Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan para pengkhianat
Seminggu di Singapura bukan digunakan untuk bulan madu, melainkan untuk mengasah taring. Di bawah bimbingan instruktur yang disiapkan Elias, Selena belajar bukan hanya cara membela diri, tetapi cara membaca data satelit yang kini mengalir dalam akses biometriknya. Setiap kali ia menyentuh layar pemindai, ia merasa seolah-olah seluruh dunia berada di bawah jemarinya.
Namun, pengakuan Bhanu tentang rahasia genetik itu tetap menjadi duri dalam daging. Meski mereka kini tampil sebagai pasangan paling berpengaruh, ada jarak yang tak terlihat setiap kali mereka bersentuhan.
"Kita akan kembali ke Jakarta besok," ucap Bhanu di ruang makan pribadi. "Alya Cendana sedang menggalang kekuatan dengan sisa-sisa pengikut ayahmu di sebuah hotel mewah di pusat kota. Mereka pikir kita masih bersembunyi di sini."
"Jangan hanya menyerang, Bhanu," potong Dahayu sambil menyesap kopinya. "Kita harus menghancurkan reputasi mereka terlebih dahulu. Jika kita hanya membunuh mereka, mereka akan menjadi martir. Tapi jika kita membuat mereka terlihat seperti pecundang yang bangkrut, mereka tidak akan pernah bisa bangkit lagi."
Selena meletakkan tabletnya. "Aku punya ide yang lebih baik. Biarkan mereka mengadakan pesta kemenangan malam ini. Aku akan meretas sistem pencahayaan dan layar utama hotel mereka menggunakan akses satelitku. Kita akan memutar rekaman pengakuan Renggana tentang rencana pengkhianatan Alya kepada para investornya."
Bhanu menatap Selena dengan senyum tipis—campuran antara bangga dan waspada. "Kau benar-benar sudah belajar cepat, Selena."
Malam itu, di Ballroom Hotel Grand Jakarta, Alya Cendana berdiri dengan bangga. Ia mengenakan mahkota kecil, merasa seolah-olah tahta Vandana sudah dalam genggamannya. Di sampingnya, ayah Selena—Bapak Arunika—tampak gugup namun mencoba tetap terlihat berwibawa.
"Malam ini, kita merayakan berakhirnya era tirani Vandana!" teriak Alya kepada para pemegang saham dan tokoh politik yang hadir.
Tiba-tiba, lampu ballroom padam total. Suasana menjadi riuh rendah dengan kepanikan. Detik berikutnya, layar raksasa di belakang panggung menyala, menampilkan video kualitas tinggi. Itu adalah rekaman di dermaga malam itu, saat Renggana mengakui bahwa Alya hanyalah pion yang digunakan untuk menghancurkan stabilitas ekonomi demi keuntungan pribadi.
Suara Selena menggema di seluruh sound system hotel melalui transmisi satelit.
"Selamat malam, para hadirin. Saya Selena Arunika Vandana. Seperti yang kalian lihat, kesetiaan di ruangan itu semurah harga segelas sampanye yang kalian minum."
Pintu ballroom terbuka lebar. Cahaya lampu sorot dari luar masuk dengan dramatis, menampilkan siluet tiga orang: Bhanu, Selena, dan Dahayu. Mereka berjalan masuk dengan langkah yang sinkron, membelah kerumunan yang kini terdiam karena takut.
Selena berjalan lurus ke arah ayahnya. Pria paruh baya itu gemetar, tidak sanggup menatap mata putrinya.
"Ayah," ucap Selena lembut, namun nadanya sedingin es di kutub. "Terima kasih sudah menjualku. Karena tanpa pengkhianatanmu, aku tidak akan pernah tahu bahwa aku punya kekuatan untuk membeli seluruh hidupmu kembali."
Selena melemparkan selembar dokumen ke depan ayahnya. "Itu adalah sertifikat kebangkrutan seluruh aset Arunika. Aku sudah membelinya lewat pasar gelap pagi ini menggunakan dana taktis Vandana. Ayah sekarang bekerja untukku, atau Ayah tidak punya tempat tinggal mulai besok pagi."
Alya Cendana berteriak histeris, mencoba menerjang Selena, namun dengan gerakan yang sudah terlatih, Selena menangkap pergelangan tangan Alya dan memelintirnya hingga wanita itu jatuh berlutut.
"Jangan pernah sentuh aku lagi dengan tangan kotormu," desis Selena.
Bhanu berdiri di samping Selena, menatap para pemegang saham yang hadir. "Siapa pun di ruangan ini yang masih berpihak pada Alya Cendana, silakan keluar sekarang. Tapi ingat satu hal: mulai detik ini, siapa pun yang menjadi musuh Selena, berarti menjadi musuh Alka Bhanu Vandana."
Setelah kekacauan itu mereda dan Alya dibawa pergi oleh pihak keamanan, mereka kembali ke markas besar Vandana yang kini sudah dibersihkan. Di dalam lift menuju lantai teratas, Dahayu tiba-tiba menerima sebuah panggilan telepon yang membuatnya terhenti.
Wajah Dahayu berubah tegang. Ia melirik Bhanu dan Selena yang sedang berdiri berdampingan.
"Ada apa, Dahayu?" tanya Bhanu curiga.
"Kakek Elias..." suara Dahayu bergetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Dia ditemukan meninggal di kediamannya di Singapura. Serangan jantung mendadak."
Bhanu dan Selena saling bertukar pandang. Kematian Elias terlalu kebetulan di saat mereka baru saja merebut kekuasaan di Jakarta.
"Bukan serangan jantung," gumam Selena sambil menatap layar ponselnya yang baru saja menerima notifikasi dari sistem biometriknya. "Sistem keamanannya di-nonaktifkan dari dalam. Seseorang menggunakan kode biometrik yang sangat mirip denganku."
Selena menoleh ke arah Dahayu. "Dahayu, siapa orang misterius yang kau kirimi pesan sejak kita di Singapura?"
Dahayu terdiam, lift berdenting terbuka. Di depan mereka, di ruang kerja utama, duduk seorang pria yang sangat mirip dengan Bhanu, namun dengan bekas luka panjang di lehernya. Pria yang selama ini dianggap sudah mati dalam kebakaran panti asuhan belasan tahun lalu.
"Selamat datang kembali, Saudaraku," ucap pria itu.
Bhanu mengepalkan tangannya. "Alka Raka Vandana? Kau masih hidup?"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...