NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Kedekatan yang Salah

Jumat malam, seminggu setelah Reyhan memberi Alya bunga pertamanya, kehidupan mereka semakin terasa seperti keluarga sungguhan.

Reyhan pulang pukul enam sore lebih awal dari biasanya dengan wajah lelah tapi mata tetap berbinar. Begitu pintu terbuka, Arka langsung berlari menghampirinya.

“Ayah! Hari ini aku dapat nilai sempurna di ulangan matematika!” seru Arka sambil menunjukkan kertas ujiannya dengan bangga.

Reyhan mengangkat Arka dengan mudah gerakan yang sudah mulai terbiasa. “Wah! Anak Ayah memang pinter! Tos dulu!”

Mereka ber-high-five dengan antusias, lalu Reyhan menurunkan Arka kembali.

“Mama lagi masak apa?” tanya Reyhan sambil melepas sepatu dan jasnya.

“Mama lagi masak sop ayam! Kesukaan aku sama Ayah!” jawab Arka riang.

Reyhan tersenyum, lalu berjalan ke dapur. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat Alya.

Alya berdiri di depan kompor dengan apron bermotif bunga kecil, rambutnya diikat ponytail asal, sedikit keringat di dahi. Tapi di mata Reyhan, ia terlihat sangat cantik. Sangat… menggoda.

Sejak kapan aku mikir kayak gini? batin Reyhan sambil menggeleng pelan.

Alya menoleh dan tersenyum melihatnya. “Rey, kamu pulang! Ayo cuci tangan dulu, makanan sebentar lagi siap.”

“Oke.” Reyhan berjalan ke wastafel sengaja melewati Alya dengan jarak sangat dekat.

Alya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Aroma cologne Reyhan yang samar bercampur bau sop ayam entah kenapa membuat kepalanya sedikit pusing.

“Alya,” panggil Reyhan tiba-tiba sambil mengeringkan tangannya.

“Ya?”

“Aku… boleh bantu sesuatu?”

Alya melirik kompor yang masih menyala. “Hmm… kamu bisa aduk sop-nya sebentar? Aku mau ambil mangkuk.”

“Siap.”

Reyhan berdiri di samping Alya sangat dekat dan mengambil alih sendok kayu.

Mereka berdua diam. Hanya suara gemericik air mendidih dan sesekali bunyi sendok menyentuh panci. Tapi jarak mereka… terlalu dekat untuk disebut sopan. Bahu mereka bersentuhan. Napas mereka terasa di kulit masing-masing.

Alya merasakan pipinya memanas. “Rey… kamu terlalu deket.”

Reyhan menoleh. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. “Aku nggak bisa mundur. Nanti aku tabrak kulkas.”

Alya melirik ke belakang memang benar, Reyhan terjepit antara kompor dan kulkas.

“Terus… aku yang mundur dong,” gumam Alya sambil mencoba bergerak.

Tapi tiba-tiba Reyhan memegang pergelangan tangannya lembut, tapi cukup kuat untuk menghentikan gerakannya.

“Jangan,” bisik Reyhan dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Alya berdiri. “Aku… suka kamu di deket aku.”

Jantung Alya seperti berhenti sejenak.

Ia mengangkat wajah, menatap mata cokelat gelap Reyhan yang menatapnya dengan intensitas yang membuatnya sulit bernapas.

“Rey…”

“Alya, aku”

“MAMA! AYAH! AKU LAPER!” teriak Arka dari ruang makan.

Mereka berdua tersentak, langsung menjauh dengan cepat, canggung, wajah masing-masing memerah.

Reyhan berdehem. “A-aku… ambil piring.”

“I-iya… aku angkat sop-nya,” jawab Alya dengan suara bergetar.

Mereka bergerak kikuk seperti remaja yang baru pertama kali berduaan.

Dan Arka yang sebenarnya sudah berdiri di ambang pintu dapur sejak tadi hanya tersenyum lebar sambil menahan tawa.

Mama sama Ayah… aneh, pikirnya geli.

Pukul delapan malam

Setelah makan malam, Arka langsung naik ke kamar untuk mandi dan bersiap tidur. Alya membereskan meja makan sementara Reyhan mencuci piring pembagian tugas yang sudah mereka lakukan seminggu terakhir.

