Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CABANG KEBAHAGIAAN
Dunia digital memang ajaib sekali cara kerjanya. Berawal dari unggahan seorang pelanggan yang diam-diam memotret Rangga saat sedang menggendong Rinjani sambil membakar sate, kisah "Ayah Tunggal Penjual Angkringan" itu meledak di media sosial. Orang-orang bukan cuma tertarik sama rasa sambal goangnya yang mantap, tapi mereka terharu menatap perjuangan seorang pria yang tidak menyerah meski hidupnya sempat dihantam badai. Kini, Angkringan Berkah bukan lagi sekadar gerobak kayu di teras ruko, tapi sudah jadi destinasi kuliner yang antreannya mengular sampai ke pinggir jalan raya.
Pagi itu, Pak Haji Mansyur datang membawa kabar yang bikin jantung Rangga berdegup kencang. Beliau duduk di kursi kayu favoritnya sambil menyesap kopi hitam buatan Rangga. "Rangga, Bapak menatap potensi yang besar sekali di kamu. Kamu jujur, telaten, dan punya sentuhan tangan yang pas. Bapak punya satu bangunan lagi di daerah pusat kota, dekat Braga. Gimana kalau kita buka cabang kedua di sana? Kita buat konsepnya lebih modern, ada meja-meja estetik buat anak muda, tapi harganya tetap merakyat seperti di sini," tawar Pak Haji dengan nada kebapakan yang tulus.
Rangga tertegun sebentar. Dia menyeka tangannya yang sedikit basah ke kain lap. "Aduh, Pak Haji... apa saya sanggup ya? Saya takut nanti nggak bisa bagi waktunya, apalagi Rinjani baru mulai sekolah," jawabnya rendah hati.
"Ah, kamu jangan minder terus dong! Kan ada Galih yang bisa kamu percaya buat jaga di sini. Kamu tinggal kontrol saja. Masalah modal, Bapak yang tanggung dulu, nanti kita bagi hasil secara adil. Bapak cuma ingin lihat kamu makin sukses, supaya Rinjani punya masa depan yang makin cerah," sahut Pak Haji sambil menepuk pundak Rangga.
Mendengar nama Rinjani disebut, seketika keraguan di hati Rangga menguap. Benar juga sih, dia tidak boleh terus-terusan berada di zona nyaman kalau ingin memberikan yang terbaik buat putrinya. Akhirnya, dengan bismillah, Rangga menerima tawaran itu. Kerja kerasnya selama berbulan-bulan ini mulai menunjukkan hasil yang nyata.
Keberhasilan itu juga bikin Rangga berani mengambil keputusan besar lainnya. Dia membeli sebuah mobil bekas keluaran tahun lama yang kondisinya masih sangat terawat. Mobil itu dia beli tunai dari hasil tabungannya yang dikelola oleh Syakira. Bukan buat pamer atau gaya-gayaan, tapi Rangga ingin Rinjani tidak lagi kedinginan atau kehujanan saat pulang sekolah. Dia masih teringat jelas wajah pucat Rinjani saat dulu mereka harus menembus hujan badai cuma pakai motor ojek sewaan di Jakarta.
"Ayah, ini mobil kita beneran ya? Wah, ada AC-nya! Dingin sekali kok kayak di mall!" seru Rinjani girang saat pertama kali menjemputnya di sekolah. Bocah itu melompat-lompat di jok belakang dengan wajah yang sangat bahagia.
Rangga tersenyum lebar menatap spion tengah. "Iya sayang, sekarang Rinjani nggak bakal kehujanan lagi kalau pulang sekolah. Rinjani senang nggak?"
"Senang sekali, Ayah! Nanti ajak Kakak Cantik jalan-jalan pakai mobil ini juga ya? Pasti asyik deh!"
Rangga cuma mengangguk sambil mengelus dadanya yang terasa penuh oleh rasa syukur. Dia merasa hidupnya sudah berada di puncak kebahagiaan yang selama ini cuma jadi mimpi di siang bolong. Dia tidak pernah menyangka, laki-laki yang dulu diusir dengan koper pecah itu kini bisa punya usaha cabang dan mobil sendiri. Semua ini berkat kesabaran dan kemauannya untuk tetap berdiri meski kakinya sudah gemetar menahan luka.
