Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30. masa lalu yang datang kembali
Pagi datang lebih cepat dari yang Nadira harapkan.
Sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar, membuatnya terbangun perlahan dari tidur yang sebenarnya tidak terlalu nyenyak. Semalaman pikirannya dipenuhi oleh percakapan di taman rumah keluarga Raka.
"Aku benar-benar berpikir kamu berbeda."
Kalimat itu masih terngiang jelas di telinganya.
Nadira duduk di tepi tempat tidur sambil menghela napas panjang. Ia menatap keluar jendela, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
"Aku tidak boleh memikirkan itu terlalu dalam," gumamnya.
Hubungan mereka hanyalah kontrak.
Ia tidak boleh lupa.
Namun semakin ia mengingatnya, semakin terasa sulit untuk benar-benar menjaga jarak.
Di ruang makan apartemen, Raka sudah duduk dengan laptop terbuka di depannya. Beberapa dokumen terlihat memenuhi layar.
Sejak pulang dari rumah keluarganya tadi malam, pria itu hampir tidak mengatakan banyak hal.
Ketika Nadira masuk ke ruang makan, Raka mengangkat kepalanya.
"Kamu sudah bangun."
Nadira mengangguk.
"Iya."
Ia duduk di kursi seberang Raka. Suasana terasa sedikit canggung, seolah mereka sama-sama mengingat percakapan semalam tapi tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Aku sudah menyiapkan sarapan," kata Raka akhirnya.
Nadira sedikit terkejut.
"Kamu?"
Raka mengangguk santai.
"Tidak terlalu sulit."
Nadira melihat meja makan.
Roti panggang, telur, dan secangkir kopi.
Sederhana.
Namun cukup membuat hatinya sedikit hangat.
"Terima kasih," katanya pelan.
Mereka makan dalam keheningan yang tidak terlalu nyaman, tapi juga tidak sepenuhnya buruk.
Sampai akhirnya ponsel Raka berdering.
Pria itu melihat layar ponselnya.
Ekspresinya langsung berubah sedikit tegang.
Nadira memperhatikannya.
"Ada apa?"
Raka berdiri.
"Aku harus ke kantor sekarang."
"Secepat itu?"
Raka mengangguk.
"Ada urusan penting."
Tanpa menjelaskan lebih jauh, ia mengambil jasnya dan berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
"Nadira."
"Iya?"
"Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku."
Nadira hanya mengangguk.
Pintu apartemen tertutup.
Dan Nadira kembali sendirian.
Di sisi lain kota, Raka memasuki gedung perusahaannya dengan langkah cepat.
Para karyawan yang berpapasan langsung memberi salam hormat.
"Selamat pagi, Pak Raka."
Namun Raka hampir tidak memperhatikan mereka.
Pikirannya sedang sibuk.
Ketika ia masuk ke ruang kerjanya, sekretarisnya langsung berdiri.
"Pak, ada seseorang yang menunggu Anda."
Raka melepas jasnya.
"Siapa?"
Sekretaris itu terlihat sedikit ragu.
"Dia tidak membuat janji… tapi dia bilang Anda pasti ingin bertemu dengannya."
Raka mengerutkan kening.
"Namanya?"
Sekretaris itu menelan ludah.
"Vanessa."
Nama itu membuat tubuh Raka membeku.
Beberapa detik ia tidak bergerak.
"Di mana dia sekarang?" tanyanya akhirnya.
"Di ruang tamu."
Raka menghela napas panjang sebelum berjalan ke sana.
Dan begitu pintu ruang tamu dibuka—
Seorang wanita berdiri dari sofa.
Wanita itu sangat cantik.
Rambut panjangnya terurai rapi, dan gaun merah yang ia kenakan membuatnya terlihat elegan.
Senyumnya perlahan muncul ketika melihat Raka.
"Halo, Raka."
Suara itu penuh keakraban.
Seolah mereka tidak pernah berpisah.
Raka menatapnya dengan wajah datar.
"Kenapa kamu kembali?"
Vanessa tertawa kecil "Itu cara yang dingin untuk menyambut seseorang yang pernah kamu cintai."
Raka tidak menjawab.
Ia hanya berdiri dengan tangan terlipat di dada.
"Apa yang kamu inginkan?"
Vanessa berjalan mendekat beberapa langkah.
"Aku hanya ingin bertemu."
"Setelah tiga tahun menghilang?"
Vanessa mengangkat bahu.
"Aku sibuk."
Jawaban itu membuat rahang Raka menegang.
"Kamu datang ke sini bukan hanya untuk mengatakan itu."
Vanessa tersenyum tipis.
"Benar."
Ia menatap langsung ke mata Raka.
"Aku mendengar kamu sudah menikah."
Raka tidak terkejut.
Berita tentang dirinya memang mudah menyebar.
"Ya."
