Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
membangkang
Pagi hari nya setelah sahur memang Lesi sengaja tidak kembali tidur, Lesi langsung beberes seluruh rumah sampai kinclong. saat semua nya pada tidur kembali setelah subuh, Lesi malah bersih bersih halaman rumah nya.
halaman yang penuh dengan bunga bunga yang di tanam oleh bu Arumi , bunga berwarna warni yang begitu cantik jika di lihat dari kejauhan, Lesi menyirami bunga bunga nya dan merapihkan pot yang pecah ulah Devon.
Andri yang mau berangkat kerja tidak sengaja melihat tetangga samping rumahnya , lalu ia menghampirinya seraya membawa sepedah motor yang sudah ia tumpangi, sekalian pergi kerja, lebih baik ia menyapa tetangga terlebih dahulu.
" Pagi dek " Sapa nya kepada gadis berusia 19 tahun tersebut, gadis yang membelakangi nya itu sontak terkejut, dan melirik ke arah Andri.
" Eh bang Andri, mau berangkat kerja bang " Timbalnya .
" iya nih , Rajin banget anak gadis udah beberes jam segini " Puji Andri membuat Lesi tersenyum kecil.
" ia lah, dari pada bini lu. masih bikin pulau " Batin Lesi.
dan Seketika Lesi mengingat sesuatu, lalu ia menyampaikan nya ke Andri.
" Bang, abang kan waktu itu pinjam ricecooker punya ibu ya, bisa abang balikan lagi gak ?, soalnya mau di pake, yang itu udah rusak kayaknya, Soalnya lama mateng nya " Tutur Lesi tapi mimik wajah Andri berubah seketika.
" Boleh kan bang ?" tanya Lesi karena tak kunjung dapat jawaban dari Andri.
" Be-benerin aja nanti juga bagus lagi, Ya udah abang berangkat dulu ya " Ucap Andri dengan gelegapan, dan segera pergi meninggal Lesi yang melongo sambil memandangi punggung Andri yang mulai menghilang di belokan gang.
" Aneh, kayak gak boleh gitu aku minta barang punya ku sendiri " Gumam Lesi, lalu ia menyelesaikan kerjaan nya lagi.
****
" Les ini ada telpon loh coba angkat " Teriak Bu Arumi melihat Ponsel Lesi yang di taruh nya di atas meja terus berdering.
Lesi pun berlari menghampiri ponselnya, dan melihat nama sang penelpon.
MBAK RATNA .
" ada apa ya nelpon , tumben biasanya aja langsung kemari " Ujar Lesi.
" Angkat aja lah, sapa tau penting " Tutur bu Arumi yang sedang asik menonton Televisi.
Lesi menghela panas " awas aja kalo pinjem duit" walau pun terlihat ogah ogahan Lesi tetap menelpon nya kembali.
" kenapa mbak ?" Tanya Lesi kala Ratna mengangkatnya.
" Les, tolong sampai kan ke Riza ya, kalo mbak mau pulang, tolong jemput gitu ya, pinjam dulu lah motor mu ya , soalnya di pake sama bapaknya kerja " Sahut Ratna di sebrang sana .
" tuh kan gak pinjam duit, pinjam motor, nyawa pun mau kau pinjam tidak ?" Suara batin nya dengan mimik wajah yang malas.
" iya " singkat padat dan jelas, lalu Lesi menutup telepon nya dan segera meranjak pergi ke rumah samping nya untuk menyampaikan pesan.
terlihat Riza yang sedang duduk di depan sambil bermain ponsel.
" Za, di suruh mama mu jemput katanya, pake motor mbak Lesi " Ujar Lesi yang berdiri di depan Riza.
" dimana ?" tanya Riza tanpa melihat ke arah Lesi.
" di rumah nenek katanya " Sahut Lesi.
" iya nenek nya nenek yang mana, kan nenek ku ada dua, nenek Buyut , sama nenek Asih " Sentak Riza sampai urat leher nya menonjol, sontak Lesi pun geram dibuatnya.
" ya mana ku tahu, mama kau cuma pesan kau suruh jemput itu saja , banyak banget pertanyaan dari mulut mu itu ya " Lesi pun kesal karena ia di Bentak oleh anak bau kencur seperti Riza.
" Banyak pertanya banyak pertanyaan, Ya elu aja sana yang jemput " Riza kembali membentak sambil membanting pintu lalu ia masuk ke dalam rumah.
Lesi menahan emosinya di luar sambil memandang daun pintu rumah Ratna.
" Pantas ibu mu setres, anaknya pun Gila semua gak punya sopan santun sama yang lebih tua " gumam Lesi iya kembali ke rumah dan mengambil kunci motor yang ia simpan disana agar Riza tidak menanyakan kunci nya, tapi Riza malah berperilaku begitu, jadi Lesi mengambil kembali kunci nya dan menyimpan nya di atas lemari Hiasnya.
" Durhaka kau Riza " Kesal Lesi tidak hilang, pasalnya ia baru pertama kali di bentak apa lagi sama anak yang umurnya jauh lebih muda dari dirinya.
sesak hati Lesi, tapi Lesi mengingat ia sedang berpuasa.
" loh Les, motor gak jadi di pinjam ?" Tanya Bu Arumi, yang melihat motor anaknya masih utuh di depan rumah.
