NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Zidan Mulai Minum

#

Seminggu setelah kejadian dengan Bu Sari, Zidan makin sibuk dengan pergaulan bisnisnya. Hampir setiap malam ada aja acara. Gathering. Arisan. Meeting. Pesta ulang tahun. Semua di tempat tempat mewah.

Hari Jumat malam, Pak Bambang, salah satu pengusaha properti yang sering kerja sama sama Zidan, ngajak dia ke kafe eksklusif di bilangan elit kota.

"Zidan, malam ini kita santai santai aja. Nggak usah bahas bisnis. Cuma ngobrol ngobrol sambil minum."

"Baik Pak. Saya ikut."

Mereka sampe di kafe jam sembilan malam. Tempatnya mewah banget. Lighting redup. Musik jazz lembut. Kursi kursi sofa empuk. Pelayan pake seragam rapi.

Pak Bambang pesan whiskey. Temen temen bisnisnya yang lain juga pada pesan alkohol. Bir. Wine. Vodka.

Zidan duduk di antara mereka sambil agak kikuk. Dia belum pernah minum alkohol sebelumnya. Dari kecil dia dididik haram.

"Zidan, lo pesan apa? Whiskey? Atau beer aja dulu buat pemula?" tanya Pak Bambang sambil senyum.

"Eh... saya... saya nggak minum Pak. Saya Islam."

Semua yang duduk di meja itu langsung ketawa. Ketawa yang bikin Zidan ngerasa malu.

"Zidan Zidan... lo pikir kami bukan Islam? Kami semua Islam. Tapi kami modern. Kami nggak kolot. Minum alkohol sedikit nggak apa apa. Asal nggak sampe mabuk. Lagian ini cuma buat refreshing. Buat ngilangin stress."

"Tapi Pak... ini kan haram..."

"Haram haram gimana? Lo pikir Allah bakal masukin lo neraka cuma gara gara minum segelas beer? Nggak lah. Yang penting hati lo baik. Lo nggak jahat sama orang. Lo sholat Jumat. Udah cukup."

Zidan mikir sebentar. Hatinya bergejolak. Satu sisi dia tau ini salah. Tapi sisi lain dia nggak mau dikira kampungan. Dikira kolot. Dikira nggak bisa bergaul.

"Coba aja sekali. Kalau nggak suka, ya udah. Nggak usah lagi. Gampang kan?"

"Iya Zidan. Coba aja. Nggak bakal mati kok. Kami semua baik baik aja tuh."

Akhirnya Zidan ngangguk pelan. "Oke. Saya coba. Tapi cuma sedikit."

Pak Bambang langsung pesen beer buat Zidan. Botol Heineken hijau dingin dengan embun di luarnya.

"Nih. Minum pelan pelan. Nikmatin aja."

Zidan pegang botol itu dengan tangan gemetar. Dia liat labelnya lama. Di kepalanya terngiang suara ustadz waktu pengajian dulu. "Arak itu haram. Haram yang nyata. Jangan dekat dekat."

Tapi dia abaikan suara itu. Dia angkat botol itu ke bibir. Minum sedikit.

Rasanya pahit. Aneh. Nggak enak.

Dia hampir muntah tapi dia tahan.

"Gimana? Enak kan?"

"E... enak Pak." Bohong.

"Minum lagi. Nanti juga biasa."

Zidan minum lagi. Kali ini lebih banyak. Masuk ke tenggorokan sambil bikin perut panas.

Sepuluh menit kemudian, dia mulai ngerasa ringan. Kepala agak pusing tapi enak. Badan rileks. Semua masalah kayak hilang.

"Wah... ini... ini nggak seburuk yang aku pikir."

"Nah kan! Makanya jangan kolot! Nikmatin aja!"

Zidan lanjut minum. Botol pertama habis. Dia pesen lagi. Botol kedua. Ketiga. Keempat.

Makin lama dia makin enjoy. Ngobrol makin berisik. Ketawa ketawa. Nggak inget lagi kalau dia lagi ngejauhin larangan Allah.

Jam dua belas malam, dia udah mabuk setengah sadar. Matanya merah. Jalan sempoyongan. Mulut bau alkohol menyengat.

Pak Bambang panggilin sopir pribadi dia. "Anterin Zidan pulang ya. Dia udah nggak bisa nyetir."

"Baik Pak."

Zidan dibawa pulang pake mobil Pak Bambang. Sampe di rumahnya jam setengah satu malam.

Sopir itu bantuin Zidan turun dari mobil. Anterin sampe pintu depan. Terus pergi.

Zidan ketok pintu keras. "Naura! Buka!"

Naura yang udah tidur langsung bangun. Dia buka pintu dengan wajah khawatir.

"Mas? Kenapa Mas pulang telat lagi? Mas..."

Begitu Zidan masuk, Naura langsung nyium bau aneh. Bau yang menyengat. Bau yang nggak asing.

Alkohol.

"Mas... Mas minum apa? Kok baunya aneh?"

Zidan jalan sempoyongan masuk. Mata merah. Senyum senyum sendiri.

