Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Cambuk Penebusan dan Ikatan Darah
Suasana pesta yang riuh di luar sana seketika senyap saat seorang pelayan pribadi mendekati Jerome. "Tuan Muda Jerome, Tuan Besar menunggu Anda dan Nona Valerie di ruang kerja sekarang."
Jerome mengangguk kaku, rahangnya mengeras. Ia menggenggam tangan Valerie erat-erat, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya. Mereka melangkah dengan kepala tegak, melewati tatapan sinis Aiden dan senyum penuh kemenangan Serena yang seolah sudah mencium aroma kehancuran Valerie.
Namun, Aiden tidak tinggal diam. Rasa penasaran dan amarah membuatnya diam-diam memisahkan diri dari kerumunan pesta. Ia membuntuti mereka dan berhenti tepat di depan pintu jati besar ruang kerja kakeknya yang sedikit tidak rapat. Dari celah sempit itu, Aiden mengintip dengan napas tertahan.
Di dalam ruang kerja yang pengap oleh aroma kayu tua dan cerutu, Kakek Renfred duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya yang keriput tampak sekeras batu karang. Di sampingnya, sebuah cambuk kulit hitam tergeletak di atas meja—simbol hukuman tradisi keluarga Renfred yang purba bagi anggota yang melanggar kode etik.
"Kau merebut tunangan keponakanmu sendiri, Jerome?" suara Kakek rendah namun menggetarkan ruangan. "Kau menghancurkan martabat Renfred di depan seluruh kolega demi wanita ini?"
Jerome berdiri tegak, tak gentar sedikit pun. "Dia bukan lagi tunangan Aiden sejak bajingan itu mengkhianatinya, Yah. Aku tidak merebutnya. Aku melindunginya."
"Lancang!" Kakek memukul meja dengan keras. "Batalkan pengumuman gila itu sekarang, atau kau tahu konsekuensinya!"
"Aku tidak akan membatalkannya," jawab Jerome tegas. "Valerie adalah calon istriku. Jika Ayah ingin menghukum seseorang, hukum aku. Tapi jangan pernah sentuh dia."
Kakek Renfred berdiri, matanya berkilat murka. Ia menyambar cambuk kulit itu. "Sepuluh cambukan untuk setiap tahun perbedaan usia kalian. Biar rasa sakit ini menyadarkanmu!"
Kakek Renfred melangkah mendekat, suara seretan cambuk di atas lantai marmer terdengar mengerikan. Jerome sudah bersiap; ia melepaskan kancing kemejanya dan memunggungi sang ayah dengan rahang mengeras.
"Berlutut, Jerome!" perintah Kakek.
Aiden menyeringai di balik pintu. Rasakan itu, Paman. Kau akan hancur malam ini, batinnya puas.
"Satu..." Kakek mengangkat cambuk itu tinggi-tinggi.
Angin berdesis tajam saat cambuk diayunkan. Jantung Valerie seolah berhenti berdetak. Ia tidak bisa membiarkan pria ini terluka lagi karena dirinya. Tepat saat cambuk itu meluncur turun menuju punggung Jerome—
"HENTIKAN!"
Valerie menerjang maju, memutar tubuh, dan memeluk punggung Jerome dengan erat, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup.
CETARRRR!
"AKHHHHH!"
Rasa pedih yang luar biasa menghantam bahu Valerie. Darah mulai merembes di gaunnya yang tipis. Namun, pemandangan berikutnya membuat mata Aiden membelalak hampir keluar dari kelopaknya.
"VALERIE!"
Jerome meraung, namun di detik yang sama, tubuhnya tersentak hebat seolah dialah yang baru saja dihantam cambuk. Aiden melihat dengan jelas bagaimana Jerome tersungkur, memegangi dadanya dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin yang mengucur deras. Punggung Jerome utuh, kemejanya tidak sobek, tapi ekspresinya menunjukkan penderitaan fisik yang luar biasa hebat—persis seperti rintihan Valerie.
Apa-apaan itu? Aiden membeku di balik pintu. Kakek memukul Valerie, tapi kenapa Paman Jerome yang sekarat?
Ia melihat kakeknya menjatuhkan cambuk dengan tangan gemetar. Ia mendengar Jerome berteriak dengan suara serak, "Jika Ayah membencinya, maka Ayah sedang membunuhku secara perlahan!"
Otak licik Aiden langsung berputar cepat. Sebuah senyum iblis perlahan terukir di wajahnya. Ia baru saja menemukan kelemahan terbesar seorang Jerome Renfred—pria yang selama ini dianggap tak terkalahkan.
Jadi begitu... Aiden membatin dengan kilat mata yang jahat. Paman sangat mencintainya sampai-sampai rasa sakit wanita itu berpindah padamu? Menarik. Sangat menarik.
Aiden segera bersembunyi di balik pilar besar saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia melihat Jerome keluar dengan menggendong Valerie yang pingsan. Wajah Jerome tampak hancur, namun sorot matanya penuh dendam.
Begitu Jerome menjauh, Aiden keluar dari persembunyiannya sambil merapikan jasnya. Ia menoleh ke arah Serena yang baru saja menghampirinya.
"Bagaimana? Apa Valerie diusir?" tanya Serena tidak sabar.
Aiden terkekeh gelap, sebuah tawa yang terdengar sangat menyeramkan. "Lebih dari itu, Serena. Aku baru saja menemukan cara untuk membuat Paman Jerome berlutut di bawah kakiku tanpa aku harus mengeluarkan satu tetes keringat pun."
Aiden menatap pintu kamar Jerome di lantai atas. "Jika aku ingin membunuh Jerome, aku tidak perlu menyerangnya. Aku hanya perlu memastikan Valerie menderita... dan Jerome akan mati dengan sendirinya."
...****************...