NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 12 - Hancur Lebur

"Kamu belum puas bikin aku menderita?!" bentak Alexa ketika Steven mendekat ke arahnya.

Steven mengernyitkan dahi bingung kenapa Alexa langsung marah padanya—padahal dia hanya ingin menagih janji Alexa kemarin. Penampilan Alexa juga terlalu berantakan untuk orang yang baru berangkat bekerja.

"Kamu kenapa? Pagi - pagi begini sudah marah - marah," komentar Steven.

"Aku lagi nggak mau bicara sama siapa - siapa." Alexa beranjak hendak meninggalkan Steven.

"Ingat janji kamu kemarin nggak?" tanya Steven menghadang jalan Alexa dengan merentangkan kedua tangannya.

Alexa menarik nafas panjang mencoba sabar. Mood - nya tidak bagus dan dia tidak ingin memaki orang pagi - pagi yang pasti akan berpengaruh ke kinerjanya dalam melakukan pekerjaannya.

Dia menatap Steven tajam membuat laki - laki itu langsung menurunkan kedua tangannya dengan sedikit canggung.

"Minggir!" kata Alexa ketus.

"Kamu nggak datang ke konser ku kan?"

"Nggak."

"Tapi kamu udah janji."

Tak ada tanggapan dari Alexa. Dia ingat janji itu dan dia juga mengakui kalau dirinya sudah ingkar. Tapi Alexa tidak bisa menjelaskan alasannya tidak pergi. Dia hanya tidak ingin membicarakan soal ayahnya.

Semuanya sudah berlalu dan seharusnya memang berlalu dengan cepat. Terlalu menyakitkan harus terikat dengan yang telah terjadi.

"Itu berarti kamu sebenarnya masih mau aku terlibat di hidup kamu." Steven melipat kedua tangannya di depan dada dengan bangga.

Karena kesal, Alexa merogoh sakunya dan melemparkan sejumlah uang yang dia miliki tepat di wajah Steven kemudian berlalu masuk ke kafe tempatnya bekerja.

Sementara Steven tertegun dengan sikap buruk Alexa sampai dia tak bisa berkata apa - apa—memandang uang yang berhamburan di tanah.

Nominalnya jelas tidak akan bisa mengganti uang tiket yang Steven beli, dan Steven juga tidak berharap Alexa mengganti uang tiket itu. Dia hanya benci cara Alexa memberikan uang itu seolah tidak ada cara yang lebih lembut dari melemparkannya.

"HEH, ALEXA!" teriaknya marah ketika sadar dari lamunannya, tapi dia tak lagi mendapati Alexa ada di sana.

Dengan cepat, Steven memunguti uang - uang itu dan melangkah masuk ke dalam kafe dengan perasaan dongkol. Dia ingin membalas apa yang Alexa lakukan padanya.

"Maaf, Alexa di mana, ya?" tanya Steven pada salah satu karyawan yang tengah membersihkan meja ketika matanya tidak menangkap sosok Alexa.

"Di belakang, Kak. Tapi maaf, kafe kami belum buka. Mohon tunggu sebentar lagi ya, Kak," jawab karyawan itu.

"Oh, bukan. Aku cuman mau mengembalikan uang Alexa yang jatuh. Bisa tolong antar aku ketemu Alexa?" Steven berusaha keras mengubah suaranya di balik masker.

"Bisa dititipkan saja uangnya, Kak."

"Jangan deh, Kak. Takutnya nanti kalau ada kurangnya, kakaknya yang dikira ambil."

Karyawan itu terdiam beberapa saat memikirkan ucapan Steven yang akhirnya langsung mengangguk.

Steven kemudian diantarkan ke belakang untuk bertemu langsung dengan dengan Alexa. Tapi ternyata waktunya tudak tepat. Di ruang istirahat, Alexa sedang dimarahi oleh atasannya.

"Meskipun ada masalah dengan keluarga kamu, seharusnya kamu kemarin nggak pergi begitu saja. Dan sekarang, selain terlambat, penampilan kamu juga sangat buruk, Alexan!" bentak Sang Atasan.

Steven yang kebetulan melihat itu justru merapatkan bibirnya kuat - kuat menahan tawa karena atasan Alexa berkomentar tentang penampilan Alexa yang memang seperti orang yang tidak niat kerja.

Alih - alih merasa iba, Steven justru mengambil ponselnya dan mengambil beberapa foto Alexa yang sedang kena omel.

"Kak, kayaknya Alexa lagi ada masalah. Bisa nunggu di luar? Nanti kalau sudah selesai, saya bilang ke Alexa kalau kakaknya nungguin," bisik karyawan yang bersama Steven.