Mereka bekerja dalam diam, tapi bukan diam yang nyaman seperti biasanya. Ada ketegangan di udara. Sesuatu yang tak terucap, tapi sangat terasa.

“Alya,” panggil Reyhan sambil terus mencuci piring.

“Ya?”

“Tadi… maaf kalau aku terlalu deket.”

Alya berhenti melap meja. “Nggak apa-apa kok.”

“Tapi kamu… kelihatan nggak nyaman.”

“Bukan nggak nyaman,” bantah Alya cepat. “Cuma… gugup.”

Reyhan berhenti mencuci, menoleh menatap Alya. “Gugup kenapa?”

Alya merasakan pipinya memanas lagi. “Karena… karena kamu terlalu deket. Dan aku… aku jadi… nggak bisa mikir jernih.”

Hening.

Lalu Reyhan tersenyum senyum nakal yang jarang sekali muncul. “Jadi… aku bikin kamu gugup?”

“R-Rey! Jangan nakal!” protes Alya sambil melempar lap kecil ke arah Reyhan.

Reyhan menangkapnya dengan mudah, lalu tertawa tawa yang membuat Alya semakin gugup sekaligus senang.

“Maaf, maaf,” kata Reyhan sambil mengangkat kedua tangan dalam pose menyerah. “Aku cuma… seneng aja. Ternyata aku masih bisa bikin kamu gugup.”

“Kamu… menyebalkan,” gumam Alya sambil kembali melap meja, meski tak bisa menyembunyikan senyumnya.

Reyhan berjalan mendekat perlahan sampai ia berdiri di belakang Alya.

“Alya.”

Alya berhenti melap, tapi tak menoleh. “Ya?”

“Aku… pengen bilang sesuatu.”

Jantung Alya berdegup kencang. “Bilang apa?”

Reyhan menarik napas dalam. “Aku… mulai nggak bisa berhenti mikirin kamu.”

Alya merasakan napasnya tercekat.

“Setiap hari, di kantor, di meeting, di mana aja… aku selalu mikirin kamu. Mikirin kamu lagi ngapain. Mikirin kamu udah makan belum. Mikirin… kapan aku bisa pulang buat lihat kamu lagi.”

Alya berbalik perlahan, menatap Reyhan yang berdiri sangat dekat dengannya.

“Rey…”

“Aku tahu ini terlalu cepat,” lanjut Reyhan dengan suara pelan tapi tegas. “Aku tahu kita baru beberapa minggu jadi keluarga beneran. Tapi… Alya, aku nggak bisa bohong lagi. Aku… jatuh cinta sama kamu. Lagi.”

Air mata Alya menggenang. “Rey… kamu serius?”

“Sangat serius.” Reyhan mengangkat tangannya, mengusap pipi Alya dengan lembut. “Aku jatuh cinta sama senyum kamu. Sama cara kamu ngomong. Sama cara kamu jaga Arka. Sama… semua tentang kamu.”

“Tapi… tapi bagaimana kalau”

“Nggak ada bagaimana kalau,” potong Reyhan lembut. “Aku udah yakin. Aku pengen kamu jadi istri aku yang beneran. Bukan istri kontrak. Bukan istri karena tanggung jawab. Tapi istri yang aku cintai.”

Alya tak bisa menahan air matanya lagi. “Aku… aku juga jatuh cinta sama kamu, Rey. Tapi aku takut…”

“Aku tahu kamu takut,” bisik Reyhan sambil menarik Alya ke dalam pelukannya. “Dan aku nggak akan maksa kamu buat percaya sepenuhnya sekarang. Tapi biarkan aku… buktiin setiap hari kalau aku serius. Biarkan aku buktiin kalau aku nggak akan pergi lagi.”

Alya menangis di pelukan Reyhan tangisan penuh lega, bahagia, dan harap.

“Oke,” bisiknya pelan. “Aku… aku percaya sama kamu.”

Reyhan melepaskan pelukan, menatap wajah Alya dengan lembut. Lalu perlahan, sangat perlahan, ia membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Alya.

Jantung Alya berdegup sangat kencang. Dia mau… dia mau cium aku?

Tapi tepat ketika bibir mereka hampir menyentuh

“MAMA! AYAH! AKU BUTUH HANDUK!”

Mereka berdua tersentak, langsung menjauh dengan cepat.

