NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelepasan Penyangga

Yohan menyentuh air itu dengan hati-hati. Rasanya seperti menyentuh kaca es yang mencair, berbau busuk. Rasanya menghisap kehangatan tubuhnya secara fisik, membiarkan tubuhnya diserbu hawa dingin murni tanpa emosi.

Ia tersentak mundur, tangannya basah dan mati rasa. “Kutukan itu,” bisik Yohan, mengenali energi ini, yang terlepas sempurna dari ikatan Sumiati. Ini adalah Kutukan Primordial itu, dan itu sudah menyebar melalui darah Yalimo—air.

“Kami hanya butuh kamu membersihkan Patung itu, Yohan. Setelah kebebasan ibumu, seharusnya kita tenang,” desah Gultom, mencampurkan nada putus asa dengan tuduhan tersirat.

“Aku sudah menyelamatkan roh. Tapi Patung ini punya harga. Harganya jauh di luar kemampuanku,” balas Yohan. Ia menatap ke dalam Patung Pusaka Batu yang ia genggam. Permukaannya hitam pekat, namun Yohan bersumpah ia melihat riak energi kehitaman memantul dari permukaan air sungai yang tercemar.

“Bawa aku kembali ke rumah, Gultom. Pusaka tidak bicara pada air, ia bicara pada niat,” ujar Yohan, nadanya sudah berubah dari kelelahan menjadi urgensi dingin.

“Aku perlu jurnal Ayahku. Pasti ada rahasia di balik ‘Perisai Darah’ yang kulakukan di Batu Persembahan.”

Gultom mengangguk, tanpa berkata apa-apa. Jelas ia memikul rasa tanggung jawab yang besar, tetapi kepemimpinannya melemah oleh rasa takut terhadap entitas yang tidak terpersonalisasi ini. Yohan kini adalah satu-satunya sumber spiritual Yalimo.

***

Kembali di rumah warisan Yosef yang hening, Yohan membersihkan Pusaka Batu di dalam kamar, mengelap debu tipisnya, namun tidak memurnikannya dengan ritual. Terlalu bahaya melakukan Pemurnian sebelum aku mengerti penuh Kutukan ini. Aku butuh pengetahuan Ayah.

Ia membuka jurnal Yosef di halaman-halaman yang mendeskripsikan tujuan 'Janji Darah' atau ‘Upacara Perisai Darah’. Seluruh deskripsi di bagian itu tertulis dengan tangan yang tampak tegang, nyaris terpisah dari kegilaan tulisan tangan normal Yosef. Jantung Yohan berdebar saat ia menyisir. Kebanyakan adalah gambar, simbol-simbol rumit yang merangkai Yalimo, Pusaka Batu, dan entitas tak kasat mata di alam.

“Aku nggak yakin kita harus fokus di sana,” Gultom angkat bicara, mengamati Yohan membaca dengan konsentrasi penuh.

“Ayahmu, almarhum Yosef, walau martir, tetap seorang fanatik yang membunuh ibumu untuk apa pun tujuannya.”

“Aku tahu, Gultom,” Yohan menahan Gultom dengan isyarat tangan.

“Tapi ingat, Sumiati bilang: Janji Darah adalah kehendak Ayahku yang mengikat dirinya. Ayahku mati karena dia mau membersihkan itu, makanya dibunuh Marta dan antek-anteknya. Aku harus mencari mengapa Pusaka ini perlu penyangga roh terikat, dan bukan pemurnian total.”

Yohan membalik halaman tebal dengan cepat. Setelah beberapa coretan tentang tekanan dari David dan perusahaan tambang, dia menemukan beberapa paragraf tulisan tangan Yosef yang ditandai dengan lingkaran merah yang mengerikan.

Yohan menarik napas tajam dan membaca keras-keras.

“‘Sumiati yang cantik dan setia harus menderita. Aku harus menjaganya dari penolakan, dari kematian di tangan David, dari kehancuran pribadinya jika aku tewas. Ini bukan pemurnian—ini penahan.’" Yohan membaca, matanya melebar.

“Apa maksudnya?” tanya Gultom. “Dia tahu akan mati, jadi dia mengikat ibumu?”

“Dengar kelanjutannya,” Yohan berbisik. Wajahnya pucat pasi, terkejut oleh dimensi kekejian ayahnya yang terungkap, yang sama sekali berbeda dari versi fanatik gila yang ia yakini selama ini.

“‘Pusaka memiliki sifat. Ia menahan kegelapan primordial dari waktu ke waktu, tetapi tidak memurnikannya. Sesepuh bilang: jangan pernah disentuh tanpa pengorbanan yang hidup sebagai perisai—penyangga jiwa yang tulus. Jika Aku melakukan Upacara Pemurnian dan gagal, Kutukan akan meledak dari dalam Batu, menghancurkan kehidupan elemental Yalimo, dan ini bukan kegagalan seperti penyakit—ini Imbalance.’”

