NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 12 – KANURAGAN DIBUKA

Tidak ada aba-aba.

Tidak ada teriakan perang.

Yang pertama terdengar hanyalah suara kaki berhenti bersamaan—seperti tanah sendiri yang meminta mereka diam.

Nenek tua menghentikan langkah. Ujung tongkatnya menekan tanah, sedikit saja, namun cukup membuat barisan belakang ikut membeku.

“Jangan maju,” katanya pelan.

Kalimat itu bukan peringatan. Itu keputusan.

Dua orang muncul dari balik semak. Tidak tergesa. Tidak berisik. Pakaian mereka kusam, seperti petani, tapi langkahnya terlalu rapi. Bahu turun, lutut sedikit menekuk—orang yang siap bergerak ke segala arah.

Raka merasakan tengkuknya dingin.

Salah satu dari mereka tersenyum tipis. “Rame juga jalannya,” katanya, nada santai. “Boleh numpang lewat?”

Tak ada yang menjawab.

Nenek tua maju setengah langkah. “Jalan ini sempit,” katanya. “Kalau papasan, biasanya ada yang jatuh.”

“Kalau jatuh?” lelaki itu menyeringai. “Ya bangun lagi.”

Yang satunya tidak bicara. Tangannya sudah berada dekat pinggang—di balik kain, ada kilat besi pendek.

Detik berikutnya, tanah meledak.

Bukan suara. Gerak.

Lelaki yang diam tadi melesat lebih dulu. Tubuhnya rendah, cepat, seperti bayangan. Pisau pendek muncul—arahnya ke perut nenek tua.

Tongkat bergerak.

Bukan menangkis.

Menyerang.

Ujung tongkat menghantam pergelangan tangan, tepat di titik lunak. Bunyi tulang bertemu kayu terdengar kering. Pisau terlepas. Lelaki itu menggeram, mundur setengah langkah—cukup untuk memberi ruang pada lawannya.

Yang tersenyum tadi sudah bergerak ke arah lain, menyerang seorang lelaki dari barisan. Pukulan lurus, cepat, diarahkan ke tenggorokan.

Lelaki itu sempat menangkis, tapi tenaga lawan lebih berat. Tubuhnya terlempar ke tanah, napasnya tercekik.

Raka melihat semuanya.

Tidak seperti cerita wayang. Tidak ada gerakan indah. Semuanya cepat, pendek, dan mematikan.

Nenek tua berhadapan lagi dengan penyerang pertama. Lelaki itu kini menyerang dengan tangan kosong—sikut, lutut, kepala. Ilmu tua, kasar, tapi efektif.

Nenek tua tidak mundur.

Ia menjejak tanah lebih dalam. Napasnya terdengar berubah—pendek, berat, dari perut. Setiap geraknya mengikuti irama napas itu.

Serangan datang. Ia menggeser bahu, membiarkan pukulan lewat sejengkal dari wajahnya, lalu tongkat menghantam rusuk.

Sekali.

Tidak keras, tapi tepat.

Bunyi napas pecah. Lelaki itu terhuyung, lututnya hampir menyentuh tanah.

Di sisi lain, perkelahian kedua makin brutal. Lelaki dari barisan yang diserang tadi berhasil bangkit, tapi wajahnya sudah merah keunguan. Lawannya tidak memberi jeda. Tendangan rendah menghantam tulang kering—bunyi “krek” kecil terdengar.

Raka menutup mulutnya.

Lelaki itu jatuh. Lawannya mengangkat kaki untuk menginjak dada.

Sebuah batu melayang.

Tidak besar. Tidak keras.

Tapi cukup mengenai pelipis.

Pelaku batu itu—seorang perempuan dari barisan—tidak menunggu reaksi. Ia menerjang, menghantam wajah lawan dengan siku. Darah muncrat. Lelaki itu terjengkang, kepalanya membentur akar pohon.

Sunyi sekejap.

Kemudian jeritan tertahan.

Nenek tua mengakhiri perkelahiannya dengan sederhana. Saat lawannya mencoba bangkit, ia menginjak kaki lelaki itu—menekan lutut ke arah yang salah. Bunyi patah terdengar jelas.

Tidak ada teriakan panjang. Hanya napas yang putus.

Tongkat nenek itu kini berada di leher lelaki tersebut. Tidak ditekan. Hanya diletakkan.

“Pergi,” katanya dingin.

Lelaki itu memandangnya dengan mata penuh benci dan takut. Ia menyeret tubuhnya menjauh, meninggalkan jejak darah.

Yang satunya—yang kepalanya membentur akar—tidak bergerak.

Perempuan itu berdiri terengah. Tangannya gemetar, tapi matanya tajam. “Dia…?”

Nenek tua tidak menoleh. “Kalau hidup, dia bangun. Kalau tidak, tanah yang urus.”

Tidak ada yang mendekat.

Raka melihat darah meresap ke tanah. Warnanya gelap, cepat hilang. Seperti disedot.

Tangannya gemetar.

Ini bukan latihan. Ini bukan gertak.

Ini pembunuhan yang hampir terjadi—atau sudah.

Beberapa orang terluka. Bahu terkilir. Bibir pecah. Seseorang memegangi perutnya, darah merembes di sela jari.

Nenek tua berjongkok di dekatnya. Mengeluarkan kain dan serbuk dari pinggang. Menaburkannya ke luka. Bau pahit menyengat.

“Gigit ini,” katanya, menyodorkan kayu kecil.

Lelaki itu menurut. Suara erangannya tertahan.

Raka ingin muntah.

Ia memalingkan wajah, tapi bayangan pertempuran itu terus berputar di kepalanya. Gerakan cepat. Bunyi tulang. Mata dingin nenek itu.

Ini orang yang membantunya keluar dari kota.

Ini orang yang berjalan di depannya setiap hari.

“Kenapa mereka menyerang?” Raka bertanya, suaranya hampir tidak keluar.

Tak ada yang menjawab.

Nenek tua berdiri, membersihkan tongkatnya dari darah dengan daun. “Karena jalan ini bukan milik siapa pun,” katanya akhirnya. “Dan semua orang ingin merasa berhak.”

Mereka bergerak lagi. Tidak ada istirahat panjang. Tidak ada doa bersama.

Hanya langkah-langkah berat.

Raka berjalan di tengah, lebih kecil dari sebelumnya. Dunia yang ia masuki ternyata penuh orang-orang yang bisa membunuh tanpa teriakan.

Dan yang paling menakutkan—

mereka melakukannya dengan tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!