Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan yang Menyebar
Shen Yi dan Lian'er berjalan cepat menyusuri gang sempit di belakang pasar pagi, selimut tipis menutupi bahu mereka dari angin pagi yang sudah terasa lebih dingin dari biasanya. Udara kota kabupaten terasa berat—bau amis ikan dari kios yang sudah tutup bercampur dengan aroma asap dari rumah-rumah yang mulai menyalakan api untuk masak, tapi juga ada bau aneh yang tak bisa dijelaskan: seperti air danau yang mengendap terlalu lama, bercampur logam dingin.
Mereka membawa keranjang kecil berisi botol kaca kosong, jarum akupunktur, dan daun teratai kering. Raden Arya sudah beri surat izin resmi, tapi mereka tetap bergerak hati-hati—kerumunan di alun-alun kemarin belum sepenuhnya bubar, dan rumor “tabib gunung bawa kutukan” masih bergulir seperti kabut pagi.
“Kita mulai dari sumur umum di kampung nelayan,” kata Shen Yi pelan, suaranya tegang. “Kalau penyakit ini dari air, sumur itu sumber utama. Pasar ikan dan sayur juga dekat—bisa jadi kontaminasi dari sana.”
Lian'er mengangguk, tangannya memegang sabuk dengan daun teratai kering. “Aku rasakan energi dingin di udara semakin kuat sejak kemarin. Bukan dingin biasa. Seperti… sisa es hitam yang meresap ke tanah.”
Mereka sampai di sumur umum—sebuah sumur batu bulat dengan timba kayu yang sudah usang. Beberapa wanita sedang mengambil air, tapi saat melihat Shen Yi dan Lian'er, mereka mundur pelan, mata penuh curiga.
Shen Yi mendekat, membungkuk hormat. “Maaf mengganggu. Aku Tabib Shen. Kami sedang cari sumber penyakit bintik hitam. Boleh kami ambil sampel air dari sumur ini?”
Seorang wanita tua menggeleng cepat. “Jangan ambil! Air ini sudah bikin anakku sakit. Dingin sekali kalau diminum. Bintik hitam muncul di lehernya.”
Lian'er maju, suaranya lembut. “Kami bukan mau ambil air untuk diminum. Kami mau periksa. Kalau ada racun dingin di air, kami bisa cari cara bersihkan. Untuk anakmu dan semua orang.”
Wanita tua itu ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tapi kalau kalian bikin lebih buruk… kami tak akan maafkan.”
Shen Yi mengambil timba, menurunkan ke dalam sumur. Air yang naik tampak jernih pada pandangan pertama, tapi saat dituang ke botol kaca, ada kilau hitam tipis di dasar botol—seperti tinta hitam yang mengendap.
Shen Yi meneteskan setetes ramuan penghangat dari botolnya ke air sampel. Air itu bergetar, lalu bintik hitam kecil muncul dan mencoba melawan, tapi akhirnya mencair jadi gelembung kecil yang hilang.
“Ini… es hitam,” kata Shen Yi tegang. “Lebih lemah dari yang dulu, tapi masih hidup. Sumur ini tercemar. Airnya jadi sumber utama.”
Lian'er mengangguk. “Kalau air sumur ini dipakai untuk minum dan masak di kampung nelayan dan pasar, penyakit bisa menyebar cepat. Kita harus tutup sumur ini sekarang.”
Mereka kembali ke kediaman bupati dengan cepat. Raden Arya sudah menunggu di aula timur, di mana pasien bertambah jadi empat puluh lima orang. Beberapa mulai mengigau dingin, bintik hitam di kulit mereka semakin besar, seperti luka terbuka yang berdenyut.
“Sumur di kampung nelayan tercemar,” kata Shen Yi langsung. “Airnya mengandung energi dingin mirip es hitam. Kita harus umumkan agar rakyat tak ambil air dari sumur itu. Gunakan air dari sumur kediaman bupati yang sudah kami periksa—masih aman. Dan kita perlu tim untuk periksa sungai dan pasar.”
Raden Arya mengangguk, tapi matanya penuh keraguan. “Aku sudah perintahkan tentara jaga gerbang. Tapi paman ayahanda sudah kirim utusan lagi. Dia bilang kalau karantina diperpanjang, dia akan datang dengan pasukan pribadinya ‘untuk bantu’. Itu kode—dia mau ambil alih kota dengan alasan ‘keselamatan rakyat’.”
Lian'er menghela napas. “Yang Mulia, kalau pamanmu ambil alih sekarang, dia pasti buka gerbang dan biarkan wabah menyebar demi untung dari obat palsu atau perdagangan darurat. Kita harus tunjukkan hasil. Rawat pasien sebanyak mungkin. Kalau Bupati mulai membaik, rakyat akan percaya.”
Raden Arya menatap ayahnya yang terbaring tak sadar. “Aku… takut ayahanda tak tahan sampai itu.”
Shen Yi memeriksa Bupati lagi. “Demamnya naik lagi. Bintik hitam sudah mencapai dada. Kita harus lakukan akupunktur intensif malam ini. Lian'er, siapkan daun teratai kering untuk kompres dingin.”
