NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dosa yang Saling Bersimpangan

Seminggu setelah kejadian di Balikpapan, Rizky hidup dalam neraka yang ia ciptakan sendiri.

Setiap pagi ia bangun di samping Sasha, memandangi wajah istrinya yang tidur dengan tenang, dan merasakan tusukan bersalah di dadanya. Setiap malam ia memeluk Sasha, membalas ciumannya, tersenyum padanya, padahal pikirannya penuh dengan rahasia kotor.

Sasha tak tahu apa-apa. Ia sibuk mempersiapkan kelahiran bayi mereka, sibuk memilih nama, sibuk mengatur kamar anak. Kebahagiaannya polos dan tulus, dan itu yang paling menyakitkan bagi Rizky.

"Sayang, gimana kalau kita namain anak kita Kirana kalau perempuan?" Sasha bertanya suatu malam, berbaring di sofa dengan kepala di pangkuan Rizky. "Artinya cahaya. Karena dia bakal jadi cahaya dalam hidup kita."

Rizky mengusap rambutnya. "Bagus. Tapi jangan buru-buru, masih lama."

"Bukan buru-buru, cita-cita." Sasha tersenyum. "Kamu kenapa akhir-akhir ini sering melamun?"

Rizky tersentak. "Nggak. Capek aja kerja."

"Kamu yakin?"

Rizky mengecup keningnya. "Yakin. Istirahat, gih. Udah malem."

Sasha mengangguk manja. "Temani aku tidur."

Mereka masuk kamar. Rizky memeluk istrinya erat, tapi matanya terbuka lebar di kegelapan.

---

Di Kalimantan, Ima juga tak bisa tenang.

Kehamilannya memasuki bulan kedelapan. Perutnya besar, gerakannya terbatas. Tapi pikirannya justru paling aktif—aktif memikirkan Rizky.

Duduk di teras rumah, memandangi hamparan kebun sawit di kejauhan, Ima merenung. Apa yang telah ia lakukan? Ia istri Wira, istri sahabat Rizky sendiri. Dan ia telah berselingkuh.

Tapi di sisi lain, ada getar yang tak bisa ia pungkiri. Getar yang hanya muncul saat bersama Rizky. Getar yang tak pernah ia rasakan bersama Wira.

Wira, suaminya, baik. Sangat baik. Ia pekerja keras, penyayang, dan selalu berusaha membahagiakan Ima. Tapi ada jarak di antara mereka. Jarak yang tak bisa Ima jelaskan. Mungkin karena usia, mungkin karena mereka menikah bukan karena cinta membara, tapi karena kenyamanan dan kebutuhan.

Sementara Rizky... ah, Rizky. Cinta pertama yang tak pernah benar-benar mati.

Ponselnya bergetar. Rizky.

"Gimana kabar?"

Pesan singkat. Tapi cukup membuat jantung Ima berdebar.

Ia membalas: "Baik. Kamu?"

"Baik juga. Lagi apa?"

"Duduk di teras. Sendiri."

"Wira mana?"

Ima menghela napas. "Dinas ke Banjarmasin. Pulang besok."

Percakapan berlanjut. Lama. Lebih lama dari yang seharusnya. Mereka mengirim pesan sampai larut malam, nostalgia, bercanda, bahkan mengirim foto-foto lama. Ima tahu ini salah. Tapi ia tak bisa berhenti.

Saat akhirnya mereka pamit tidur, Ima menggenggam ponselnya erat. Ada rasa hangat di dada dan juga rasa bersalah yang mencekik.

---

Tiga hari kemudian, Rizky mendapat tugas lagi ke luar kota. Kali ini ke Surabaya. Kebetulan atau tidak, Ima juga punya acara keluarga di kota yang sama. Kebetulan sekali.

Mereka bertemu di sebuah hotel berbintang di pusat kota. Ima datang dengan alasan mengunjungi sepupu yang sakit, Wira percaya saja. Rizky dengan alasan pekerjaan, Sasha juga percaya.

Di dalam kamar hotel, mereka berpelukan lama. Seperti dua insan yang kehilangan arah, mencari pegangan dalam dosa yang sama.

