NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Syakil masih duduk di sisi ranjang itu dan tak bergerak, seolah takut satu gerakan saja bisa membuat Pak Rahman kembali kehilangan kesadarannya. Tatapannya masih tertuju pada wajah lelaki tua itu, pada air mata ayah Arsy yang terus mengalir tanpa suara. Untuk beberapa detik, Syakil hanya diam. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang perlahan menekan dari dalam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Pak…” Syakil akhirnya membuka percakapan dengan suaranya yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian. “Kenapa Bapak menangis?”

Pak Rahman tidak langsung menjawab. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak stabil. Tangannya yang lemah bergerak sedikit di atas selimut rumah sakit, jemarinya gemetar. Syakil tanpa sadar mendekat, siap menekan bel perawat jika diperlukan, tapi Pak Rahman menggeleng pelan, seolah mengatakan bahwa ia masih sanggup untuk bicara.

“Aku…” suara Pak Rahman serak dan nyaris tak terdengar. “Aku hanya… sangat mengkhawatirkan masa depan anakku.”

Kata-kata itu keluar perlahan, namun bobotnya terasa berat. Syakil merasakan dadanya bergetar. Ada sesuatu dalam cara Pak Rahman mengucapkannya yang bukan sekadar kekhawatiran seorang ayah yang merasa sakit, tapi kecemasan yang baru saja dipendam, mungkin bahkan sebelum serangan jantung itu terjadi.

“Masa depan Arsy?” ulang Syakil lirih, tanpa sadar. Alisnya berkerut pelan. “Maksud bapak apa?”

Pak Rahman memejamkan matanya sebentar. Air matanya kembali jatuh. Wajahnya mengeras, seperti sedang menahan rasa sakit yang bukan berasal dari penyakit jantungnya.

“Arsy putriku, dia terlalu kuat untuk usianya,” ucap Pak Rahman dengan suara bergetar.

Kalimat itu menghantam Syakil tepat di dadanya. Gambaran Arsy yang berdiri di lorong rumah sakit, memaksa tersenyum, mengatakan bahwa ia baik-baik saja, kembali terlintas jelas di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Syakil merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang belakangnya. Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Ada luka yang belum ia ketahui.

“Pak…” Syakil menelan ludah. Suaranya kini lebih hati-hati, seolah ia sedang melangkah di atas tanah yang rapuh. “Apa… apa yang sebenarnya terjadi pada Arsy sampai bapak mengkhawatirkan masa depannya seperti ini?”

Pak Rahman membuka matanya perlahan. Tatapannya bertemu dengan tatapan Syakil. Untuk beberapa detik, mereka saling memandang. Ada kelelahan di mata Pak Rahman, tapi juga ada kesedihan yang dalam, kesedihan seorang ayah yang merasa gagal melindungi anaknya dari rasa sakit.

“Arsy…” Pak Rahman menghela napas panjang. “Arsy disakiti oleh orang yang paling ia percaya.”

Syakil membeku. Detak jantungnya terasa semakin keras di telinganya sendiri. Jemarinya mengencang tanpa sadar di atas lututnya. Ada firasat buruk yang tiba-tiba menampar kesadarannya dan membuat napasnya sedikit tertahan.

“Orang yang paling ia percaya?” ulang Syakil pelan dan membuat pak Rahman mengangguk kecil sementara air matanya kembali jatuh.

“Orang yang seharusnya melindunginya,” lanjut pak Rahman dengan suaranya yang lirih dan patah. “Orang yang seharusnya menjaga hatinya, bukan menghancurkannya.”

Syakil merasakan tenggorokannya mengering. Otaknya bekerja cepat, mencoba menyusun potongan-potongan yang selama ini tidak ia pahami. Tangisan Arsy yang tertahan. Ketegangan yang selalu ia lihat di wajah perempuan itu. Cara Arsy yang menutup rapat pintu hidupnya dan tidak memberi siapa pun kesempatan untuk masuk.

“Siapa orang itu, pak? Siapa yang sudah menyakiti perasaan Arsy dan membuat bapak jadi sakit seperti ini?” tanya Syakil dengan suaranya yang nyaris berbisik.

