NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Laras Baja Dan Pilihan Sulit

Di kedalaman gua Pegunungan Kendeng, suara dentuman palu godam beradu dengan baja terdengar berirama. Jatmika berdiri di samping sebuah mesin bubut sederhana yang digerakkan oleh kincir air. Di sana, sebuah batang baja silinder sedang diputar, sementara mata bor yang telah diperkeras perlahan-lahan melubangi bagian tengahnya.

"Ini disebut Ulir (Rifling), Suro," Jatmika menjelaskan sambil menunjukkan alur spiral di dalam laras senapan yang baru jadi. "Alur ini akan membuat peluru berputar saat meluncur. Putaran itu akan menjaga stabilitas peluru di udara, membuatnya melesat lebih jauh dan jauh lebih akurat daripada senapan halus milik kompeni."

Suro mencoba membidik dengan laras kosong itu ke arah selembar papan kayu di ujung gua. "Jika ini berhasil, kita bisa menembak perwira Belanda sebelum mereka sempat melihat warna baju kita."

"Tepat," jawab Jatmika. "Tapi kita butuh peluru yang tepat. Bukan peluru bulat, tapi peluru berbentuk kerucut—Peluru Minié. Aku sudah menyiapkan cetakannya."

Namun, di tengah kemajuan teknologi itu, Yusuf datang dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa.

"Jatmika! Gudang garam kita di Pesantren Kaliwungu... Kolonel Thorne menemukannya!"

Jatmika meletakkan jangka sorongnya. "Bagaimana mungkin? Jalur itu sangat rahasia."

"Thorne tidak mencari jejak kaki, dia mencari jejak ekonomi," Yusuf menjelaskan dengan cepat. "Dia melacak aliran Kupon Bayangan di pasar-pasar. Dia menangkap para pedagang kecil dan memetakan dari mana asal garam murni itu. Sekarang, pasukan Marsose sedang mengepung pesantren. Mereka mengancam akan membakar seluruh kompleks jika garam itu tidak diserahkan dan para santri tidak memberitahu lokasi markas pusat kita."

Dilema besar menghantam Jatmika. Jika ia mengirim pasukan untuk menyelamatkan gudang garam, ia akan mengekspos kekuatan militernya yang baru dan mungkin memancing Thorne ke markas utama di pegunungan. Namun, jika ia membiarkan gudang itu jatuh, kepercayaan rakyat pada Kupon Bayangan akan runtuh, dan ekonomi revolusinya akan hancur sebelum berkembang.

"Berapa banyak pasukan yang dibawa Thorne?" tanya Jatmika.

"Hanya satu peleton kecil, tapi mereka membawa meriam lapangan," jawab Yusuf. "Thorne seolah-olah memancing kita untuk keluar."

Jatmika memandang laras senapan baja pertamanya yang baru saja selesai didinginkan dalam minyak. "Dia memang memancing kita. Thorne ingin melihat apa yang kita punya."

Jatmika mengambil senapan prototipe itu, memasang popor kayu jati yang kokoh, dan mengisi peluru Minié pertamanya. "Suro, ambil lima penembak terbaikmu. Kita tidak akan mengirim pasukan besar. Kita hanya akan mengirim Maut yang Tak Terlihat."

Sore itu di Kaliwungu, Kolonel Thorne berdiri dengan angkuh di depan gerbang pesantren. Di belakangnya, tumpukan karung garam murni hasil produksi Jatmika mulai disiram minyak tanah.

"Katakan pada pemimpinmu," teriak Thorne ke arah para santri yang berbaris di bawah todongan senapan. "Sains tidak bisa menyelamatkan kalian dari api."

Thorne mengangkat obor, siap menyulut tumpukan garam yang menjadi fondasi ekonomi rakyat itu. Namun, sebelum tangannya bergerak, sebuah suara whiztt tajam membelah udara.

TING!

Obor di tangan Thorne terpental, hancur berkeping-keping oleh hantaman logam. Detik berikutnya, sebuah lubang kecil muncul tepat di tengah lonceng perunggu pesantren yang berjarak sepuluh meter dari Thorne.

Thorne tertegun. Ia melihat ke arah perbukitan yang berjarak hampir 500 meter—jarak yang mustahil bagi senapan apa pun di masa itu.

"Penembak jitu!" teriak De Klerk panik. "Cari perlindungan!"

Dorr!

Satu peluru lagi melesat. Kali ini menghantam roda meriam lapangan Belanda, membuatnya miring dan tak bisa ditembakkan. Pasukan Marsose menembak membabi buta ke arah bukit, tapi peluru mereka jatuh jauh sebelum mencapai target.

Dari balik semak di puncak bukit, Jatmika menurunkan senapannya. Ia tidak membidik kepala Thorne—bukan karena ia tidak bisa, tapi karena ia ingin mengirim pesan.

"Thorne!" suara Jatmika menggema melalui sebuah corong suara kuningan besar yang ia rancang. "Garam itu milik rakyat. Jika kamu membakarnya, aku akan menghancurkan setiap gudang logistikmu di sepanjang pantai utara dengan cara yang sama. Mundurlah, atau senapan ini akan mencari jantungmu di peluru ketiga."

Thorne menatap ke arah bukit dengan senyum dingin yang aneh. Ia tidak takut; ia justru merasa kagum. "Laras beralur... akurasi 500 yard... luar biasa," gumamnya. "Dia benar-benar membawa masa depan ke tempat kumuh ini."

Thorne memberi isyarat kepada pasukannya untuk mundur. Ia mendapatkan apa yang ia cari: bukti bahwa Jatmika telah berhasil melakukan standarisasi industri senjata.

Gudang garam terselamatkan, tapi Jatmika tahu bahwa Thorne sekarang sudah tahu tingkat teknologi yang mereka miliki. Perlombaan bukan lagi soal sembunyi-sembunyi, melainkan soal siapa yang lebih cepat memproduksi massa senjata masa depan.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!