" Biarin ajalah bu, mau pulang gak pulang syukur, gak ikutan gila aku " Ungkap Lesi sambil merebahkan Dirinya di Sopa, dan memainkan ponsel.
Ratna terus menelpon nya sampai Lesi muak , lalu memutuskan matikan data seluler nya, agar tidak di ganggu oleh Ratna.
" Ribet keluarga lu, Anak lu lagi main ponsel, nelponin terus ke gue" Omel Lesi saat Ratna menelpon lewat seluler nya.
" matikan aja lah ponselnya, gak mau lagi harga diri gue runtuh, ama si Riza pemalas itu " Tegas Lesi kepada dirinya sendiri, dan meninggalkan ponselnya di lemari hiasnya dan ia tertidur sambil menunggu sore.
***
Ratna sedang menunggu jemputan di rumah nek Asih, ibu kandungnya.
" Mana sih nih, si Lesi juga kaga di angkat angkat telepon gue malah kaga aktif sekarang " Oceh Ratna sambil terus mengetik pesan singkat untuk Lesi.
Tidak lama setelah itu, Riza datang menjemput nya, dengan menggunakan sepeda motor milik ayah nya.
" ayah udah pulang emang ?" Tanya Ratna menanyakan suaminya.
Riza yang baru turun dari motor langsung duduk di kursi pelastik yang ada di luar Rumah nenek Asih.
" Udah barusan aja " Ucapnya singkat.
" Nenek mana ma ?, Riza mau minta uang buat Sahur nanti, ayah katanya gak bawa uang lagi, cuma bawa untuk buka aja " Lanjutnya .
Ratna menghampiri Riza dan ikut duduk di sampingnya, di ikuti juga oleh Nek Asih di belakangnya.
" Ibu itu udah gak mau Za, sama ayah mu itu. ya itu alasan nya, Kurang Nafkah, Ibu malu setiap minggu kesini buat minta beras ke nenek mu, Ibu sebagai anak pertama Malu sama adik nya Ibu, Dia baru belajar rumah tangga udah bisa mandiri, gak pernah terdengar susah oleh kita keluarganya, Tapi ibu, semenjak nikah sampai sekarang punya anak tiga. gak pernah sama sekali bisa ngebuktiin ke orang tua, Yang ada nyusahin terus, hutang di mana mana, perut gak pernah kenyang, bahkan kamu dan adik mu gak bisa sekolah " Curahan hatinya tumpah saat itu juga, Ratna menahan air mata nya.
" Ibu mu, dulu ibu jodohkan ke juragan tanah, malah gak mau, padahal dia belom punya istri, usia nya pun sama seperti ibu mu, Tapi dia malah gak mau, padahal enak, tinggal diam di rumah, uang datang sendiri, karena banyak anak buah nya di kota sambil menjalankan bisnis nya, dia tinggal nerima setoran saja, enak, istrinya sekarang aja banyak emas nya udah kayak toko emas berjalan, sekarang ibu mu, malah dapatkan orang seperti Andri, yang dari dulu kerjanya serabutan terus , apa sih yang di lihat Rat ?" Ungkap Nek Asih sambil mengepalkan uang dua puluh ribu kepada Riza.
" Aku baru menyesal sekarang bu, Coba dulu aku dengerkan ibu, aku gak sengsara seperti ini, nikah cuma jadi pabrik anak aja " Tutur Ratna sambil mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
Nek Asih menghela napas nya dalam.
" Kamu gak KB emang ?" tanya Nek Asih pelan.
Ratna menggeleng cepat " gimana aku mau KB, aku aja jarang di kasih uang, sehari uang habis untuk makan aja bu " Keluh Ratna sambil menunduk lesu.
" Ratna, kasihan sama diri kamu, seharusnya Yessa belum tepat buat punya adik, Karena Yessa seusia ini harus bener bener kamu perhatikan" Tegas Nek Asih sambil mengelus lembut rambut Yessa di sampingnya.
" Kalo aku hamil ya aku g*g*rin aja bu" Ceplos Ratna.
" Jangan, kasihan, kalo kamu gak mau hamil lagi, lebih baik mencegahnya dari sekarang, suntik KB yang tiga bulan hanya 50 ribu rupiah saja, tiga bulan sekali di suntiknya , coba kamu ngobrol sama Andri ya " Nasihat Nek Asih, yang langsung di angguki oleh Ratna.
Ratna berdiri dan berpamitan untuk segera pulang ke kontrakan, karena hari sudah mulai gelap, dan Riza juga harus berbuka puasa, sebenernya Nek Asih menyuruhnya berbuka disini, Tapi Ratna menolak nya, alasanya karena Nek Asih sudah membawakan nya bekal beras satu karung dan sayur mayur hasil kebun nya.
"Emang Mbak Lesi gak ngasih tahu kamu ya Riza, kan mama suruhnya tadi ?" Tanya Ratna mengingat tadi sudah mengabarkan lewat Lesi.
" Gak di kasih pinjem motornya sama mbak Lesi , ma " Ucap Riza , tidak di sangka Riza malah menuduh Lesi tidak memberikan pinjam sepeda motornya terhadap dirinya, padahal yang terjadi adalah ia yang membentak Lesi sampai Lesi sakit hati karena ucapan nya.
apa tanggapan kalian jika tetangga kalian seperti Riza ?.