Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin
Aroma harum soto dan bumbu rempah yang selama sebulan terakhir menyelimuti rumah mereka, perlahan menghilang. Digantikan oleh bau diam-diam yang lebih menyayat: bau kegelisahan dan ketakutan. "Katering Ranni" memasuki fase yang ditakuti setiap usaha kecil: fase sepi.
Orderan dari ibu-ibu kompleks sudah berakhir. Rapat-rapat dadakan seperti pesanan Budi (yang masih membuat Arman merinding setiap teringat) tidak datang lagi. Konten YouTube Rani yang sempat ramai, kini sepi penonton. Algoritma tidak berpihak pada kegagalan, hanya pada kesuksesan.
Tagihan yang datang menjadi bukti nyata kekalahan mereka. Tagihan listrik melonjak hampir dua kali lipat karena kulkas kecil yang sekarang sering berisi setengah kosong harus tetap menyala, dan kompor yang menyala berjam-jam selama masa kejayaan.
Tagihan air juga ikut naik drastis karena banyaknya cucian panci dan peralatan masak. Amplop-amplop cokelat itu terasa lebih berat dari biasanya.
"Listrik 780 ribu, Man," desis Rani suatu malam, memelototi kertas tagihan di bawah lampu neon yang terasa terlalu terang. "Air 350. Belum cicilan rumah dan uang Aldi."
Arman hanya mengangguk, mulutnya terkatup. Ia sedang memeriksa persediaan di dapur. Sekarung beras tinggal seperempat.
Minyak goreng hampir habis. Bumbu-bumbu dasar seperti bawang dan cabai menipis. Dan di dompet mereka, uang tunai yang tersisa tidak cukup untuk restock semuanya sekaligus. Sisa laba dari pesanan-pesanan sebelumnya sudah tersedot untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Stres mulai merayap seperti kabut, masuk ke dalam setiap interaksi mereka.
"Lo kemarin beli cabainya kurang, Ran. Sekarang mau bikin sambal buat jualan di warung aja nggak cukup," gerutu Arman suatu pagi, saat menemukan wadah cabai merah kosong.
"Ya elah, siapa yang kemarin nagih-nagih mau cepat beresin pesanan sampai aku lupa ngecek stok? Lo juga kan yang pegang uang belanja terakhir, harusnya tau!" balas Rani, suaranya meninggi.
Pertengkaran kecil seperti ini menjadi rutinitas baru. Mereka saling menyalahkan untuk menutupi rasa takut yang sama: takut gagal, takut kembali ke titik nol.
Di tengah himpitan itu, bisik-bisik tetangga mulai terdengar. Ibu Sinta, tetangga sebelah yang sering iri dengan emas Rani, menjadi corong utama.
"Denger-denger, usaha kateringnya Rani mau bangkrut tuh. Emasnya aja katanya udah dijual satu buat modal. Ya namanya juga rezeki ojol, mau diapain lagi."
Rumor itu menyebar cepat di grup WhatsApp ibu-ibu kompleks. Efeknya langsung terasa. Ibu-ibu yang biasa pesan takjil atau nasi kotak untuk acara kecil, mulai ragu.
"Masakannya enak sih, tapi… kata orang lagi sepi orderan, jangan-jangan bahan yang dipake nggak fresh," bisik seorang ibu kepada yang lain. Kepercayaan, modal utama usaha rumahan, mulai retak.
Di puncak keputusasaan suatu sore, Arman yang merasa tak berdaya melihat Rani memaksakan diri membuat beberapa kotak nasi untuk dijual di warung, mencoba mengungkit ide lamanya.
"Ran… gimana kalau… gue cari kerjaan tetap yang jelas gajian per bulan aja? Jadi ada pemasukan pasti. Lo bisa tetap lanjutin usaha katering ini, pelan-pelan. Nggak harus terburu-buru."
Maksud Arman tulus. Ia ingin ada pilar keuangan yang stabil. Ia berpikir tentang lowongan sopir di perusahaan lain, atau mungkin kerja di gudang. Bukan dengan Budi. Tapi trauma dan ketidakpercayaan Rani sudah demikian dalam.
