“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 14
Akhirnya, Raka sampai di depan rumahnya. Mobil berhenti tepat di depan gerbang yang masih tertutup rapat. Hujan turun deras sejak perjalanan pulang tadi, membuat rasa mual di perutnya semakin mendera. Kepalanya terasa berat, tubuhnya lelah, dan yang ia inginkan hanya berbaring serta memejamkan mata.
Raka menekan klakson cukup lama. Suaranya memecah hujan, menggema di halaman rumah yang gelap. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada pintu yang terbuka. Ia kembali menekan klakson, kali ini lebih lama dan lebih keras.
“Ah, Miranda ke mana, sih? Kenapa dia…” gumam Raka kesal.
Ucapannya terhenti di tengah kalimat. Tangannya refleks menutup mulut. Ingatannya mendadak menampar kesadarannya sendiri. Ia sudah menceraikan Miranda. Tidak ada lagi perempuan itu yang menunggu di balik gerbang.
Bayangan Miranda hadir begitu saja. Wajahnya yang selalu muncul setiap kali Raka pulang kerja. Sepuluh tahun lamanya, Miranda hampir tidak pernah absen berdiri di depan rumah, menyambutnya dengan senyum sederhana, meski kadang lelah terpancar jelas dari matanya.
Raka kembali menekan klakson, entah untuk siapa. Hujan masih deras. Gerbang tetap tertutup.
“Bahkan tidak ada yang mau membukakan pintu gerbang,” batinnya getir.
Dengan kesal, Raka membuka pintu mobil dan turun. Tubuhnya langsung basah tersiram hujan. Ia bergegas membuka kunci gerbang sendiri, mendorongnya dengan tenaga yang tersisa, lalu kembali masuk ke mobil. Setelah mobil terparkir di garasi, Raka mematikan mesin, turun, dan kembali menutup gerbang dengan tangan gemetar karena dingin.
“Merepotkan sekali,” gerutunya pelan. “Kenapa tidak ada yang setia menungguku pulang, padahal aku sudah bekerja keras.”
Setelah memastikan gerbang terkunci, Raka masuk ke rumah. Ia duduk di kursi dekat pintu, membuka sepatu dengan tergesa. Lagi-lagi, bayangan Miranda datang tanpa diundang. Biasanya, ia hanya duduk santai sambil memainkan ponsel, lalu Miranda akan berlutut membuka tali sepatunya dengan cekatan.
Malam ini, tidak ada tangan yang menyentuh kakinya.
Rahang Raka mengeras. Dadanya terasa sesak oleh emosi yang sulit ia jelaskan. Sepuluh tahun lamanya ia dilayani, dan sekarang, orang yang selalu melayaninya itu tidak ada.
Dengan gerakan asal, ia menaruh sepatu di lantai, tidak seperti biasanya. Raka lalu melangkah masuk ke ruang tamu. Pintu utama ternyata tidak terkunci. Ia menggelengkan kepala, merasa jengkel dengan penghuni rumah yang begitu ceroboh.
Namun rasa kesalnya berubah menjadi getir saat matanya menyapu ruang tamu. Meja terlihat berantakan. Gelas bekas kopi, piring sisa camilan, dan bungkus makanan berserakan tanpa ada yang membereskan.
Ingin rasanya ia marah, tapi malam sudah larut. Tubuhnya terlalu lelah. Kepalanya dipenuhi pikiran yang kusut.
Yang paling memilukan adalah kesunyian. Tidak ada suara langkah. Tidak ada sapaan hangat.
“Mas mau makan apa atau mau mandi dulu?”
Kalimat itu terngiang jelas di telinganya. Kalimat yang selalu diucapkan Miranda setiap kali ia pulang. Kalimat yang selama ini sering ia abaikan, bahkan kadang ia jawab dengan anggukan singkat tanpa menatap wajahnya.
Kini, kalimat itu tidak ada. Dan Raka merasa kehilangannya.
Ia melangkah menuju kamar. Pintu terbuka, dan pemandangan di dalam membuatnya kembali menghela napas berat. Baju berserakan di mana-mana. Di kasur, di kursi, bahkan di lantai.
Raka menggelengkan kepala. Ia membuka kemeja basah yang menempel di tubuhnya, lalu melemparkannya sembarangan.
“Sial,” gerutunya kasar. “Benar-benar tidak ada yang peduli pada kamarku. Padahal akulah yang mencari uang.”
Dengan kasar, ia menyingkirkan baju-baju di atas kasur, lalu duduk terhempas. Pandangannya beralih ke kamar mandi. Ia ingin sekali mandi, tapi ia tahu, air hangat tidak akan tersedia.
Biasanya, semua itu sudah disiapkan Miranda.
Akhirnya, Raka mengambil handuk, menyeka tubuhnya sekadarnya, lalu mengenakan kaus dan celana kolor yang ia ambil secara asal. Tubuhnya benar-benar lelah. Selama ini, ia bisa fokus bekerja karena urusan kecil selalu diurus Miranda tanpa pernah mengeluh.
Raka menarik napas panjang.
“Apa aku sebenarnya membutuhkan Miranda?” ucapnya lirih.
Entah mengapa, rindu itu datang begitu tiba-tiba. Raka menggelengkan kepala keras-keras.
“Tidak,” gumamnya. “Aku tidak mencintainya. Dia memang tidak pantas untukku.”