Yohan berhenti, merasakan jantungnya berdegup tak teratur.

“Imbalance, Kekuatan purba, Gultom. Ayah tidak mau Pusaka dimurnikan karena takut kegagalan spiritual akan merilis kekacauan yang lebih besar,” jelas Yohan.

“Jadi, dia menggunakan cara ‘gila’ Marta, David, dan para sesepuh untuk memanipulasi Sumiati menjadi penyangga. Rohnya Sumiati—roh terikat yang tersiksa—adalah kekuatan yang memblokade Kutukan Primordial agar tidak keluar!”

Gultom terduduk di lantai, terpana.

“Kamu... kamu ingin mengatakan bahwa roh ibumu, Sumiati yang kami lihat di koridor dan jendela selama lima belas tahun... dia BUKAN dendam pada desa, melainkan Perisai Rohani kami?”

“Tepat. Penyangga spiritual. Marta dan sesepuh memaksanya membuat janji ini, mungkin awalnya untuk tujuan murni Pusaka. Tapi ketika David datang, mereka mengubah fungsinya. Sumiati menjadi penyangga Pusaka, menahan energi alam agar mereka bisa mengeruk tambang, tapi juga menahan Kutukan Primordial agar tidak lepas,” kata Yohan, menggigil hebat.

Aku berhasil membebaskannya. Aku berhasil memberinya senyuman sebelum ia menghilang di Batu Persembahan. Aku sudah menyelesaikan Pertukaran Jiwa Total untuknya, pikir Yohan.

Namun, kepuasan spiritual Yohan menguap sepenuhnya, digantikan oleh kengerian baru.

“Saat aku memutuskan ikatan Ayah melalui pengorbananku yang tulus... Aku tidak hanya membebaskan Sumiati,” Yohan membalik halaman jurnal.

“Aku juga menyingkirkan penyangga vital Yalimo. Aku menendang Ibu dari pos jaganya. Pusaka sekarang telanjang, Gultom. Energi kegelapan yang selama ini Sumiati bendung dengan kesakitan rohnya, sekarang bebas total!”

Ini adalah ironi tragis dari janji spiritualitas: Tindakan Yohan yang paling mulia dan penuh cinta telah memicu kiamat Yalimo yang sebenarnya.

Gultom mencondongkan tubuhnya ke depan.

“Ini. Kekuatan ini... Ayahmu memang gila, tapi setidaknya dia mempertahankan Yalimo dalam batasan kiamatnya sendiri. Kamu membuka batas, Yohan. Kutukan ini. Kita bicara tentang jenis kutukan apa? Yang melayang seperti roh atau yang menghancurkan tanaman dan sungai?”

Yohan meraih jimat kecil tulang dari Ina, memegangnya kuat. Ia teringat peringatan Dukun Ina, Pusaka Batu yang terkubur adalah Kunci sejati. Melepaskan Sumiati akan memicu kebangkitan Kutukan Primordial.

“Dua jenis, Gultom. Satu bersifat rohani (Sumiati). Yang satu bersifat elemental,” Yohan kembali membaca jurnal Ayahnya, membenarkan dugaannya. Ia membaca pengakuan terakhir Ayahnya tentang sifat Pusaka.

“‘Pusaka Batu Yalimo adalah jantung dunia kita. Ia menyerap energi Bumi, memekatkannya menjadi esensi spiritual. Namun, semakin purba Pusaka, semakin ia mengumpulkan residu dari energi gelap—kebencian, pembusukan, dan kerakusan dunia lama yang dihancurkan para leluhur kita. Entitas purba. Dan energi gelap itu akan menampakkan diri jika Pusaka tidak memiliki wadah atau penyangga hidup.’”

Yohan menutup jurnal itu. Suaranya serak.

“Roh Sumiati adalah wadahnya, Gultom. Ia menahan kegelapan agar David bisa mengeksploitasi Yalimo tanpa merasakan kiamat spiritual. Kutukan yang aku lepaskan ini adalah kekosongan. Kebencian alami alam semesta. Bencana, Gultom, yang tidak dapat kita tawar dengan dialog atau mantra belaka.”

“Lalu, bagaimana ini?” Gultom mulai panik, tangannya memukul-mukul lantai.

“Aku sudah bilang pada dewan. Kekeringan datang. Kambing-kambing mati. Bayi-bayi di desa rewel dan menolak susu. Semua terjadi secepat kilat! Kita tidak akan punya waktu untuk menemukan Dukun baru!”