Reyhan berdehem keras, wajahnya merah padam. “A-aku… aku ambil handuk.”

“I-iya… terima kasih,” jawab Alya dengan suara bergetar.

Reyhan berlari hampir terpeleset menuju lemari linen.

Alya berdiri sendirian di dapur dengan wajah merah dan jantung yang masih berdebar keras.

Kita hampir… hampir ciuman…

Pukul sepuluh malam

Setelah Arka tidur, Reyhan dan Alya kembali ke kamar masing-masing masih terpisah seperti minggu-minggu sebelumnya.

Alya berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit dengan pikiran penuh.

Dia bilang dia jatuh cinta sama aku.

Dia hampir menciumku.

Dan aku… aku menginginkannya.

Pipinya memanas lagi mengingat momen tadi.

Di kamar seberang, Reyhan duduk di tepi ranjang dengan wajah frustrasi.

Kenapa aku hampir cium dia di dapur?! Itu tempat paling nggak romantis!

Harusnya aku tunggu momen yang lebih pas…

Ia menatap ponselnya, ingin mengirim pesan pada Alya, tapi bingung harus menulis apa.

Akhirnya ia mengetik:

[Reyhan]: Maaf tadi aku… terlalu lancang. Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman.

Tiga titik muncul Alya mengetik.

[Alya]: Nggak apa-apa kok. Aku… sebenernya nggak nggak nyaman.

Reyhan tersenyum membaca pesan itu.

[Reyhan]: Jadi… kamu nyaman?

[Alya]: Iya… cuma gugup aja.

[Reyhan]: Aku juga gugup. Tanganku sampai keringetan tadi.

Alya tertawa pelan membaca pesan itu. Ia mengetik:

[Alya]: Rey… terima kasih ya.

[Reyhan]: Buat apa?

[Alya]: Buat… bilang perasaan kamu dengan jujur. Buat nggak bohong lagi. Buat… bikin aku merasa dicintai.

Reyhan merasakan dadanya hangat.

[Reyhan]: Aku akan selalu jujur sama kamu mulai sekarang. Janji. Dan Alya… kamu ADALAH cintaku. Sangat cinta.

Air mata Alya jatuh, tapi kali ini air mata bahagia.

[Alya]: Aku juga sayang kamu, Rey.

Reyhan tersenyum lebar senyum terlebar yang pernah ia buat.

[Reyhan]: Selamat malam, sayang. Mimpi indah.

[Alya]: Selamat malam, Rey. Kamu juga.

Mereka berdua meletakkan ponsel, lalu berbaring dengan senyum di wajah.

Dan malam itu, meskipun mereka tidur di kamar terpisah, hati mereka sudah tak terpisah lagi.

Sabtu pagi

Pagi harinya, Alya bangun dengan perasaan ringan seperti beban berat yang selama ini ia pikul tiba-tiba terangkat.

Ia turun ke dapur dan menemukan Reyhan sudah membuat sarapan. Kali ini pancake yang bentuknya… aneh, tapi tidak gosong.

“Rey… ini pancake?” tanya Alya sambil menahan tawa.

“Iya. Aku coba bikin bentuk hati, tapi… gagal.” Reyhan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Alya tertawa tawa yang membuat Reyhan ikut tersenyum.

“Tapi usahanya patut diapresiasi,” kata Alya sambil memeluk Reyhan dari samping pelukan spontan yang membuat Reyhan membeku sejenak.

Lalu perlahan, ia membalas pelukan itu, menarik Alya lebih dekat, membenamkan wajahnya di rambut Alya yang wangi sampo.

“Aku suka kayak gini,” bisiknya pelan.

“Aku juga.”

Mereka berdiri seperti itu, berpelukan di dapur dengan pancake bentuk aneh di piring, sampai Arka turun dan berteriak:

“MAMA! AYAH! KALIAN MESRA BANGET! AKU MAU IKUTAN!”

Lalu Arka berlari dan memeluk kaki mereka berdua, membuat pelukan bertiga yang hangat dan penuh tawa.

Dan pagi itu, di dapur sederhana dengan pancake bentuk gagal, mereka merasakan sesuatu yang selama ini hilang.

Kebahagiaan yang utuh.

Cinta yang tulus.

Keluarga yang sempurna.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!