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Aku sekarang general manager. Pendidikanku magister. Dia tidak cocok untukku,” lanjutnya. “Benar kata Ibu. Dia hanya akan membuatku malu.”
Namun bibirnya gemetar saat mengucapkan kalimat itu. Karena pikirannya justru dipenuhi kenangan. Tentang Miranda yang selalu menunggunya. Tentang tangan-tangan sederhana yang tak pernah lelah melayaninya.
Raka meraih ponselnya. Ia mencari foto Miranda. Matanya lalu menatap dinding kamar, mencari foto pernikahan. Tidak ada. Dan memang tidak pernah ada.
Ia kembali menunduk, membuka galeri ponsel, berharap menemukan satu saja foto Miranda. Tidak ada. Dadanya terasa diremas kuat saat menyadari kenyataan pahit itu.
Sepuluh tahun menikah, ia tidak memiliki satu pun foto istrinya.
Raka mencoba mencari kontak Miranda. Kosong. Ia mengingat dengan jelas, ia tidak pernah membelikan Miranda ponsel.
“Apa aku suami yang kejam?” gumamnya.
Ia kembali menggeleng.
“Aku sudah memberi dia makan, minum, dan tempat tinggal,” katanya membela diri. “Aku membelikan dia baju. Aku tidak pernah memukul atau membentaknya. Aku suami yang baik.”
Namun suara lain muncul di kepalanya, lebih jujur dan lebih tajam.
“Istrimu tidak berpendidikan, bukankah itu tanggung jawabmu sebagai suami?”
“Istrimu jelek, berapa modal yang sudah kamu berikan untuk membuatnya cantik?”
“Apakah selama ini Miranda pernah menentangmu?”
“Apakah selama ini Miranda banyak menuntutmu?”
Raka terdiam. Tubuhnya gelisah. Ia memejamkan mata dan berbisik lirih, “Apakah aku sudah salah?”
Sementara itu, di tempat lain, Miranda baru saja menyelesaikan salat Isya. Dengan keberanian yang ia kumpulkan, ia mendekati Pak Halim, lelaki tua penjaga mushola.
“Pak, bolehkah saya malam ini menginap di mushola?” ucap Miranda lirih sambil menunduk.
Pak Halim terdiam sejenak. Miranda merasa ragu. Ia takut permintaannya terlalu lancang, mengingat ia sudah diizinkan mandi dan mencuci.
“Kamu boleh tinggal, Mir,” ucap Pak Halim akhirnya. “Tapi maaf, ya. Kesepakatan pengurus mushola, tidak boleh ada yang tidur di dalam. Kalau saja kamu anak perempuan Bapak, pasti sudah Bapak ajak menginap di rumah.”
Mendengar itu saja, hati Miranda menghangat. Ia mengangguk cepat.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti. Terima kasih sudah mengizinkan saya menginap,” sahutnya dengan suara lega.
Pak Halim mengunci pintu mushola, lalu pergi. Miranda menghela napas panjang. Setidaknya malam ini ia tidak akan kehujanan.
Ia menggelar kardus bekas yang ia pungut dan tidur di samping mushola, dekat toilet. Saat hendak memejamkan mata, suara gerbang terdengar terbuka. Jantung Miranda berdegup kencang. Ia meraih kain pel dan berdiri waspada.
“Kalau ada maling, akan kupukul kepalanya,” gumamnya tegang.
Siluet seorang lelaki terlihat mendekat. Miranda bersiap memukul. Tiba-tiba lampu menyala.
“Mir, kamu kenapa?” tanya Pak Halim terkejut.
“Anu, Pak… saya kira ada maling,” jawab Miranda kikuk.
“Astaga, kamu ini,” ucap Pak Halim sambil menghela napas. “Tapi memang benar, beberapa kali mushola ini kemalingan.”
Pak Halim lalu memberikan tikar dan selimut.
“Pakai ini, Mir,” katanya lembut. “Besok pagi jangan kesiangan.”
“Baik, Pak,” jawab Miranda lirih.
Hatinya terasa hangat. Ia baru mengenal Pak Halim, tetapi lelaki tua itu begitu perhatian. Miranda tidur dengan lelap. Tubuhnya pegal, tetapi hatinya tenang. Ini adalah malam pertamanya di Jakarta.
Miranda bangun sebelum subuh. Ia segera merapikan tempat tidurnya sebelum orang-orang datang. Setelah salat subuh berjamaah, ia menjemur pakaian di belakang mushola.
“Tidak kering juga tidak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri. “Yang penting mushola tetap rapi.”
Usai itu, ia membersihkan kamar mandi, mengepel tempat wudu, dan mengelap kaca serta lemari dengan teliti.
“Aku harus membalas kebaikan mereka,” ucapnya pelan.
Pukul tujuh pagi, semua pekerjaan selesai. Miranda meraih karungnya.
“Sekarang waktunya bekerja,” katanya sambil tersenyum kecil.
Langkahnya ringan. Di benaknya, ia mulai menghitung.
“Hari ini target dua puluh kilo,” ucapnya yakin. “Tiga puluh ribu rupiah. Sepuluh ribu untuk makan, dua puluh ribu ditabung.”
Ia berhenti sejenak, menatap karung di tangannya.
“Terima kasih, ya Allah,” bisiknya haru. “Ini kebahagiaanku. Tinggal di rumah ibadah, membersihkannya, makan dari uang sendiri, dan punya penghasilan, walau dengan memulung.”
gemes bgt baca ceeitanya