NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. suamiku adalah dosenku.

Pagi itu aku duduk di bangku kelas seperti biasa.

Buku terbuka. Pulpen di tangan.

Namun pikiranku melayang ke tempat yang sama sejak beberapa hari terakhir—ke rumah yang terasa terlalu luas, dan seseorang yang hadir tanpa benar-benar ada.

“Baik, kita tunggu dosennya,” ucap salah satu temanku.

Aku mengangguk tanpa benar-benar mendengar.

Mataku menatap papan tulis kosong, tapi yang kulihat justru wajah Haruka—dingin, jauh, seperti kembali menjadi orang asing di rumah kami sendiri.

Pintu kelas terbuka.

Langkah kaki terdengar. Teratur. Tenang.

“Permisi.”

Satu kata itu cukup untuk membuat seluruh ruangan senyap.

Aku mendongak…

dan napasku langsung tersendat.

Haruka Sakura.

Berdiri di depan kelas dengan setelan jas rapi, rambut hitamnya tersisir sempurna, wajahnya dingin—terlalu sempurna untuk sekadar menjadi dosen tamu.

Bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

“Gila… itu dosen baru?”

“Serius? Umurnya berapa?”

“Katanya dari keluarga atas, ya?”

“Pantes auranya beda…”

Aku tidak bisa bergerak.

Tanganku membeku di atas meja.

Ini mimpi, kan?

Namun Haruka berjalan ke meja dosen, meletakkan map tipis, lalu menatap kelas dengan tatapan profesional—dingin, terukur, tanpa celah.

“Selamat pagi,” katanya. Suaranya sama seperti di rumah. Namun rasanya… asing.

“Nama saya Haruka Sakura. Mulai hari ini, saya akan mengajar mata kuliah ini.”

Tidak ada keraguan.

Tidak ada jeda.

Tidak ada satu pun pandangan ke arahku.

Seolah aku… tidak pernah ada.

Dadaku terasa seperti diremas.

Aku menunduk cepat saat matanya menyapu barisan bangku. Saat tatapannya melewatiku, jantungku berdegup kencang—namun ia tidak berhenti.

Tidak mengenaliku.

Atau… memilih untuk tidak mengenali.

“Haruka Sakura…” bisik temanku di sebelahku, matanya berbinar. “Kenapa dosen setampan ini baru muncul sekarang?”

Aku tersenyum kaku.

Jika saja mereka tahu…

bahwa pria yang kini dipuja satu kelas

adalah orang yang bahkan tidak lagi menatapku di rumah.

Pelajaran dimulai.

Caranya menjelaskan tenang, runtut, terlalu cerdas untuk diikuti dengan santai. Seluruh kelas terdiam—bukan karena takut, tapi karena terpukau.

Ia bukan hanya tampan.

Ia berbahaya dengan kecerdasannya.

Aku mencatat, tapi huruf-huruf di bukuku berantakan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau kecil—bukan karena kejam, tapi karena jarak yang ia bangun dengan sempurna.

“Apakah ada pertanyaan?” tanyanya.

Beberapa tangan terangkat.

Bukan tanganku.

Aku tidak berani.

Karena aku tahu… jika aku bersuara, tembok itu akan runtuh.

Kelas berakhir.

Mahasiswa mulai berkemas dengan wajah antusias.

“Gila, dosen kayak gini bikin rajin kuliah,” celetuk seseorang.

“Aku rela telat asal masih bisa lihat dia.”

Aku berdiri paling akhir.

Saat aku melangkah menuju pintu, Haruka sedang merapikan berkasnya. Jarak kami hanya beberapa langkah.

Aku berhenti sejenak.

Menunggu.

Mungkin ia akan menoleh.

Mungkin ia akan menunjukkan tanda sekecil apa pun.

Namun tidak.

Ia tetap menunduk pada mapnya.

Aku melewatinya… seperti orang asing.

Dan di lorong kampus yang ramai itu, aku baru benar-benar mengerti—

Haruka Sakura bukan hanya menjauh dariku sebagai suami.

Ia menghapus keberadaanku dari dunianya yang paling rapi.

Lorong kampus siang itu lebih ramai dari biasanya.

Aku berjalan pelan sambil tertawa kecil, sesekali menoleh ke arah lelaki di sampingku—Raka, teman sekelasku sejak semester awal. Ia tinggi, ramah, dan terlalu mudah diajak bicara.

“Serius, Alya,” katanya sambil menggeleng, “aku masih nggak percaya dosen baru kita itu beneran manusia. Cara ngajarnya kayak mesin.”

Aku tersenyum. “Mungkin dia cuma terlalu terbiasa sendirian.”

“Kamu kelihatan ngerti banget,” godanya.

Aku hendak menjawab ketika tiba-tiba langkahku melambat.

Aku merasakannya.

Tatapan itu.

Dingin. Tajam. Terlalu familiar untuk diabaikan.

Aku menoleh ke seberang lorong.

Haruka Sakura berdiri di sana.

Di antara dosen lain, jas hitamnya membuatnya tampak lebih tinggi, lebih dominan. Tangannya menggenggam map, wajahnya tetap tenang—namun matanya… tidak.

Ia menatap kami.

Tepatnya—menatap Raka.

Aku menelan ludah.

