Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Sisa-Sisa Arang
Langkah kaki Fang Yuan menghantam tanah dengan ritme yang berat.
Napasnya tersengal, membawa uap panas yang keluar dari paru-parunya yang terasa terbakar.
Di belakangnya, Sekte Awan Mendung mungkin separuhnya sudah menjadi puing-puing, namun ia tidak menoleh.
Ia bukan seorang pengecut. Baginya, melarikan diri adalah keputusan kalkulatif.
Melawan Tetua Dong Fei dalam kondisi Dantian yang sedang bergejolak adalah tindakan bunuh diri, dan Fang Yuan terlalu mencintai tujuannya untuk mati semudah itu.
"Aku pasti akan kembali," desisnya melalui sela gigi yang berlumuran darah. "Dan saat itu tiba, tidak akan ada satu batu pun yang tersisa dari sekte kalian."
Saat ia mencapai dataran rendah, Fang Yuan melihat kerlap-kerlip lampu dari sebuah desa kecil yang terpencil. Namun, ia berhenti mendadak.
Ia mendongak ke atas; awan hitam pekat itu tidak tertinggal di sekte. Awan itu bergerak, berputar tepat di atas kepalanya seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.
"Bajingan ..." Fang Yuan menyadari realitas yang pahit. Tribulasi Langit ini terikat pada jiwanya, bukan lokasinya.
Jika ia masuk ke desa itu, seluruh warga yang tak bersalah akan hancur menjadi abu dalam hitungan detik.
Tanpa ragu, Fang Yuan mengubah arah larinya menuju padang tandus yang gersang dan tak berpenghuni.
Ia telah membunuh, ia telah menipu, namun ia tidak akan menghancurkan nyawa yang tidak ada hubungannya dengan jalannya—bukan karena empati, tapi karena ia menolak menjadi monster yang sama dengan mereka yang menghancurkan keluarganya.
Di tengah padang luas, badai itu meledak.
DUARR!
Petir pertama menghantam tanah tepat di samping kakinya, menciptakan kawah sedalam dua meter.
Fang Yuan berguling, mencoba menstabilkan posisinya. Namun, Langit tidak memberinya waktu untuk bernapas.
"Di mana sebenarnya bajingan itu?!" umpat Fang Yuan, teringat pada Bai Lie yang menghilang saat kericuhan terjadi.
Ia menyilangkan tangannya, mengerahkan sisa-sisa Qi untuk membentuk pelindung transparan.
BOOM!
Kilat ungu menghantam pelindungnya hingga hancur berkeping-keping.
Tubuh Fang Yuan terlempar puluhan meter, menghantam tanah dengan keras hingga tulang bahunya berderit patah.
Pandangannya mulai kabur; warna merah darah mulai menutupi penglihatannya.
Matahari perlahan terbit di ufuk timur, memberikan cahaya pada dunia, namun bagi Fang Yuan, hanya ada kegelapan guntur.
Sepanjang malam ia bertahan, menghindar, dan menangkis dengan sisa-sisa kewarasannya.
Saat kekuatannya benar-benar habis, Fang Yuan jatuh bertumpu pada satu lutut. Dadanya naik-turun dengan cepat.
Ia mendongak, menatap pusaran petir yang kini berkumpul menjadi satu titik raksasa—serangan pemungkas yang akan mengakhiri segalanya.
"A-apa ini akhir dari hidupku?" gumamnya lirih.
DUARRRR!
Petir raksasa itu melesat jatuh. Fang Yuan memejamkan mata, menunggu rasa sakit terakhir yang akan menghapus eksistensinya.
Namun, yang terdengar bukanlah suara kehancuran tubuhnya, melainkan suara teriakan manusia dan denting logam yang sangat keras.
Fang Yuan membuka mata. Di depannya berdiri seorang pria yang tubuhnya bergetar hebat, menahan kilat dengan pedang yang sudah mulai meleleh.
"Bai Lie ..." Fang Yuan tertegun.
"Aku ... aku tadi melarikan diri karena takut," Bai Lie berbicara dengan susah payah, darah mengalir dari hidung, telinga, dan matanya. "Tapi kontrak berdarah ini ... jika kau mati, aku juga akan hancur dalam kehinaan. Lebih baik aku mati mencoba melindungimu daripada mati sebagai anjing yang pengecut!"
Melihat Bai Lie yang hampir hancur, sebuah percikan emosi yang langka muncul di mata dingin Fang Yuan.
Ia memaksa dirinya berdiri. Dengan sisa tenaga, ia memanggil pusaran energi di kantong binatang buasnya.
"Chi Yan Zhu!"
Babi api raksasa itu muncul dengan raungan keras. Fang Yuan menjambak kerah baju Bai Lie yang terbakar dan melemparkannya ke atas punggung Chi Yan Zhu.
"Chi Yan Zhu, cepat pergi dari sini! Bawa dia sejauh mungkin!" teriak Fang Yuan.
"Tuan, bagaimana denganmu?!" teriak Bai Lie saat babi itu mulai berlari menjauh.
"Pikirkan saja dirimu! Aku akan menyusul ... atau mati dengan caraku sendiri!"
Fang Yuan berbalik kembali menghadapi langit. Ia menusukkan jari-jarinya ke beberapa titik akupuntur di leher dan dadanya—titik terlarang yang akan memaksa tubuhnya bekerja melampaui batas dengan bayaran umur panjang.
Rasa sakitnya meledak, namun ia kembali memiliki kekuatan untuk bergerak. Ia berlari, melompat, dan menari di antara kilatan petir yang tersisa.
Setiap kali kilat menyentuh kulitnya, ia membiarkan sebagian energinya meresap ke dalam tulang-tulangnya yang kini telah menyatu dengan sisa-sisa Mutiara Petir.
Berjam-jam kemudian, awan hitam mulai menipis.
Guntur yang tadinya memekakkan telinga berubah menjadi gemuruh kecil sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya. Langit kembali biru, seolah-olah pembantaian tadi hanyalah mimpi buruk.
"Berhasil ..."
Fang Yuan berdiri tegak selama beberapa detik, sosoknya terlihat seperti arang hitam di tengah padang luas.
Kemudian, lututnya lemas. Kesadarannya ditarik paksa ke dalam kegelapan.
Ia tumbang, jatuh ke tanah yang masih berasap, tidak sadarkan diri dalam kondisi yang sangat mengenaskan namun dengan sebuah rahasia besar:
Ia telah selamat dari apa yang seharusnya tidak mungkin ia lalui.
Fang Yuan kini terkapar di padang tandus, sementara Bai Lie dan Chi Yan Zhu entah berada di mana.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.