Sangat kontras dengan keceriaan di Bandung, langit Jakarta sore itu tampak kelabu dan menyesakkan bagi Laras. Dia berdiri di sebuah bak cucian besar di belakang sebuah rumah kos-kosan murah. Tangannya yang dulu mulus dan selalu dipoles kuteks mahal, kini memerah, pecah-pecah, dan keriput karena terlalu lama terendam air sabun yang keras. Sejak namanya masuk daftar hitam di semua perusahaan kantoran gara-gara kasus Badru, Laras cuma bisa bekerja sebagai buruh cuci panggilan.
Laras menggosok jeans tebal dengan sikat kayu sampai tenaganya habis. Punggungnya terasa mau patah, tapi dia tidak berani berhenti. Kalau dia tidak menyelesaikan cucian ini, dia tidak akan bisa makan malam. Ego dan kesombongannya sudah terkubur dalam-dalam di bawah tumpukan baju kotor milik orang lain. Dia kini tinggal di sebuah kamar sewaan yang sempit sekali, yang sirkulasi udaranya buruk dan sering bocor kalau hujan deras turun.
Saat jam istirahat, Laras berjalan menuju warung makan Tegal di ujung gang untuk membeli nasi bungkus paling murah. Di sudut warung, ada sebuah televisi tua yang sedang menyiarkan berita inspiratif sore. Laras duduk di pojok, mencoba mengabaikan suara bising televisi itu, tapi seketika telinganya menangkap sebuah nama yang sangat akrab di hatinya.
"...Inilah Rangga, seorang ayah tunggal asal Bandung yang berhasil membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kini Angkringan Berkah miliknya telah resmi membuka cabang kedua di pusat kota..."
Laras terpaku. Sendok plastik di tangannya jatuh ke lantai. Dia menatap layar televisi tanpa berkedip. Di sana, dia menatap Rangga yang tampak sangat berwibawa memakai kemeja batik, sedang memotong pita peresmian cabang barunya. Di samping Rangga, ada Rinjani yang tampak cantik sekali memakai gaun kecil, dan ada seorang wanita berhijab yang menatap Rangga dengan pandangan penuh cinta yang sangat tulus.
Seketika, air mata Laras jatuh berderai-derai, membasahi nasi bungkusnya yang masih utuh. Dadanya terasa sesak sekali, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya sampai hancur. "Mas Rangga... itu beneran Mas Rangga..." isaknya tertahan, takut orang-orang di warung memperhatikannya.
Dia menatap bagaimana Rangga diwawancarai, bagaimana Rangga bicara dengan nada yang tenang dan rendah hati, sangat jauh dari sosok Rangga yang dulu dia maki-maki sebagai pria tidak berguna. Laras baru sadar sepenuhnya sekarang, bahwa pria yang dia anggap batu sandungan dulu sebenarnya adalah gunung yang kokoh. Dan dia, dengan segala kesombongannya, telah membuang gunung itu demi mengejar fatamorgana yang membawanya ke jurang kemiskinan ini.
"Kenapa aku bodoh sekali sih?" rintih Laras sambil menutup wajahnya dengan tangan yang berbau sabun cuci.
Dia teringat kata-kata Rangga di Bandung tempo hari. Cinta itu sudah kamu bunuh sendiri malam itu. Laras kini merasakan betapa tajamnya kalimat itu menusuk jiwanya. Menatap Rangga yang kini dihormati dan sukses, sementara dia cuma jadi buruh cuci yang namanya bahkan tidak diingat siapa pun, membuat Laras merasa hidupnya benar-benar sudah berakhir. Karma itu tidak datang dengan suara keras, tapi datang dengan kesunyian yang membunuh perlahan lewat penyesalan yang tidak akan pernah ada obatnya.
Laras bangkit dari duduknya, meninggalkan nasi bungkusnya yang belum sempat dimakan. Dia berjalan pulang dengan bahu yang lunglai, di bawah gerimis Jakarta yang mulai turun. Di kepalanya, cuma ada bayangan senyum Rangga dan Rinjani yang kini sudah bukan lagi miliknya. Dia cuma bisa menangis pilu, menyadari bahwa kebahagiaan yang dia saksikan di layar televisi itu adalah kebahagiaan yang dulu dia buang sendiri ke tempat sampah.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,