Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian
Pagi di Bogor tidak pernah seabu-abu ini. Langit seolah runtuh, menumpahkan air dalam volume yang sanggup menenggelamkan harapan. Suara guntur bersahutan di balik Gunung Salak, memberikan peringatan alam bagi siapa pun yang berani menantang aspal hari ini. Namun, di depan gudang utama K.KJ, Reza Aditya sudah mengenakan jaket waterproof hitamnya. Di pundak dan kakinya, terpasang kerangka logam ringan Exo-Frame generasi pertama yang ia beri nama "Saka".
"Mas, BMKG sudah mengeluarkan peringatan merah untuk jalur Puncak. Tanah labil. Angin kencang bisa merobohkan pohon tua kapan saja," Aris berdiri di samping motor listrik prototipe, wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam.
Reza memeriksa kaitan logistik di motornya. "Jika aku tidak berangkat, Nova.Link akan mengirimkan drone mereka. Jika drone mereka berhasil sampai sementara kita mendekam di gudang karena takut, maka besok pagi kepercayaan publik pada kurir manusia akan mati. Hari ini bukan soal pengiriman, Ris. Hari ini adalah soal membuktikan bahwa manusia tidak bisa dihentikan oleh cuaca, selama ia memiliki tekad dan alat yang tepat."
Di dalam kotak kargo motor Reza, terdapat sebuah paket medis berisi serum anti bisa ular langka yang harus sampai ke sebuah klinik di daerah terpencil di Cisarua sebelum tengah hari. Seorang pasien kritis sedang menunggu. Ini adalah "kontrak kemanusiaan" yang sengaja diambil Reza untuk menunjukkan bahwa dalam kondisi ekstrem, intuisi manusia tetap unggul.
"Budi, pantau posisiku lewat GPS. Jika sinyal hilang lebih dari sepuluh menit, kirim tim evakuasi, tapi jangan hentikan aku lewat radio," perintah Reza. Ia menghidupkan mesin motor listriknya yang hanya mengeluarkan suara desisan halus kontras dengan gemuruh hujan.
Perjalanan dimulai. Begitu melewati tanjakan curam di daerah Gadog, tantangan sebenarnya dimulai. Jarak pandang hanya tersisa tiga meter. Hujan yang turun begitu deras terasa seperti ribuan jarum yang menghantam kaca helmnya. Di sini, Exo-Frame mulai menunjukkan kegunaannya. Saat motor oleng karena terpaan angin samping yang dahsyat, sensor di kaki kerangka logam itu memberikan stabilitas tambahan, membantu otot kaki Reza menopang beban motor yang berat tanpa rasa lelah yang berarti.
Reza bernapas dengan teratur. Pikirannya kembali ke masa-masa di atas kursi biru. Dulu, ia takut pada kegagalan. Sekarang, ia hanya takut jika ia berhenti peduli.
Namun, di kilometer 14, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Sebuah bayangan putih metalik tergeletak di selokan pinggir jalan yang mulai banjir. Itu adalah drone pengantar milik Nova.Link. Baling-balingnya patah, dan lampu indikator merahnya berkedip lemah. Robot itu gagal. Logika algoritma Elena Vance tidak memperhitungkan turbulensi angin pegunungan yang sanggup menghempaskan benda seringan drone.
Reza tidak berhenti untuk drone itu. Ia terus melaju. Hingga di sebuah tikungan yang dikenal sebagai "Tebing Maut", langkahnya terhenti.
Sebuah pohon beringin besar tumbang, menutup seluruh badan jalan. Tanah di bawahnya mulai merosot longsoran kecil yang menandakan bencana lebih besar akan datang. Namun, bukan pohon itu yang mengejutkan Reza. Di balik dahan yang tumbang, ia melihat sebuah kendaraan operasional Nova.Link sebuah van otonom tanpa pengemudi yang terperosok ke tepi jurang. Kendaraan itu tersangkut di akar pohon yang kuat, namun posisinya sangat genting.
Reza turun dari motornya. Dengan bantuan daya dorong dari Exo-Frame-nya, ia mampu berjalan di atas tanah lumpur yang licin tanpa tergelincir. Ia mendekati van itu dan tertegun. Di dalam kendaraan otonom itu, ternyata ada seorang teknisi manusia seorang pemuda yang mungkin dikirim Elena untuk memantau performa sistem di cuaca buruk. Pemuda itu pingsan, kepalanya berdarah akibat benturan.
"Budi, aku menemukan van Nova.Link di tebing maut. Ada korban manusia di dalam," Reza berbicara lewat radio, suaranya terengah.
"Za, lupakan! Tanah di sana akan ambles dalam hitungan menit! Kamu harus sampai ke klinik, serum itu nyawa orang lain!" suara Budi terdengar pecah karena gangguan sinyal.