Pak Rahman memalingkan wajahnya sedikit ke samping, seolah sulit mengucapkan nama seseorang yang sudah menyakiti hati putrinya. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali menatap Syakil.

“Seharusnya… satu minggu lagi…” ucap pak Rahman dengan terputus-putus. “Satu minggu

lagi Arsy akan menikah.”

Kalimat itu menghantam Syakil seperti sambaran petir dan membuat dunia disekitarnya seolah berhenti berputar.

“Apa?” Syakil hampir tidak mengenali suaranya sendiri.

“Arsy akan menikah,” ulang Pak Rahman dengan lirih. “Dengan lelaki yang bernama Radit.”

Nama itu terasa asing sekaligus menyakitkan di telinga Syakil. Dadanya terasa seperti diremas keras. Ada sensasi panas yang menjalar cepat, membuat napasnya semakin berat. Selama ini, di kepalanya, Arsy selalu sendiri. Tidak ada orang lain. Tidak ada laki-laki lain di sisinya. Dan sekarang ia baru saja mengetahui bahwa perempuan yang ia cintai hampir menjadi istri orang lain.

“Tapi…” Syakil terdiam, lalu melanjutkan perkataannya dengan suara yang bergetar. “Bapak bilang seharusnya?”

Pak Rahman mengangguk pelan.

“Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi,” katanya lirih. “Karena Arsy mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh Radit.”

Kata perselingkuhan itu jatuh seperti palu godam di kepala Syakil. Untuk sesaat, keterkejutan membekukan seluruh tubuhnya. Otaknya seperti kosong. Hanya ada satu kalimat yang terus berputar di kepalanya:

Arsy diselingkuhi.

Lalu, perlahan rasa itu berubah. Dari syok menjadi sakit. Dari sakit menjadi panas. Dan dari panas menjadi kemarahan yang perlahan membakar perasaan Syakil.

“Dia…” suara Syakil terdengar rendah dan nyaris menggeram tanpa ia sadari. Rahangnya mengeras. “Radit menyelingkuhi Arsy?”

Pak Rahman mengangguk kecil, wajahnya penuh luka.

“Di saat hari pernikahan mereka sudah sangat dekat,” lanjut Pak Rahman lirih. “Di saat Arsy sudah menaruh seluruh hidup dan kepercayaannya pada lelaki itu, Radit tega menyelingkuhi Arsy dengan sahabat Arsy sendiri.”

Syakil mengepalkan tangannya. Urat di rahangnya menegang jelas. Dadanya terasa sesak oleh amarah yang mendadak begitu besar. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ada laki-laki yang tega menyakiti Arsy seperti itu? Perempuan yang begitu lembut, begitu kuat, begitu setia. Perempuan yang bahkan dalam kehancurannya masih memikirkan orang lain .

Syakil menunduk, menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan gejolak emosi yang ingin meledak. Namun semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kuat kemarahan itu tumbuh di dalam hatinya.

Laki-laki itu berani menyakiti Arsy dan untuk itu, Syakil tidak akan pernah membiarkan Radit hidup tenang setelah apa yang ia lakukan kepada Arsy.

Syakil masih menunduk, berusaha mengendalikan napasnya yang terasa berat. Kepalan tangannya perlahan mengendur, meski amarah itu belum benar-benar pergi. Ada sesuatu yang bergolak hebat di dadanya, campuran antara sakit, marah, dan rasa bersalah karena ia tidak ada di sisi Arsy saat semua itu terjadi. Tanpa berkata apa pun, Syakil mengangkat pandangannya sedikit. Tatapannya tidak tertuju pada Pak Rahman kali ini, melainkan ke arah pintu ruang IGD.

Di sana, Omar berdiri dalam diam. Sejak tadi, asisten setianya itu tidak ikut bicara. Omar berdiri beberapa langkah dari pintu, bersandar pada dinding, seolah keberadaannya hanya bayangan. Namun ketika tatapan Syakil bertemu dengannya, Omar langsung mengerti. Ia meluruskan tubuhnya, mengangguk pelan dan nyaris tak terlihat lalu melangkah mundur perlahan agar tidak menarik perhatian Pak Rahman. Tangannya sudah merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel bahkan sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan.

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!