan cukup memakan waktu 1 jam lamanya. Dan hal itu membuat Hana merasa sedikit bosan. Wajah yang seharusnya tegang, kini seakan masa bodoh, dan tidak bereaksi apapun.
Dan pukul 08.30 itu, mobil Madha baru saja memasuki pengadilan.
~Pengadilan Agama Yogyakarta~
Begitu mobil Madha berhenti, dari arah gerbang masuk lagi dua mobil yang cukup mewah. Yakni Dzaki dan keluarganya juga turut datang dalam persidangan itu.
Madha menahan lengan adiknya, melempar isyarat-agar Hana dapat menjaga imagenya di depan keluarga Dzaki. Sebagai kakak, ia tak ingin adiknya menghamburkan air matanya pada tempat yang salah.
"Hana...." sapa Dzaki berdiri kikuk. Suaranya seolah tertahan, namun ketika melihat penampilan Hana lebih menarik, ada dorongan dari hatinya untuk mendekat.
Hana hanya melirik sekilas, ketika tanganya lebih dulu ditarik sang Kakak untuk beranjak masuk ke dalam.
"Dasar wanita angkuh! Biar bagaimana pun aku ini bekas mertuanya. Tapi bisa-bisanya bersikap acuh seperti itu," gerutu Bu Diah ketika menghampiri putranya.
Dzaki hanya mampu menghela napas berat. Tanpa menoleh Ibunya, ia juga bergegas masuk menyusul Istrinya.
Bahu Bu Diah dipapah Kayla, lalu keduanya juga bergegas masuk kedalam.
*
*
Hana dan Dzaki sudah diminta hakim ketua untuk duduk dikursi depan. Sementara pihak pendamping seperti keluarga, mereka duduk dikursi samping maupun belakang.
Tak ada guratan kecewa atau luka disana. Wajah Hana menegak, duduk dengan tenang tak terperngaruh. Sementara Dzaki, ia sejak tadi menoleh, memastikan Istrinya itu baik-baik saja atau tidak.
"Kamu bersiap sekali menghadiri sidang ini," seru Dzaki menolehkan wajahnya kembali.
Mendengar ada suara yang mengetuk pintu telinganya, reflek saja Hana menoleh. Wajahnya datar, suaranya juga begitu santai. "Tidak sopan sekali jika aku mengabaikannya! Aku menghargai usahamu... Dzaki!" tekanya.
Dzaki tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya, ketika Hakim Ketua sudah mulai membuka suara.
"Baik, saudari Hana Almira binti Bapak Teguh Wibowo... Saya akan membacakan gugatan yang saudara Dzaki Arya Gunawan bin Bapak Hardi Gunawan layangkan untuk Anda. Bagaimana, sudah siap saudari Hana?" tanya Hakim Ketua menatap kearah Hana.
Hana dengan wajah tegasnya mengangguk yakin. "Saya bersedia, Hakim Ketua!"
"Saya mulai dari poin pertama. Disini tertulis, jika pihak penggugat merasa sudah tidak menemukan kecocokan dalam hal komunikasi kepada pihak tergugat. Point ke-2, pihak penggugat selama di rumah sering merasa terabaikan karena pihak tergugat sibuk dengan urusan pribadinya. Point ke-3, pihak penggugat merasa hampa, sebab pihak tergugat tidak pernah lagi menunjukan sikap manisnya; contoh berdandan, mengurus tubuhnya, hingga melunjak ketika pihak penggugat merasa menegurnya. Dan disini tertulis, puncak pertengakarannya jatuh pada tanggal 23 bulan Oktober 2025 tahun lalu. Jadi, sudah 3 bulan berjalan pihak tergugat sudah tidak lagi memberikan nafkah batin sebagai kewajibannya," Hakim Ketua itu menarik napas dalam sebelum melanjutkan lagi. "Dan sesuai Undang-undang yang tertulis, pihak Penggugat sudah dapat melayangkan gugatan cerainya secara mutlak!" pandangan Hakim Ketua terangkat, pas kearah Hana. "Saudari Hana... Apa benar Anda memang melakukan 3 point yang tertulis? Mohon bisa di jelaskan terlebih dulu?"