NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

"Maksud kamu tadi apa? Memangnya Irsyad bilang apa?"

Arya menoleh sejenak, seolah berpikir, tapi kemudian menggeleng. "Nggak penting. Ayo masuk, dokter sudah datang. Kamu harus diperiksa."

Raya menatapnya dalam, seolah ingin tahu lebih. Tapi Arya buru-buru mengalihkan pandangan dan menggandengnya pergi, menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Saat sampai di dalam rumah, langkah kaki Raya terasa lebih berat dari sebelumnya. Hatinya masih diliputi rasa bersalah dan gundah, tapi ia tetap mengikuti Arya memasuki ruang tengah.

Begitu mereka melewati ambang pintu, tampak Bu Atika dan Pak Harun tengah duduk dengan wajah cemas. Di samping mereka, seorang wanita seusia Bu Atika berdiri dengan elegan. Rambutnya tersanggul rapi, wajahnya tenang dan penuh wibawa, dan ia mengenakan jas putih khas seorang dokter. Di saku jasnya tertulis jelas dr. Santi.

Bu Atika berdiri lebih dulu begitu melihat mereka datang. Wajahnya yang semula tegang langsung melunak. "Alhamdulillah... akhirnya kalian pulang juga," ucapnya lega sambil menghampiri Raya dan menggenggam tangannya erat.

Raya segera menunduk dan berucap lirih, "Maaf, Bu... Saya tidak bermaksud membuat semua orang khawatir."

Pak Harun bangkit menyusul. "Bi Tati menelpon kami, katanya kamu nggak ada di kamar, dan setelah dicari juga nggak ketemu. Kami langsung pulang dari acara."

"Kami benar-benar khawatir, Nak," sambung Bu Atika, nada suaranya lembut namun mengandung kegelisahan yang belum sepenuhnya hilang.

Arya menatap ibunya, lalu berkata dengan tenang, "Tadi Raya hanya ingin menenangkan diri di taman bunga. Dia nggak pergi ke mana-mana."

Pak Harun mengangguk, lalu menoleh ke arah wanita di sampingnya. "Raya, kenalkan. Ini dr. Santi. Beliau dokter pribadi keluarga kita, sekaligus sahabat lama Ibu."

Dokter Santi melangkah maju, tersenyum hangat. "Senang bertemu denganmu, Raya. Aku tahu ini mungkin situasi yang membuatmu sedikit tertekan, tapi percayalah, semua orang di rumah ini sangat peduli padamu."

Raya tersenyum malu, lalu menyambut uluran tangan dokter itu. "Terima kasih, Dok..."

"Bukan hanya dokter, lho," kata Bu Atika sambil tertawa kecil. "Dokter Santi ini juga yang dulu merawat Ibu waktu mengandung Arya."

"Dan lihat sekarang, Arya sudah segede ini, masih saja suka bikin deg-degan," goda Dokter Santi sambil melirik Arya.

Arya hanya mengangkat alis dan tersenyum tipis, "Sudah tugas saya menjaga yang penting-penting, kan, Dok?"

Dokter Santi tertawa kecil, lalu memandang Raya dengan tatapan penuh empati. "Kalau kamu sudah siap, kita periksa sebentar ya. Biar kita pastikan semuanya sehat, baik kamu maupun bayi di kandungan."

Raya mengangguk pelan. "Saya siap, Dok."

"Bagus. Kita bisa ke ruang sebelah ya, Bu Atika?"

"Iya, sudah disiapkan dari tadi," jawab Bu Atika sambil menggiring Raya dan Dokter Santi menuju ruangan.

Sebelum masuk, Raya sempat menoleh ke belakang. Tatapannya bertemu sejenak dengan Arya. Pria itu hanya mengangguk pelan, seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hati Raya menghangat, meski tetap ada gemuruh yang tak bisa dijelaskan.

Arya lalu duduk di sofa, sementara Pak Harun menghampirinya dan menepuk bahunya.

"Kamu memang terlihat lebih dewasa sekarang, Arya. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, perempuan hamil itu lebih sensitif dari biasanya. Jadi jaga dia baik-baik, ya. Jangan buat dia marah atau ngambek kayak tadi."

Arya menoleh ke arah Ayahnya dengan alis terangkat sebelah, "Ngambek?" tanya Arya mengulang perkataan Ayahnya.

"Iya, Ayah tahu, Raya ke belakang itu bukan karena ingin menenangkan diri tapi karena lagi ngambek. Mungkin kau tidak mengerti maunya. Tapi itu sudah hal yang lumrah bagi Ibu hamil. Mamamu juga dulu kayak gitu, heheheh."

Arya sedikit terdiam, lalu menjawab dengan suara rendah, "Iya Yah. Saya akan lebih banyak mengalah."

Pak Harun tersenyum, lalu duduk kembali di samping Bu Atika. "Untung saja kamu cepat pulang. Kalau tidak, mungkin Mamamu sudah keliling kompleks nyariin Raya."

Arya menatap ibunya. Bu Atika mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. "Iya, soalnya... entah kenapa, Mama merasa sudah sangat sayang sama anak itu. Ada sesuatu yang bikin hati ini langsung klik."

Ucapan itu membuat hati Arya mencelos. Ia tahu ibunya tulus, tapi dalam hatinya muncul rasa bersalah yang kembali menusuk.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Raya keluar bersama Dokter Santi.

"Syukurlah, semua baik," ujar Dokter Santi sambil tersenyum. "Tekanan darah stabil, detak jantung janin normal. Hanya sedikit stres ringan, tapi masih wajar."

