NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6:Sebelum tahu segalanya

Sejak malam di Kamar 7 itu, hubunganku dengan Kak Qasrina menjadi semakin akrab. Sebagai adik bungsu di kamar tersebut, aku merasa seolah mendapatkan sebuah 'perlindungan' khusus. Bahkan, Kak Qasrina mulai memberikan hak istimewa kepadaku yang tidak didapatkan oleh anak asrama lainnya.

"Hanie, nanti setelah jam belajar malam(prep), jangan kemana-mana . Langsung ke kamar Kakak, ya. Kita makan mi instan sama-sama," bisik Kak Qasrina sore itu di koridor sekolah.

Aku tersenyum bangga. Di sekolah, aku adalah Hanie yang dihina oleh Arif dan dijadikan pesuruh oleh Syasya. Namun di asrama, aku adalah 'adik kesayangan' Kak Qasrina. Perasaan itu membuatku merasa sedikit lebih kuat untuk menghadapi dunia kelas yang menyesakkan.

Saat istirahat, aku duduk semeja dengan Syasya dan Hilya. Aku menyadari cara mereka memandangku sudah mulai berubah. Ada sedikit rasa tidak puas hati yang tersirat di balik senyuman mereka.

Hanie..setelah dekat dengan Kakak kelasmu itu kami pun sudah jarang kau tegur di asrama," Syasya memulai pembicaraan, nadanya terdengar sinis meskipun dia sedang menyuap nasi.

"Enggak kok. Aku cuma bantu Kak Qasrina merapikan kamar tadi," balasku, mencoba membela diri.

Hilya meletakkan sendoknya dengan bunyi yang agak keras. "Bantu merapikan kamar, atau bantu jadi 'radio' menyampaikan cerita kelas kepadanya? Kamu jangan macam-macam, Hanie. Senior itu kelihatannya saja baik, tapi kalau kamu salah langkah, kamu sendiri yang akan kena batunya nanti."

Aku terdiam. Aku tidak paham mengapa mereka harus bersikap begitu. Apakah mereka cemburu karena aku mendapat perhatian dari senior sehebat Kak Qasrina? Ataukah mereka takut rahasia mereka yang aku tak tahu terbongkar?

"Kami menasihati karena kami sahabatmu, Hanie. Jangan sampai nanti kamu menangis mencari kami saat 'kakak' kesayanganmu itu berulah," sambung Syasya lagi sebelum mereka berdua bangkit meninggalkan aku di meja makan.

Aku terpaku. Baru kemarin mereka mengajakku masuk ke dalam kelompok mereka karena ingin 'melindungi' aku, tapi hari ini mereka seolah-olah ingin menjauhkanku dari satu-satunya orang yang benar-benar mendengarkan keluh kesahku.

Aku mengeluarkan cermin kecil dari saku. Kupandangi wajahku sendiri. Aku bingung. Di sekolah aku dirundung laki-laki, di asrama aku mulai dikucilkan teman sebaya, dan hanya Kak Qasrina yang ada untukku.

Aku tidak sadar, saat itu aku sedang ditarik masuk ke dalam sebuah permainan 'tarik ulur' antara teman sebaya dan senior. Dan aku, Nur Hanie, hanyalah bidak catur yang sedang diperhatikan oleh semua pihak.

Sore itu, langit di atas asrama tampak mendung, seolah memahami gelora yang sedang berkecamuk di dalam dadaku. Kata-kata Syasya dan Hilya tadi bukan sekadar angin lalu; itu adalah peringatan yang berbalut ancaman. Aku berjalan gontai menuju ruang belajar, namun pikiranku melayang jauh.

Apakah benar Kak Qasrina memiliki agenda tersembunyi? Ataukah Syasya dan Hilya sebenarnya merasa terancam karena 'budak' yang sering mereka manfaatkan kini sudah memiliki pelindung yang lebih berkuasa?

Sepanjang waktu belajar mandiri, aku tidak bisa fokus. Buku pelajaran di depanku hanyalah lembaran kertas tanpa makna saat aku tidak merasa tenang. Dari sudut mata, aku bisa melihat Syasya dan Hilya sesekali berbisik sambil melirik ke arahku. Mereka tertawa kecil, jenis tawa yang membuat bulu kudukku berdiri—sinis dan penuh muslihat.

Tiba-tiba, secarik nota kecil disodorkan ke atas mejaku oleh seorang siswa kelas satu yang duduk di barisan depan.

“Jangan lupa janji kita. Kakak tunggu.” – Q.

Jantungku berdegup kencang. Nota itu ringkas, namun dalam situasi sekarang, ia terasa seperti undangan ke dalam zona perang. Aku melipat nota itu rapi dan menyimpannya di saku baju kurungku. Aku tahu, jika aku memilih untuk ke kamar Kak Qasrina, jurang antara aku dan Syasya akan semakin lebar. Namun, jika aku tidak pergi, aku akan kehilangan satu-satunya tempat untuk bersandar.

Setelah waktu belajar usai, aku tidak langsung pulang ke kamar seperti biasa. Kubiarkan Syasya dan Hilya berlalu dengan lirikannya yang tajam. Aku menarik napas panjang sebelum melangkah ke arah Kamar 7—kamar senior.

