"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Amelie berlari menyusuri lorong mansion Lambert dengan jantung yang seolah ingin meledak. Kata-kata Alex, yang begitu vulgar, begitu penuh tuntutan, terus terngiang di telinganya. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik sosok Alex yang protektif, tersimpan kegelapan yang sebegitu besarnya.
Ia keluar ke halaman belakang, menghirup udara malam yang dingin untuk mendinginkan wajahnya yang terasa terbakar. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat sosok wanita berdiri tenang di dekat air mancur, sedang memotong bunga mawar dengan gunting perak.
Pricillia.
Pricillia tidak menoleh, namun suaranya terdengar sangat jernih di keheningan malam. "Dia sudah mulai meledak, bukan?"
Amelie terpaku. "Tante... Alex... dia..."
Pricillia berbalik, menatap Amelie dengan tatapan yang sangat tenang, tatapan yang sama yang dulu ia gunakan untuk menjinakkan Danesha. Ia mendekati Amelie, lalu mengusap pipi gadis itu yang masih memerah.
"Darah Lambert tidak pernah bisa tenang, Amelie. Ayahnya dulu juga begitu. Mereka tidak tahu cara mencintai dengan lembut. Bagi mereka, memiliki adalah menguasai sepenuhnya," ujar Pricillia dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
"Tapi Tante, dia... dia bicara hal-hal yang tidak pantas," bisik Amelie dengan suara bergetar.
"Itu karena dia sudah di titik frustasi, Sayang. Dia tidak bisa lagi membedakan antara rasa sayang sahabat dan gairah laki-laki," Pricillia memberikan sekuntum mawar putih tanpa duri ke tangan Amelie.
"Kamu punya dua pilihan sekarang. Melari dan membiarkan dia hancur bersama gairahnya sendiri, atau kembali ke sana dan tunjukkan siapa pemegang kendali yang sebenarnya."
Amelie terdiam. Kata-kata Pricillia seolah memberikan kekuatan baru. Ia sadar, melarikan diri hanya akan membuat Alex semakin gila. Dengan napas yang mulai teratur, Amelie kembali masuk ke dalam mansion, menaiki tangga, dan berdiri di depan pintu kamar Alex yang masih terbuka sedikit.
Di dalam, Alex sedang duduk di tepi ranjang, menyembunyikan wajahnya di telapak tangan. Bahunya naik turun, mencoba meredam gejolak yang menyiksa tubuhnya.
"Gue nggak butuh permintaan maaf, Alex," suara Amelie terdengar di ambang pintu, kali ini lebih stabil.
Alex mendongak. Matanya memerah, tampak kacau. "Lalu buat apa lo balik lagi? Mau liat seberapa menyedihkannya gue karena obsesi ini?"
Amelie melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tegas. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di antara kedua kaki Alex yang terbuka. Ia meraih tangan Alex, tangan yang tadi ia lihat ... dan meletakkannya kembali di pinggangnya.
"Gue balik karena gue tahu, kalau gue tinggalin, lo nggak bakal pernah belajar cara menghargai gue," bisik Amelie. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Alex.
"Lo mau gue bantu Biar nggak ngerasa sakit? Oke. Tapi lo harus janji satu hal..."
Alex menatap bibir Amelie dengan haus. "Apa?"
"Jangan pernah bayangin gue saat lo pake alat itu lagi," Amelie mengusap rahang tegas Alex. "Mulai sekarang, kalau lo ngerasa sakit... dateng ke gue. Tapi jangan pernah berani lo sentuh gue tanpa seizin gue. Lo denger, Alexander Lambert?"
Alex tertegun.
Untuk pertama kalinya, ia merasa didominasi. Dan anehnya, perasaan itu justru membuat gairahnya semakin meluap, namun kali ini bercampur dengan rasa hormat yang mendalam. Ia menarik pinggang Amelie, membenamkan wajahnya di perut gadis itu, menghirup aroma mawar yang sama dengan yang diberikan ibunya tadi.
"Iya... gue denger, Amelie," gumam Alex patuh.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
masih nyimak 🤣