“Aku sudah bertemu Ina, Dukun Penjaga Api. Ina memberitahuku apa yang kulakukan sekarang adalah Pertukaran Jiwa yang tulus. Tujuannya hanya satu,” Yohan mengangkat Jimat Ina, yang kini terasa menghangatkan di telapak tangannya.

“Membebaskan Ibuku adalah bagian pertama Pertukaran. Bagian kedua... menjadi Wadah baru Pusaka. Aku harus belajar memurnikan Batu itu dan kembali mengikat Kutukan Primordial ke dalam Wadah.”

Gultom mendongak, matanya penuh horor. “Mengikatnya ke Pusaka yang dimurnikan? Kau harus melengkapi janji spiritual Ayahmu yang tidak tuntas!”

“Aku harus memurnikan pusaka Ayah yang sudah penuh noda,” Yohan membenarkan. Ia sudah menerima takdir yang dipaksakan Ayahnya.

Yohan melompat berdiri, menuju jendela yang menampilkan keheningan pagi di Yalimo, kecuali daun-daun coklat mati. Udara terasa dingin meskipun sinar matahari seharusnya kuat. Rasa puasnya sudah hilang total.

“David. Kenapa Marta dan Yosef mati-matian menyembunyikan Pusaka? Aku tahu kenapa sekarang,” kata Yohan.

“Pusaka harusnya hanya objek sakral. David dan perusahaannya—mereka pasti tahu Patung ini menjamin keamanan. Selama ada penyangga spiritual yang menahan Kutukan, mereka aman menambang emas di perbatasan. Yosef awalnya melindungi harta dari perusahaan David, tapi akhirnya mati karena dia melawan plot gila itu.”

“Itu menjelaskan mengapa Marta dan Jiro panik setengah mati di Batu Persembahan, mencoba menghancurkan apimu. Mereka tahu: melepaskan Sumiati sama saja dengan melepaskan iblis ke Yalimo, dan mereka takut pada karma spiritual yang mengerikan,” simpul Gultom, menggenggam Pusaka Batu. Ia meletakkannya kembali di atas meja dengan rasa takut yang baru.

“Aku harus menginvestigasi. Kita butuh Patung ini, Gultom. Tapi ia harus dimurnikan. Di mana Ayahku menyembunyikan petunjuk pemurnian itu?”

Saat Yohan hendak kembali ke jurnal, suara jeritan ketakutan yang serak terdengar dari arah desa, bukan suara jeritan histeris Marta atau teriakan ketakutan biasa. Suara itu dalam, diserap oleh elemen-elemen udara yang berat.

Yohan dan Gultom serentak melompat ke jendela yang terbuka.

Sinar matahari yang awalnya berusaha menembus hutan, kini dilawan oleh lapisan abu-abu kental yang tak alami. Lapisan itu menyelimuti puncak bukit di atas Air Murni. Kabut itu merayap. Tebal. Bergerak seperti makhluk hidup yang tak bertulang, berdenyut dari sumber dingin Kutukan Primordial.

Gultom menempelkan keningnya ke bingkai kayu, matanya melebar dalam kepanikan murni.

“Yohan... itu... itu kabut itu tidak boleh ada di siang hari! Itu udara dari Alam Murni yang dirusak. Kutukan itu menyebar secara fisik!” seru Gultom.

Yohan menatap fenomena alam itu. Kabut itu tidak hanya gelap. Ia berwarna hitam pekat, tidak menyebar melainkan terkonsentrasi di lembah Yalimo. Jika Kutukan Elemental ini bergerak cepat seperti itu, desa mereka akan tertutup kegelapan beku dan tercemar dalam beberapa jam.

“Cepat, Yohan!” teriak Gultom, mundur ketakutan, mencari Pusaka Batu, mencari harapan.

Yohan menahan dirinya untuk tidak panik. Rasa bersalahnya kini mendominasi dirinya. Ia telah melihat wujud kutukan Sumiati. Ini adalah wujud Kutukan yang jauh lebih besar.

Ia menyentuh Patung Pusaka Batu yang bersandar di bingkai jendela. Dingin elemental Pusaka yang tadinya menyerap kehangatannya, kini bereaksi liar. Di atasnya, pusaran kabut hitam dari Kutukan Primordial terlihat bergerak. Kabut itu seolah tahu bahwa Penyangganya hilang dan sang Jangkar berada tepat di bawahnya.

Yohan tidak berani bicara. Jika kabut itu turun ke desa, tidak akan ada yang selamat. Kutukan ini adalah kekosongan tak bernyawa yang ia biarkan lepas demi kebebasan sang ibu.

Yohan memejamkan mata, memohon. Kuncinya, Ayah. Kau simpan di mana lagi sisa kuncimu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!