𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 - Tiga Jalan, Satu Rumah, dan Langkah yang Berpisah.
Kelulusan bukan hanya tentang toga dan ijazah. Ia adalah tentang keputusan—dan keberanian untuk melangkah ke arah yang berbeda, meski berasal dari rumah yang sama.
Pagi itu, Vhiena berdiri di halaman sekolah bersama Ayu dan Lala. Seragam putih abu-abu mereka kini terasa seperti kenangan yang akan segera ditanggalkan. “Aku masih nggak percaya kita sampai di titik ini,” ujar Lala pelan.
Ayu tersenyum tipis. “Kita bertahan lebih lama dari yang kita kira.”
Vhiena menatap mereka berdua. “Dan setelah hari ini… kita mulai hidup masing-masing.” Tidak ada yang menyangkalnya.
Upacara Kelulusan
Nama mereka dipanggil satu per satu. Tepuk tangan mengiringi setiap langkah ke atas panggung. Orang tua Vhiena berdiri di barisan depan. Ibunya menahan air mata, ayahnya berdiri tegak dengan sorot mata penuh kebanggaan. Saat Vhiena menerima map kelulusan, ia menarik napas panjang. "Selesai."
Kembali ke Rumah yang Sama.
Sore hari, mereka bertiga kembali ke rumah yang sama—rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung. Ruang tamu terasa sunyi meski ketiganya duduk berdekatan dan Ayu memecah keheningan. “Aku mau ngomong sesuatu.” Lala dan Vhiena menoleh bersamaan.
“Aku sudah resmi diterima kerja,” lanjut Ayu. “Di Ravelin.”
Vhiena mengangguk pelan. “Anak perusahaan Bluesky, kan?”
“Iya,” jawab Ayu. “di bidang Manufaktur tekstil, Aku akan berangkat lusa.”
Lala menunduk, jari-jarinya saling bertaut. “Berarti… aku bakal sendirian dulu.”
Vhiena menoleh ke Lala. “Kamu gimana, La?”
Lala menarik napas, lalu mengangkat wajahnya dengan mata berbinar—campuran gugup dan bahagia. “Aku diterima.”
“Di mana?” tanya Ayu cepat.
“Universitas Negeri Ardhana,” jawab Lala. “Di Kota Velmora.”
Vhiena tersenyum lebar dan langsung memeluknya. “Lala! Itu kampus bagus banget!”
Lala tertawa kecil. “Aku berangkat minggu depan… setelah Ayu.”
Urutannya kini jelas. Mereka saling menatap, menyadari bahwa waktu bersama benar-benar terbatas.
Percakapan dengan Orang Tua Vhiena
Malam itu, ketiganya duduk bersama orang tua Vhiena. Ibunda Vhiena menatap Ayu dan Lala bergantian. “Kalian sudah seperti anak kami sendiri.” Ayu menunduk hormat. “Terima kasih… kalau bukan karena Om dan Tante, kami tidak akan sampai di sini.” Ayah Vhiena menambahkan, “Ke mana pun kalian pergi, rumah ini tetap rumah kalian.”
Lala menahan air mata. “Kami tidak akan melupakan itu.”
Keberangkatan Ayu
Dua hari kemudian, pagi masih gelap saat Ayu menyeret kopernya ke ruang tamu. Vhiena membantu mengangkat tas,“Kamu siap?” Ayu mengangguk. “Takut, tapi siap.” Ibunda Vhiena memeluknya erat. “Jaga kesehatan.” Ayah Vhiena menepuk bahu Ayu. “Bekerja jujur. Itu saja.”
Ayu lalu memeluk Vhiena dan Lala bersamaan. “Kalian berdua… jangan berubah.” suasana haru menyelimuti mereka bertiga. Karena mulai saat itu mereka mencari jalan nya masing-masing.
Lalu tiba saat ayu berangkat, Saat pintu tertutup dan mobil membawa Ayu pergi, rumah terasa langsung lebih luas—dan lebih kosong.
Menjelang Keberangkatan Lala
Hari-hari berikutnya, hanya tersisa Vhiena dan Lala di rumah itu.
Mereka berbagi malam terakhir bersama—makan mi instan di dapur, tertawa kecil, lalu diam terlalu lama.
“Velmora itu kota besar,” kata Lala pelan. “Aku takut nggak bisa langsung menyesuaikan diri.”
Vhiena menggenggam tangannya. “Kamu selalu bisa pulang ke sini.”
Lala tersenyum. “Kamu juga. Ke mana pun kamu pergi.”
Persiapan Keberangkatan Vhiena
Malam sebelum Lala berangkat, Vhiena masuk ke kamarnya.
Ia berdiri di depan dinding yang selama ini penuh foto-foto dirinya bersama Rizuki. Satu per satu ia lepaskan. Foto Avermont, Foto formal gaun merah marun, Foto-foto kecil penuh senyum Semua ia masukkan ke dalam map, lalu ke koper. Namun satu foto kecil—yang sederhana—ia sisakan, Ia letakkan di meja belajar. “Ini cukup,” bisiknya.
Keberangkatan Lala
Pagi berikutnya, Lala berangkat menuju Kota Velmora. Ibunda Vhiena memeluknya lama. “Belajar yang baik.” Ayah Vhiena berkata pelan, “Jangan takut bermimpi.” Vhiena memeluk Lala terakhir. “Kita bakal sibuk… tapi jangan pernah jauh.” Lala tersenyum sambil menangis. “Kamu juga, calon mahasiswa kota besar.”
Giliran Vhiena
Beberapa hari setelah itu giliran Vhiena. Ia berdiri di depan rumah, koper di samping kakinya. Ibunya membenahi kerah bajunya. “Anak kami sudah dewasa.” Ayahnya menatap Vhiena lama. “Kejar mimpimu. Jangan ragu.” Vhiena memeluk mereka erat. Lalu mobil jemputan vhiena untuk ke terminal bus datang. Vhiena segera berangkat ke terminal. Sesampainya di terminal, vhiena langsung menaiki bus nya.
Saat bus bergerak, ia membuka ponsel.
Vhiena: Aku berangkat.
Beberapa menit tanpa jawaban, lalu ponsel nya bergetar.
Rizuki: Aku tahu, Jangan takut dengan langkahmu sendiri.
Vhiena menatap layar lama.
Kota Baru: Arvendale
Arvendale menyambutnya dengan gedung tinggi dan udara yang lebih dingin. Bluesky Future University berdiri megah. Vhiena berada di Apartemen rekomendasi kampus. tenang, modern, dekat dengan lingkungan akademik.
Vhiena masuk, menaruh koper, lalu duduk di ranjang. Ia membuka tas kecilnya. Foto kecil Rizuki masih ada di sana. Ia tersenyum.
Di Gedung Cakrawala, Keira menatap Rizuki dengan raut heran. “Semua sudah beres.” Mira menambahkan, “Beasiswa, apartemen, logistik.” Rizuki mengangguk. “Pastikan dia hanya fokus menjadi mahasiswa.” Keira menghela napas pelan. “Perhatianmu padanya… berbeda.”
Rizuki menatap kota dari lantai tinggi. “Karena masa depan tidak boleh ditentukan oleh latar belakang.”
Malam itu, di Arvendale, Vhiena mengirim pesan.
Vhiena: Aku sudah sampai.
Rizuki: Selamat datang di awal yang baru.
Vhiena memejamkan mata. Tiga sahabat, Tiga kota, Satu rumah yang akan selalu mereka ingat.
Petualangan baru vhiena di mulai
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/