Reza menatap kotak medis di motornya, lalu menatap pemuda yang terperangkap di van yang mulai berderit itu. Jika ia menyelamatkan pemuda itu, ia akan terlambat mengantar serum. Pasien di klinik bisa mati. Jika ia pergi mengantar serum, pemuda ini akan jatuh ke jurang sedalam seratus meter saat tanah itu runtuh.
Elena Vance selalu bilang bahwa efisiensi adalah segalanya. Bahwa satu nyawa
Adalah variabel yang bisa dikorbankan demi sistem yang lebih besar. Namun, Reza bukan Elena.
"Aris, dengar aku," Reza memutus pembicaraan Budi. "Aktifkan fungsi Over drive pada kerangka 'Saka'. Aku butuh kekuatan maksimal untuk menarik pintu van ini."
"Tapi Za, itu akan membakar baterai dan merusak motor penggerak di kakimu!" seru Aris.
"Lakukan saja!"
Reza mencantolkan tali baja dari motornya ke rangka van tersebut. Ia memposisikan dirinya di tanah yang relatif stabil. Mesin Exo-Frame meraung, mengeluarkan bunyi dengung tinggi saat tenaga listrik dipaksa melewati batas maksimal. Otot-otot Reza menegang, ia berteriak saat beban van itu mulai terasa di seluruh tubuhnya. Logam bertemu logam. Lumpur menyiprat ke wajahnya.
Dengan satu tarikan dahsyat, pintu van itu jebak. Reza merangsek masuk, memotong sabuk pengaman si teknisi, dan menggendongnya keluar. Saat kakinya menyentuh aspal jalan, sebuah suara gemuruh terdengar.
Tanah di bawah van itu menyerah. Kendaraan canggih seharga miliaran rupiah itu terjun bebas ke kegelapan jurang, hancur berkeping-keping.
Reza merebahkan pemuda itu di tempat yang aman. Napasnya memburu. Sensor pada kakinya menunjukkan warna merah menyala alat itu rusak. Ia kini harus melanjutkan perjalanan dengan kaki manual yang terasa seperti disemen karena beban besi yang mati. Waktu menunjukkan pukul 11.45. Tinggal lima belas menit lagi.
Reza naik kembali ke motornya. Tanpa bantuan daya dari kerangka yang sudah rusak, motor itu terasa dua kali lebih berat. Ia memacu mesinnya hingga batas maksimal, melompati dahan-dahan kecil, menerjang air yang tingginya mencapai betis.
Tepat pukul 11.58, motor listrik hitam itu berhenti di depan klinik Cisarua. Reza turun dengan terseok-seok, melepas kotak medis, dan menyerahkannya kepada perawat yang sudah menunggu dengan panik.
"Pak, Anda terlambat dua menit dari jadwal drone seharusnya, tapi drone itu tidak pernah datang," kata sang dokter saat menerima serum tersebut. "Terima kasih. Anda menyelamatkan nyawa anak ini."
Reza tidak menjawab. Ia jatuh terduduk di selasar klinik. Hujan masih turun, tapi di matanya, dunia tampak sangat cerah. Ia telah membuktikan sesuatu yang tidak dipahami oleh Elena Vance: bahwa teknologi yang paling canggih sekalipun hanyalah rongsokan jika tidak dipandu oleh hati yang mau berkorban.
Malam harinya, berita tentang penyelamatan teknisi Nova.Link oleh "Kurir Berkerangka Logam" meledak di media sosial. Foto Reza yang kotor oleh lumpur, sedang menggendong pesaingnya keluar dari bahaya, menjadi simbol baru.
Di kantor Nova Link, Elena Vance menatap layar monitornya dengan tangan mengepal. Ia kalah. Bukan kalah secara teknologi, tapi kalah secara moral.
"Dia bukan manusia biasa," gumam Elena.
Sementara itu di Bogor, Reza sedang dipijat oleh Budi sambil tertawa kesakitan "Kamu gila, Za. Benar-benar gila," kata Budi.
"Setidaknya, aku tidak lagi berdiri di atas kursi biru itu, Bud," sahut Reza pelan. "Sekarang, aku tahu kenapa aku diberikan kesempatan kedua. Bukan untuk menjadi yang tercepat, tapi untuk menjadi yang terakhir bertahan saat yang lain menyerah."
Pertempuran antara kemanusiaan dan algoritma baru saja memasuki babak yang paling berbahaya. Elena Vance menyadari bahwa ia tidak bisa mengalahkan Reza Aditya di aspal, maka ia memutuskan untuk menyerang di tempat di mana Reza tidak memiliki perisai: keluarganya.