Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ponsel dalam Genggaman Yang Salah
Perpustakaan Columbia di malam hari adalah tempat yang sunyi, namun bagi Guzzel, keheningan itu justru terasa menyesakkan. Dia duduk di meja paling belakang, tersembunyi di balik rak-rak buku sejarah setinggi plafon.
Jemarinya dengan cepat mengetik balasan untuk Max.
Lia: V, jangan biarkan amarahmu menguasaimu. Ingat janji kita? Di dunia ini, kau adalah pria paling lembut yang pernah kukenal. Jangan biarkan orang-orang di luar sana merubahmu.
Guzzel tersenyum kecil, namun senyum itu segera pudar saat ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu mejanya. Sebelum Guzzel sempat mematikan layar ponselnya, sebuah tangan besar sudah mencengkeram sandaran kursinya, membuat Guzzel terkunci.
Itu Max.
Napas Max terasa di pucuk kepalanya. Pria itu berdiri begitu dekat hingga Guzzel bisa mencium aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang tajam. Mata Max tertuju langsung ke arah tangan Guzzel yang masih memegang ponsel yang menyala.
"Sedang bicara dengan siapa, Guzzel?" suara Max rendah, hampir seperti bisikan, tapi penuh dengan intimidasi.
Jantung Guzzel berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Dengan gerakan secepat kilat, dia membalikkan ponselnya ke meja. "Bukan urusanmu, Max. Sejak kapan kau jadi gemar mengintip urusan orang lain?"
Max menyipitkan mata. Kilatan layar ponsel itu, warna biru khas aplikasi Veloce sempat tertangkap oleh sudut matanya. Hatinya bergemuruh. "Aku tidak mengintip. Aku hanya ingin memastikan apakah dugaanku tentang wanita bermuka dua seperti kalian itu benar."
Max membungkuk, wajahnya kini sejajar dengan Guzzel. "Tunjukkan padaku. Dengan siapa kau bicara?"
"Tidak!" Guzzel berdiri, mencoba mendorong bahu Max yang sekokoh dinding batu.
"Ini privasiku. Kau membenciku, Max. Kau bilang aku menjijikkan. Jadi kenapa kau peduli dengan siapa aku bicara?"
Max terdiam. Kata-kata Guzzel adalah kebenaran yang pahit. Dia membenci gadis ini, tapi dia juga merasa tertarik oleh sebuah magnet yang tak terlihat. Dorongan untuk merampas ponsel itu sangat kuat, namun harga dirinya yang setinggi langit mencegahnya.
"Simpan saja rahasiamu," desis Max, menarik diri dengan angkuh. "Tapi ingat, Guzzel. Jika aku menemukan bahwa kau menggunakan nama itu untuk bermain-main, kau akan tahu bagaimana rasanya dihancurkan oleh seseorang yang tidak punya belas kasihan."
Max berbalik dan pergi, meninggalkan Guzzel yang gemetar hebat. Guzzel tahu, dia baru saja lolos dari lubang jarum, tapi Max tidak akan berhenti di sini.
Keesokan harinya, untuk menenangkan pikirannya yang kalut, Guzzel memutuskan untuk pergi ke mall mewah, The Shops at Columbus Circle. Dia butuh udara segar, jauh dari tatapan tajam Max dan pertanyaan menjebak Kitty.
Guzzel berjalan melewati butik-butik kelas atas, mencoba mengalihkan perhatiannya. Namun, ponselnya terus bergetar. Max—sebagai V—sedang dalam mode sangat rapuh hari ini.
V: Aku hampir gila, Lia. Tadi malam aku hampir melakukan hal bodoh. Aku melihat wanita itu lagi di perpustakaan. Dia mengingatkanku padamu, tapi aku tahu itu tidak mungkin. Katakan padaku kau masih mencintaiku.