"Gue minum beer. Enak. Lo mau coba?"

Naura shock. "Mas... Mas minum alkohol? Kenapa Mas? Itu haram Mas!"

"Haram haram gimana? Cuma segelas dua gelas. Nggak apa apa. Semua orang juga pada minum."

"Tapi Mas... Mas kan Muslim. Mas tau itu dosa besar."

Zidan jalan deket ke Naura. Pegang pundaknya dengan kasar. "Udah! Jangan ceramah! Gue cape denger ceramah lo terus!"

"Mas... Mas mabuk. Mas harus istirahat."

Zidan senyum miring. Matanya menatap Naura dengan tatapan yang nggak biasa. Tatapan yang bikin Naura takut.

"Istirahat? Iya. Tapi... aku mau lo dulu."

"Apa? Mas ngomong apa?"

Zidan langsung tarik Naura ke kamar. Tutup pintu.

"Mas! Apa yang Mas lakuin? Lepas!"

Zidan dorong Naura ke kasur. Naura jatuh terduduk sambil nangis.

"Mas please... Mas lagi nggak sadar. Mas mabuk. Jangan kayak gini."

Tapi Zidan nggak dengerin. Dia langsung naik ke atas kasur. Pegang Naura dengan kasar.

"Mas jangan! Aku nggak mau kayak gini! Mas lagi mabuk! Please!"

Zidan nggak peduli. Dia lepas bajunya sendiri. Terus mulai buka baju Naura dengan paksa.

Naura nangis sambil berusaha nolak. Tapi tenaganya kalah. Zidan lebih kuat. Apalagi dia lagi di bawah pengaruh alkohol. Nggak ada logika. Nggak ada kelembutan.

"Mas kumohon... jangan kayak gini... ini nggak kayak biasanya... Mas..."

Tapi Zidan tetep nerusin. Dia paksain istrinya. Berhubungan dengan kasar. Nggak ada cinta. Nggak ada kelembutan. Nggak ada kehangatan kayak biasanya.

Naura cuma bisa nangis. Tubuhnya dipaksa. Hatinya hancur. Ini bukan suaminya. Ini orang lain. Orang asing yang pake wajah suaminya.

"Mas... sakit... Mas pelan pelan... please..."

Tapi Zidan nggak dengerin. Dia terus dengan kasar. Nafasnya bau alkohol. Keringatnya bercampur bau menyengat.

Sepuluh menit kemudian, selesai. Zidan langsung tidur. Jatuh di samping Naura dengan napas berat. Ngorok keras.

Naura terbaring dengan tubuh gemetar. Air matanya nggak berhenti jatuh. Badannya sakit. Hatinya lebih sakit.

Dia duduk pelan. Ambil selimut buat tutupin tubuhnya yang telanjang. Ngeliatin suaminya yang tidur pulas dengan mulut terbuka.

"Ya Allah... ini... ini bukan suamiku. Suamiku nggak pernah kayak gini. Suamiku selalu lembut. Selalu tanya aku nyaman apa nggak. Selalu peluk aku setelahnya. Tapi tadi... tadi dia kayak... kayak binatang."

Dia turun dari kasur dengan susah payah. Badannya sakit semua. Dia ambil baju terus pake cepet cepet. Keluar dari kamar.

Di ruang tamu, dia duduk di sofa sambil memeluk lututnya. Nangis keras sambil tubuh bergetar.

"Ya Allah... suamiku minum alkohol. Suamiku pulang mabuk. Suamiku paksa aku dengan kasar. Ya Allah... ini udah terlalu jauh. Ini udah kelewatan. Aku... aku nggak sanggup lagi."

Dia ambil wudhu terus sholat sunnawiyah. Di setiap sujud dia nangis keras.

"Ya Allah... tolong kembalikan suamiku. Tolong obatin hatinya yang udah sakit. Yang udah gelap. Yang udah jauh dari Engkau. Aku mohon ya Allah. Aku nggak kuat lagi. Tapi aku masih cinta sama dia. Aku masih mau pertahankan keluarga ini. Tolong ya Allah. Tolong..."

Pagi harinya, Zidan bangun dengan kepala pusing parah. Dia pegang kepala sambil duduk di kasur.

"Aduh... sakit banget kepala gue. Kemarin malam gue ngapain ya?"

Dia ngeliat ke samping. Kasurnya berantakan. Bantal jatuh ke lantai. Selimut acak acakan.

Dia coba inget inget. Tapi ingetannya blur. Yang dia inget cuma dia minum. Banyak. Terus pulang. Terus...

"Gue... gue ngapain sama Naura semalam?"

Dia keluar dari kamar. Naura lagi masak di dapur dengan wajah pucat. Mata sembab. Gerakannya lambat.

"Naura..."

Naura nggak noleh. Terus masak.

"Naura... semalam gue... gue ngapain?"

Naura diem sebentar. Terus jawab dengan suara pelan. "Mas minum alkohol. Terus pulang mabuk. Terus... terus paksa aku."

Zidan terdiam. Guilt langsung dateng. Dia inget sekilas. Inget dia paksa istrinya.

