Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Berhasil Menemukan Igor
"Bajingan itu bisa mengawasi rumahnya dengan sempurna dari sini."
Kayson menginjak rem dan menatap rumah bata bergaya kolonial di hadapannya. Sinar matahari memantul di dinding rumahnya dan SUV biru yang terparkir di garasi.
Rumah sewaan atas nama Stevanus Igor. Masa sewanya berakhir kemarin.
Kayson menggenggam setir lebih erat. "Dia ada tepat di sini dan kita enggak pernah sadar."
Igor cukup dekat untuk melihat kebakaran itu. Cukup dekat untuk mengawasi Stella.
Apa dia juga mengawasi malam pertama saat Kayson membawa Stella pergi dari jalan ini?
Kayson mematikan mesin lalu turun dari mobil. Dia sengaja parkir sedikit lebih jauh, sama seperti para agennya.
Joel bergegas menyusulnya.
"Rencananya apa? Jangan bilang kita bakal santai-santai aja?"
Santai?
Tidak mungkin.
Kayson melangkah cepat menyusuri trotoar, matanya terus menyapu sekeliling, mencari tanda bahaya. Jendela tertutup rapat, tirainya terpasang.
Dia memutar bahu, lalu menyentuh kap mobil sewaan itu. Dingin. Mobil itu sudah lama tidak dipakai.
"Jadi enggak ada drama polisi baik dan polisi jahat, nih?" bisik Joel sambil mengikuti langkahnya. "Atau langsung masuk aja sambil pegang senjata?"
Keduanya memang bersenjata, tapi Kayson tidak berniat menerobos masuk.
Untuk apa, kalau pintunya tidak terkunci?
Begitu menginjak beranda, Kayson melihat pintu depan terbuka sedikit. Kuncinya tidak rusak. Pintu itu hanya terbuka beberapa sentimeter, sepertinya lupa ditutup.
"Gimana?" gumam Joel.
Kayson mengangkat tangan dan mengetuk pintu.
"Stevanus Igor! Igor, nama gue Kayson Sheridan. Gue perlu bicara sama ...."
Pintu itu terdorong terbuka sedikit lagi oleh ketukan Kayson. Dan bau itu langsung menyergapnya Keluar dari celah pintu. Kayson segera menutup mulutnya.
Sial.
Dia kenal bau itu.
Di belakangnya, Joel sudah mengumpat. "Kita butuh polisi di sini, sekarang!"
Kayson membalas tegas. "Telepon Detektif Citra Hamizah."
Seorang polisi yang dia kenal dan percayai. Detektif pembunuhan.
Setelah itu, Kayson berharap Departemen Kepolisian Kota Tua ikut turun tangan.
Bagaimanapun juga, sulit untuk mengabaikan kasus pembunuhan ini.
Dengan hati-hati, Kayson masuk ke dalam rumah, berusaha tidak menyentuh apa pun.
Bau itu jelas bau mayat di dalam. Namun jika masih ada orang lain di sana, dia harus memastikan.
Mayat itu berada di ruang tamu. Terikat di kursi, tangan dan pergelangan kaki diikat ke kaki kaki kursi. Luka tusuk memenuhi dada pria itu. Kepalanya terkulai ke depan, rambut pirang kusut menutupi dahinya.
"Itu Stevanus Igor," bisik Joel. "Kasihan banget."
Seseorang telah menyiksa Igor. Melakukannya perlahan, dengan sengaja. Kayson tahu seperti apa lokasi penyiksaan, dia sering melihatnya, dan Joel pasti juga paham.
Kayson juga tahu sedikit soal livor mortis. Dia bukan ahli forensik, tapi dari posisi tubuh yang sudah berubah warna dan kaku, dia menduga Igor sudah tewas setidaknya dua atau tiga hari.
Artinya, dia bukan orang yang membakar rumah Stella. Kemungkinan besar dia sudah mati jauh sebelum itu terjadi.
Tatapan Kayson turun ke darah yang membasahi tubuh pria itu. Merah gelap, mengering di mana-mana.
Dia sempat khawatir penguntit Stella akan meningkatkan aksinya. Ternyata pria itu memang sudah melakukannya. Pembunuhan. Dan sekarang, tak ada jalan kembali bagi bajingan itu.
Mereka keluar dari rumah. Bau busuk mayat masih menempel di hidung dan tenggorokan Kayson, sampai-sampai bisa dia rasakan di lidahnya.
Kayson menjauh beberapa langkah lalu mengeluarkan HP. Dia menelepon agen yang paling dia percaya.
Vanylla menjawab pada dering kedua.
"Iya, Bos."
Suaranya sigap.
"Bos menemukan apa?"
"Mayat. Igor dibunuh."
"Apa?"
"Lo jagain Stella, paham? Lo sama Wallen jadi Bodyguardnya. Dia ke mana pun, kalian ikut."
Mantan Stella dibunuh dengan brutal, tepat di ujung jalan dari rumahnya. Rasa dingin mengikat perut Kayson.
"Siapa korbannya?" tanya Vanylla, suaranya berubah datar.
"Orang yang jadi tersangka utama kita. Stevanus Igor."
"Siapa korbannya?"
Begitu mendengar pertanyaan pelan dari Vanylla, tubuh Stella langsung menegang.
Dia tadi sedang menonton rekaman CCTV galerinya, memperhatikan pelanggan yang keluar masuk. Tapi begitu kata itu terdengar ... Wallen mengumpat pelan. Riggs berhenti mengetuk meja dengan jarinya. Dan Stella memutar kursinya agar bisa melihat Vanylla.
Vanylla mengangguk kecil, masih memegang HP.
"Dicopy Boss!"
Dia memutus sambungan, lalu langsung menoleh pada Wallen.
"Guard security, level enam!"
Wallen membalas dengan anggukan tipis.
"Ada apa?" tuntut Stella. "Siapa korbannya?"
Dia bisa melihat Vanylla menimbang kata-kata, berusaha memilih cara yang tepat.
Stella tidak sedang ingin diperlakukan seperti itu. Dia hanya ingin kebenaran.
"Kayson nemuin Igor?"
Vanylla menelan ludah.
"Iya."
Stella langsung berdiri.
"Igor nyakitin siapa?"
Dadanya terasa sesak.
"Siapa? Siapa yang dia sakitin? Siapa ...."
"Dia enggak nyakitin siapa-siapa." Tatapan Vanylla meneliti wajah Stella. "Maaf, Stella. Igor sudah mati. Kayson sama Joel lagi manggil polisi ke lokasi sekarang."
"Mati? Apaa!?"
Ketakutan baru langsung menghantam Stella.
"Kayson! Dia enggak apa-apa, kan? Dia ...."
Riggs pun ikut berdiri.