Bu Atika langsung menghampiri Raya dan memeluknya pelan. "Alhamdulillah... Ibu senang mendengarnya."

Pak Harun juga mengangguk puas. "Terima kasih, Dokter."

"Senang bisa bantu," sahut Dokter Santi. Ia lalu berpamitan, dan sebelum pergi, sempat berbisik pada Bu Atika, "Anak ini terlihat punya beban. Tapi dia kuat."

Setelah dokter pergi, suasana kembali tenang. Bu Atika memeluk Raya sekali lagi sebelum berkata, "Ayo, Nak. Istirahat, ya. Jangan banyak pikiran. Kalau ada yang kamu butuhkan, bilang saja ke Ibu."

Raya mengangguk pelan, lalu berjalan menuju tangga. Tapi sebelum naik, ia sempat melirik Arya, berharap pria itu menyusul. Tapi Arya tetap duduk di sofa, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Dalam hatinya, Raya berbisik, aku nggak butuh siapa pun saat ini... kecuali kamu yang mengerti isi hati tanpa aku harus berkata.

Sekarang, baik Arya maupun Raya masing-masing membawa perasaan yang sama-sama tak terungkapkan.

Raya mendorong pintu kamarnya perlahan.

Udara dalam ruangan itu terasa lebih hangat dari biasanya. Mungkin karena tubuhnya masih diliputi letih, atau mungkin karena hatinya belum juga menemukan ketenangan. Ia menatap sekeliling semua tampak tenang, rapi, dan bersih. Namun di dalam dirinya, badai kecil terus berputar tanpa arah.

Tepat saat ia mendudukan dirinya di atas sofa samping jendela kamar, suara adzan Magrib terdengar mengalun dari masjid kecil di ujung kompleks. Lantunannya lembut dan dalam, meresap hingga ke hati. Raya tersentak pelan, lalu tanpa pikir panjang, ia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Air dingin menyentuh kulitnya, membasuh wajah dan segala penat yang menempel sejak tadi. Saat ia menyelesaikan wudhu, ada hembusan ringan di dadanya seakan tubuhnya pelan-pelan dibersihkan, bukan hanya dari debu dunia, tapi juga beban batin yang ia simpan.

Di tempat lain, suasana rumah keluarga Atmajaya juga dipenuhi ketenangan yang serupa. Bu Atika mengenakan mukena putihnya, sementara Pak Harun tengah menata sajadah di ruang tengah. Arya muncul beberapa detik kemudian, mengenakan baju koko berwarna biru gelap, langkahnya tenang tapi pikirannya masih bergejolak.

"Magrib berjamaah, Arya?" tanya Pak Harun.

Arya mengangguk. "Iya, Pak."

Mereka bertiga berdiri sejajar, menghadap kiblat. Suara takbir mengisi ruang rumah, dan ketegangan yang tadi sempat ada perlahan berubah menjadi ketundukan. Dalam sujud pertama, Arya memejamkan mata lebih lama. Dadanya sesak oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan rasa bersalah, kegelisahan, ketakutan kehilangan, dan... rasa yang belum berani ia namai.

"Ya Allah... kalau ini bukan cinta, maka cukupkan aku dengan keikhlasan menjaga. Tapi kalau ini adalah jalan-Mu, bimbing aku agar tidak menyakitinya lagi. Jangan biarkan aku menjadi alasan seseorang merasa tak berharga..."

Sementara itu, di dalam kamar di lantai atas, Raya sudah membentangkan sajadah. Ia mengenakan mukena yang sederhana, namun wajahnya memancarkan kelelahan yang indah. Saat ia rukuk dan sujud, air mata mulai mengalir perlahan, tanpa suara.

"Ya Rabb... jika selama ini aku salah, maka ampuni aku. Mereka terlalu baik... Bu Atika, Pak Harun, bahkan dia... Arya. Aku tak ingin terus berbohong, tapi aku juga belum sanggup melangkah pergi. Tunjukkan aku jalan keluar, ya Allah. Bantu aku menjaga anak ini, dan jagalah mereka dari lukaku..."

Doa mengalir di antara sujud, antara diam dan sesak di dada yang tak sempat terucap. Di tempat berbeda, tapi isi hati mereka senada. Keduanya merasa bersalah, keduanya ingin melepas beban, namun tak tahu harus dari mana memulainya.

Setelah salam terakhir, Arya menatap sajadah di depannya. Pak Harun dan Bu Atika sudah bangkit, menyusun kembali mukena dan sajadah mereka. Tapi Arya masih duduk, bersandar di dinding. Tangannya bermain di atas lutut, lalu ia menatap langit-langit. Hening beberapa saat, sebelum akhirnya ia berdiri.

Di kamar atas, Raya sudah selesai merapikan mukenanya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang sudah mulai gelap. Suara anak-anak mengaji dari pengeras suara masjid terdengar samar. Senandung ayat-ayat suci itu membuatnya kembali memejamkan mata.

"Kalau memang harus jujur, aku ingin bicara... tapi tidak tahu harus mulai dari mana," gumamnya lirih.

Di lantai bawah, langkah kaki Arya membawa dirinya menuju tangga. Ia sempat menoleh ke arah ruang tengah, tapi kemudian berjalan naik. Hatinya masih menimbang-nimbang apakah ia harus berbicara malam ini, atau membiarkan semuanya tetap mengalir seperti ini?

Yang jelas, malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang diam-diam tumbuh, namun masih belum berani muncul ke permukaan.

Dan di langit yang mulai menghitam, dua doa yang serupa melesat dari dua hati yang berbeda... berharap bisa menemukan satu jawaban yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!