Kara seorang artis cantik yang mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam novel kebencian memerankan seorang wanita bernama Aleca seorang istri yang di nikahi suaminya karena sebuah dendam.
Dengan jiwa tangguh dan pengalaman hidupnya sebagai pabrik figur, dia mengubah takdir istri yang teraniaya itu dengan kekuatan baru.
Matanya yang dulu bercahaya kini membara, Dan suaranya yang dulu lembut kini tegas. Dia siap melawan suaminya yang menindasnya, dan mengambil kembali kendali kehidupan yang layak untuk sang istri yang lemah.
"Aku sudah siap bermain!” katanya dengan senyum dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Jadi Di Pecat
“Selamat pagi Mbak ALeca.."
Catrin dan Iren Menyapa Aleca pada saat wanita itu datang mengambil kedua nya di dapur.Aleca tersenyum tipis pada keduanya.“Maaf yah semalam saya merepotkan kalian.."
Catrin dan Iren terdiam sejenak, dan mereka berdua saling memandang.Tak lama mereka berdua juga sama-sama tertawa tipis.Aleca sedikit mengerutkan dahi tapi kemudian juga ikut tersenyum melihat candaan kedua wanita itu
"Hehe tidak apa-apa kok Mbak Aleca!" ucap Iren dengan senyum ceria, sambil menyajikan segelas jus jeruk segar di atas meja. "Malahan kami senang bisa membantu. Belum pernah kami lihat orang mabuk tapi tetap lucu dan menyenangkan seperti Mbak Aleca."
"Betul sekali!" tambah Catrin sambil menyebarkan roti bakar di atas piring. "Mbak Aleca tadi malam bilang kalau kita adalah 'malaikat dengan senyum hangat' lho! Dan mbak juga nyanyi lagu 'Balonku Ada Lima' dengan irama jazz yang unik banget!"
Aleca langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa malu tapi juga tidak bisa menahan tawa kecil
"Aduh udah dong, saya sungguh tidak ingat sama sekali," gumamnya sambil masih menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Tuan Luiz juga sudah menyuruh kami untuk menggantikan baju mbak Aleca dan tuan bahkan khawatir sekali saat mbak mabuk seperti orang gila"
Tak lama terdengar langkah kaki seseorang memasuki dapur. dia adalah Sri, Sri terus mencibirnya senyuman nya memperhatikan Aleca dari atas sampai bawah.“Kamu ngapain ada di dapur ini! atau kamu mau menyombongkan diri karena sudah di terima baik oleh tuan Luiz!"
Aleca menyungging sudut bibirnya, ia dengan berani memajukan langkah menghadapi Sri.“saya tahu kamu selalu tidak suka padaku Sri," lanjut Aleca dengan nada yang mantap,";Tapi saya tidak pernah berniat menyakiti atau menyombongkan diri, tapi jika kamu terus seperti ini dan tidak menghormati batasan serta menghargai orang lain, saya tidak akan tinggal diam lagi!"
Catrin dan Iren berdiri tidak bergerak, melihat kedua wanita itu dengan ekspresi khawatir. Luiz juga mendekat ke arah mereka, matanya memperhatikan situasi dengan cermat.
"Sudah cukup!" ucap Luiz dengan suara yang jelas terdengar di seluruh dapur. Dia melihat Sri dengan tatapan yang tegas. "Kamu sudah bekerja di sini cukup lama dan saya menghargai semua kerja kerasmu. Tapi sikap iri dan menghina istri Saya bukanlah sesuatu yang bisa saya maafkan. Jika ini terjadi lagi, saya benar-benar akan memecat mu Sri!."
Sri menundukkan kepala.“Tapi tuan, tuan dulu terbiasa menyuruh saya untuk memberikan pelajaran untuk Aleca tapi kenapa tuan sekarang tidak melakukan hal itu lagii.."
Aleca melirik Sri sebentar untuk mencerna pertanyaan yang hendak ia berikan pada Luiz.Benar sekali saat tubuh ini belum di masuki Kara, Sri adalah orang suruhan Luiz untuk menyiksa Aleca tapi entah kenapa Luiz berubah dan sekarang malah membela nya."
“Sri seseorang bisa berubah kapan saja bukan!"Kata Luiz sambil berkacak pinggang.“dan kamu juga harus seperti itu. sekarang Aleca bukan lagi seorang pelayan di rumah ini. Dia istri saya! yang itu artinya dia juga majikan mu! sekarang kamu harus minta maaf pada Aleca!"Kata Luiz dengan nada tinggi.