Vanessa memiringkan kepalanya sedikit.
"Pernikahan yang sangat cepat."
Raka tidak menjawab.
Namun Vanessa melanjutkan dengan nada yang lebih tajam.
"Apakah kamu benar-benar mencintainya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Untuk beberapa detik, Raka tidak berkata apa-apa.
Dan Vanessa memperhatikan ekspresi kecil di wajahnya.
Itu sudah cukup.
"Aku tahu kamu, Raka," katanya pelan. "Kamu tidak pernah membuat keputusan seperti ini tanpa alasan."
Raka menghela napas.
"Apa sebenarnya tujuanmu datang?"
Vanessa tersenyum.
"Aku hanya ingin melihat apakah kamu benar-benar sudah melupakanku."
Sementara itu, di apartemen, Nadira sedang bersiap untuk pergi ke toko buku kecil tempat ia biasanya bekerja paruh waktu sebelum semua ini terjadi.
Meski sekarang ia tidak benar-benar perlu bekerja lagi, ia tetap ingin melakukan sesuatu agar pikirannya tidak terus memikirkan hal yang sama.
Namun ketika ia keluar dari apartemen—
Sebuah mobil berhenti di depan gedung.
Seorang wanita turun dari sana.
Wanita itu terlihat sangat elegan.
Tatapannya langsung tertuju pada Nadira.
"Kamu Nadira?"
Nadira sedikit terkejut.
"Iya."
Wanita itu tersenyum.
"Saya Vanessa."
Nama itu terasa asing bagi Nadira.
Namun ada sesuatu dalam cara wanita itu menyebutkan namanya yang membuat perasaan Nadira tiba-tiba tidak nyaman.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadira hati-hati.
Vanessa menatapnya beberapa detik.
Seolah sedang menilai sesuatu.
"Jadi… kamu wanita yang dinikahi Raka."
Nada suaranya tidak kasar.
Tapi juga tidak ramah.
Nadira tidak tahu harus menjawab apa.
Namun Vanessa melanjutkan dengan santai.
"Aku mantan kekasih Raka."
Kalimat itu membuat Nadira terdiam.
Senyum kecil muncul di wajah Vanessa.
"Aku pikir kamu perlu tahu."
Nadira berusaha tetap tenang.
"Oh."
Hanya itu yang bisa ia katakan.
Namun Vanessa tidak berhenti.
"Aku mengenal Raka jauh sebelum kamu."
Tatapan matanya tajam.
Dan aku tahu dia lebih baik dari siapa pun."
Nadira merasakan dadanya sedikit sesak.
Ia tidak tahu kenapa wanita ini datang padanya.
Namun satu hal mulai terasa jelas—
Kehadiran Vanessa bukanlah kebetulan.
Dan sesuatu mengatakan pada Nadira bahwa wanita ini akan membawa masalah besar dalam hidupnya.
Sebelum pergi, Vanessa mendekat sedikit dan berkata pelan,
"Kita akan sering bertemu mulai sekarang."
Lalu ia kembali ke mobilnya dan pergi.
Nadira masih berdiri di tempat yang sama.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Perasaan yang aneh muncul di dalam hatinya.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak itu dimulai—
Nadira merasa ada seseorang yang bisa merusak semuanya.
Dan orang itu…
Baru saja muncul kembali dalam hidup Raka.
Nadira masih berdiri di depan gedung apartemen beberapa saat setelah mobil Vanessa menghilang dari pandangan.
Angin pagi berhembus pelan, namun entah kenapa tubuhnya terasa dingin.
Ia tidak menyangka hari itu akan dimulai dengan pertemuan seperti itu.
"Aku mantan kekasih Raka."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Nadira menggenggam tali tasnya lebih erat.
Sebenarnya ia tidak punya hak untuk merasa terganggu. Hubungannya dengan Raka hanyalah sebuah pernikahan kontrak. Tidak ada perasaan yang seharusnya terlibat di dalamnya.
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Entah sejak kapan, setiap kali mendengar nama Raka disebut oleh wanita lain, hatinya terasa sedikit tidak nyaman.
Nadira menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Ini bukan urusanku," gumamnya pelan.
Ia mulai berjalan meninggalkan apartemen, berusaha mengalihkan pikirannya.
Namun jauh di dalam hatinya, ada satu pertanyaan yang terus muncul.
Jika Vanessa benar-benar orang yang pernah sangat berarti bagi Raka…
Lalu mengapa pria itu tidak pernah sekalipun menceritakannya?
Dan yang lebih mengganggu lagi—
Mengapa wanita itu tiba-tiba muncul kembali sekarang?
Tanpa Nadira sadari, langkahnya melambat.
Karena untuk pertama kalinya, ia mulai merasa bahwa pernikahan kontrak ini mungkin akan menjadi jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan.
Bersambung..