Raka tidak menyadarinya. Ia masih berbicara, tertawa kecil, lalu tanpa sengaja menepuk lenganku ringan saat bercanda.

Gerakan kecil itu.

Dan aku melihatnya jelas.

Rahang Haruka mengeras.

Tatapannya berubah—bukan marah, bukan dingin.

Cemburu.

Perasaan itu muncul begitu cepat, begitu mentah, seolah ia sendiri tidak siap menghadapinya.

Ia melangkah mendekat.

Langkahnya tenang, tapi auranya membuat udara di sekitarnya menegang.

“Selamat siang,” ucapnya datar saat berdiri tak jauh dari kami.

Aku refleks menunduk sedikit. “Siang, Pak.”

Raka tersenyum sopan. “Siang, Pak.”

Haruka mengangguk singkat—lalu matanya kembali padaku. Bukan sebagai suami. Bukan sebagai pria yang pernah memelukku.

Sebagai dosen.

“Kelas Anda berikutnya dimulai sepuluh menit lagi,” katanya dingin.

“Jangan terlambat.”

Nada itu… terlalu personal untuk sekadar pengingat.

“Iya, Pak,” jawabku pelan.

Ia beralih ke Raka. Tatapannya datar, menilai.

“Dan Anda… sebaiknya tidak mengganggu waktu belajar rekan Anda.”

Raka terdiam sejenak, lalu tertawa kecil canggung. “Oh—maaf, Pak. Kami cuma ngobrol.”

Haruka mengangguk sekali lagi. “Pastikan tetap seperti itu.”

Kalimat itu terdengar sopan.

Namun aku tahu.

Itu peringatan.

Haruka berbalik dan pergi, langkahnya tetap rapi, seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun saat punggungnya menjauh, dadaku justru terasa lebih sesak.

“Kamu kenal dia?” tanya Raka pelan setelah Haruka menghilang.

Aku menggeleng cepat. “Tidak.”

Jawaban itu terasa seperti kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan.

Namun di kejauhan, Haruka berhenti melangkah sejenak.

Tangannya mengepal di balik map.

Ia tidak menoleh.

Namun satu hal jelas bagiku..

Ia cemburu.

Perkuliahan hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal.

Aku membereskan buku-buku dengan pikiran yang masih kacau. Tatapan Haruka di lorong tadi terus terulang di kepalaku—terlalu tajam untuk sekadar dosen yang menegur mahasiswa.

Kami pulang bersama.

Tidak berdampingan seperti dulu, tidak juga saling menyentuh. Jarak di antara kami cukup untuk membuat udara terasa kosong, namun cukup dekat untuk menyisakan kehadirannya yang tidak bisa kuabaikan.

Mobil melaju dalam keheningan.

Ia fokus pada jalan. Tangannya mantap di setir. Wajahnya datar seperti batu yang sudah lama belajar tidak retak.

Aku meliriknya sekilas, lalu menghela napas kecil.

Rumah menyambut kami dengan sunyi yang akrab.

Aku meletakkan tas di sofa, membuka sepatu, lalu sengaja berdiri di hadapannya sambil menyilangkan tangan.

“Pak Dosen,” ucapku ringan.

Ia tidak menoleh.

Aku menahan senyum, lalu melanjutkan dengan nada menggoda,

“Boleh saya bilang sesuatu nggak, Pak?”

“Apa,” jawabnya singkat.

Aku mendekat setengah langkah. “Hari ini kampus rame banget, lho. Semua orang ngomongin dosen baru.”

Ia tetap membuka jasnya dengan gerakan rapi. “Fokus saja pada kuliahmu.”

Aku tertawa kecil. “Iya, tapi susah fokus kalau dosennya setampan itu.”

Akhirnya—ia berhenti bergerak.

Namun hanya sedetik.

“Berhenti bercanda, Alya,” katanya dingin.

Aku memiringkan kepala. “Kenapa? Salah ya manggil suami sendiri ‘dosen tampan’?”

Tatapannya akhirnya naik padaku.

Datar. Dalam. Menjaga jarak.

“Di kampus, aku bukan suamimu,” ucapnya tegas.

“Dan di rumah… jangan membawa urusan kampus.”

Kalimat itu seperti garis lurus yang ia tarik jelas di antara kami.

Aku menelan ludah, tapi tetap tersenyum—sedikit dipaksakan.

“Baik, Pak Dosen.”

Ia berjalan melewatiku tanpa menanggapi.

Namun saat ia melangkah ke tangga, aku melihatnya.

Rahangnya mengeras.

Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.

Aku bersandar pada sofa, senyumku perlahan memudar.

Bercandaku tidak ditolak dengan kemarahan.

Tidak juga dengan ejekan.

Ia menolaknya dengan jarak.

Dan entah kenapa, itu jauh lebih menyakitkan.

Karena dinginnya Haruka bukan berarti tidak peduli—

melainkan karena ia terlalu peduli

hingga memilih membekukan dirinya sendiri.

Aku menatap punggungnya yang menghilang di lantai atas.

Dalam hati aku berbisik pelan,

Dosen tampan atau bukan…

kamu tetap suamiku.

Dan aku mulai sadar—

menembus dinginnya Haruka Sakura

akan jauh lebih sulit

daripada menghadapi dunia kampus mana pun.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!