Sri semakin menundukkan kepalanya lebih dalam,kedua tangan nya saling bertautan ketika Luiz menyuruh nya untuk meminta maaf.Karena bagi Sri lebih baik mati dari pada meminta maaf pada wanita seperti Aleca.“Saya harus minta maaf pada wanita pelayan ini, enak dia. nanti kalau saya minta maaf bisa hilang harga diri saya sebagai pembantu senior"Sri menggerutu di dalam batinnya.
Aleca tertawa tipis ia melangkah maju mendekati Sri.Kemudian ALeca menumpukan tanganya di pundak Sri.“Sri jika kamu ingin minta maaf, yaudah bilang saja. saya sudah pasti akan maafin kamu kok."
Sri terhentak saat ia merasakan pundaknya terasa sakit karena ALeca seperti meremas pundaknya.Sontak Sri melangkah mundur menjauhi Aleca.“S-saya minta maaf.."Ucap Sri dengan kalimat cepat dan hampir terbata.
Aleca tersenyum lebar, dengan santai ia memperhatikan Sri sambil melipat kedua tangannya.Kemudian matanya beralih menatap Luiz yang berada tidak jauh dari nya.“Saya telah memaafkan pelayan kesayangan mu itu..Tapi saya mau minta maaf juga yaa.."
“Loh kenapa kamu meminta maaf..?"Tanya Luiz pada Aleca.
“Maaf, karena saya harus pecat dia!"
Luiz langsung melangkah mendekat, wajahnya penuh kebingungan dan sedikit marah. "Aleca, kamu tidak bisa begitu saja memecatnya begitu! Sri sudah berubah, dia bahkan telah menyesali apa yang pernah dia lakukan!"
"Saya tahu dia menyesali perbuatannya tapi caranya meminta maaf tidak tulus sama sekali," jawab Aleca dengan nada yang tetap tenang namun tegas, "tapi saya punya prinsip sendiri Pemaafan saya bukan berarti saya harus menerima dia berada di sekitar saya setiap hari. Setiap kali melihatnya, saya akan teringat kembali semua rasa sakit yang pernah saya alami."
Sri yang hingga kini berdiri di sana masih membisu, tangannya menggenggam ujung roknya dengan erat.Namun pada saat ia hendak bersuara tiba-tiba nyonya Shofia datang dan membela Sri."Memang nya kamu siapa yang berhak memecat pelayan yang telah lama bekerja di sini!"
“nyonya Shofia.."Sri seketika berlari menghampiri nyonya Shofia, dia merengek sambil memeluk lengan nyonya Shofia.“Tolong nyonya saya tidak mau di pecat"
Aleca mengangkat bahu dengan santai, masih menjaga ekspresi wajahnya yang datar. "Saya tidak mengingkari kontribusi. Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak bisa tinggal di satu atap bersama seorang pembantu yang bermulut iblis seperti dia. Apakah harus saya keluar dari sini saja agar masalah ini selesai!?"
Kata-kata itu membuat Luiz terkejut dan segera melangkah ke Aleca.“Tidak! kamu tidak boleh keluar dari rumah ini Aleca."Kemudian Luiz melirik ke arah Sri yang masih menempel pada mamanya.“Sri maafkan saya, sepertinya saya harus menuruti perintah istri saya.Mulai hari ini kamu kemasi seluruh barang-barang mu dan pergilah dari sini"
Sontak wajah Sri menjadi pucat seperti kain kafan, tangannya yang menggenggam lengan Nyonya Shofia lebih erat. "Jangan tuan Luiz... jujur saya sudah berubah, saya sudah menyesali semua yang pernah saya lakukan..." ucapnya dengan suara gemetar.
Nyonya Shofia mengerutkan kening dan melepaskan diri dari genggaman Sri untuk menghadap anaknya. "Luiz, kamu tidak bisa melakukan ini begitu saja! Sri adalah bagian dari keluarga kita!"
"Maafkan aku ma," jawab Luiz dengan nada penuh penyesalan "Aleca adalah istri aku sekarang dan aku harus menjaga kenyamanannya di rumah ini. aku tahu ini tidak adil bagi Sri, tapi aku tidak punya pilihan lain."
Aleca memperhatikan perubahan pada diri Luiz sekarang.padahal dia tidak bersungguh-sungguh akan memecat Sri, semua itu ia lakukan karena ingin menguji seberapa jauh Luiz akan membela nya. Namun di sini tetap ALeca lah yang menjadi pemenang.
“Baiklah saya tidak akan memecat kamu!"Pungkas ALeca di saat dia melihat Sri bersujud di kaki Luiz sambil menangis.Setelah ALeca mengatakan hal itu, ia pun perlahan pergi meninggalkan dapur.
Sontak Sri mengangkat wajahnya yang masih basah karena air mata, tidak percaya mendengar kata-kata Aleca. Luiz juga terkejut, kemudian melihat ke arah Aleca yang sedang berjalan menjauh.