"Aku kangen kamu," bisik Ima.

Rizky tak menjawab. Ia hanya mencium Ima, lebih dalam dari sebelumnya.

Malam itu, mereka bercinta dengan liar. Seperti ingin menebus waktu yang hilang. Seperti tak ada masa depan yang menanti.

---

Pagi harinya, saat Ima masih tertidur, Rizky duduk di balkon hotel. Rokok di tangannya—kebiasaan baru yang mulai ia pelihara. Asap mengepul, hilang ditiup angin pagi.

Pikirannya melayang ke Jakarta. Ke Sasha. Ke perut besar istrinya yang mengandung anaknya. Ke senyum polos yang selalu ia sambut setiap pulang.

Apa yang ia lakukan?

Ponselnya bergetar. Sasha.

"Pagi, Sayang. Udah sarapan? Jangan lupa makan ya. Aku sama dedek kangen."

Rizky membaca pesan itu berulang kali. Air mata menggenang di matanya.

Ia membalas: "Iya, Sayang. Nanti aku sarapan. Jaga diri ya."

Lalu ia mematikan ponsel, tak sanggup melihat pesan-pesan manis yang seharusnya ia balas dengan kesetiaan.

Di belakangnya, Ima terbangun. Ia keluar ke balkon, membungkus tubuhnya dengan kaus Rizky.

"Kamu nangis?" tanya Ima melihat wajah Rizky.

Rizky mengusap matanya cepat. "Nggak. Asap."

Ima tahu itu bohong. Ia duduk di samping Rizky, merebut rokok dari tangannya, lalu mematukannya di asbak.

"Rizky, kita harus ngomong."

Rizky menatapnya.

"Ima nggak tahu ini bakal sejauh ini. Ima nggak nyangka. Tapi sekarang Ima bingung." Ima menunduk. "Ima sayang kamu. Tapi Ima juga istri Wira."

"Aku juga bingung, Ima. Sasha lagi hamil anak aku. Dan aku di sini, selingkuh sama kamu."

Hening. Angin pagi berhembus, terasa dingin di kulit mereka.

"Kita harus berhenti," kata Ima akhirnya. "Sebelum tambah dalam."

Rizky mengangguk pelan. "Iya. Harus."

Tapi mereka berdua tahu—ucapan "harus" tak selalu sejalan dengan kenyataan.

---

Kembali ke Jakarta, Rizky bertekad untuk berubah. Ia hapus semua chat dengan Ima. Ia blokir sementara nomornya. Ia fokus pada Sasha dan pekerjaan.

Seminggu berlalu. Rizky merasa lebih baik. Ima tak menghubungi lagi. Mungkin ia juga berusaha.

Tapi suatu malam, saat Sasha sudah tidur, ponsel Rizky berdering. Nomor asing. Ia angkat.

"Halo?"

"Rizky..." suara Ima di ujung sana, bergetar. "Ima... Ima kecelakaan."

Rizky terkesiap. "Apa?! Lo di mana? Gak apa-apa? Wira mana?"

"Aku di rumah sakit Balikpapan. Wira... dia nggak tahu aku telepon kamu. Tapi aku takut, Rizky. Aku takut."

Rizky menggenggam ponsel erat. "Kamu kenapa?"

"Aku jatuh di kamar mandi. Kontraksi. Dokter bilang bayinya harus segera keluar. Operasi." Suara Ima terisak. "Aku takut mati, Rizky. Aku takut nggak lihat kamu lagi."

Rizky merasakan dadanya sesak. "Kamu nggak akan mati, Ima. Aku percaya. Kamu kuat."

"Rizky... kalau aku mati, tolong jaga Wira. Dia baik. Dia nggak tahu apa-apa. Dan jaga rahasia kita."

"Kamu nggak akan mati, Ima. Berhenti mikir gitu."

"I love you, Rizky. Sampai kapan pun."

Telepon terputus. Rizky menatap layar ponsel dengan jantung berdebar.

---

Sepanjang malam itu, Rizky tak bisa tidur. Ia berdoa, sesuatu yang jarang ia lakukan belakangan ini. Berdoa untuk Ima, untuk bayinya, untuk Wira.