Steven mengangguk kecil dan langsung keluar dengan wajah puas melihat Alexa yang hanya menunduk tanpa bisa melawan.

"Puas banget!" gumam Steven melihat gambar - gambar di ponselnya sambil tertawa kecil.

Steven bahkan iseng mengedit foto Alexa dengan emot - emot lucu untuk dia tunjukkan pada Alexa nanti ketika Alexa keluar.

"Kamu ngapain masih di sini?"

Suara Alexa membuat Steven hampir menjatuhkan ponselnya. Dia menoleh dengan wajah panik.

"Mau balikin uang kamu 'nih!" Steven melemparkan uang itu di hadapan Alexa sengaja agar tidak mengenai wajah Alexa.

"Itu uang buat gantiin tiket konser. Aku tahu masih kurang tapi—"

"Aku nggak butuh uang. Aku nggak suka cara kamu ngasih itu ke aku," protes Steven.

Alexa diam memandang Steven penuh kekesalan. Ada banyak kesulitan yang dia alami setelah bertemu dengan Steven. Awalnya, Alexa memang sudah sial. Tapi keberadaan Steven semakin mengganggunya.

"Kalau gitu, aku kembalikan aja tiketnya." Alexa merogoh tasnya dan menyodorkan tiket konser yang tidak terpakai itu.

"Itu udah nggak berguna."

Kesabaran Alexa semakin menipis membuatnya langsung merobek tiket itu menjadi kecil - kecil dan kembali melemparkannya ke wajah Steven. Hal yang sama dia lakukan lagi—pergi begitu saja.

Steven juga tak lagi bisa menahan amarahnya dengan sikap arogan Alexa.

"Maksud kamu apa sih?! Nggak punya sopan santun?!" teriak Steven memaki.

Tapi Alexa tak mengindahkan. Dia terus melangkah pergi.

Steven mengejarnya dan langsung menarik tangan Alexa dengab kasar agar berhadapan dengannya.

"Apa sih?!" Alexa menepis tangan Steven.

"Aku datang nggak buat bertengkar. Aku cuman mau tanya kenapa kamu ingkar janji?" Steven menjelaskan kedatangannya yang entah kenapa membuat Alexa begitu marah padanya.

"Nggak semua orang se - senggang kamu! Lagipula kenapa kamu selalu muncul di hadapanku? Aku nggak butuh bantuan atau belas kasihan siapa pun!" Alexa tiba - tiba saja membentak.

Steven sempat diam lama kembali teringat saat Alexa marah padanya karena melaporkan ayahnya ke polisi. Kali ini, kemarahannya lebih besar dari itu. Terlihat jelas dari sorot matanya.

"Aku mau bantu bukan karena aku kasihan. Tapi aku peduli." Suara Steven semakin pelan masih syok dengan kemarahan Alexa.

"Kalau kamu begitu peduli, kirim aku ke ayahku."

"Kita bisa jenguk ayah kamu kapan aja."

"KE MANA?!"

"Ke—"

"BUN*H AKU KALAU KAMU MAU BAWA AKU KETEMU AYAH!" Tangis Alexa pecah.

Hidup yang dia pikir ke depannya akan menjadi baik meski tanpa ayah dan ibunya, semakin hancur.

Dia dipecat dari pekerjaannya, mendapat banyak cemooh-an dari orang - orang. Dianggap sama dengan kejahatan yang ayahnya lakukan. Semua terlalu memaksanya untuk hancur walaupun Alexa sudah berusaha tetap berdiri.

"Gila kamu," ucap Steven tidak menyangka Alexa akan seperti itu.

"Bagian mana dari tubuhku yang masih pantas waras? Ibuku dibu*uh ayahku sendiri. Dan karena kamu, Ayah harus dihukum m4ti. Karena kamu juga aku dipecat dari pekerjaanku. Bagian tubuh mana yang masih bisa waras?" Alexa sesegukan.

Steven membatu ketika mendengar semua itu. Dia tidak tahu mengenai apa yang terjadi dengan Ayah Alexa.

"A - aku..."

"Tolong bantu aku. Bantu aku untuk tenang dengan jangan muncul di hadapanku lagi." Alexa tiba - tiba berlutut di hadapan Steven—memohon.

Steven masih kehabisan kata dan tak tahu harus bersikap seperti apa. Dia benar - benar sudah melihat sehancur apa Alexa sebelumnya, tapi sekarang—Alexa seolah melebur. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!