Nova lisma, gadis desa yang tiba-tiba mendapat sistem keberuntungan, tentu saja terkejut. namun, dia langsung memanfaatkan semuanya. dan dia yang mengupayakan untuk kuliah, benar-benar memanfaatkan sistem tersebut.
dia mengumpulkan modal dari hadiah sistem, dan kemudian perlahan membuka usahanya sendiri.
sementara, setelah dirinya mendapatkan sistem, dia pun jadi melupakan kebiasaannya yang selalu menempel pada seorang laki-laki yang merupakan seniornya. Julian.
lalu bagaimanakah selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirta_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. keberangkatan
sementara di kampung halaman Nova. keluarga kakak pertamanya Iqbal tampak sedang bersiap-siap. mereka akan berangkat hari ini dengan menggunakan kapal cepat. biasanya, kapal cepat akan berangkat jam 02.00 atau jam 03.00 sore. jadi sebelum jam itu, mereka sudah harus berada di pelabuhan kapal.
"sudah semuanya nak..?" tanya ibu Isma kepada anak pertamanya itu. tampak tak hanya kedua orang tuanya yang datang, tapi keluarga adik pertama dari Iqbal pun juga turut datang.
"Alhamdulillah.. sudah semuanya Bu. lagi pula nggak perlu bawa barang banyak. adik bilang, bawa kebutuhan yang seperlunya saja biar tidak kerepotan di jalan." tutur Iqbal. Ibu Isma pun menganggukkan kepalanya.
sementara, sopir mereka hari ini adalah Irfan, dan kemudian dibantu oleh temannya Ardi. tempat Iqbal dulu meminjam motor saat pergi ke kota kabupaten untuk membuka buku rekening.
"oh ya! bawa karung ini juga ya nak. ini untuk bekal kalian di sana. bapak sama Ibu tidak bisa berikan apa-apa. hanya pisang dan sedikit keladi ini yang bisa kalian bawa sebagai oleh-oleh." tutur Ibu Isma dengan perasaan pedih.
Agnes, yang merupakan istri dari Iqbal itu pun tersenyum kepada Ibu mertuanya. walaupun mereka miskin, tapi Ibu Isma beruntung mendapatkan menantu menantu yang pengertian, dan juga memahami kondisi mereka.
"nggak apa-apa Bu.. Nova pasti ngerti juga kok. oh ya Bu.. kami titip anak-anak ya. maaf, mungkin Nanti cucu-cucu Ibu akan merepotkan selama beberapa hari.." tutur Agnes yang sebenarnya tidak tega meninggalkan anak-anaknya. tapi mau bagaimana lagi, anak-anaknya tidak bisa dibawa semuanya, karena di sana mereka juga tidak tahu, apakah mereka bisa bertahan atau tidak. ditambah lagi, Sherly dan Johan masih sekolah.
Ibu Isma yang mendengar penuturan menantunya itu tersenyum.
"kamu tidak perlu khawatir tentang Sherly dan Johan nak. ibu akan jaga mereka sampai kalian kembali." tuturnya. sebelumnya, Agnes Dan juga Iqbal sudah membicarakan hal ini kepada anak-anak mereka. beruntungnya, Sherly dan Johan ini cukup pengertian dan tidak banyak kehendak.
"makasih sebelumnya Bu.."
"Iya nak sama-sama. kalau begitu kalian Langsung berangkat saja. suamimu dan Putri sudah menunggu. begitu pula dengan adik iparmu dan juga Ardi." tutur Ibu Isma lagi. Agnes pun mengganggukan kepalanya.
"baiklah kalau begitu Bu.." Agnes pun langsung mengangkat satu tas ransel yang berisi pakaian mereka bertiga. dan kemudian, di sana karung yang berisi pisang dan keladi yang ingin mereka bawa sudah dibawa keluar oleh Iqbal.
sesampainya mereka di motor, Iqbal dan Putri pun langsung naik. Putri sendiri yang merupakan anak bungsu Iqbal dan Agnes bertubuh sangat kurus. seolah-olah, tulang-tulang itu akan patah.
sementara, motor yang di bawah oleh Irfan ditumpangi oleh Agnes dan tas ransel kecil mereka.
"kalian hati-hati ya nak.. kabari kalau kalian sudah sampai di kota provinsi. dan jangan lupa juga kabari Adik kalian. kalau kalian sudah ada di jalan.!" seru Ibu Isma mengingatkan anak-anaknya.
"baik bu.. doakan semoga semuanya lancar ya Bu.." ujar Agnes kepada mertuanya. pak Rusman dan Ibu Isma pun tersenyum. uang hutang Mereka pun, yang mereka pegang saat ini, tentu saja diberikan semuanya kepada Iqbal dan juga Agnes.
mereka berpikir, Iqbal dan Agnes jauh lebih membutuhkannya untuk perawatan cucu bungsu mereka. dan mereka rela mengorbankan hal itu demi keselamatan anggota keluarga.