Wajah Rani yang lelah itu langsung berubah merah. "Kerjaan tetap?" sambutnya, nadanya seperti silet. "Lagi-lagi mau kerja tetap? Mau banget jadi sopir si Budi ya? Sekarang pake alibi 'biar aku bisa lanjutin usaha'? Pintar banget lo, Arman!"
"Bukan! Bukan Budi! Maksud gue kerjaan lain! Di mana aja!" protes Arman, frustrasi karena lagi-lagi disalahpahami.
"Ah, elah! Udah janji mau bantuin usaha gue, sekarang di awal-awal susah langsung mau cabut! Mau cari yang aman! Klasik banget!" teriak Rani, air mata kemarahan dan kekecewaan meluap.
"Lo dari dulu emang nggak pernah betul-betul percaya sama gue! Cuma cari-cari alasan buat lari dari tanggung jawab, atau malah…" ia menatap Arman dengan mata penuh curiga, "nyari celah buat nambah istri!"
Kalimat itu, yang dilontarkan di tengah kepanikan dan luka lama, adalah pukulan telak. Arman merasa semua usahanya selama sebulan terakhir—membantu di dapur, menghapus chat Budi, mencatat pembukuan—dilempar begitu saja ke wajahnya. Api kemarahan yang selama ini ia tekan akhirnya meledak.
"YAUDAH!" teriak Arman, suaranya menggelegar di ruang tamu kecil mereka.
"Kalo lo selalu nuduh gue kayak gitu, gue ngapain di sini? Gue mau bantu, lo anggap gue punya niat jahat! Gue mikirin masa depan, lo bilang gue mau selingkuh! Gue ojol lagi aja sekalian! Biar lo sendiri aja yang hebat urus semuanya!"
Dengan langkah berat dan hati panas, Arman menyambar jaket ojol hijau yang sudah ia simpan di balik lemari. Ia menentang helm, dan tanpa menengok ke belakang, ia menghidupkan motornya dan menerobos keluar. Ia perlu udara. Ia perlu keluar dari ruang penjara saling tuduh ini.
Tempat nongkrong lama di bawah jembatan layang Palmerah terasa seperti pelukan lama. Para driver yang lain menyambutnya dengan guyonan.
"Wah, bos katering datang nih! Liburan dari dapur?" goda Juki.
"Udah bosen masak, balik lagi ke aspal panas," jawab Arman pahit, mengambil tempat duduk di atas kardus bekas.
Ia bercerita. Tentang usaha katering yang sepi, tagihan yang menumpuk, dan tentang kecurigaan Rani yang tiada henti. Ia tidak menyebut soal poligami atau Budi, tapi semua temannya yang sudah menikah paham betul betapa racunnya ketidakpercayaan dalam rumah tangga.
"Wanita itu, Man, kalo udah nggak percaya, susah," ujar Bayu, mengunyah kacang. "Kaya sensor aplikasi kita yang lagi error. Sekali nggak nyambung, mau dipencet berkali-kali juga error terus."
"Tapi lo juga jangan naik pitam gitu," timpal Dimas. "Istrinya lagi stres, lo nambahin stres. Mending lo diem aja, terus tetep bantuin pelan-pelan."
Tapi nasihat itu datang terlambat. Arman sudah terlanjur pergi. Dan di rumah, Rani memutuskan satu hal: ia akan terus berjalan sendiri.
Dengan sisa-sisa harga diri dan tekad yang
menyala-nyala, Rani membereskan dapur. Ia tidak punya uang untuk bahan katering besar. Tapi ia punya tepung, sedikit gula, dan telur.
Esok paginya, dengan wajah yang telah dicuci oleh air mata dan keteguhan baru, ia mulai membuat kue-kue sederhana: pisang goreng tepung, risoles ragout sisa sayuran, dan onde-onde kecil. Ia tidak membuat konten. Ini murni untuk bertahan hidup.
