Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28 Kesempatan yang Bau Busuk
Siang itu matahari terik, tapi Bagas merasa lebih panas oleh tatapan orang-orang.
Ia berdiri di depan gedung tinggi berlapis kaca.
Gedung yang dulu mungkin ia masuki sebagai tamu terhormat.
Sekarang ia berdiri dengan baju lusuh, sepatu mulai mengelupas, dan harapan tipis seperti benang.
Pria berjas abu-abu kemarin berdiri di sampingnya.
“Masuk saja. Bapak sudah menunggu.”
Bagas meliriknya.
“Bapak siapa?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Anda akan tahu.”
Di dalam ruangan lantai 12, udara dingin menyentuh kulitnya yang masih bau keringat pasar.
Seorang pria paruh baya duduk di kursi besar.
Rambutnya disisir rapi. Tatapannya tajam.
“Bagas Pratama,” ucapnya pelan.
Bagas mengangguk.
“Aku tahu kamu.”
Nada itu bukan ramah. Bukan juga kasar.
Tapi seperti orang yang sudah menimbang barang di pasar.
“Aku tahu kamu jatuh. Bangkrut. Dibuang keluarga. Jadi bahan tertawaan.”
Setiap kalimat disebut dengan santai. Tanpa empati.
Bagas mengepalkan tangan.
“Kalau cuma mau ulang cerita orang, saya sudah hafal.”
Pria itu tersenyum.
“Bagus. Artinya kamu belum sepenuhnya mati.”
Sunyi sejenak.
“Aku punya proyek. Nilainya besar. Kamu bisa dapat komisi cukup untuk bangkit.”
Jantung Bagas berdetak lebih cepat.
“Tapi…” pria itu menambahkan pelan, “…ada satu syarat.”
Tentu saja ada syarat.
Dalam hidup, tidak ada yang gratis.
“Apa?”
Pria itu menatap lurus.
“Istrimu.”
Dunia seperti berhenti satu detik.
“Maksud Anda?”
“Dia pernah bekerja di perusahaan milik rekan saya. Ada urusan lama yang belum selesai.”
Bagas menegang.
“Urusan apa?”
Pria itu tersenyum samar.
“Kalau kamu mau proyek ini, suruh dia datang. Bicara baik-baik. Selesaikan.”
Kalimatnya halus.
Tapi artinya kotor.
Bagas berdiri.
“Saya tidak jual istri saya.”
Pria itu tertawa kecil.
“Jual? Siapa bilang jual? Ini cuma pertemuan. Kalau bersih, kenapa takut?”
Bagas keluar tanpa menjawab.
Dadanya bergetar.
Kesempatan itu ternyata bukan pintu.
Tapi jebakan.
Di luar gedung, ia melihat Pipit duduk di halte.
Ia tidak bercerita dulu.
Ia tidak sanggup.
Tapi takdir lagi-lagi tidak memberi ruang bernapas.
Bu Siska dan Bu Tuti lewat dengan belanjaan.
Mereka berhenti.
“Eh, Pipit! Ngapain di sini?”
Pipit tersenyum tipis.
“Nunggu suami.”
Bu Tuti melirik gedung tinggi itu.
"Kerja apa sekarang? OB?"
Tawa kecil.
Bagas keluar tepat saat kalimat itu terdengar.
Bu Siska langsung menyeringai.
"Oh, sudah selesai wawancara jadi satpam?"
Bagas menatap mereka tenang.
"Cari kerja halal."
Bu Siska menggeleng.
"Laki-laki kalau sudah jatuh, kasihan istrinya. Mau makan apa coba?"
Bu Tuti menambahkan dengan suara keras.
"Kamu masih muda, Pipit. Kalau mau, banyak yang lebih mapan. Jangan keras kepala."
Itu bukan lagi sindiran.
Itu merendahkan terang-terangan.
Bagas merasa darahnya mendidih.
Tapi Pipit lebih dulu menjawab.
"Rezeki itu bukan cuma uang, Bu. Kesetiaan juga."
Bu Siska mencibir.
"Kesetiaan nggak bisa bayar kontrakan."
Kalimat itu seperti palu godam.
Bagas menunduk sebentar.
Lalu menatap mereka.
"Kalau cuma bisa merendahkan, semoga hidup Ibu-ibu tidak pernah diuji seperti kami."