Pagi harinya, ia dapat kabar dari Wira lewat grup.

"Alhamdulillah, Ima dan bayi selamat. Operasi lancar. Bayi laki-laki, berat 3,2 kg. Doain ya, teman-teman."

Foto Ima terbaring di ranjang rumah sakit dengan bayi mungil di dadanya menyertai pesan itu. Ima tersenyum lemah, tapi matanya—matanya seperti menatap Rizky meskipun hanya lewat foto.

Rizky menghela napas lega. Syukur tak terhingga.

Tapi di saat yang sama, ia sadar—perasaannya pada Ima tak akan pernah benar-benar mati. Dan itu adalah masalah terbesarnya.

---

Sasha yang melihat Rizky menatap ponsel lama bertanya, "Ada kabar baik?"

Rizky mengangguk, menyodorkan ponsel. "Ima melahirkan. Selamat."

Sasha membaca pesan itu, lalu tersenyum. "Ya ampun, bayinya lucu banget. Mirip siapa, ya?" Ia menatap Rizky. "Kita harus segera ke sana. Besuk Ima."

Rizky tersentak. "Apa?"

"Iya, kita harus ke Balikpapan. Kasih ucapan langsung. Lagian aku juga udah kangen sama Ima." Sasha tersenyum polos. "Sekalian kita liburan kecil sebelum aku melahirkan."

Rizky bingung harus menjawab apa.

---

Di Balikpapan, Wira duduk di samping ranjang Ima yang tertidur. Bayi mereka, yang mereka beri nama Rakha, tidur nyenyak di inkubator kecil.

Wira memandangi Ima. Istrinya. Perempuan yang dinikahinya dua tahun lalu. Perempuan yang ia cintai dengan segenap hati.

Tapi belakangan, ada yang aneh. Ima sering melamun. Sering memegang ponsel dengan ekspresi rumit. Sering menjauh saat Wira ingin dekat.

Wira tak mau curiga. Ia coba mengerti, mungkin karena hormonal, mungkin karena capek hamil.

Tapi malam itu, saat Ima tidur, ponselnya bergetar. Sekilas, Wira melihat nama di layar: Rizky.

Ia tak membukanya. Itu privasi Ima. Tapi ada ganjalan di hatinya.

Saat Ima ke kamar mandi, Wira duduk di ruang tamu. Pandangannya kosong. Lalu pikirannya melayang ke Sasha—istri Rizky. Cantik, baik, dan sedang hamil anak pertama mereka.

Tanpa sadar, Wira mengambil ponselnya. Membuka kontak Sasha. Menatapnya lama.

Lalu ia mengetik pesan.

"Sasha, gimana kabar? Lama nggak ngobrol. Semoga kamu dan dedek sehat selalu."

Ia kirim.

Tak lama, balasan masuk. "Wah, Wira! Gue baik. Lo gimana? Selamat ya, udah jadi ayah. Ima dan bayinya sehat?"

Mereka mulai mengobrol. Obrolan ringan. Tapi ada kehangatan yang tak bisa dipungkiri.

Wira tersenyum membaca pesan-pesan Sasha. Sasha yang ceria. Sasha yang hangat. Sasha yang selalu membuatnya nyaman sejak dulu—sejak masa SMA, saat ia diam-diam menyimpan rasa padanya sebelum akhirnya menikahi Ima.

Malam itu, percakapan mereka berlangsung lama. Tentang kehidupan, tentang pernikahan, tentang anak.

Dan di balik layar, masing-masing menyembunyikan rahasia.

Wira tak tahu bahwa istrinya selingkuh dengan sahabatnya.

Sasha tak tahu bahwa suaminya selingkuh dengan istri sahabatnya.

Rizky tak tahu bahwa sahabatnya mulai mendekati istrinya.

Ima tak tahu bahwa suaminya mulai dekat dengan istri mantan kekasihnya.

Empat insan. Empat rahasia. Satu lingkaran dosa yang semakin mengikat mereka dalam pusaran kehancuran yang tak terhindarkan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!