"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26
Dua minggu masa pingitan akhirnya resmi berakhir. Bagi Keyla, menghirup udara di luar pagar rumahnya terasa seperti memenangkan kebebasan setelah berabad-abad dikurung. Arlan menepati janjinya. Sebuah mobil SUV mewah sudah terparkir di depan rumah sejak pukul enam pagi, siap membawa mereka menjauh dari hiruk-pikuk Jakarta menuju sebuah villa pribadi di lereng pegunungan Puncak yang asri.
"Om, pelan-pelan dong! Aku mau liat pohonnya!" seru Keyla sambil membuka kaca jendela, membiarkan angin dingin pegunungan menerpa wajahnya.
Arlan melirik melalui spion tengah, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Kita punya waktu seharian, Keyla. Pohon-pohon itu tidak akan lari."
Villa milik keluarga Dirgantara itu berdiri megah di atas bukit, dikelilingi oleh kebun teh yang menghijau. Suasananya begitu tenang, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Begitu sampai, Keyla langsung berlari menuju balkon yang menyuguhkan pemandangan lembah.
"Indah banget, Om! Makasih ya udah ajak aku ke sini," ucap Keyla.
"Kamu pantas mendapatkannya setelah bersabar dengan aturan Papamu," Arlan memeluk Keyla dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.
Tak lama berselang beberapa menit, suara deru mesin mobil lain terdengar mendekat menuju villa. Sebuah sedan hitam formal berhenti tepat di depan lobby villa. Arlan seketika melepaskan pelukannya, rahangnya mengeras saat melihat sosok pria paruh baya bersetelan jas safari turun dari mobil tersebut.
"Pak Hendra? Sekretaris pribadi Ibu?" gumam Arlan.
Keyla menoleh, merasakan perubahan aura pada Arlan. "Ada apa, Om?"
"Tetap di sini, Keyla," perintah Arlan singkat. Dengan cepat ia melangkah turun menuju halaman villa.
Keyla tidak bisa tinggal diam. Ia mengikuti dari kejauhan, berdiri di balik pilar besar. Ia melihat Arlan sedang berhadapan dengan pria bernama Hendra itu.
"Tuan Arlan, Nyonya Besar meminta Anda kembali ke Jakarta sekarang juga. Beliau sudah menunggu di kediaman utama." ucap Hendra.
"Aku sedang berlibur, Hendra. Katakan pada Ibu, aku akan menemuinya lusa," jawab Arlan.
"Maaf, Tuan, tapi ini bukan sekedar permintaan. Nyonya sudah melihat semua berita tentang keributan di hotel... dan tentang gadis yang Anda bawa ke sini," Pak Hendra melirik ke arah Keyla yang mengintip di balik pilar. "Nyonya berpesan, bahwa silsilah keluarga Dirgantara tidak dibangun untuk menjadi bahan lelucon di media karena seorang anak kecil."
"Jaga bicaramu!" sentak Arlan.
Tiba-tiba, pintu belakang mobil sedan itu terbuka. Seorang wanita lanjut usia dengan keanggunan yang mengintimidasi keluar. Dia adalah Sofia Dirgantara. Ia mengenakan setelan wol mahal dan kacamata hitam yang segera ia lepas.
"Ibu?" Arlan tertegun. Ia tidak menyangka ibunya akan datang langsung ke tempat ini.
Sofia tidak menjawab. Matanya langsung tertuju pada Keyla. Ia berjalan mendekat ke arah Keyla lalu berhenti tepat di hadapan gadis itu.
"Jadi, ini dia?" Sofia memindai Keyla dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menghina. "Gadis yang membuat putraku bersikap seperti remaja labil yang kehilangan akal sehatnya?"
"Bu, jangan di sini," Arlan mencoba menghalangi, namun Sofia mengangkat tangannya, membungkam putranya sendiri.
"Arlan, aku mendidikmu untuk menjadi pemimpin, bukan menjadi pengasuh," ucap Sofia dingin.
"Dengar, Nona kecil. Aku tidak tau sihir apa yang kamu gunakan pada Arlan, tapi keluarga ini memiliki standar. Dan kamu... bahkan tidak mencapai batas bawah dari standar itu."
"Nyonya, aku... Aku sayang sama Om Arlan," ucap Keyla.
Sofia tertawa hambar. "Sayang? Di usiamu, kamu bahkan tidak tau perbedaan antara cinta dan obsesi pada sosok ayah yang tidak kamu dapatkan di rumah. Kamu hanya akan menjadi noda dalam karier Arlan. Jika kamu benar-benar sayang padanya, pergilah sebelum aku membuat Papamu kehilangan segalanya karena ketidakbecusanmu menjaga martabat."
"IBU! Cukup!" bentak Arlan. Ia menarik Keyla ke belakang punggungnya. "Keyla tidak ada hubungannya dengan bisnis kita. Ini pilihanku!"
"Pilihanmu salah, Arlan! Dan aku di sini untuk memperbaikinya," Sofia menatap Arlan dengan tajam. "Pilih sekarang. Kembalikan dia ke rumahnya dan putuskan hubungan konyol ini, atau aku akan memastikan keluarga Baskoro merasakan akibat dari kelancangan putri mereka."