Ia menatanya rapi di etalase warungnya, di samping rokok dan mie instan. "Risol Isi Sayur - Rp 2.000/pcs. Pisang Goreng - Rp 5.000." Ia juga memasang tulisan tangan:
"Menerima Pesanan Kue untuk Acara."
Pelanggan warung yang biasa, melihat ketekunannya, ada yang membeli. Uang receh kembali mengalir, sedikit demi sedikit.
Ketika ada seorang tetangga yang hendak mengadakan syukuran kecil memesan 50 risoles, Rani tahu ia tidak bisa sendirian. Ia meminta bantuan Ibu Tuti, janda tua di ujung gang yang dikenal jago membuat risoles dan membutuhkan tambahan penghasilan.
Mereka bekerja di dapur Rani, dengan
perhitungan bagi hasil yang jelas. Sebuah kemitraan kecil yang lahir dari keterpaksaan, tapi terasa lebih tulus daripada kerja sama penuh curiga dengan suaminya sendiri.
Sementara itu, Arman kembali menjadi "prajurit aspal" sepenuhnya. Rasanya aneh. Setelah merasakan kepuasan membangun sesuatu, mengejar setoran terasa hampa dan tanpa tujuan. Setiap ia pulang larut, ia melihat warung Rani sudah tutup rapi. Lampu dapur kadang masih menyala, dan ia bisa melihat bayangan Rani dan Ibu Tuti sibuk di dalam.
Hatinya perih. Ia ingin masuk, meminta maaf, membantunya mengaduk adonan. Tapi gengsi dan rasa terluka masih terlalu besar.
Hari-hari berlalu dalam keasingan yang menyakitkan. Mereka seperti dua penghuni kos di rumah yang sama. Berbicara seperlunya, tentang Aldi dan tagihan.
Usaha "Katering Ranni" secara resmi vakum. Yang tersisa adalah "Warung Rani" dengan tambahan kue-kue homemade.
Suatu malam, setelah seharian narik yang melelahkan dengan hasil pas-pasan, Arman duduk sendiri di teras. Rani di dalam sedang menghitung uang receh hasil jualan kuenya. Ponsel Arman yang biasanya hanya berdering untuk orderan ojol, tiba-tiba mengeluarkan notifikasi khusus. Sebuah pesan masuk di WhatsApp pribadinya.
Bukan dari Budi (nomornya sudah diblokir).
Bukan dari teman nongkrong.
Itu dari sebuah nomor tak dikenal.
Dengan perasaan campur aduk, Arman membukanya.
[Nomor Tak Dikenal] : Assalamualaikum. Permisi, ini nomor Mas Arman, suami dari pemilik Katering Ranni?
[Nomor Tak Dikenal] : Saya mengadakan acara santunan di Yayasan Yatim Ash-Shiddiq di daerah Tambun. Ingin memesan snack/kue untuk acara santunan anak yatim sebanyak 150 bungkus. Budget Rp 3.000/bungkus. Bisa dibuatkan? Kami butuh untuk lusa. Ada rekomendasi menu?
Pesan itu tertahan di layar. 150 bungkus. Rp 450.000. Untuk yayasan. Bukan pesanan dari konglomerat atau dari lingkaran Budi. Tapi dari sebuah yayasan yatim, yang mungkin juga pas-pasan, yang memesan dari mereka yang juga sedang pas-pasan.
Arman menatap pesan itu lama. Lalu, dengan hati berdebar-debar yang berbeda—bukan debar godaan atau ketakutan, tapi debar sebuah kemungkinan baru yang bersahaja—ia berbalik, dan mengetuk kaca pintu yang memisahkannya dari Rani.
"Ran," panggilnya, suaranya serak. "Ada… ada pesanan. Untuk yayasan yatim."
Rani mengangkat wajahnya, matanya masih lelah, masih ada sisa kekerasan hati. Tapi di dalamnya, juga ada keinginan untuk bertahan. Ia memandangi Arman, lalu pada ponsel yang disodorkan.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.