Suasana di Kamar 7 jauh berbeda dengan kamarku yang bising dan sesak. Di sini, aromanya harum karena semprotan penghuni kamar dan suasananya lebih tenang. Kak Qasrina sedang duduk di atas tempat tidurnya, membelakangi pintu.

"Hanie... sampai juga akhirnya. Kakak kira Hanie sudah takut bertemu Kakak karena teman-temanmu itu," kata Kak Qasrina tanpa menoleh. Dia seolah memiliki indra keenam.

"Mana ada, Kak... Hanie cuma merapikan barang sedikit tadi," jawabku pelan sambil duduk di lantai, di samping tempat tidurnya.

Kak Qasrina berbalik. Dia tersenyum, namun matanya tampak tajam. Dia mulai menyalakan pemanas air untuk memasak mi instan. Bau bumbu kari mulai memenuhi ruangan.

"Hanie tahu tidak mengapa Syasya dan Hilya tidak suka Hanie dekat dengan Kakak?" tanya Kak Qasrina sambil mengaduk mi di dalam mangkuk plastik.

Aku menggeleng. "Kata mereka... Kakak mungkin punya niat lain. Mereka bilang Hanie harus berhati-hati."

Kak Qasrina tertawa kecil. Tawanya terdengar elegan namun dingin. "Mereka takut, Hanie. Mereka takut Hanie sadar bahwa Hanie sebenarnya lebih kuat dari apa yang mereka duga. Mereka butuh Hanie untuk terlihat 'besar'. Kalau Hanie sudah tidak butuh mereka, siapa lagi yang akan mereka rundung secara halus?"

Kata-kata Kak Qasrina meresap ke dalam sanubariku. Ada benarnya. Selama ini, aku hanya menjadi bayang-bayang mereka. Aku yang membantu membelikan makanan di kantin, aku yang menyiapkan catatan ringkas, dan aku yang menjadi bahan candaan mereka saat mereka bosan.

"Hanie harus memilih," sambung Kak Qasrina lagi sambil menyodorkan mangkuk mi instan yang mengepul kepadaku. "Mau terus jadi pesuruh mereka, atau mau berdiri di bawah perlindungan Kakak? Di sini, tidak ada yang berani menyentuh Hanie. Bahkan Arif atau Syasya sekalipun."

Malam itu, dalam kehangatan mi instan yang kami bagi bersama, aku merasakan sebuah ikatan aneh mulai terbentuk. Kak Qasrina mulai bercerita tentang sejarah asrama ini, tentang bagaimana dia juga pernah berada di posisiku—dihina dan dipinggirkan. Dia memberitahuku rahasia-rahasia kecil tentang guru dan senior lainnya, seolah dia sedang mempersiapkanku untuk sebuah peperangan yang aku sendiri belum melihatnya.

Namun, di balik kebaikan itu, aku menyadari sesuatu. Kak Qasrina sangat gemar bertanya tentang latar belakang keluarga Syasya dan apa yang sering Syasya lakukan di luar jam sekolah. Dia seolah-olah sedang mengumpulkan 'amunisi'.

"Hanie sayang Kakak, kan?" tanyanya tiba-tiba, memutus lamunanku.

"Sayang, Kak. Hanya Kakak yang paham Hanie," balasku jujur.

"Kalau begitu, Kakak ingin Hanie melakukan sesuatu untuk Kakak. Kecil saja. Bisa?"

Aku terpaku. Inilah saatnya. Saat di mana 'perlindungan' itu mulai menuntut bayarannya. Aku menatap mata Kak Qasrina. Di sana, aku tidak melihat kasih sayang seorang kakak, melainkan seorang predator yang sedang menunggu mangsanya melakukan kesalahan.

Aku sadar, aku kini berada di persimpangan jalan. Di sebelah kiri adalah Syasya yang beracun secara terang-terangan, dan di sebelah kanan adalah Kak Qasrina yang penuh misteri dan manipulasi.

"Apa itu, Kak?" suaraku hampir tidak terdengar.

Kak Qasrina mendekat ke telingaku. Bisikannya terasa dingin. "Akhir pekan ini, Syasya mau keluar izin (outing), kan? Kakak ingin Hanie pastikan ponselnya tertinggal di dalam kamar. Bisa?"

Duniaku terasa gelap seketika. Itu bukan permintaan biasa. Itu adalah sebuah sabotase. Jika aku melakukannya, aku akan mengkhianati temanku sendiri. Namun jika aku menolak, aku akan kehilangan 'perisai' yang baru saja kudapatkan.

Aku keluar dari Kamar 7 dengan langkah berat. Di koridor yang sunyi, aku melihat bayanganku di jendela kaca. Nur Hanie yang dulu penakut kini sedang berubah menjadi sesuatu yang dia sendiri tidak kenali.

Apakah ini harga sebuah perlindungan? Menjadi pengkhianat demi kelangsungan hidup? Aku kembali ke kamarku, melihat Syasya dan Hilya yang sudah terlelap. Di bawah bantal Syasya, ponselnya terselip sedikit.

Aku berdiri di sana, membeku dalam dilema. Episode hidupku di asrama ini tampaknya bukan lagi tentang belajar, melainkan tentang bagaimana agar tidak mati ditelan oleh mereka yang menyebut diri mereka 'teman'.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!