Mereka terdiam sesaat.
Lalu pergi sambil berbisik.
"Gengsi masih tinggi."
Belum selesai.
Sore itu, pesan masuk ke ponsel Pipit.
Nomor tak dikenal.
"Masih berani muncul di kota ini?"
Ia membaca dengan dahi berkerut.
Pesan kedua masuk.
"Dulu kamu pintar sekali main bersih. Sekarang suamimu yang bayar harga."
Tangan Pipit gemetar.
Bagas melihat.
"Siapa?"
Pipit menutup layar cepat.
"Tidak penting."
Bagas menahan napas.
"Penting kalau menyangkut masa lalu kamu."
Sunyi.
Pipit jarang terlihat takut.
Tapi kali ini… matanya berbeda.
"Itu orang dari kantor lama," ucapnya pelan.
Bagas menatapnya.
"Kantor yang mana?"
Pipit menunduk.
"Tempat aku berhenti tiba-tiba."
Bagas baru sadar.
Ia tidak pernah benar-benar tahu alasan Pipit berhenti kerja waktu itu.
Hanya tahu ia keluar dengan wajah pucat dan tidak mau cerita.
Malamnya, mereka duduk di tepi jalan dekat warung kecil.
Bagas akhirnya bicara.
"Tadi di gedung itu… mereka minta kamu datang."
Pipit menegang.
“Siapa?”
“Orang yang kenal kamu.”
Sunyi lama.
“Mas… kamu nggak boleh terima tawaran apa pun dari mereka.”
“Kenapa?”
Pipit menutup mata.
“Karena orang itu bukan sekadar bos.”
Bagas merasa perutnya mengeras.
“Dia pernah…”
Kalimat Pipit terhenti.
Air matanya jatuh.
Bagas tidak pernah melihatnya seperti ini.
“Dia pernah coba menjebakku. Saat aku tolak, aku difitnah. Aku dipaksa tanda tangan surat yang bukan aku buat.”
Dunia Bagas terasa makin berat.
“Kenapa kamu tidak cerita?”
“Aku malu.”
Malu.
Kata yang sama yang dipakai orang-orang untuk menghancurkan mereka.
Seolah belum cukup.
Telepon Bagas berbunyi.
Nomor rumah lama.
Ia angkat.
Suara Bu Marni.
“Kamu sudah dengar belum? Di keluarga besar sekarang kamu jadi contoh.”
“Contoh apa?”
“Contoh lelaki gagal yang istrinya bermasalah.”
Bagas membeku.
“Apa maksudnya?”
“Semua orang tahu masa lalu Pipit. Jangan pura-pura suci.”
Bagas menggenggam ponsel keras.
“Jangan bawa-bawa istri saya.”
Bu Marni tertawa kecil.
“Sudah miskin, dapat istri dengan reputasi jelek pula. Paket lengkap.”
Telepon ditutup.
Bagas berdiri.
Dadanya seperti terbakar.
Ia menatap Pipit.
Dan untuk sesaat…
Ada bayangan keraguan melintas di matanya.
Hanya sepersekian detik.
Tapi Pipit melihatnya.
Dan itu lebih sakit dari semua hinaan orang lain.
“Mas… kamu juga mulai ragu ya?”
Suara Pipit lirih.
Bagas langsung menggeleng.
“Tidak.”
Tapi ia terlambat.
Karena luka sudah terbentuk.
Malam semakin gelap.
Angin terasa dingin.
Bagas berdiri memandang jalan raya.
Ia dihujat sebagai lelaki gagal.
Pipit dihujat sebagai perempuan bermasalah.
Dan tawaran proyek itu menggantung seperti umpan beracun.
Di titik itu—
Bagas merasa dunia tidak hanya ingin menjatuhkannya.
Tapi menginjaknya sampai tidak bersisa.
Dan pembaca tahu…
Saat semua orang menuduh, merendahkan, dan menghina—
Ada dua pilihan:
Hancur.
Atau bangkit dengan cara yang tidak lagi lembut.
Di kejauhan, pria berjas abu-abu itu kembali berdiri.
Mengamati.
Menunggu.
Seperti tahu—
Orang yang sudah kehilangan segalanya…
Biasanya paling mudah ditarik ke arah gelap.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid