“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 6
Miranda terus berjalan. Hujan makin rapat membasahi plastik besar di tangannya. Plastik itu berisi pakaian seadanya, sisa hidup yang dibuang seperti sampah. Langkahnya berat seperti menyeret luka yang belum kering.
Tak terasa sudah tiga jam ia melangkah. Kakinya mulai perih, namun ia tetap memaksa maju. Jalan aspal memantulkan cahaya lampu yang buram oleh hujan. Malam terasa semakin dingin.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Miranda akhirnya sampai di rumah pinggiran kota itu. Rumah yang dulu ia sebut rumah, meski lebih sering membuatnya menangis diam-diam.
Dari luar terlihat Santoso duduk sambil merokok di kursi tua. Yuni sedang menghitung uang di atas meja kecil. Sejak diberi uang Kakek Sagara, Yuni menjadi rentenir kecil-kecilan.
Santoso kini menjadi tukang ojek. Sementara Lisa tampak asyik di depan kamera ponsel. Entah sedang siaran langsung atau merekam video untuk media sosialnya.
Miranda menelan ludah. Kakinya gemetar menahan gugup dan takut. Ia merasa seperti tamu asing di tempat yang dulu pernah akrab.
"Assalamulaikum" ucap miranda lirih
Santoso menoleh perlahan. Matanya meneliti Miranda dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya seperti menilai sesuatu yang datang tanpa diundang.
"Ada apa kamu kesini miranda?" Tanya yuni ketus
Miranda melangkah masuk pelan. Ia duduk di kursi dengan napas tersengal. Tidak ada yang memberinya air atau sekadar menanyakan keadaannya.
Lisa mendecih kesal. Wajahnya menunjukkan rasa tidak suka yang terang-terangan. Baginya kehadiran Miranda hanya mengganggu ketenangan rumah.
Santoso menyandarkan kepalanya ke kursi. Asap rokok keluar pelan dari mulutnya. Ia tampak lelah tetapi juga acuh.
"Ada apa kamu kesini?:" tanyanya
Miranda menunduk dalam. Tangannya saling meremas menahan gemetar. Ia merasa sangat kecil di hadapan mereka.
"Aku diceraikan mas raka" ucap miranda dengan lirih
Tidak ada ekspresi terkejut. Tidak ada simpati sedikit pun. Wajah mereka tetap datar seperti mendengar kabar orang asing.
"Terus kalau udah di ceraikan raka ngapain kamu kesinj lagi?" Tanya yuni dengan nada tegas dia memasukan semua uangnya ke tas seolah miranda itu maling yang akan mengambil uangnya
Miranda menatap Yuni dengan mata basah. Dadanya terasa sesak oleh rasa ditolak. Ia berusaha mencari kata yang tepat.
"Kalau aku enggak kesini terus aku harus kemana bu..hanya kalian keluargaku" ucap. Miranda
"Enggak bisa" ucap yuni "lisa tidsak akan pernah menerima kamu"
"Tapi aku harus kemana bu?" Tanya miranda penuh harap
Santoso memandang Miranda lama. Ada sedikit iba di sudut matanya. Ia teringat bagaimana Miranda pernah berjuang demi dirinya.
Namun kebahagiaan anak kandung tetap menjadi pertimbangan utama. Santoso selalu meyakini darah lebih kuat dari segalanya. Pikiran itu menutup rasa bersalahnya.
Santoso merogoh kantong celana. Ia mengeluarkan uang lima puluh ribu yang sudah kusut. Tangannya terulur ragu ke arah Miranda.
"Maaf miranda setelah kamu menikah maka kamu sudah bukan tanggung jawabku lagi" ucapnya sambil memberikan uang
Belum sempat uang itu sampai ke tangan Miranda, Yuni merebutnya dengan cepat. Wajahnya mengeras penuh curiga.
",kita sudah membesarkannya dari bayi sudah cukup kita berbuat baik padanya" ucap yuni dengan nada ketus
Lalu Yuni memberikan uang dua puluh ribu. Uang itu disodorkan tanpa menatap wajah Miranda. Seolah sedang mengusir pengemis.
"Ini ambilah dan pergilah"
Tangan Miranda gemetar saat menerima uang itu. Dua puluh ribu terasa lebih dingin dari hujan di luar sana. Nilainya bahkan tak cukup untuk hidup sehari.
Namun yang lebih menyakitkan bukan jumlahnya. Melainkan makna di balik pemberian itu. Ia dianggap beban yang harus segera disingkirkan.
"Ayah..ibu... aku bisa mengurus kalian...beri aku tempat tinggal cukup beri saja aku makan...aku akan memasak..mencuci baju...membersihkan rumah..aku akan melakukan pekerjaan apapun" ucap miranda
Kalimat itu meluncur seperti permohonan terakhir. Suaranya parau hampir hilang ditelan tangis. Ia hanya meminta tempat berteduh.
Tiba-tiba Lisa mendekat dengan langkah cepat. Wajahnya masam penuh rasa malu. Suaranya tajam menusuk tanpa ampun.
"ayah ... ibu ..apa kata teman temanku kalau aku punya kaka yang sd saja tidak lulus...aku malu yah..jika kalian menerima dia lebih baik aku pergi..dan lagian kita sudah punya pembantu buat apalagi dia ada disini"
Miranda terpaku mendengar itu. Kata-kata Lisa lebih menyakitkan dari tamparan. Dadanya seperti ditusuk berkali-kali.
Padahal dulu Miranda mengurus Lisa saat bayi. Ia mencuci pakaiannya dan menidurkannya saat demam. Semua kenangan itu lenyap tak berarti.
"Kamu dengarkan miranda" ujar yuni "sekarang cepat pergi"
Miranda menoleh pada Santoso. Ia berharap ada setitik pembelaan. Hanya satu kalimat saja sudah cukup baginya.
Tapi Santoso diam membisu. Matanya menghindari tatapan Miranda. Ia memilih keselamatan perasaan Lisa.
Santoso sangat menyayangi Lisa. Lima belas tahun ia menunggu kehadiran anak kandung. Ia tak mungkin mengorbankan kebahagiaan itu.
"Cepat usir dia..kalau tidak aku yang pergi" hardik lisa
Miranda menundukkan kepala. Air mata menetes ke lantai tanpa suara. Ia tahu pertarungan ini sudah selesai.
Ia berbalik badan dengan langkah hampa. Tidak ada lagi tempat memohon. Rumah itu bukan miliknya sejak lama.
Miranda pergi dari rumah itu. Hujan turun semakin deras menyambut kepergiannya. Tubuhnya menggigil dibalut daster tipis.
Di tepi jalan plastik yang ia bawa dirampas jambret. Kejadiannya begitu cepat seperti kilat. Miranda bahkan tak sempat berteriak.
Ia berlari mengejar dengan sisa tenaga. Namun motor itu melaju kencang menembus hujan. Semua miliknya lenyap seketika.
Miranda berhenti dengan napas putus-putus. Dadanya naik turun menahan sesak. Ia merasa benar-benar kosong.
Haus menyiksa tenggorokannya. Ia menengadahkan mulut ke langit gelap. Air hujan masuk tanpa ia pedulikan.
Air hujan masuk kemulutnya, miranda menangis ditengah derasnya hujan.
Dan menajtuhkan dirinya ke jalan lalu bersimpuh dengan lututnya, dan memukul-mukul jalan
“Tuhan aku lelah” isaknya
“aku sebatang kara”
“suamiku menceraikanku”
“keluarga angkatku membuangku”
“bahkan jambret mengambil semua milikku”
“apakah aku begitu tak diinginkan di dunia ini tuhan”
“tinnnnn” suara klakson memekan telinga Mirada
“bego ngapain diam ditengah jalan” ucap lelaki memakai jas hujan memandang miranda lalu meninggalkannya
“lihatlah bahkan aku hanya diam saja aku diusir” ucap miranda
Miranda bangkit dengan puts asa
Miranda terus berjalan tanpa arah. Lampu jalan seperti bayangan kabur di matanya. Ia merasa menjadi manusia yang tak terlihat.