"kami pamit ya Bu.. assalamualaikum.."
"waalaikumsalam nak.." Ibu Isma pun melambaikan tangannya mengiringi kepergian anak-anaknya.
ketika motor itu sudah tidak dijangkau lagi oleh mata, Ibu Isma menghela nafasnya berat sambil menundukkan kepalanya dengan sedih. pak Rusman yang paham dengan perasaan istrinya pun langsung mengusap punggung sang istri.
"tidak usah bersedih Bu.. kita doakan saja yang terbaik untuk anak-anak. dan mereka bisa selamat sampai tujuan." tutur pak Rusman. mendengar itu, Ibu Isma kembali menegakkan kepalanya.
"Iya Pak! bapak benar.. Ibu hanya merasa tidak berdaya saja. dalam kondisi dan keadaan seperti ini, kita tidak bisa membantu banyak. padahal anak-anak, mereka sangat membutuhkan bantuan kita." tutur Ibu Isma dengan tampang sedihnya. pak Rusman pun menganggukkan kepalanya.
"Sudah Bu! tidak boleh sedih lagi. ingat, kita harus jaga kesehatan dan perasaan kita, agar cucu-cucu kita tidak sedih." tutur pak Rusman lagi.
setelah itu, pak Rusman pun langsung mengajak istrinya masuk kembali ke dalam rumah. hari ini mereka tidak kemana-mana. karena kalau pergi ke tempat kerja, tampaknya sudah tidak sempat dan tanggung. hari juga cukup panas, dan pasti tidak akan tenang untuk bekerja.
******
dan, setelah hampir 2 jam perjalanan menuju kota kabupaten, akhirnya mereka pun tiba di pelabuhan. di sana, terlihat sangat ramai. dan tampaknya mereka tidak akan berangkat sendiri.
"berikan saja uangnya padaku, biar aku yang beli tiket." tutur Ardi. Ardi sendiri adalah seorang pegawai negeri sipil, jadi kalau dia yang membeli tiket, di sana ada potongan untuk mereka.
mendengar itu, Iqbal langsung menyerahkan nominal uang untuk 3 buah tiket. di mana, satu tiket itu seharga rp250.000. jadi kalau 3, total semuanya adalah 750.000. mahal sekali kan.? tapi mau gimana lagi, mereka juga tak bisa menunda-nunda. Putri harus mendapatkan penanganan sesegera mungkin.
"ini!"
"kalian tunggu di sini ya!! biar aku saja yang antri." sambung Ardi lagi.
"maaf banget udah repotin kamu di.." tutur Iqbal merasa tidak enak kepada sahabatnya ini. karena di antara mereka semua, hanya Ardi belum paham. sementara Irfan, dia sama bodohnya dengan Iqbal.
"santai aja! kalian tunggu di sini." akhirnya, arti pun ikut mengantri. Untung saja, antriannya sudah tidak panjang lagi. sehingga hanya butuh waktu sebentar, dia berhasil mendapatkan 3 buah tiket yang bersebelahan.
"ini tiketnya! ayo langsung masuk ke kapal saja. soalnya satu jam lagi kapal akan berangkat. jangan lupa beli minuman. karena kalau di kapal biasanya mahal." mendengar itu, Agnes langsung menganggukkan kepalanya.
dia langsung beralih dan membeli minuman serta beberapa cemilan kepada pedagang-pedagang yang berjualan di sana. tak lupa dia juga beli obat anti mual untuk dirinya dan suaminya. karena kalau semuanya mual, lantas siapa yang akan mengurus Putri.
"sudah selesai bang.." ujarnya.
"oh kalau sudah, kita langsung masuk aja." Mereka pun langsung mendekati kapal yang sudah dipenuhi oleh para penumpang.
di sana, Iqbal menggendong tubuh putrinya yang kurus itu. sementara Irfan dan Ardi, mereka membantu membawa barang-barang yang tidak seberapa itu. di sana Ardi berjalan ke depan untuk menunjukkan tempat duduknya. kebetulan, mereka mendapatkan tempat duduk di bagian tengah kapal.
"ini tempat untuk kalian.. nanti, kalau abknya datang minta tiket, kalian berikan tiket ini ya. jangan dibuang dan Jangan sampai hilang." ujar Ardi sambil menyerahkan tiket itu kepada Agnes.
Agnes menerima tiket tersebut, dan langsung menyimpannya di dalam tas kecil yang sudah terlihat usang, yang di bawahnya itu.