Guzzel duduk di sebuah bangku taman dalam mall, sibuk mengetik balasan yang panjang untuk menenangkan kekasihnya yang sedang kacau itu. Dia sangat fokus hingga tidak menyadari keadaan sekelilingnya.
Setelah mengirim pesan, Guzzel memasukkan ponselnya ke dalam tas belanjaannya, lalu bangkit untuk melihat sebuah gaun di etalase butik Valentino. Saat itulah, kerumunan orang yang terburu-buru menabraknya. Guzzel terhuyung, tas belanjanya sempat terjatuh. Seorang pria dengan jaket hoodie membantunya mengambilkan tas tersebut dengan sangat sopan.
"Maaf, Miss. Ini tasmu," kata pria itu sambil menyerahkannya kembali.
"Terima kasih," jawab Guzzel singkat, tanpa curiga.
Namun, saat Guzzel sampai di sebuah kafe sepuluh menit kemudian untuk membeli minuman, dia merogoh tasnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ponselnya hilang.
Tas belanjanya telah disayat dengan sangat rapi di bagian bawah. Pria yang menabraknya tadi bukanlah orang baik hati, melainkan pencopet profesional. Guzzel panik. Bukan karena harga ponselnya, tapi karena isinya.
Seluruh percakapannya dengan Max, akun Veloce-nya, identitasnya sebagai Lia, semuanya ada di sana. Dan yang lebih buruk, ponsel itu tidak menggunakan kata sandi yang rumit karena Guzzel sering menggunakannya dengan terburu-buru.
"Tidak... tidak boleh!" Guzzel mulai menangis di tengah keramaian mall.
Guzzel segera melapor ke pihak keamanan, tapi hasilnya nihil. Dia pulang dengan perasaan hancur. Dia segera mencoba melacak ponselnya melalui laptop, namun ponsel itu sudah dimatikan.
Sementara itu, di sebuah sudut gelap New York, sang pencopet sedang mencoba membuka ponsel mahal tersebut. Dia tidak menemukan banyak uang di dompet digital, tapi dia melihat sebuah aplikasi yang terus menerima notifikasi.
Veloce.
Pencopet itu tersenyum miring saat membaca pesan-pesan yang masuk. Pesan dari seseorang bernama "V" yang terdengar sangat kaya dan sangat putus asa.
V: Lia? Kenapa kau diam saja? Kau marah padaku karena kejadian tadi malam? Kumohon, jangan tinggalkan aku.
Sang pencopet, yang tahu bagaimana memanfaatkan situasi, mulai mengetik balasan. Bukan sebagai Lia yang lembut, tapi sebagai seseorang yang ingin memeras.
Namun, sebelum dia sempat melakukan itu, ponsel tersebut tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan video masuk dari akun bernama "Maximilien Vance." Sang pencopet panik, dia tidak sengaja menekan tombol "Terima".
Layar menyala. Di apartemennya, Max tertegun. Dia tidak melihat wajah Lia yang dia dambakan. Dia melihat seorang pria asing dengan latar belakang ruangan kumuh. Dan di belakang pria itu, di atas meja, terdapat sebuah tas belanja bermerek Valentino yang sangat dia kenali.
Tas belanja yang dibawa Guzzel di kampus tadi pagi.
"Siapa kau?!" teriak Max dari balik layar. "Di mana pemilik ponsel ini?!"
Pencopet itu segera mematikan ponselnya dan mencabut kartunya, tapi sudah terlambat. Max sudah melihat cukup banyak. Dia melihat tas itu, dan dia melihat sekilas wallpaper ponsel tersebut sebelum panggilan terputus: Foto Guzzel yang sedang tersenyum di taman kampus.
Dunia Max runtuh. Kebenaran yang selama ini dia takuti menghantamnya seperti palu godam.
Lia... adalah Guzzel.
Wanita yang dia benci, wanita yang dia maki, adalah wanita yang selama ini menjadi tempatnya mengadu nyawa.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍😍😍🥰