Saat mobil lewat, Miranda ingin sekali menabrakkan diri. Pikiran itu datang begitu kuat dan mengerikan. Ia lelah memikul hidup.
Namun ia mengurungkan niat itu. Ia tidak ingin merepotkan orang lain dengan kematiannya. Bahkan untuk mati pun ia merasa tak berhak.
Entah berapa lama ia berjalan. Kakinya mati rasa oleh dingin. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah jembatan tua.
Di bawah jembatan sungai penuh bebatuan. Arusnya deras karena hujan semalaman. Suaranya seperti memanggil dari dasar gelap.
Suara selawat menjelang subuh terdengar samar. Suara masjid yang lembut menembus kabut pagi. Nada itu seperti tangan tak terlihat.
Pikiran Miranda kosong tanpa pegangan. Ia menatap sungai dengan mata lelah. Dalam kepalanya hanya ada satu jalan keluar.
"Mungkin mati akan menyesaikan masalahmu..aku lelah"
Miranda berdiri di tepi jembatan. Angin subuh menerpa wajahnya. Ia memejamkan mata perlahan.
Namun tiba-tiba tangannya terasa ada yang memegang. Sentuhan itu hangat dan nyata. Miranda tersentak kaget.
"Jangan terlalu pinggir nanti jatuh" ucap seorang wanita membawa bakul sayuran
Miranda mundur satu langkah dengan cepat. Jantungnya berdegup keras. Ia seperti baru terbangun dari mimpi gelap.
"Aku lagi mencari angin nek" jawab miranda mundur ke belakang
"Nenek mau kemana?" Tanya miranda
"Mau beli sayuran di pasar terus di jual ke kampung" jawab si nenek
"Umur nenek berapa?"
"Berapa ya?" Jawabnya "75 tahun kali"
"Memang anak dan cucu nenek kemana?".tanya miranda merasa kasihan
"Anakku empat cucuku 16 cicitku 4" jawabnya riang
"Apa mereka tidak mengurus nenek?"
Si nenek tersenyum dengan wajah tenang. Keriputnya tampak seperti peta kehidupan panjang. Matanya justru bersinar hangat.
" dua anakku jadi tentara dua anakku jadi pns...semuanya sukses tapi itu mereka dan aku ga bisa tergantung sama mereka..sampai mati aku akan terus berdagang"
Miranda terdiam mendengar jawaban itu. Nenek tampak renta tetapi penuh tenaga hidup. Setiap katanya ringan namun dalam.
Miranda heran lalu bertanya, "kenapa nek?"
"Menggantungkan harapan pada manusia itu ujungnya adalah kekecewaan..maka kita harus tergantung pada Allah..dan pada diri kita sendiri...jangan pernah menggantungkan harapan pada manusia.kita punya kepala tangan dan kaki..artinya kita harus berusaha sendiri"
Kata-kata itu menembus hati Miranda. Seperti cahaya kecil di ruang gelap. Ia merasa ditegur tanpa dimarahi.
Miranda ingin bertanya lagi, tapi nenek itu sudah melangkah. Langkahnya pelan namun pasti menuju arah pasar.
"Aku harus buru buru nanti bandar sayuran keburu pergi"
Miranda tertegun melihat punggung nenek menjauh. Kabut subuh perlahan menipis diterpa cahaya pagi. Di dadanya ada getaran baru.
Ia menelan ludah panjang. Selama ini ia memang hidup bergantung pada manusia. Dan manusia berkali-kali mengecewakannya.
"Ya kesalahan terbesarku berharap banyak pada manusia"
Miranda istigfar beberapa kali. Air matanya masih ada tetapi tidak sepanas tadi. Ada kesadaran yang mulai tumbuh.
Ia menyadari kebodohannya selama ini. Hidup tidak bisa diserahkan pada belas kasihan orang. Ia masih punya diri sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Miranda merasa harus hidup. Bukan demi suami atau keluarga angkat. Tetapi demi jiwanya sendiri.
gemes bgt baca ceeitanya