Mereka bekerja tanpa henti. Shen Yi menusuk titik-titik meridian paru-paru dan jantung, Lian'er oles ramuan dan beri minum penghangat. Beberapa pasien membaik—demam turun, bintik memudar. Tapi yang lain… semakin buruk.
Tengah malam, komplikasi baru muncul. Seorang pemuda pedagang di sudut aula tiba-tiba berteriak, tubuhnya menggigil hebat. Bintik hitam di dadanya berubah jadi luka terbuka kecil, mengeluarkan cairan hitam pekat yang berbau amis. Napasnya berubah jadi suara mengi seperti angin di gua es.
Shen Yi berlari ke sana. “Ini… es hitam sudah masuk ke paru-paru. Luka terbuka ini… seperti tubuhnya mencoba keluarkan racun, tapi malah mempercepat penyebaran.”
Lian'er mengambil daun teratai kering, menggosokkan ke luka itu. Energi putih mengalir, luka tertutup pelan, tapi pemuda itu tetap menggigil. “Kita butuh lebih banyak teratai murni. Ramuan kita mulai tak cukup kuat.”
Shen Yi mengangguk tegang. “Aku akan gunakan setetes Air Teratai Murni dari botol. Ini untuk pasien kritis.”
Dia meneteskan setetes ke mulut pemuda itu. Cairan bercahaya mengalir masuk. Tubuh pemuda itu bergetar hebat, lalu tenang. Demam turun drastis, bintik hitam memudar, napasnya stabil.
Raden Arya yang mengawasi dari pintu, tersentak. “Itu… berhasil. Tapi botol itu… berapa sisa?”
Shen Yi memandang botol. “Tinggal setengah. Kalau pasien bertambah, kita tak cukup untuk semua.”
Pagi berikutnya, pengumuman karantina diperpanjang diumumkan. Raden Arya berdiri di alun-alun lagi, suaranya lebih mantap meski mata lelah.
“Karantina diperpanjang sampai penyakit hilang. Tabib Shen sudah sembuhkan beberapa pasien. Makanan gratis dari gudang. Tolong patuhi. Kita lawan bersama.”
Tapi kerumunan tak sepenuhnya tenang. Beberapa pemuda melempar batu ke panggung. “Bohong! Ayahku mati di aula itu! Karantina ini pembunuhan!”
Tentara maju, tapi Raden Arya mengangkat tangan menghentikan. “Jangan kekerasan. Biarkan mereka bicara.”
Pria yang berteriak maju. “Anakku mati malam tadi. Karena kalian tak izinkan keluar kota ke tabib lain!”
Shen Yi naik ke panggung. “Aku tahu kalian marah. Aku tahu kalian kehilangan. Tapi kalau gerbang dibuka sekarang, penyakit ini akan bunuh lebih banyak lagi. Aku janji—aku akan rawat siapa pun yang sakit. Tanpa bayaran. Tapi beri kami waktu.”
Kerumunan diam pelan. Beberapa mulai pulang. Tapi pria itu masih berteriak. “Kau janji? Kalau tak berhasil, aku sendiri yang akan bunuh kau!”
Raden Arya memandang Shen Yi. “Tabib… terima kasih. Tapi kalau gagal… mereka benar-benar bisa datang.”
Shen Yi mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku nggak akan berhenti.”
Malam itu, di aula timur, pasien bertambah jadi enam puluh orang. Shen Yi dan Lian'er bekerja tanpa henti. Komplikasi baru muncul: beberapa pasien mulai halusinasi dingin—mereka berteriak “ada es di dada”, “dingin hidup”, dan mencoba cabut jarum akupunktur mereka sendiri.
Lian'er menahan seorang pasien yang mengamuk. “Shen Yi! Ramuan penghangat tak cukup lagi. Bintik hitam di paru-paru mereka semakin dalam. Kita butuh sumber yang lebih kuat.”
Shen Yi mengangguk tegang. “Kita harus temukan sumbernya besok. Kalau ini dari sumur atau sungai, kita tutup dan bersihkan. Kalau dari pasar… kita hancurkan barang yang tercemar.”
Tapi saat mereka bekerja, seorang tentara masuk tergopoh-gopoh.
“Tabib! Yang Mulia! Paman bupati sudah kumpulkan massa di luar gerbang. Mereka bawa obor dan senjata. Mereka bilang kalau karantina tak dibuka pagi ini, mereka akan serang kediaman bupati.”
Raden Arya berdiri, wajahnya penuh ketakutan tapi tekad baru. “Aku tak akan buka gerbang. Kita lawan kalau perlu.”
Shen Yi memandang Lian'er. “Besok pagi kita pergi ke sungai dan pasar. Cari sumber. Kalau tak temukan… wabah ini akan menang.”
Lian'er mengangguk. “Kita akan temukan. Bersama.”
Di luar, suara teriakan massa semakin keras. Api obor menerangi malam.
Wabah tak bernama itu semakin bernapas—dan kota semakin dekat ke ambang kehancuran.