"Naura... maafin gue. Gue... gue nggak sadar. Gue mabuk. Gue nggak tau gue ngapain."

Naura akhirnya noleh. Matanya merah. Wajahnya basah air mata.

"Mas bilang cuma coba sekali. Tapi Mas mabuk. Mas pulang dengan bau alkohol. Mas paksa aku dengan kasar. Mas... Mas nggak kayak suamiku lagi."

"Naura... maafin gue. Gue janji nggak akan ulangin lagi. Gue nggak akan minum lagi."

"Mas udah berapa kali janji? Janji nggak akan bolong sholat. Tapi tetep bolong. Janji akan sedekah. Tapi nggak pernah sedekah. Janji nggak akan sombong. Tapi sekarang makin sombong. Sekarang Mas janji nggak akan minum lagi. Aku harus percaya?"

Zidan diem. Nggak bisa jawab.

"Aku lelah Mas. Lelah liat Mas berubah terus. Lelah ngingetin tapi nggak didengerin. Lelah nangis sendirian tiap malam. Aku... aku nggak tau harus gimana lagi."

Naura balik lagi masak. Nggak mau liat suaminya lagi.

Zidan berdiri di situ beberapa menit. Terus balik ke kamar. Mandi. Ganti baju. Keluar lagi.

"Gue berangkat."

Naura nggak jawab.

Zidan keluar rumah. Naik mobil Mercy silvernya. Ngebut pergi.

Di dalam mobil, dia pegang setir sambil mikir.

"Gue... gue emang keterlaluan semalam. Tapi... tapi itu gara gara mabuk. Bukan salah gue sepenuhnya. Lagian cuma sekali. Nggak akan gue ulangin."

Tapi janjinya itu cuma di mulut.

Karena seminggu kemudian, dia minum lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Sampai minum alkohol jadi kebiasaan.

Jadi hal yang biasa.

Jadi bagian dari hidupnya.

Dan setiap kali dia pulang mabuk, dia selalu paksa Naura.

Dengan kasar.

Tanpa cinta.

Tanpa kelembutan.

Dan Naura cuma bisa nangis.

Setiap malam.

Sambil doa.

Sambil berharap suatu hari suaminya akan sadar.

Akan balik.

Akan jadi Zidan yang dulu lagi.

Tapi harapan itu makin tipis.

Makin menghilang.

Sampai akhirnya...

Harapan itu mati.

Dan yang tersisa cuma rasa sakit.

Rasa sakit yang mendalam.

Yang nggak akan pernah hilang.

1
EMA
Semangat kk lanjut nya💪💪
aa ge _ Andri Author Geje: oke kak... bantu support lewat komentarnya ya😊
total 1 replies
Risnawati
lanjut.jngan lama2.nanti lupa
aa ge _ Andri Author Geje: oke kak aku lanjut
total 1 replies
Risnawati
lanjut lagi seru
aa ge _ Andri Author Geje: di tunggu nya
total 1 replies
Risnawati
lanjut.
Hj Nursidah
lanjutt
aa ge _ Andri Author Geje: di tunggu ya
total 1 replies
Hj Nursidah
lanjut dek
aa ge _ Andri Author Geje: oke kak.. bantu support lewat komentar nya ya
total 1 replies
Siti Yatmi
itu mah bodoh namanya ...
Umi Musringah: yg bikin ceritanya bodoh bikin di bodo tetap bertahan oon namanya
total 1 replies
Risnawati
lanjut kak
aa ge _ Andri Author Geje: ditunggu ya 😊
total 1 replies
EMA
Lanjut kk
aa ge _ Andri Author Geje: di tunggu ya😊
total 1 replies
Risnawati
masih lanjut ya.penasaran
aa ge _ Andri Author Geje: masih kak
total 1 replies
Risnawati
lanjutan nya mno
EMA
Lanjut
checangel_
Wassalam sudah /Facepalm/
checangel_
Istighfar Author dan Reader ... maaf ya Kak dua Bab cerita Kakak aku skip cepat /Pray/
aa ge _ Andri Author Geje: oke siap kembali ke mode awal
dari mode sugiono
total 5 replies
checangel_
Definisi setia yang bukan sebenarnya 🤣
checangel_
Begitulah perasaan sebagai seorang anak 🤧/Sob/
checangel_
Bentak aja terus/Drowsy/
Siti Yatmi
detik2 kehancuran Zidan..kayanya...dehhhh..syg amat dikasih harta banyak di sia siain
aa ge _ Andri Author Geje: itu lah orang kak baru di kasih mereka dikit lupa cangkang
total 1 replies
Siti Yatmi
ya Allah.. emang terkadang kekayaan itu malah menghancurkan, jarang ada yg bener2 bisa membuat keluarga tentram,, godaan kekayaan emang banyak,,salah satunya kaya Zidan,,belum lagi tergoda wanita,,,hemmmm
aa ge _ Andri Author Geje: real kak... itulah ujian allah
total 1 replies
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 🙏👍 teruntuk Author dan kisahnya
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!